Resensi Novel Pulang : Sebuah Akhir Perjalanan Menaklukkan Diri Sendiri

Namaku Bujang. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.

buku pulangSuatu hari keluarga Samad kedatangan tamu istimewa dari kota. Begitu istimewanya tamu tersebut hingga membawa beberapa rombongan mobil ke desa Talang di lereng perbukitan Bukit Barisan yang jarang disinggahi kendaraan. Adalah Tauke Besar yang ternyata merupakan seseorang yang dekat dengan kehidupan Samad di masa lalu, hendak datang berburu babi.  Bujang, putra Samad, yang tengah beranjak remaja diajak Tauke Besar ikut berburu babi. Bujang yang selalu dilarang Mamak masuk hutan, langsung setuju karena biasanya Bujang masuk hutan sambil sembunyi-sembunyi.

Awalnya perburuan berlangsung seru. Satu per satu babi hutan rubuh oleh rombongan Tauke Besar. Hingga datang suatu petaka, kemunculan seekor babi hutan raksasa.  Dan pertarungan malam itu menyisakan Bujang seorang yang masih berdiri sehat, tepat di hadapan babi raksasa yang menatapnya marah.  Sejak malam itu, rasa takut sudah dikeluarkan dari dada Bujang. Dia berhasil mengalahkan babi raksasa tersebut. Titisan darah dari leluhur telah memanggilnya menjadi seorang jagal. Orang-orang memanggilnya sebagai Si Babi Hutan.

Di bab – bab awal cerita berlangsung datar berupa pengolahan informasi dan karakter dari beberapa tokoh yang terlibat dan tema cerita, yakni shadow economy. Bujang remaja yang dibawa oleh Tauke Besar ke Ibukota Provinsi dan dianggap sebagai anak angkatnya. Berbagai potensi yang dimiliki oleh Bujang yang terdeteksi oleh melalui serangkaian Tes Psikologi yang dilakukan oleh Frans-si  Guru Amerika. Namun itu semua tidak membuat Bujang menginginkan sekolah. Bujang tetap ingin menjadi seorang tukang jagal. Lalu oleh sebuah peristiwa Amok, Bujang takluk ditangan Baasyir yang membuatnya mesti tetap sekolah. Berkat gemblengan Frans melalui setumpuk buku yang harus dibaca Bujang setiap hari, akhirnya Bujang berhasil menyelesaikan ujian persamaan sekolah menengah.

Sementara bisnis Tauke Besar yang berkedok pencucian uang semakin menggurita di Ibukota Provinsi. Satu per satu lahan dan daerah territorial dikuasainya. Tauke Besar berkeyakinan kelansungan bisnis dan nama besar keluarga Tong di masa depan tidak hanya bsa diandalkan kepada otot namun juga harus dilandasi atas kepintaran otak untuk menjalaninya. Untuk itulah Tauke Besar menyetujui ide Kopong. Bahwa Bujang memiliki talenta yang tidak biasa, yakni Bujang berkelahi dengan mempergunakan otak. Sehingga setiap malam Bujang dilatih secara fisik dan mendatangkan Guru Bushi untuk belajar teknik Bushido dan Salonga untuk belajar menembak.

***

Tere Liye kembali menghadirkan sebuah novel baru yang diwarnai oleh adegan-adegan pertarungan ala gangster bak di film-film Hongkong. Cerita yang deskriptif dan rinci dalam setiap momen-momen pertarungan yang terjadi, memang seperti mengindikasikan sebagai sebuah film yang ditulis ulang menjadi sebuah buku.

Secara umum novel dapat dibagi atas dua bagian cerita yang masing-masing mempunyai konflik tersendiri, yakni sebelum dan setelah menjadi jagal nomor satu keluarga Tong. Untuk membuat efek dramatik dari dua bagian cerita tersebut, Tere Liye menyajikannya dalam bentuk alur maju mundur. Dengan begitu setiap cerita tak ubahnya sebagai kepingan-kepingan yang nantinya akan berhubungan satu dengan lainnya.

Berikut adalah hal-hal menarik yang tergambar dari novel Pulang :

1. Setting Cerita.

Dalam novel Pulang ini Tere Liye mempergunakan tiga setting cerita utama yakni Desa Talang di suatu Provinsi di Pulau Sumatera, Ibukota Propinsi dan Ibukota Negara. Sedangkan Hongkong, Manila, Jepang dan Amerika merupakan setting yang membantu pengolahan konflik dan cerita. Dari hal ini gak ambigu juga kenapa Tere Liye mempergunakan dua metode yang berbeda dalam menyebutkan setting cerita.

2. Tokoh dan karakternya.

Semua tokoh yang dihadirkan dalam cerita ini berikut karakter masing-masing terasa saling melengkapi dan mengisi peran dalam kesatuan cerita.  Baasyir, Kopong, Parwez, Mansur, si kembar Yuki Kiko, Frans dan anaknya White, Guru Bushi dan Salonga dihadirkan secara natural dan semuanya memiliki peran penting dalam perjalanan hidup Tauke Besar dan Bujang serta ekspansi bisnis keluarga Tong.

