A Second Opinion, Perlukah?

1446268244611

“Kok Evi itu cepat saja mengambil keputusan operasi? Apa dia gak mencoba dulu pengobatan tradisional?”

Demikian kira-kira bunyi pertanyaan tentang saya yang ditujukan kepada sahabat saya, tentang operasi mastektomi yang saya lakukan?

Bagi anda yang pernah mengalami situasi seperti saya, masa-masa sebelum pengambilan keputusan merupakan masa-masa yang galau. Bagaimana tidak? Saat hati masih berupaya untuk bisa menerima kenyataan, anda pun nantinya akan dibuat bingung dan ragu terhadap metode pengobatan yang dipilih. Akan banyak orang, yang memang peduli dan sayang kepada anda, mengontak untuk memberikan alternatif/usulan pengobatan dan memberikan testimoni terhadap hasil yang telah dijalani.

Pada awalnya saya merasakan hal tersebut sebaai bentuk sayang dan kepedulian terhadap saya. Tapi lama-kelamaan begitu ada yang terlalu intens untuk memberikan alternatif solusi, saya malah merasa tertekan. Saya merasa diintervensi. Lalu emosi menjadi kacau. bahkan kadang kala saya merasa seperti orang lain menyalahkan jalan yang akan saya tempuh.

Hal ini yang perlu disadari oleh masyarakat banyak, bahwa orang yang baru divonis kanker adalah orang yang sedang tertekan denan kondisi penyakitnya, sehingga setiap pendekatan yang dilakukan harus dengan kehati-hatian dan tidak dalam untuk bersikap memojokkan keputusan yang akan dan telah diambil.

Lalu apa yang mesti dilakukan sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih tenang?

DO YOUR SEDOND OPINION!!

Untitled Infographic(1)I. Second Opinion Merupakan Dasar Pengambilan Keputusan Yang Kuat.

Terhadap sebuah keputusan besar yang harus dibuat, apalagi pada penyakit-penyakit degeneratif seperti kanker payudara, membutuhkan dasar pijakan yang kuat. Keputusan untuk melakukan operasi mastektomi merupakan keputusan besar. Banyak wanita yang merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Bagaimana mungkin hidup hanya dengan satu payudara saja.

Perasaan rendah diri, menyebabkan banyak juga yang menjadi kehilangan kepercayaan diri karena kehilangan payudara. Untuk itu dibutuhkan kesiapan mental dari wanita yang positif kanker payudara sebelum operasi tersebut dilakukan.

Nah bagaimana caranya supaya kita yakin akan operasi yang musti dijalani?

a. Pertanyakan sebab mengapa operasi mastektomi tersebut harus dilakukan. Kenapa tidak cukup dengan lampektomi yang hanya mengambil jaringan tumornya saja?

Saya sendiri melakukan hal tersebut untuk tahu lebih jauh penyebabnya. Dokter saya menerangkan berdasarkan hasil USG karena ada dua titik benjolan/lump di dalam payudara saya yang posisinya berseberangan.

b. Lakukan second opinion.

Second opinion tidak selalu diartikan bahwa kita tidak percaya dengan kompetensi dan kapabilitas dari dokter yang merawat. Second opinion berguna untuk memastikan dan meyakinkan penderita terhadap penyakit dan tindakan yang mesti dilakukan. Hasil analisis dan kesimpulan yang sama dari dokter yang berbeda akan lebih meyakinkan dan menguatkan penderita terhadap penyakitnya.

 

II. Dimana harus melakukan second opinion?

Segera setelah vonis dokter pertama keluar, bahwa saya harus melakukan mastektomi, saya segera melakukan second opinion pada dokter lain. Saya memilih konsul ke sebuah rumah sakit di negara tetangga. Kenapa musti jauh-jauh? Tak cukupkah pergi ke dokter lain di kota yang sama?

Bagi saya sendiri second opinion harus dilakukan oleh dokter yang mempunyai spesifikasi yang lebih dari dokter pertama dan saya ingin melakukan serangkaian tes-tes lain yang tidak dilakukan pada dokter pertama. Dokter pertama saya berlatar spesialis bedah onkologi sedang dokter yang kedua berlatar spesialis bedah onkologi yang mempunyai kekhususan bedah payudara.

Pada dokter pertama, saya hanya disuruh untuk melakukan USG Mamae pada kedua payudara saya. Sedang pada dokter yang kedua disamping USG Mamae, saya juga melakukan biopsi atau bajah terhadap jaringan tumor tersebut. Kesimpulan yang kuat saya punyai setelah hasil biopsi tersebut memang menyatakan bahwa saya positif mengidap Ductal Carsinoma atau kanker payudara yang bermula pada saluran susu. Setelah itu saya kembali ke dokter pertama untuk operasi dengan pertimbangan biaya.

 

III. Apakah Second Opinion Hanya Untuk Vonis Yang ‘Buruk’?

Seperti yang saya ulas diatas, second opinion sebenarnya berfungsi untuk meyakinkan dan menguatkan penderita terhadap jalan penyembuhan yang mesti dilakukan. Tidak hanya terhadap suatu keputusan yang ‘buruk’ saja, tetapi second opinion juga harus dilakukan terhadap keputusan yang bernada ‘baik’.

Setelah hasil laporan Patology Anatomy operasi saya dan hasil tes respon Er  – Pr  – Her2 dan Ki67 saya keluar, dokter saya menyimpulkan bahwa saya tidak memerlukan kemoterapi dikarenakan kanker payudara pada saya diakibatkan karena hormonal. Hal tersebut dilihat dari hasil tes Er Pr saya yang positif sedang tes Her2 negatif. Satu malam saya bergembira bersyukur kepada Allah bahwa apa yang ditakutkan tidak perlu saya jalani.

Esoknya baru saya ingat bahwa dari hasil PA terhadap jaringan tumor, telah terdapat metastase atau penyebaran tumor pada kelenjar getah bening sebanyak 2 buah massa dengan ukuran kecil. Saat saya konfirmasi ke dokter apakah dari hasil tersebut tetap tidak memerlukan kemoterapi dan dokter saya tetap mennjawab tidak dengan alasan karena baru dua buah massa yang terdapat.

Namun saat itu saya kurang yakin karena bagaimanapun kanker tersebut sudah menyebar ke kelenjar getah bening yang berfungsi untuk ‘sirkulasi’ pada tubuh. Sehingga saya kembali ke dokter kedua di negara tetangga untuk second opinion terhadap kesimpulan dokter pertama.

Ternyata dari second opinion tersebut dokter kedua menyatakan kesimpulan yang berbeda. Dokter tersebut menyatakan begitu kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening, maka tindakan kemoterapi harus dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker yang kemungkinan sudah tersebar ke seluruh tubuh.

Akhirnya saya menyetujui saran dokter yang kedua untuk melakukan kemoterapi. Saya berprinsip ” lebih baik bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Tujuan saya adalah ingin sembuh total dan penyakit ini tidak berulang lagi di masa yang akan datang. Untuk itu saya menjalani kemoterapi untuk memastikan sel-sel tersebut musnah dari tubuh saya.

Early detection and early prevention save our life!

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam kampanye #finishthefight #gopink #breastcancerawareness dari @indahnuria.com

finish the fight REV

Comments (7)

Irawati HamidNovember 9th, 2015 at 6:04 am

semoga sehat terus yah mbak,amin..
bibi saya (kakak mama) juga meninggal karena kanker payudara ini :’(

Ika PuspitasariNovember 9th, 2015 at 6:46 am

Mb Yervi….semangat untuk sembuh ya…., semoga Allah angkat sakitmu….

yerviNovember 9th, 2015 at 2:17 pm

Amien. Makasih mbak Ika atas supportnya

yerviNovember 9th, 2015 at 2:18 pm

Amien. Trims sudah berkunjung mbak

Indah Nuria SavitriNovember 16th, 2015 at 1:25 am

Terima kasih sudah share banyak mbaaa…dan betul, saya setuju dengan second opinion. Apalagi untuk penyakit seperti kanker payudara yang memiliki banyak implikasi dan konsekuensi bagi penderitanya. Semoga lekas pulih dan bersih seperti sedia kala ya mba. Stay healthy :)

Thanks for joining my GA #finishthefight #gopink #breastcancerawareness yaaa :)

yerviNovember 23rd, 2015 at 3:57 am

Saya juga ikut bangga berpartisipasi dalam kampanye mb Indah. Stay healthy….

taryoDesember 4th, 2015 at 1:45 am

nice info.. semoga semakin berkembang blognya.

Leave a comment

Your comment