Hidup ini sangat luas dan dimensi-dimensi persoalannya tak terhingga, untuk itu diperlukan bukan sekadar wawasan yang luas dan pengetahuan yang terus dicari melainkan juga kearifan dan sikap luhur yang konsisten dari hari ke hari.Emha Ainun Najib

 

Salah satu ciri manusia adalah berubah. Perubahan itu tidak hanya di fisik, karena pertumbuhan tetapi juga karena usia. Perubahan juga bertemali dengan berubahnya zaman. Salah satunya adalah dalam berbahasa atau kemunculan kata-kata.

Dalam Linguistik atau ilmu bahasa, bahasa itu dikatakan bersifat dinamis. Kedinamisan itu beriringan dengan perubahan manusia. Dengan kata lain, fakta yang tidak dapat dinafsihkan bahwa manusia itu berubah akan berkorelasi dengan perubahan bahasa.

Perubahan bahasa tidak hanya terjadi pada bentuk tetapi juga pada makna, fungsi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa itu. Perubahan ini tidak bisa dihindari dan harus disikapi dengan bijak. Kebijakan ini akan tercermin dari penggunaan bahasa itu sendiri serta strategi-strateginya.

Demikian juga halnya dengan Si Cepu.

Apa itu cepu?

Kata cepu ini saya ketahui dari beberapa orang mahasiswa yang saat itu sedang curhat kepada saya. Ketika mereka menyebutkan kata ‘cepu’ saya sedikit kaget dan langsung menanyakan artinya. Jawab mereka, ‘Ya seperti yang diceritakan itu, Bu’. Karena kepo saya bertanya lagi makna dari kata ‘cepu’ini. Mereka secara bersamaan langsung menyebutkan bahwa cepu itu mengacu kepada orang yang suka mengambil muka dan tega untuk menjelekkan orang lain atau membuka aib agar dia tetap baik di mata orang lain. Dengan kata lain, si cepu itu mengacu kepada orang yang mampu untuk membuka aib orang lain agar dia selamat sendiri.

Berawal dari pengalaman mahasiswa yang harus gagal pada mata kuliah tertentu karena gara-gara si cepu. Menurut mahasiswa ini, mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh seorang dosen. Apa yang dilakukan dosen tidak sejalan dengan apa yang diinformasikan di awal perkuliahan.

Karena perkuliahan masih bersifat daring sehingga Sebagian mahasiswa kesulitan memenuhi permintaan dosen ini. Yang terjadi adalah akhirnya mahasiswa ini memperbincangkan dosennya dalam sebuah kelompok media sosial.

Adalah realitas ketika mahasiswa memperbincangkan dosennya, atau bawahan membicarakan pimpinannya. Hal ini tidak tertutup terjadi saat atasan membicarakan bawahannya atau dosen mendiskusikan mahasiswanya.

Di sinilah petaka muncul saat dalam kelompok media sosial ini hadir Si Cepu. Si Cepu ini kemudian dengan tenang membagi informasi kepada dosen hasil percakapan dan ‘gunjingan’ kawan-kawannya tentang dosen tersebut.

Akibatnya dosen ini marah sehingga satu kelas yang mengambil mata kuliah dengannya digagalkan kecuali Si Cepu. Si Cepu kemudian melenggang melanjutkan mengambil mata kuliah berikutnya karena sudah lulus mata kuliah yang diampu dosen ini.

Bagaimana dengan teman-temannya?

Nasib teman-temannya sudah jelas. Gagal pada mata kuliah itu.

Kebijakan pimpinan kemudian berhasil menyelesaikan persoalan ini. Rutinitas mahasiswa ini kembali berjalan normal. Walau ada ketidakpuasan beberapa pihak, tetapi regulasi yang ada berhasil menyelesaikan masalah yang juga tidak merugikan pihak lain.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana nasib Si Cepu?

Si Cepu tentu akan dikucilkan oleh teman-temannya ini. Tidak tertutup kemungkinan, perilaku Si Cepu akan menjadi kisah yang diceritakan turun temurun. Bahkan, kelak ketika mahasiswa ini sudah menjadi kakek dan nenek dan kemudian bertemu dengan Si Cepu, mereka akan bercerita kepada cucunya perilaku Si Cepu yang tidak boleh ditiru.

Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan ada konsekuensinya. Saat Si Cepu memutuskan untuk mendapatkan nilai bagus tetapi mengkhianati teman-temannya, konsekuensinya tentu ada juga.WhatsApp Image 2021-11-03 at 22.24.30

Berkhianat adalah perbuatan tercela tetapi menyimpan dan membiarkan perbuatan  yang salah juga tidak dibenarkan. Di sinilah kearifan dan kebijaksanaan diperlukan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Emha Ainun Najib di atas bahwa dinamika dalam hidup menuntut kita untuk konsisten dalam kearifan dan kebijaksanaan. Tidak arif dan bijaksana dalam waktu tertentu atau orang tertentu saja. Setiap saat dan pada semua orang.

Dalam sebuah tulisannya yang dipublikasi di Harian Singgalang (2018), Revita mengatakan bahwa tua itu keniscayaan dan dewasa itu pilihan. Semua orang pasti tua dan tidak semua orang memilih untuk dewasa.

Salah satu wujud kedewasaan itu adalah kearifan, tidak hanya di sikap perbuatan tetapi juga bahasa. Allah sudah mengatur semuanya sedemikian rupa, manusia tinggal menjalani. Oleh karena itu, segala sesuatu tidak perlu diperjuangkan dengan gradak-gruduk sehingga harus menghantam atau menendang orang lain.

Saat kehidupan dijalani dengan niat untuk ibadah, tidak ada yang tidak indah. Riak-riak yang terjadi justru membuat hidup semakin indah. Riak bukannya membuat kita galau sehingga bersikap hantam kromo. Riak dapat menjadi ‘tarian’ dan membuat hidup berwarna.

Riak pulalah yang akan dapat mendewasakan jika disikapi secara arif.

Semoga kedewasaan yang tercermin dalam kearifan dan kebijaksanaan menjadi pilihan kita semua.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation