Diam jauh lebih elegan daripada sibuk menghakimi dan mengumbar kesalahan orang lain, kemudian lupa bercermin-Anonim

WhatsApp Image 2022-03-21 at 2.32.51 PM

Tulisan tentang Gadang Ruok  pernah saya tulis dan dimuat di Harian Singgalang tahun 2017 silam. Sekarang, inspirasi menulis tentang gadang ruok ini kembali muncul. Bukan tentang gadang ruok semata tetapi ada ‘Si’ nya, yaitu Si Gadang Ruok.

Jika dilihat dari judulnya ini sudah jelas memiliki referensi kepada seseorang. Jika gadang ruok  merupakan suatu keadaan atau kata sifat, maka Si Gadang Ruok  itu  adalah kata benda.

Artikel ini barangkali diawali dengan  pertanyaan ‘Apakah anda seorang Gadang Ruok  atau pernah bertemu dengan Si Gadang Ruok? Apa yang dirasakan saat bertemu dan berinteraksi dengan Si Gadang Ruok ini?

Dalam beberapa kesempatan saya pernah bertemu dengan Si Gadang Ruok  ini dan bahkan ada juga teman saya yang termasuk ke dalam kelompok Si Gadang Ruok. Awalnya, berinteraksi dengan orang seperti ini memang menyebalkan dan membosankan. Namun, secara perlahan, saya mulai terbiasa dengan kebiasaan dan perilaku orang ini.

 Gadang Ruok berasal dari Bahasa Minangkabau yang kalau dialihbahasakan menjadi Gadang = Besar  dan Ruok = Busa. Jika digabung Gadang Ruok secara harfiah berarti ‘besar busa’.

Gadang ruok  merupakan sebuah kiasan yang sering digunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk orang yang suka membual, banyak omong tetapi isinyo kosong.  Gadang Ruok yang menjadi analogi untuk orang yang suka membual karena ruok itu sendiri sifatnya semu dan hanya terjadi sesaat. Seiring berkembangnya waktu, ruok ini kemudian akan menguap dan menghilang. Dengan kata lain,  ruok  itu tidak ada isinya tetapi kelihatannya besar dan tinggi. Dalam hitungan detik dan menit, ruok bisa meletus, menguap, atau dibuang.

Ruok apa yang dibuang?

Banyak orang yang kenal dengan salah satu minuman tradisional dari Minangkabau, yaitu teh talua. Teh talua  ini berbahan telur ayam kampung yang dikocok sedemikian rupa sehingga mengembang dan kemudian disiram dengan air teh yang sangat panas. Minuman teh talua ini kemudian ditambah dengan gula, jeruk nipis, atau perasa lainnya sebagai varian.

Teh talua yang bagus adalah yang ruoknya  sangat banyak alias tinggi. Ruok ini akan berada di posisi paling atas begitu sudah disiram air panas. Minuman teh talua terkesan bertingkat yang tergambar dari gradasi warna coklat tua di bagian paling bawah, coklat agak muda, dan ruok  di bagian paling atas.

Ketika meminum teh talua, orang akan membuang ruoknya. Sangat jarang, bahkan tidak ada orang yang meminum ruok dari teh talua  ini. Untuk pertimbangan praktis, biasanya orang yang membuat teh talua ini akan langsung membuang ruok  ini sebelum dihidangkan. Kalau pun masih ada ruok tersisa, maka itu pun jumlahnya sangat sedikit.

Dari analogi ini tergambar jelas bahwa ruok ini dianggap hanya sebagai sesuatu yang tidak berguna. Setinggi apa pun ruok  dalam teh talua, tetap akan dibuang. Hanya saja, ruok  ini menjadi penanda bahwa minuman teh talua ini sudah siap untuk disiram dengan air panas. Telurnya dianggap sudah cukup mengembang sehingga proses pembuatan teh talua bisa dilanjutkan.

Demikianlah posisi ruok dalam teh talua. Seperti itu pulalah seungguhnya posisi si gadang ruok  dalam masyarakat. Posisinya berakhir sebagai bagian yang tidak perlu dan dibuang. Kalau disejajarkan, yang dibuang biasanya sampah karena dianggap tidak perlu. Apakah Si Gadang Ruok dapat disejajarkan dengan sampah, tentu dikembalikan kepada kita semua.

Si Gadang Ruok ini memiliki ciri dan fitur-fitur yang hampir sama. Beberapa cirinya adalah apa yang disebut oleh Masyarakat Minangkabau sebagai gadang ota. Dalam perkataan dan pembicaraannya, dia merasa seakan dia yang ter-. Dia terhebat, terkuat, terbenar, tertahu, dan ter- lainnya. Apa yang dikatakan seakan-akan dialah yang menjadi master. Dunia seakan berada di dalam telapak tangannya sehingga dia dapat membalikkan bumi sesuka hati.

Dalam observasi yang saya lakukan ada beberapa kecenderungan pola bahasa yang digunakan. Misalnya, Saya berhentikan dia nanti atau Kalau kita ndak bergerak, jadi apa dunia ini dan sebagainya.

Tuturan yang digunakan menunjukkan seakan-akan mereka adalah penentu dan pengambil keputusan. Padahal mereka bukan siapa-siapa. Tanpa mereka juga sebenarnya bumi tetap berputar mengelilingi matahari. Tetapi, mereka menyebutkan bahwa rotasi bumi bisa dihentikan oleh kuasa mereka.

Dalam artikel yang pernah dimuat di Harian Singgalang, saya menyebut adanya Bahasa Firaun (2018). Bahasa Firaun itu seakan-akan menuhankan dirinya. Dalam berkomunikasi, si penutur memperlihatkan bahwa mereka yang hebat dan hanya dia yang bisa. Kenyataannya, dia berhadapan dengan orang yang justru sudah diakui kepakarannya oleh khalayak umum dan bahkan dunia internasional.

Sungguh patut Si Gadang Ruok  ini dikasihani. Ruok  yang diproduksinya itu hanya akan semakin menggambarkannya personalitinya. Bahasa adalah cerminan pribadi (Revita, 2014). Language is social mirror  (Chaika, 1986). Semakin banyak Si Gadang Ruok berbicara, semakin terbukalah siapa dia. Yang jelas, dalam ilmu psikologi, ketidakmampuan seseorang ditutupinya dengan membangun ruok dan ketidakbisaan itu bisa saja refleksi dari adanya tekanan mental yang dihadapi. Kelemahan dalam mengontrol emosi dan kegagalan dalam menerapkan ilmu agama membuat yang keluar adalah ruok yang hanya menjadi bahan untuk cemoohan atau candaan bagi orang banyak.

Semoga kita mampu menjadi orang yang gadang ruok.

Sudah dimuat di Harian Singgalang, Minggu, 20 Maret 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation