‘Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat jelek biarlah dia yang menanggungnya -(HR Abu Daud)

 

Judul artikel ini diperoleh ketika sedang membaca salah satu artikel popular yang menggunakan kata punah. Kepunahan yang dibicarakan penulis artikel ini berhubungan dengan kata tertentu. Saya menjadi tergelitik dan terpancing untuk menulis karena hasil bacaan ini bertemali dengan suatu kejadian yang bermuara pada ketidakenakkan.

Diawali dari kisah seseorang yang secara tidak sengaja atau mungkin bersengaja  bercerita kepada saya. Orang ini sebenarnya tidak saya kenal tetapi bertemu saat kami sama-sama sedang menunggu giliran dipanggil ke ruang praktik dokter di sebuah klinik. Bertanya nomor giliran hingga orang ini bercerita banyak.

Saya yang awalnya tidak terlalu tertarik kemudian menjadi terpancing untuk mendengar lebih jauh lagi karena pengalaman orang ini benyak mengandung pembelajaran. Dalam  artikel yang sudah dimuat di Harian Padang Ekspres (2020), saya pernah menyebutkan bahwa bercermin dapat dilakukan pada orang lain. Dengan kata lain, pengalaman orang lain bisa dijadikan pelajaran tanpa harus menunggu terjadi pada diri sendiri.

Orang ini menyebutkan bahwa penyakit alergi yang dideritanya semenjak usia muda lebih banyak dipicu oleh faktor psikologis. Semenjak kuliah, dia termasuk orang yang tidak pernah stagnant dalam menjalani hidup. Cobaan berupa ujian dan tantangan jarang dihadapi sehingga ketika sudah bekerja, ujian mulai sering melanda. Ketidaksiapan dan ketidakbiasaan membuat dia jadi kagok. Dia mulai merasa insecure ketika berada di dunia kerja. Hingga akhirnya orang ini harus diterapi oleh seorang psikolog dalam jangka waktu tidak pendek hingga akhirnya rasa percaya diri mulai muncul sampai dia benar-benar pe-de.

WhatsApp Image 2021-12-29 at 18.32.57 (2) WhatsApp Image 2022-01-28 at 18.32.13 (2)

Masalah mulai muncul ketika dia harus bekerja bertim dengan seseorang yang sering sangat lambat dalam mengambil keputusan. Sementara, tuntutan kerja mereka membutuhkan orang yang gercep. Orang ini mulai nerasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini semakin menjadi ketika timnya ini mulai hitung-hitungan dalam bekerja. Ini bagian kerja saya dan itu bagian kamu. Sementera kerja mereka berkait satu sama lain.

Dalam sebuah teamwork  memang ada job separation  dan job distribution tetapi tetap ada bagian yang tumpang tindih. Dalam pemahaman saya, itulah gunanya tupoksi dalam pekerjaan sehingga tidak ada klaim ini kerja saya dan itu kerja kamu. Bahasa yang seperti ini tidak jarang membuat orang lain menjadi tidak nyaman. Dan salah satunya terjadi pada orang ini sehingga membuat alerginya kambuh kembali.

Cerita orang ini berlanjut sampai pada tindakan tim yang sudah salah tetapi tidak mau mengakuinya. Sepertinya anggota tim ini memiliki kesulitan dalam mengatakan ‘maaf’ saat melakukan kesalahan. Padahal meminta maaf bukan berarti kalah tetapi justru menaikkan derajat orang itu. Meminta maaf akan membuat beban psikologis jadi berkurang atau hilang karena salah satu tugas manusia adalah meminta maaf tatkala melakukan salah.

Dalam sebuah artikel tentang ‘kata sakti’ (Padang Ekspres, 2017), saya menyebutkan ada empat kata yang wajib diajarkan kepada anak. Kata itu adalah ‘terimakasih’, ‘permisi’, ‘tolong’, dan ‘maaf’. Walau pun di posisi terakhir, tetapi kata ini banyak yang sulit digunakan orang lain. Salah satunya adalah karena ego.

Ada orang yang beranggapan meminta maaf menunjukkan kekalahan dan orang yang meminta maaf adalah orang yang rendah. Justru ketika ada yang meminta maaf, orang yang dimintai merasa hebat karena permintaan maaf itu. Di sinilah kerugian orang yang berpikir seperti ini. Banyak nasihat yang mengatakan bahwa ‘Memaafkan, kadang-kadang bukan karena kita terlalu baik tetapi karena hati tak mampu lagi diisi dengan kebencian. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan benci dan buruk sangka sesama kita’. ‘Selalu ada kebaikan setelaha kata maaf’.

Jika ditelisik lebih jauh lagi, berbicara tentang maaf ini memang memerlukan kedalaman pemahaman. Secara semantis, maaf diartikan sebagai pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan (KBBI, 2018). Maaf juga dapat dimaknai sebagai ungkapan penyesalan. Akan tetapi, tidak semua permintaan maaf merupakan muara dari sudah dilakukannya kesalahan. Banyak orang yang mendahului tuturannya dengan kata ‘maaf’ sebagai bentuk kesantunan dalam berbahasa.

Membicarakan kesantunan dalam hubungannya dengan maaf barangkali bisa dibicarakan dalam artikel berikutnya. Yang jelas, kata ‘maaf’ ini sudah mulai jarang terdengar. Orang seperti abai saja ketika sudah menyakiti orang lain. Saat ada pihak yang terluka oleh kata-kata dan sikapnya, ada orang yang mencuekin dan bersikap seakan-akan tidak ada kejadian. Mereka merasa tidak perlu meminta maaf.

Bahkan, tidak jarang mereka memasang wajah innocent. Berbuat seakan apa yang sudah dilakukan itu adalah hal normal. Padahal ketika berbuat salah,  sudah sewajarnya meminta maaf. Barangkali pandangan ini berlaku untuk mereka yang normal.

Di dunia ini ada orang yang merasa normal dengan ketidaknormalannya. Misal, suka membuat orang sakit hati, senang ketika orang lain menjadi malu, atau berbahagia ketika orang harus mengemis meminta karena kuasa yang dimiliki.

Ini adalah realita. Sesuatu yang tidak berbayar, seperti menggunakan kata ‘maaf’ justru sekarang mulai langka. Tidak tertutup kemungkinan kata ini bisa menjadi kata ‘antik’ karena jarangnya digunakan. Ironisnya, kata ini bisa saja hilang atau kehilangan marwah karena orang sudah tidak mau, gengsi, atau rasa sombong membuat mereka tidak mau menggunakan kata ‘maaf’ walau sudah melakukan kesalahan.

Semoga ini tidak terjadi dan dilakukan oleh kita. Barangkali hanya‘orang normal’ yang mau meminta maaf.

Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, 28 Januari 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation