Road To The Operating Theatre

 Mata ini tiba-tiba membuka dengan sendirinya. Sepintas cahaya dari bola lampu yang terletak tepat beberapa meter diatas, terasa sedikit menyilaukan. Sadar akan keberadaan saya dimana hati ini langsung berucap, “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih memberiku kesempatan untuk meneruskan hidup ini.

Panggilan itu Akhirnya Datang

“Kak, kita ke ruang OK (baca : oka) ya. Kakak sudah dipanggil. Silahkan mengganti baju dengan baju operasi dan semua perhiasan juga dilepas.”

Akhirnya tepat jam 12.00 malam , panggilan menuju ruang operasi itu akhirnya datang juga. Di satu sisi lega, karena menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan itu tidaklah enak. Namun saya juga tidak bisa membohongi diri, bahwa ada perasaan lega begitu kepastian  itu diberikan. Dada saya bergemuruh karena ini merupakan kali pertama menuju meja operasi.

Saya memakai baju operasi dengan cepat. Menoleh sekilas ke arah payudara, saat-saat akan berpisah dengan payudara kanan akan segera tiba. Saya tidak ingin berlama-lama karena ini hanya membuat mental cengeng.

“Ya Allah, kuatkan saya. Jadikanlah ini sebagai jalan awal menuju keterbebasan saya. Ridhailah Ya Allah.”

Saya berpamitan dengan papa dan beberapa saudara yang datang menunggu. Suami dan anak-anak memang tidak saya izinkan datang karena saya takut tidak kuat untuk meninggalkan mereka.Ternyata satpam sudah menunggu dengan membawa kursi dorong. Karena sudah disediakan saya gunakan saja kursi dorong tersebut. Bisa aja ditolak, tapi bukan saat yang tepat untuk menunjukkan jumawa pribadi.

Saya menunduk dalam selama perjalanan menuju ruang OK. Dengan khidmat saya ‘menikmati’ sekali saat-saat itu. Saat-saat dimana bahwa jiwa mengakui akan ketidakberdayaan raga.

Kepala saya baru terangkat ketika pintu ruang operasi sudah di depan mata. “Bismillah, mudah dan lancarkanlah Ya Allah.”

Ruang Operasi

Ruang Operasi

Pemandangan dari ruang yang lapang menyambut saya. Dr. Daan Khamri, Sp.B(Onk) yang akan mengoperasi saya terlihat sedang duduk mempelajari rekam medis saya. Ternyata ruang operasi tidak melulu berisi sebuah kamar tempat operasi dilakukan, namun juga terdapat ruangan lain yang memiliki fungsi yang berbeda.

Saya diarahkan menuju ruang transisi yang berfungsi untuk menunggu giliran. Hanya terdapat berapa buah tempat tidur single dan satu buah televisi untuk membunuh waktu menunggu. Karena tidak ada aktivitas lain yang bisa dikerjakan, pastinya gak boleh bawa gadget, saya tiduran sambil nonton tv. Lalu Dr Daan menghampiri saya,” Kita menunggu sebentar ya, Bu. Masih ada pasien lain yang sedang dioperasi. Ibu sudah siap untuk dioperasikan?”

“Insya Allah siap, Dok.”

Sepuluh menit, lima belas menit berlalu. Dan saya masih menunggu. Beruntung selimut tebal disediakan untuk melawan rasa dinginnya ruang operasi. Saya bosan menonton karena rasanya otak juga sudah tidak bisa lagi menangkap tontonan yang disungguhkan. Untuk menenangkan diri, saya memejamkan mata sambil berzikir, melafalkan doa doa yang masih teringat.

Kadang-kadang saya terjatuh dalam tidur yang tidak nyenyak. Terbangun tiba-tiba dan saya masih di ruangan yang sama dengan televisi yang masih menyalakan siaran. Sesekala perawat lalu lalang di depan saya. Jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dinihari. Dan saya masih menunggu giliran.

Seperti saya bilang di atas, menunggu sesuatu yang tidak diinginkan sangat tidak enak. Kadang-kadang muncul pikiran aneh di kepala. “ Gimana kalau saya kabur ya? Bagaimana reaksi dokter disini? Tapi saya mau lari kemana?”

Tapi itu tidak pernah terjadi. Dan mendekati pukul 01:30 dinihari, seorang perawat mendatangi saya dan mengucapkan sesuatu yang sudah saya tunggu-tunggu lama.

“ Mari masuk, Bu. Kita pindah ke kamar operasi sekarang.”

Saya sudah tidak ingat kata-kata persisnya. Tapi demi Allah saya lega sekali. Memperpanjang waktu tunggu,  pada prinsipnya memperpanjang waktu resah dan pasti memperpanjang waktu saya puasa juga. Sudah tahu ya, untuk operasi kita harus puasa makan dan minum 6 jam sebelum operasi. Dan ini sudah diperpanjang hampir 3 jam lebih dari jam 22 waktu operasi yang direncanakan untuk saya.

Begitu masuk ke kamar operasi, saya langsung disuruh berbaring. Ranjang operasi ternyata beralas dari terbal dan tanpa bantal. “Bajunya tolong dibuka ya, Bu.” Ujar perawat tersebut. Ya Tuhan, operasi ini benar-benar membuat jiwa dan raga bukan milik kita lagi. Bahkan untuk urusan memakai baju saja, sudah diatur sedemikian rupa.

Tapi memang kamar operasi ini dinginnya teramat dingin. Baju yang sudah dibuka untuk menutupi aurat sekedarnya pun tak bisa melawan. Saya meringkuk dalam posisi tidur. Gemetaran sekali. Tim operasi masih mempersiapkan segala sesuatunya di belakang saya. Hebat ya mereka, masih fit di waktu yang sudah menginjak dua per tiga malam dan dalam bulan puasa. “Wah sahur disini lagi kita.” Begitu terdengar percakapan dari mereka.

Saya hanya bisa menatap besarnya lampu sorot operasi yang nantinya sinarnya akan tertuju ke dada saya. Sesekali para perawat berusaha untuk bercakap-cakap menanyakan mengenai penyakit saya.

“Sudah tahu dari kapan, Bu adanya kanker di payudara?”

“Sudah punya anak berapa? Ibu ada menyusui dulu bayinya?”

Catat ya, pertanyaan ini selalu ditanyakan ketika kita terdiagnosis carcinoma mamae.

“Kita pasang peralatan monitor lagi ya, Bu.”

Dua alat menancap di punggung belakang saya. Kemudian dua lagi di pasang di dada kiri dan kanan. Sepertinya alat EKG untuk memonitor jantung. Kemudian terasa satu alat mencengkam pergelangan kaki kiri saya. Saya tidak berani melihat.

Elektroda monitor

Elektroda monitor

Lalu jarum infus dipasang di pergelangan tangan kiri dan sebuah alat menancap di jari telunjuk kiri. Saya tidak tahu untuk apa fungsinya. Kemudian tak lama perawat tersebut pergi ke arah belakang saya.

Saya menunggu detik demi detik. Ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Saya tahu bahwa infus yang dipasang merupakan anestesi untuk menidurkan saya. Tapi saya ingin tahu bagaimana reaksinya. Lamakah? Apakah saya akan menguap dulu tanda mengantuk? Atau jatuh tertidur tiba-tiba. Otak saya masih berpikir apa yang akan terjadi.

Lama kelamaan akhirnya terasa ada sesuatu, seperti aliran panas, yang mengalir menuju batang otak belakang saya.

“Ya Allah, inikah saatnya? Lindungi saya Ya Allah. Bismillah” saya masih sempat bermunajat.

Dan sesuatu yang ‘menyerang’ otak belakang tersebut, membuat mata saya menjadi berat. Kelopak mata saya intens membuka-menutup. Saya tidak bisa melawannya, sekuat apapun saya mencoba.

Rupanya tak jauh di belakang saya, seorang perawat anggota tim operasi, masih tetap berdiri memonitor reaksi yang terjadi. Dia masih memonitor kapan saat yang tepat.

Dan dalam satu gerakan yang cepat yang tertangkap disudut mata kanan saya, hidung saya dibekap oleh sesuatu.

Lalu gelap…saya terjatuh di tidur yang panjang.

Penampakan Anestesi Umum

Penampakan Anestesi Umum

 Sumber disini

Comments (4)

EviSeptember 8th, 2015 at 6:34 am

Membaca cerita ini, serasa saya yang mengalami. Ikut gemetaran.
Insya Allah dengan operasi ini semua penyakit Uni Evi sudah diangkat. Amin :)

yerviSeptember 8th, 2015 at 8:19 am

Trims sudah berkunjung uni Evi

Ira GuslinaJuni 21st, 2016 at 7:13 am

Sehat selalu mbak… ikut gelisah menunggu waktu operasinya…

enci harmoniJuni 21st, 2016 at 11:27 am

masuk ruang operasi selalu bikin cemas, saya pernah operasi tumor jinak dipayudara kri kanan…, bisa membayangkan yg mbk rasakan…

Leave a comment

Your comment