Melalui eksplorasi tokoh dan karakter, Tere Liye dengan kepiawaiannya mengejutkan pembaca tatkala menampilkan sisi pecundang dalam novel Pulang ini.  Adalah Baasyir yang terjadi menjadi duri dalam daging yang menggerogoti bisnis Keluarga Tong secara diam-diam. Dan ini sama sekali tidak akan tertebak oleh pembaca apabila jika tidak secara seksama memperhatikan daftar isi dalam novel ini. Hanyalah Baasyir dan Salonga, dua tokoh yang dihadirkan secara khusus dalam penceritaaan antar bab. Jika ini diperhatikan sedari awal, tentulah pembaca dengan cepat bisa menyimpulkan siapa yang menjadi pahlawan dan siapa pecundangnya.

3. Balutan Tema Shadow Economy

Sebagai seorang yang berlatar belakang Ekonom, Tere Liye menghadirkan tema yang tidak biasa. Ekonomi Bayangan, ekonomi tak kasat mata yang dijalankan dari belakang meja, begitu Tere Liye menggambarkan deskripsi dari Shadow Economy.

Apakah karena tema ini Tere Liye membuat keputusan menggunakan menolak penyebutan nama propinsi dan nama negara dalam penceritaannya? Patut diduga keputusan tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran adanya aspek politis yang bisa mengganggu di kemudian hari.

4. Time Frame

Dalam novel Pulang ini Tere Liye sama sekali tidak menyebutkan kisaran waktu dari cerita novel ini. Penyebutan waktu hanya berdasarkan umur dari tokoh utama Bujang. Namun karena telah adanya penggunaan Teknologi Informasi seperti pemindai, teknologi computer tablet, email seperti yang disebutkan pada halaman 71, pembaca dapat menarik kesimpulan bahwa konflik antara keluarga Tong dan keluarga Lin sebagai konflik yang dihadirkan dalam cerita ini terjadi pada masa sekarang.

Apalagi dengan penggambaran tokoh yang selalu mengunakan kemeja putih – kandidat presiden yang ditemui Bujang – dengan cepat pembaca mengasosiasikan bahwa setting cerita adalah Indonesia .

 

Tak Ada Gading Yang Tak Retak

Walaupun secara keseluruhan novel ini sangat enak, mengalir serta seru untuk dibaca, namun terdapat beberapa hal yang mengganggu terhadap jalan cerita.

1. Alamat dalam setiap surat Bapak

…..Kutitipkan surat ini kepada tetangga kita di Talang, dengan pesan, jika aku sudah dikuburkan, dia akan segera mengirimkan surat ini ke alamat Tauke Muda di Kota Provinsi. Dan dari sana, entah bagaimana caranya, pastilah akan tiba kepadamu. (Hal.237)

Kutipan diatas merupakan penggalan dari surat Bapak yang mengabarkan kematiannya sendiri. Dari surat tersebut secara jelas dinyatakan bahwa Bapak hanya tahu alamat Tauke Muda (sudah menjadi Tauke Besar sekarang) adalah di ibukota Provinsi. Paahal secara jelas Tuanku Imam menceritakan bahwa Kopong setiap bulan berkirim surat kepada Mamak untuk menceritakan tentang Bujang, sejak Bujang dibawa ke Ibukota Provinsi. Logikanya pasti saat keluarga Tong telah pindah ke Ibukota, Kopong mempergunakan alamat keluarga Tong di Ibukota. Dan pastinya Bapak akan tahu alamat tersebut.

Kau mungkin tidak tahu bahwa setiap bulan, Kopong selalu mengirim surat ke Mamak kau…. Dia telah berjanji kepada Mamak kau untuk mengabarkan apapun tentang Bujang, anak satu-satunya. (hal 320)

2. Pemilihan waktu kematian antara Mamak dan Bapak

Sehabis pesta perayaan kelulusan Bujang di Universitas, datanglah sepucuk surat yang mengabarkan kematian Mamak.  Alur cerita yang sama juga terjadi saat kematian Bapak yakni setelah Bujang kembali pulang sehabis menamatkan kuliah Masternya di Amerika. Persamaan tersebut membuat cerita terasa dipaksakan dan tidak natural.

3. Kemunculan Tokoh Tuanku Imam

Memang benar dalam novel Pulang ini membutuhkan tokoh bijak yang sebagai sosok tua yang meberi nasehat. Namun kepindahannya ke Ibukota dan bagaimana kedekatan antara Tuanku Imam dengan Kopong dan Tauke Besar tercipta, sehingga Kopong bisa menciptakan lorong penghubung – lorong penyelamat antara ruang kerja Tauke dengan rumah Tuanku Imam menjadi sesuatu hal yang tidak realistis lagi.

