Mulailah membiasakan diri untuk tidak bicara seenaknya, lebih baik diam daripada bicara yang tak bermanfaat-Anonim

 

Setelah disibukkan dengan rutinitas sejak Senin hingga Jumat, entah kenapa pada akhir pekan minggu itu saya benar-benar menikmati weekend dengan kegiatan yang memanjakan diri. Biasanya, di akhir pekan itu saya akan mengisi waktu dengan memanjakan hobi, memasak dan mencoba menu sesuai request anak-anak.

Jumat malam saya akan bertanya menu untuk Hari Sabtu dan Minggu. Istilahnya, di kedua hari itu saya sering melakukan masak besar. Ada kebahagiaan tersendiri saat menghabiskan hari di dapur. Bahagia itu semakin bertambah ketika hasil masakan itu ludes karena semua anggota keluarga menikmatinya.

Bangun tidur, saya tetap menyiapkan sarapan pagi dan kemudian melakukan olah raga kecil. Biasanya setelah berolahraga, saya akan bersiap ke pasar untuk berbelanja. Hari itu, saya memilih menonton film di sebuah aplikasi. Film series itu ternyata tidak bisa ditonton hanya dalam waktu 2 jam. Sehari penuh saya menonton sebuah film yang menurut saya enak untuk ditonton karena ada nilai-nilai edukasi. Film yang mengisahkan 2 anak bukan saudara kandung  tetapi  dibesarkan oleh sebuah keluarga. Dididik dengan cara yang sama hingga kemudian mereka berkumpul kembali dengan orang tua masing-masing setelah berumur sekitar 11 tahun.

Sejak bayi hingga berusia 11 tahun, kedua anak ini dibesarkan dalam sistem yang sama. Akan tetapi, saat sudah dewasa, mereka menjadi karakter yang bertolak-belakang. Terjadi perbedaan seperti bumi dan langit karena semenjak berkumpul dengan orang tua masing-masing, pola asuh pun ikut berubah.

Apa yang membuat mereka berubah?

Lingkungan adalah salah satu  jawabannya.

Dalam beberapa artikel yang ditulis oleh Revita dan dimuat di Harian Singgalang, Revita (2018,2019, 2020,  2021) menjelaskan konsep yang terkait dengan ibu dan temali-temalinya. Salah satunya adalah besarnya peran ibu yang tercermin dalam kosakata. Ada bahasa ibu, ibu kota, ibu jari, ibu pertiwi, dan lainnya tetapi tidak ada bahasa bapak, bapak kota, atau bapak jari.

Apa implikasi dari contoh ini?WhatsApp Image 2022-01-28 at 18.32.14

Saya mengasumsikan bahwa ibu memiliki perang yang penting dalam perkembangan anak-anaknya. Anak adalah masa depan sebuah negara. Pembentukan anak tentu pondasinya dibentuk oleh ibu, mulai dari dalam kandungan hingga anak disusui sampai berusia 2 tahun. Artinya, kebersamaan Ibu dan anaknya dalam sentuhan fisik paling tidak dilalui selama lebih kurang 3 tahun. Sentuhan yang secara psikologis memberi efek dan impak yang sangat dalam.

 

Efek dan impak ini kemudian bisa berubah ketika anak sudah berinteraksi dengan lingkungannya. Jika pondasi yang sudah dibangun di usia dini ini tidak diperkuat sampai usia emas (7 tahun), tidak tertutup kemungkinan pondasi tersebut dapat hancur. Barangkali inilah yang diperlihatkan dalam film yang saya tonton tersebut.

Keasyikan menikmati me time membuat saya melupakan membuka media sosial whatsapp. Saat membukanya di sore hari, ratusan pesan sudah masuk. Dari pesan yang masuk itu, satu pengirim yang membuat saya menjadi termenung dan mencoba merenung sembari menjawab pertanyaan yang saya munculkan sendiri. Kok bisa ya?Pesan itu dikirim oleh seorang mahasiswa semenjak Jumat malam, sekitar pukul 10 malam. Pesan yang persis sama kemudian berulang esoknya di pagi hari. Diikuti pesan yang persis sama di Sabtu siang, berlanjut sore, dan malam.

Kesemua pesan yang merupakan hasil copy paste  dari pesan pertama hanya saya baca dan tidak saya respon. Minggu paginya pesan yang sama muncul kembali, diiringi siang hari, dan sore hari. Pesan yang terakhir itulah satu-satunya berbeda dengan pesan sebelumnya. Jika bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris, di pesan terakhir itu digunakan Bahasa Indonesia.

Kenapa pesan itu tidak saya respon?

Karena ada niat untuk mengedukasi pengirim bahwa saat berkomunikasi dia harus memperhatikan koridor berbahasa. Dalam Linguistik (Pragmatik) ada yang disebut dengan konteks. Konteks menjadi wadah dan dasar dalam menentukan bentuk serta strategi bertutur. Bertutur atau berbahasa tidak bisa seenak hati. Ada frame yang tidak boleh didobrak. Ketika frame  itu didobrak, yang terjadi adalah penutur bisa dianggap tidek beretika, tidak dopan, bahkan kurang ajar.

Saya membalas pesan tersebut dengan memberitahukan beberapa informasi terkait etika. Berkomunikasi tidak bisa menggunakan azas hantam kromo. Prinsip’ yang penting mau saya dapat, persoalan sopan atau tidak sopan bisa diabaikan’ tidak boleh dianut.

Nasihat saya itu kemudian direspon dengan ringan oleh si pengirim. Yang saya tangkap, dia tidak merasa bersalah dengan kekeliruan yang sudah dilakukan.

Ini adalah realitas. Banyak hal yang kemudian membuat orang mengabaikan etika dalam berkomunikasi. Bisa saja banyak orang yang tertekan karena pandemi ini sehingga mereka harus berkurung di rumah. Akibatnya, mereka tidak belajar dari alam dan lingkungan. Mereka sibuk berhadapan dengan layar kaca tanpa mengenal rasa yang sesungguhnya ketika berbahasa. Akibatnya, roh berbahasa itu tidak dapat kecuali yang menyampaikan apa yang diinginkan.

Di sinilah sebenarnya peran dari lingkungan terdekat. Perlu dilakukan kontrol dan edukasi terhadap anak-anak saat berkomunikasi walau itu lewat media sosial. Justru lebih baik tidak mengatakan apa pun daripada melakukan sesuatu yang konyol.

Adalah tugas kita bersama untuk memperbaiki, mengontrol, mengingatkan, dan memberi contoh perilaku berbahasa. Menjadikan berbahasa yang baik sebagai kebiasaan tentu memerlukan edukasi dan model. Semoga harapan dan kekhawatiran banyak orang tentang strategi berbahasa kekinian yang hantam kromo dan main hajar  bisa diperbaiki tanpa mengurangi arti dan makna bahwa pengguna bahasa adalah  generasi milenial dengan kebutuhannya.

 

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 30 Januari 2022

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation