Gaya Komunikasi Mahasiswa Jaman Kini

Beberapa hari lalu, saya mendapat pesan singkat yang bunyinya begini :

Ass, buk nama saya XXX, saya mengambil mata kuliah YYY dg ibuk. Nilai saya C buk, saya mhn pengertiannya buk, saya mnta penambhan nilai buk…

Di kesempatan lain saya juga mendapat pesan singkat begini :

Buk, saya ZZZ, mau bertanya kenapa nilai saya bisa rendah?

Ini bukan pertama kali saya mendapat pesan singkat bernada sama. Setiap akhir menjelang masa input nilai akhir semester ke portal, hal yang sama selalu berulang. Yang berani, datang langsung ke saya memohon pengertian saya supaya dikasih kesempatan untuk memperbaiki nilainya yang jelek. Yang malu-malu cukup dengan pesan singkat saja. Padahal saya paling malas untuk membalas sms bunyi beginian.

Saya teringat ketika masih kuliah magister dulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, jangankan untuk meminta-minta perubahan nilai, menelepon untuk konfirmasi saja saya sungkan. Benar-benar gak enak rasanya untuk menelepon dosen di tengah kesibukannya. Kalau jam kerja, takut lagi ngajar atau lagi rapat atau lagi sibuk apalah. Kalau udah di rumah, takut ganggu waktu sang dosen dengan keluarga. benar-benar deh kalau tidak urgent banget, saya gak akan telepon dosen. Lebih baik dulu di konfirmasi langsung dengan mendatangi kantornya. Teman-teman saya juga berlaku demikian. Rasanya masih ada ‘jarak’ yang membuat komunikasi melalui media telepon/HP segan untuk dilakukan.

Tapi sekarang zamannya sudah berbeda. Mahasiswa bebas-bebas saja menghubungi dosennya. Saya memang tidak membatasi jenis komunikasi dengan mahasiswa, bisa dilakukan dengan telepon langsung, pesan singkat maupun melalui media social. Hanya saja kemudahan komukasi dengan adanya bantuan teknologi sudah meniadakan batasan-batasan antara individu yang melakukannya. Kadang kala mahasiswa saja menelepon pada waktu-waktu yang tidak diinginkan, misalnya jam istirahat. Sudah tahu hari libur, mana jam 3 waktu lagi enak-enaknya tidur, pake nelpon segala. Gak diangkat sekali, kemudian diulang-ulang kembali.

Saya paling kesel kalau mereply pesan singkat mahasiswa yang bertanya, kemudian setelah saya berikan balasan, tidak meninggalkan apa-apa. Atau saya mengirim pesan tentang perkuliahan, kemudian tidak di balas dengan mengasumsikan pesan singkat saya hanya berupa info. Walaupun ini hanya dua atau tiga orang yang melakukannya, namun terasa tidak enak di hati.

Makanya dalam pepatah minang , ado kato mendaki-ado kato nan luruih-ado kato malereng. Bahwa setiap gaya komunikasi ditentukan berdasarkan subjek penerima komunikasi. Gaya komunikasi horizontal mungkin cocok digunakan untuk teman sejawat, sesama saudara dan sebagainya. Gaya seperti ini akan terkesan bebas dan straight to the point tanpa  basa basi.

Namun untuk gaya komukasi vertikal, butuh pengantar dan penutup dalam setiap komunikasinya. Ini dilakukan untuk komukasi antar individu yang berbeda secara level hirarki dalam lingkungan sosial. Misalnya komukasi antara bawahan – atasan, antara anak -orangtua termasuk juga antara mahasiswa dan dosen. Dalam berkomunikasi secara vertikal, tidak hanya konten yang menjadi perhatian, namun ketepatan cara penyampaian dan kesesuaian waktu penyampaian juga menjadi kunci sukses dalam berkomunikasi. Misalnya, pesan singkat yang kedua seperti diatas kalau disampaikan secara baik, maka bunyinya akan seperti ini ;

Buk, saya ZZZ, maaf mengganggu kesibukan ibuk. Saya mendapat nilai C- dalam mata kuliah A, rasanya ketika ujian saya bisa mengerjakannya. Mohon izin untuk mengetahui perincian nilai dan kesalahan saya dalam ujian buk. Trims sebelumnya buk.

Nah, kalau seperti ini siapa yang tidak akan luruh mengabulkan permintaan mahasiswanya. Jadi apa kunci sukses komunikasi vertikal, tak lain tak bukan adalah keluarga dan lingkungan. Di keluarga dan lingkungan terdekatlah tempat belajar untuk melakukan komunikasi secara vertikal dan horizontal. Namun apa faktor yang membuat kegagalan dalam komunikasi vertikal? Keluarga dan lingkungan terdekat juga penyebabnya, karena orang-orang yang berada didalamnya tidak mendukung untuk melakukan itu.

Comments (2)

RebellinaJanuari 21st, 2014 at 8:42 am

jaman sekarang, anak-anak dididik hanya berorientasi semata pada nilai. etika, akhlak, budi pekerti, seperti menghilang dari daftar prioritas pengajaran, termasuk pendidikan dari rumah. Tak heran, gaya komunikasi mahasiswa atau pun anak didik di masa kini cenderung bebas. masih inget di masa saya sekolah, ketemu guru hormatnya minta ampun, karena rasa segan dan sungkan. sekarang? miris ya Mbak…

yerviJanuari 28th, 2014 at 3:16 am

Bener mbak, bahkan kalo saya ketemu mahasiswa misal di lobby jurusan atau di tangga jurusan, gak semua lho yang negur. Miris kan?

Leave a comment

Your comment