Bentor, Si Penanda Kota

Saat ditugaskan untuk mengambil data di Kota Medan bagi keperluan suatu proyek tahun 2005 silam, yang pertama kali muncul di kepala adalah moda transportasi apa yang nantinya akan dipergunakan, mengingat lokasi pengambilan data di banyak tempat. Saya hanya punya waktu dua hari, sehingga sebelum berangkat saya sudah memastikan, dimana lokasi pengambilan data, nama jalannya, transportasi yang digunakan, rute pengambilan dan sebagainya. Seorang sahabat yang sudah lama tinggal di Kota Medan, memberi tahu bahwa Bentor adalah solusi bagi saya berkendara selama saya berada di Kota Medan. Tanpa harus mengerti rute angkutan kota dan nomor angkotnya, maka dengan berkendara Bentor sudah dapat membawa kita berkelana di Kota Medan.

Rupa Rupa BentorApa dan bagaimana sebetulnya si Bentor ini? Bentor merupakan singkatan dari Becak Motor, wujudnya persis becak namun bukan dikayuh melainkan dikendarai dengan motor, dengan si abang becaknya berada di sisi samping penumpang. Satu bentor dapat memuat dua atau tiga orang penumpang. Bagi Kota Medan khususnya, keberadaan Bentor ini sudah dianggap menjadi ikon kota. Karena dengan menaiki Bentor, kita dapat berpelesir hampir ke semua penjuru Kota Medan. Hanya beberapa jalan utama saja yang tidak boleh dilintasi oleh si Bentor.

Bagi anda yang akan mengunjungi kota Medan, cukup dengan menstop si abang becak yang sedang lalu – lalang, kemudian memberi tahu alamat tujuan anda, abang becak kemudian akan menyebutkan ongkos yang harus anda bayar. Tidak ada argo meter untuk setiap perjalanan dengan Bentor. Ongkos ditentukan sendiri oleh si abang Bentor berdasarkan preferensinya sendiri dan kebiasaan yang sudah berlangsung. Jangan kawatir, anda masih bisa menawar harga yang disebutkan. Semakin anda pintar menawar, maka ongkos bentor pun akan semakin berkurang. Kuncinya adalah meriset kecil-kecilan jarak lokasi anda dengan tujuan serta ongkos pasaran becak dengan bertanya kepada warga sekitar. Hal ini cukup membantu selama kita berkendara dengan bentor.

Selama berkendara dengan si Bentor terasa cukup nyaman dengan adanya pelindung panas bagi penumpangnya. Modelnya pun macam-macam, ada pelindung penumpang yang modelnya dapat dibuka tutup, pun ada juga yang modelnya fixed. Abang becak pun dapat dijadikan teman perjalanan anda yang baik. Usahakan memilih abang becak yang anda rasa akan nyaman membawa anda berpelesir. Seperti memilih dari wujud penampilannya, serta kebersihan dan baru atau tidaknya bentor tersebut. Namun usahakan untuk tidak menggunakan perhiasan dan barang yang mencolok selama berkendara dengan bentor.

Dewasa ini keberadaan bentor tidak hanya terdapat di kota Medan. Bentor sudah bermigrasi ke beberapa kota bagian utara Sumatera. Bahkan keberadaan bentor pun sudah dapat ditemukan di Yogyakarta, walaupun mendapat tantangan dari pelaku moda transportasi lainnya. Bentor pun sudah dapat ditemukan di kota Padang, kota tempat saya bermukim sekarang, walaupun hanya pada tititk-titik tertentu saja dan hanya melayani jarak tempuh yang dekat.

Bedanya bentor tersebut dengan bentor di Kota Medan, adalah dari cara pemerintah daerahnya memandang bentor sebagai salah satu moda tansportasi publik. Keberadaan bentor telah diakui pemerintah kota Medan dan sekitarnya dengan melegalkan penggunaan bentor melalui suatu Peraturan Daerah. Makanya dapat kita pahami bahwa bentor identik dengan kota Medan, walaupun bentor tidak hanya terdapat di kota Medan saja.

Hanya saja, ketertiban pengemudi bentor baik bentor di Kota Medan maupun Padang sangatlah kurang. Helm, kaca spion bahkan lampu sen kiri dan kanan amat jarang digunakan. Sehingga tercetuslah idiom di masyarakat bahwa kapan bentor berbelok hanya Tuhan dan si bang bentor yang tahu. Tentunya keadaan seperti ini tidak hanya membahayakan penumpang, namun juga pengendara maupun pejalan kaki lainnya.

Namun, rasanya sangat disayangkan kalau keberadaan bentor hanya sebagai moda transportasi publik semata. Bentor sesungguhnya punya potensi untuk mendukung pariwisata kota Medan. Tentunya ini perlu didukung oleh pemerintah kota dan masyarakat kota Medan khususnya kalau ketertiban berlalu lintas juga sudah disadari oleh pengemudi bentor. Bentor-bentor yang ada sekarang mungkin lebih baik diberi ornamen-ornamen tertentu sehingga menarik turis lokal maupun manca negara untuk menggunakannya. Selain itu perlu menyiapkan abang-abang bentor supaya melek wisata, dalam artian abang bentor tidak hanya berfungsi untuk mengantar, akan tetapi lebih kepada unsur pelayanan yang ditekankan. Kalau ini sudah terwujud, nantinya slogan “Belum ke Medan kalau belum naik bentor” bukan mustahil untuk disebutkan.

Comments (4)

Ety abdoelFebruari 6th, 2014 at 6:39 am

Saya kenal bentor waktu tinggal di Indralaya mba, kabupaten Ogan Ilir, di sumsel. Bagi si Abangnya enak gak ngayuh, buat saya juga sebenarnya enak, cepet nyampe tapi di tempat saya mahaaaal euy ongkos bentornya..

yerviFebruari 10th, 2014 at 5:21 am

Iya dari segi ongkos mmg sepertinya lebih mahal mbak, apalagi klo jarak dekat. Tapi untuk jarak jauh dan kita gak tahu rute atau harus beberapa kali gonta-ganti angkot sepertinya cukup ekonomis. trims sudah mampir mbak ety

Blogs Of HariyantoApril 4th, 2014 at 8:17 pm

bentor..salah satu moda transportasi yang jadi pembicaraan saat ini, di kota makassar, bentor diangggap sebagai salah satu sumber kemacetan, karena wujud bentor yang lebar dan panjangnya hampir menyamai mobil pickup yg paling kecil, namun daya muatnya lebih kecil dari mobil, ,,,,yg pasti naik bentor, memang safetynya sangat kurang, apalagi hanya bentor dan Tuhan yang tahu kapan saatnya bentor berhenti, berbelok dan melawan arus…keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

yerviApril 8th, 2014 at 3:42 am

Wah baru tahu ada juga bentor di makassar. Salam kenal pak hari

Leave a comment

Your comment