Mahasiswa Ujian Dalam Bidikan Kamera

20151208_151356

Kebijakan pimpinan Fakultas saya mulai semester ini, penyelenggaraan UAS murni diawasi oleh dosen yang bersangkutan. Tidak ada lagi penggunaan Tenaga Kependidikan (Tendik) untuk pengawasan dengan alasan mengganggu kinerja mereka dalam pelayanan administrasi dsb. Namun kabar kaburnya sih karena ketiadaan honor dengan alasan itu sudah menjdi Tupoksi-nya.

Entahlah….   Yang pasti ujian mata kuliah yang saya ampu yang terdiri atas dua kelas paralel terpaksa saya gabungkan di satu ruang besar. Ruang pertemuan seluas 15×15 m disulap menjadi ruang ujian berkapasitas 70 mahasiswa.

 

  Pusing gak ya mengawasi mahasiswa ujian seorang saja?

Sebenarnya tidak juga, asal posisi duduk mahasiswa bisa diatur rapi dan dengan jarak antar mahasiswa cukup jauh untuk bisa saling bekerja sama. Ngomong-omong tentang posisi duduk, berikut adalah tipe-tipe mahasiswa brdasarkan posisi duduk ujian.

 

1. Mahasiswa Pede

Mahasiswa ini dominan mengisi baris-baris kursi di depan. Mahasiswa tipe ini yakin dengan kemampuannya dan percaya akan dapat mengerjakan ujian dengan kemampuan sendiri. Mahasiswa tipe ini jarang bekerjasama apalagi memcontek.   Saat saya datang ke ruangan kelas, tiga baris pertama kursi ternyata kosong. Bisa saja ini berarti mahasiswa tidak begitu yakin atau mereka berharap ada mahasiswa lain (baca:yang terlambat) menempatinya.

2. Baris Tengah Untuk Si Moderate

Biasanya mahasiswa yang mengambil posisi ujian pada baris-baris ditengah karena menganggap baris tengah merupakan zona aman ujian. Baik dari arah depan maupun dari arah belakang, posisi ini cukup jauh dari jangkauan ‘radar’ dosen.   Kemungkinan besar mahasiswa yang memilih posisi ini adalah mahasiswa yang tidak begitu yakin dengan kemampuannya. Sehingga dengan posisi aman tersebut memungkinkan mahasiswa untuk bekerjasama dengan mahasiswa lain di sekitarnya untuk memdapatkan kesempurnaan jawaban. Bertanya satu dua keyword tertentu kepada teman sebelah untuk membantu mengingat keseluruhan jawaban adalah modus seringnya.

3. Zona belakang untuk kesempatan cheating yang lebih luas.

Kenapa bisa begitu. Ya pasti karena dosen ga mungkin lama-lama berdiri. Bisa aja sih dosen hilir mudik kesana kemari….tapi ujungnya pasti kembaki lagi ke depan, ke meja kursi yang sudah disediakan untuk dosen.

Jauh dalam jangkauan dosen, sebuah argumentatif mahasiswa untuk memanfaatkan posisi tersebut untuk cheating. Tapi dosen gak akan kehilangan akal. Pindahkan atau rolling saja beberapa baris di belakang ke depan. Habis perkara….

 

Momen-momen menggelikan dalam pelaksanaan ujian mahasiswa

1. I’m so tired

Ternyata ujian tidak hanya bikin capek kepala ya tapi sudah menjalar hingga ke kaki. Kakinya minta istirahat sebentar tuh. Awas….ga bau kan?

1449753515169

2. Mahasiswa yang bisa menjawab soal ujian dengan baik, biasanya tindak-tanduknya serius dengan posisi badan yang tertunduk tekun dan serius menghadap kertas ujian.

1449755071481

3. Tangan menopang dagu tanda tak mampu?

Nah mahasiswa yang ‘bingung’ dengan jawaban yang mesti ditulis biasanya akan bertampang seperti di bawah ini.

Tengah Berpikir Keras

Tengah Berpikir Keras

Yang mana paling keras dalam berpikir? Apakah yang memegang ballpoint atau menopang dagu. Yang mana yang paling banyak membuahkan hasil pemikiran yang membantu dalam menjawab soal? He…he…

4.  Eits lagi apaan tuh?

cheat lg

Menutup muka dengan kertas ujian. Kita tidak pernah tahu apakah mahasiswa tersebut membaca ulang jawaban yang telah ditulis atau dapat juga menimbulkan praduga mencoba melakukan komunikasi dengan rekan disamping?

5. Saat-saat ujian mendekati injury time dan beberapa mahasiswa telah mengumpulkan lembar jawaban, maka mahasiswa yang belum selesai akan langsung memanfaatkan suasana yang tidak hening lagi. Ada yang berusaha menoleh, berusaha berbicara untuk mendapatkan jawaban dari rekannya, so beware!

cheat2Cheat1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berkaitan dengan posisi duduk di atas, secara umum mahasiswa mana yang terlebih dahulu menyelesaikan ujian?

Ternyata hipotesis saya benar. Mahasiswa yang berada pada posisi (baris dan lajur) kanan, yang setiap waktu bisa saya mondar-mandiri, ternyata lebih cepat menyelesaikan ujiannya. Ya walaupun tidak selalu berkorelasi antara selesai dengan bisa mengerjakan jawaban ujian, paling tidak bisa disimpulkan mereka lebih dahulu selesainya.

Kemudian beranjak ke posisi tengah yakni posisi para mahasiswa moderate berada dan terakhir mahasiswa yang duduk di baris dan lajur kiri. Suasana menjelang injury time terekam dalam momen-momen berikut.

 

20151208_160623-horz

Menit-menit Injury Time (30 minutes – 20 mnutes – 10 mnutes remaining)

Masih meragukan ungkapan “Posisi Menentukan Prestasi”?

Comments (3)

Fadli HDesember 19th, 2015 at 6:21 am

Waktu ujiannya belum habis, peserta ujian sudah pada habis, Bu

Bundos Ida NHDesember 19th, 2015 at 11:08 am

Beda dg ujian k ida vi, waktunya udah habis, mhs msh berjubel dikelas :) ..anyway, narasi nya ringan dan memorable (y)

Muhammad ThaahaaDesember 19th, 2015 at 11:10 pm

Bagus sekali buk. Senang bacanya. Tapi kalau pinjam kata pak holmes, jgn lupa gunakan hipotesa terbalik, yg kita sangka begitu ternyata malah sebaliknya. Yang nyari jawaban ternyata malah kasih jawaban, yang terakhir ngumpul ternyata bukan cek jawaban tapi sebisa mungkin isi sampai penuh, yang bingung ternyata teliti orangnya, yang lepas sepatu ternyata… terlalu banyak hipotesa bikin pusing, cek lembarannya.
Tidak ada yg bodoh, tergantung usaha, do’a dan takdir Tuhan.

Leave a comment

Your comment