Rasa sepi mengajarkan pada kita tentang arti kebersamaan. Bersama mengajarkan pada kita tentang arti saling menghargai-Anonim

 WhatsApp Image 2022-01-28 at 18.32.14

Tidak jarang kita melihat orang yang hanya diam dalam keramaian dan sering pula kita melihat orang yang bisa ramai dalam kesepian. Proposisi ini mungkin sedikit questionable karena bagaimana mungkin ada yang merasa sepi saat orang banyak dan ada juga yang bisa menimbulkan keramaian walaupun jumlah orang sedikit.

Inilah yang akan saya ceritakan dalam artikel ini. Bagaimana sesungguhnya orang yang sepi dalam ramai dan ramai dalam sepi.

Dimulai dari sebuah cerita seorang teman dimana saat itu teman ini beserta teman lainnya  melakukan gotong-royong. Gotong-royong ini adalah salah satu bentuk untuk mempercepat persiapan menyambut tamu ke kampus teman ini. Gotong-royong merupakan salah satu wujud dari kerjasama yang mencerminkan kearifan lokal. Dikatakan demikian, jika dilihat pada zaman dulu, masyarakat  kita melakukan segala sesuatu secara bersama. Kebersamaan itu nampak tidak hanya dalam kaitannya dengan persoalan untuk kemaslahatan umat tetapi juga pribadi. Contohnya adalah ketika membangun rumah. Masyarakat melakukannya secara bergotong- royong.

Kebersamaan seperti ini mungkin sudah mulai tergerus. Aktivitas dan rutinitas di dunia kerja menyebabkan sebagian orang tidak bisa berpartisipasi saat bergotong-royong. Belum lagi sikap individualis yang kemudian mengarah ke hanya memikirkan diri sendiri menyebabkan kegiatan gotong-royong ini secara perlahan mulai luntur.

Ini adalah bagian dari sebuah dinamika. Revita dalam beberapa artikelnya yang sudah dimuat di Harian Singgalang (2021, 2019) menjelaskan bahwa salah satu ciri manusia itu adalah bersifat dinamis. Kedinamisan itu berkaitan dengan terjadinya perubahan budaya. Perubahan budaya ini dibarengi dengan perubahan sikap atau sebaliknya.

Jika berbicara tentang sikap, ada dua sikap yang diacu. Sikap dalam perbuatan dan sikap dalam perkataan. Artinya, seseorang itu idealnya mampu menjaga kedua bentuk sikap ini. Baik di perkataan mau pun di perbuatan.

Kemudian apa hubungannya dengan kebersamaan dalam berbahasa?

Sebagai alat komunikasi, bahasa tidak hanya menjadi alat penyebar informasi tetapi juga media untuk mengekspresikan diri. Oleh karena itu, bahasa menjadi cermin bagi seorang pribadi. Misalnya, cara seseorang berbicara dapat menunjukkan daerah asal atau jenis kelamin serta kelas sosialnya. Inilah yang dikatakan Chaika (1986) language as social mirror ‘bahasa sebagai cerminan sosial’. Dalam bahasa ada refleksi variabel sosial penutur. Variabel sosial itulah yang dijelaskan sebelumnya, seperti jenis kelamin, daerah asal, status sosial, tingkat pendidikan, dan sebagainya.

Beberapa penutur bisa saja mengamuflasekan latar belakang sosialnya ketika berbahasa. Hal itu dapat terjadi dalam waktu singkat tetapi tidak lama. Artinya, seseorang dapat menutupi status sosial dan lainnya secara temporari tetapi tidak permanen. Itulah sebabnya, semakin lama seseorang berinteraksi dengan yang lain, maka status sosialnya akan semakin tercermin.

Di sinilah jawaban dari pertanyaan kebersamaan dalam berbahasa tersebut.

Dalam KBBI (2019), kebersamaan diartikan sebagai hal bersama. Ketika digabungan dengan berbahasa menjadi  kebersamaan berbahasa dapat diartikan sebagai hal bersama yang dilakukan lewat bahasa.

Saat bersama, tidak jarang orang-orang yang hadir itu justru menunjukkan perbedaan. Adalah suatu fakta bahwa manusia itu adalah makhluk yang unik. Setiap individu memiliki perbedaan. Tidak ada manusia yang exactly similar (Wardaugh, 1989). Selalu ada perbedaan. Akan tetapi, perbedaan itu tidak menjadikan sebuah alasan untuk berseteru. Justru, bahasa sebenarnya bisa menjadi perekat dalam perbedaan. Inilah yang terjadi dalam masyarakat Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Walau ada keberagaman, tetapi mereka tetap merasa satu sebagai Bangsa Indonesia.

Demikian juga tatkala terjadi diskusi atau tanya jawab. Diskusi ini tentu diwarnai dengan berbagai perbedaan. Akan tetapi, perbedaan ini bukan menjadi bibit untuk bermusuhan. Justru, lewat bahasa kebersamaan dapat dibangun. Inilah yang dipertegas Revita (2008) dan Austin (1968) lewat tindak tuturnya.

Dalam bertutur, sebenarnya manusia tidak hanya mengatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu. Ada aksi dalam bahasa. Performance via language. Contohnya adalah ketika Anindya meminta pergi berlibur, ada beberapa strategi yang dipilih. Di antaranya adalah ‘Bunda kapan waktunya yang longgar? Kayaknya kita sudah lama tidak quality time.’ Bentuk yang lain adalah ‘Bunda sepertinya sudah butuh refreshing karena akhir-akhir ini sibuk. Barangkali ke luar kota bisa menjadi solusinya.’

Kedua tuturan ini memiliki maksud meminta libur tetapi tidak menggunakan Subjek penutur. Justru yang dijadikan subjek adalah mitra tutur. Di sinilah kuasa bahasa. Ada permintaan yang terkandung dalam tuturan. Demikian juga saat terjadi diskusi yang bisa saja terjadi perbedaan pendapat. Perbedaan inilah yang jangan sampai menghapus kebersamaan. Ada banyak cara mengekspresikan perbedaan sehingga kemungkinan terancamnya muka orang lain bisa diminimalisir.

Di sinilah kuncinya, strategi. Berbeda itu indah dan bersama itu bisa dibangun lewat bahasa. Tentu melalui pilihan strategi yang tepat.

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 6 Februari 2022

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation