Yervi Hesna, Satu Nama Berjuta Cerita

hello-my-name-is1

” What is in a name?” dulu sekali pujangga Shakespeare mempertanyakan.

Dan saya sendiri sewaktu kecil, seingat saya, sama sekali tidak mempertanyakan kenapa orangtua saya memberi nama saya sebuah nama yang ‘terasa’ janggal. Janggal dilidah dan janggal di telinga juga.

Sewaktu saya SD, mostly nama-nama teman saya akan selalu berakhiran i. Kumala Dewi, Deni Suryati, Mensi Emilia Betti, adalah contoh dari sederet nama yang mempergunakan langgam akhiran i. Ada sih beberapa nama lain yang beda akhirannya, bisa berakhiran a atau pun huruf mati. Nah yang ini masuk tipe’ out of the box’ jaman dulu kayaknya:)

Nah saya juga tidak pernah mempertanyakan kenapa saya saya dipanggil dengan nama kecil Evi. Walaupun kebanyakan dari teman-teman masa kecil saya dulu, nama kecilnya merupakan suku pertama dari nama panjangnya.

 

First Time I Truly Ask About My Name

Sewaktu saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, yakni MTsN atau Madrasah Tsanawiyah, saya baru tahu kalau ternyata ada teman-teman yang menggunakan nama berbau Arab. Tersebutlah Fitratul Ani, Miftahul Qalbi, Raudhatul Jannah, Rahmat Hidayat dan sebagainya. Apa karena saya sekolahnya di MTsN yah semuanya kumpul disini?

Nah sewaktu dibangku MTsN inilah karena gurunya sudah gonta ganti per pelajaran, gak sama pas di SD, makanya setiap pelajaran harus absen dulu. Dan setiap absen, khususnya di awal semester dimulai, maka setiap nama saya disebut,  gurunya selalu bilang ,” Oh saya pikir laki-laki?”

Waduh, berarti nama saya bias gender dong ya.

Dari situ baru mulai saya mempertanyakan ke Mama dulu, kenapa saya dikasih nama Yervi Hesna.

Pengen tahu ceritanya?

Yuk Mari!

 

Nama Saya Merupakan Gabungan Inisial Nama Orangtua Saya

” Jadi Yervi Hesna itu adalah dari inisial mama papa,” cerita mama.

“Y untuk Yasmir dan H untuk Husnaini.”

Wah baru tahu saya. Kok gak pernah terpikirkan ya.

“Tapi kok Yervi Hesna sih, Ma. Guru evi selalu menyangka kalau itu nama laki-laki.” protes saya.

“Dulu papa ingin menamakannya dengan nama Yarvaul Husna, nama bahasa Arab. Mau tau gak artinya?” tanya mama.

“Mau-mau, Ma.”

“Yarvaul Husna itu artinya meninggikan kebenaran. Tapi karena mama takut nanti banyak kesalahan di penulisan nantinya, karena saat evi lahir belum banyak nama yang berbahasa arab, akhirnya mama poles sedikit.” jelas mama saya.

Nah, jadilah Yervi Hesna. Lebih ngartis kali ya. Hi…hi…

Sampai disini saya bangga, ternyata nama saya mengandung arti yang baik.

 

Lalu beberapa permasalahan sering timbul…..

Memasuki masa dewasa baru kelihatan bahwa sering kali nama saya membawa sedikit ‘permasalahan’.  Kalau untuk di penulisan rapor sih gak pernah. Soalnya di cek kan dulu?

Paling sering timbul masalah adalah ketika saya akan daftar sesuatu dan saya harus menyebutkan nama saya. Misalnya daftar via telpon untuk kunjungan ke dokter, daftar untuk masuk suatu kursus dan sebagainya. Bahkan untuk daftar face to face pun sering nama saya mengalami kesalahan penulisan. Paling konyolnya ada kartu lebaran dari seseorang yang naksir saya, juga salah dalam menuliskan nama saya.

Nah ini daftarnya ya, seingat saya aja sih.

nama

Banyak juga ya kombinasinya.

Bagaimana supaya kesalahan tidak pernah terjadi? Saya biasanya bawa kertas kecil, nah begitu ditanya untuk memberikan nama, maka nama lengkap akan saya tulis di kertas dan saya berikan. Bahkan tak jarang saya harus mengeja. Khususnya ini yang minta memberikan nama via telpon.

Y – e -r – v – i , ini saja sudah ribet ya. “Pake v ya bukan f.”

Lucunya pernah saya menyebutkan nama ala-ala biro travel gitu.

“Yengkie – Eko – Romeo – Viktor – India.” Eh habis itu saya lupa klo H apa.

 

Sampai sekarang masih berlanjut….

Hingga saya bekerja sekarang, kesalahan penulisan nama maupun penyebutan jenis kelamin berdasar nama masih sering terjadi. Salah satunya dari gambar berikut.

 

Totally Wrong About My Name

Totally Wrong About My Name

Bisa-bisanya ya nama saya Yervi berubah menjadi Yersiva dalam suatu kontrak penelitian. Ini kan sudah jauuuuh banget menyimpangnya.

Nah yang ini contoh pengiriman majalah langganan saya, yang masih mengasumsikan bahwa nama saya dari gender laki-laki.

Saya jadi Laki-laki

Saya jadi Laki-laki

Tapi saya sama sekali gak nyesal kok diberi nama demikian. Di bawa santai aja. Anggap jadi bahan lucuan.

Biar ga berkelanjutan, maka pas saya akan memiliki anak, saya dan suami benar-benar menimbang nama yang akan diberikan. Baik dari segi artistik penulisan, arti kebaikan nama bayi tersebut maupun gender namanya. Semoga cerita lucu nama emaknya ga diwarisi pada anak saya.

 

banner-gaarmitafibri

Comments (9)

Fadli HNovember 5th, 2015 at 4:51 am

Nama saya juga sering salah tulis. Padahal sudah disederhanakan malah ditambah huruf, spasi dan lainnya. Parahnya, karena suku terakhir nama saya adalah “haq” teman-teman jadi suka menertawakan qalaqalah-nya.

Ika PuspitasariNovember 5th, 2015 at 4:56 am

Unik ya mba namanya….kalo nama saya malah cukup pasaran, makanya dulu di sekolah suka dikasih nomor Ika 1, Ika 2…dst…hehe

Rebellina SantyNovember 5th, 2015 at 8:35 pm

Alhamdulillah Mbak, namanya walau sering salah kira, tetap bermakna baik. Jangan seperti saya nih, asal muasal nama saya justru mengingatkan kesusahan, jadinya malah susah terus, hehehe (canda ding). Moga sukses GAnya

yerviNovember 6th, 2015 at 3:07 am

Makasih Mbak Santy. Mbak santy ga ikutan menceritakan ‘kesusahan’ tersebut di GA ini?

yerviNovember 9th, 2015 at 4:58 am

Iya mbak. unik ya. gak bisa ditebak ini dari pengaruh mana. he..he…

ArmitaNovember 11th, 2015 at 8:57 am

Hehe, sampai ada fans yang salah sebut nama ya Mbak.

yerviNovember 12th, 2015 at 7:50 am

Romansa masa lampau mb

Indah Nuria SavitriNovember 16th, 2015 at 1:32 am

heheehhe…satu nama penuh ceritaaa ya mbaa :)

yerviNovember 23rd, 2015 at 3:56 am

He..he… iya mbak Indah

Leave a comment

Your comment