4. Keberadaan Putra Tertua Keluarga Lin

Dijelaskan pada akhir konflik bahwa pengkhianatan Baasyir terhadap Tauke Muda juga diperkuat oleh putra tertua keluarga Lin yang dendam terhadap Bujang. Setelah keberhasilan serangan pengkhianatan tersebut, rupanya Tere Liye tetap menghadirkan tokoh putra tertua keluarga Lin tersebut hingga serangan balasan dari Bujang yang merebut kembali tahta kerajaan bisnis keluarga Tong yang membuat mereka bertemu di ruang kerja Parwez. Padahal sudah terjadi jarak waktu antara serangan dari Baasyir terhadap Bujang dan Tauke Besar dan serangan balasan dari Bujang sehingga terasa janggal. Apakah tidak seharusnya putra tertua Lin segera kembali ke Makau untuk pemakaman ayahnya begitu Tauke Besar sudah ditaklukkan? Apa yang membuatnya masih bertahan di Ibukota?

5. Pemanggilan Nama Agam

Agam, kau sudah siuman, Nak?”

 “ Siapa kau? Bagaimana kau tahu namaku?” Aku bertanya, menatap orang tua itu.

Dialog yang terjadi antara Bujang yang telah siuman pasca penyerangan Baasyir pada halaman 316 juga patut dipertanyakan. Apa maksud dari Tere Liye menampilkan nama kecil dari Bujang sebagaimana Agam yang disebutkan oleh Tuanku Imam. Padahal sejak dari semula baik Bapak maupun Mamak tak pernah sekalipun memanggilnya sebagai Agam. Hal itu menjadi sesuatu yang sia-sia karena tidak berhubungan dengan inti cerita.

6. Apakah Bujang benci dengan Bapaknya?

Hal ini patut dipertanyakan karena dalam narasi ketika Bujang kembali Pulang ke desa Talang untuk menziarahi makam Bapak dan Mamak, tak sekalipun disebutkan penggambaran kerinduannya terhadap Samad sang bapak.

Walaupun diawal-awal memang sosok Samad digambarkan sebagai Bapak yang keras terhadap Bujang, namun sesungguhnya kehadiran tokoh Samad sebagai tukang jagal yang darah titisannya juga mengaliri jiwa Bujang sebagai tukang jagal, sehingga pada akhir cerita harusnya tetap menyertakan keterkaitannya dengan sosok bapak tersebut berupa penyebutan narasi terhadap Bapak.

 ***

 Dan seperti novel Rindu terdahulu, Pulang juga menghadirkan serangkaian kata-kata indah penuh nasehat dan mutiara khas Tere Liye. Kata-kata magis sarat arti akan banyak dijumpai pada bab 21.

Ketahuilah Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkann siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran...” (hal 340)

Lalu pertempuran apa yang membuat Bujang diizinkan menjadi tukang jagal keluarga Tong? Bagaimana perjuangan Bujang dalam mendapatkan totalitas dan kemampuannya sebagai spesialis penyelesaian tingkat tinggi? Bagaimana mengguritanya bisnis yang dijalankan keluarga Tong di Ibukota? Dan siapa sajakah yang menjadi musuh yang memicu konflik dalam novel Pulang?

“Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang.” (hal. 400).

Pulang merupakan wujud bahwa sebuah perjalanan panjang telah usai. Sejauh mana kaki melangkah, sejauh apa kepak sayap terkembang, pada akhirnya akan kembali pulang. Pulang tidak hanya kembali ke titik awal, namun pulang juga merupakan manifestasi kembali suci. Maka janganlah ragu. Ketika semua kepenatan hidup sudah menghampiri, maka pulanglah. Niscaya engkau akan mendapatkan kedamaian.

 

 

Judul              : Pulang

Penulis          : Tere Liye

Editor             : Triana Rahmawati

Penerbit        : Republika

Tebal              : iv +400 hal

Tahun            : 2015

 

 

 

 

 

Comments (6)

YantiDesember 21st, 2015 at 1:14 am

Resensi yg bagus, vi.. jadi pengen beli bukunya

Bundos NHDesember 21st, 2015 at 1:16 am

Narasi terakhir bikin air mata menetes..klu emosi itu ada 5, maka saya hanya punya 3: Bahagia, sedih dan Jijik.

Windah saputroDesember 21st, 2015 at 1:51 am

Aku sudah pernah baca buku ini sekilas tapi aku ga dapet soulnya, mungkin harus ku baca lagi nih

CantikCerdasJanuari 3rd, 2016 at 8:33 am

Wah nyentuh banget ya resensinya? like it :-) CantikCerdas salam kenal ya?

Muslim Wedding IdeasJanuari 4th, 2016 at 11:40 am

Dear sister Yervi,
Salaam alaikum :)
If you love blogging competitions, we are inviting you to join our blog contest: http://www.muslimweddingideas.com/giveaway. We have 21 prizes, which include dresses, hijabs, jewellery, art, voucher etc and almost all are open to international contestants. Kindly have a look – thank you! :)

Dessy NataliaJanuari 22nd, 2016 at 2:32 pm

mbaaa.. jadi kangen nih sama buku2nya om tere..
makasih yaa resensinya :D

Leave a comment

Your comment