Saya lupa dimana pertama kali mendengar istilah ‘sumbu pendek’ karena ketika didengar lagi, ada kelucuan dan kegelian yang mendera. Hal ini terjadi saat diskusi  yang melibatkan beberapa peneliti dengan latar belakang keilmuan berbeda. Tidak hanya itu, peneliti ini pun berasal dari tingkat pendidikan yang bervariasi, mulai dari S1, S2, bahkan sampai di tataran doktor.

lp3m4

Dalam sesi question and answer, ditemukan banyak variasi. Masing-masing memiliki gaya dan strategi yang dapat mencerminkan salah satu dari variabel di atas. Akan tetapi, beberapa variabel, seperti pendidikan tidak menjamin. Dengan kata lain, jika dahulu ada konsep yang menyebutkan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin sopan cara berbicara. Akan tetapi, konsep ini tidaklah berlaku universal. Tidak ada jaminan absolut bahwa orang yang berpendidikan tinggi akan linear dengan kemampuan mereka berbahasa.

Banyak ditemukan orang yang berpendikan rendah, hanya tamatan sekolah dasar tetapi memiliki kemampuan beretorika yang luar biasa. Inilah yang dikatakan Revita (2018) bahwa dalam komunikasi dibutuhkan kemampuan atau kecerdasan linguistik yang tercermin dari kepiawaian dalam memahami konteks.

Azas kepatutan dan kepantasan menjadi pertimbangan saat berkomunikasi. Apa yang dirasakan tidak langsung dikatakan. Justru yang disebut masyarakat Minangkabau, mangango sabalum mangecek adalah fondasi sebelum bertutur.

Dalam kisah diskusi di atas, terjadi perdebatan sengit antara pemakalah dengan seorang penanya. Masing-masing mereka memiliki keyakinan dan mereka bertahan dengan keyakinan itu. Akibatnya adalah terjadi semacam debat yang bertabur emosi. Tebaran-tebaran bahasa yang sifatnya menunjukkan kekuatan, kekuasaan, dan kemampuan tidak dapat dihindari. Selain itu, bahasa-bahasa yang cenderung merendahkan dan menjatuhkan juga bermunculan.

Perseteruan ini seperti tidak berujung karena moderator sebagai pengatur arus diskusi seperti sudah tidak berperan lagi. Hingga berdirilah seseorang yang secara usia mengaku paling tua di ruangan itu. Dengan arif dia menyebutkan betapa sedihnya perasaan hati di saat melihat orang-orang yang termasuk dalam klasifikasi intelektual berdebat dengan cara yang ‘kurang cerdas’.

Dalam pandangannya, tidak seharusnya diskusi melibatkan emosi karena emosi hanya akan merusak suasana akademik. Hati pun ikut terganggu karena ketidaknyamanan situasi. Tidak ada manusia yang persis sama di dunia. Rambut sama hitam tetapi pikiran berbeda-beda. Isi pikiran setiap orang tidaklah sama. Justru perbedaan bukan seharusnya dijadikan dasar untuk perseteruan tetapi adalah kenikmatan. Berbeda itu indah. Diversity is beautiful.

Kejadian kedua adalah ketika ada pemaksaan keinginan  dari satu pihak kepada pihak lain. Meskipun sudah dijelaskan secara lugas, tetap dia ngotot agar permintaannya dipenuhi. Ngotot ini pun berujung pada perseteruan karena tidak satu pun manusia mau dipaksa dan didikte dengan cara yang tidak pas. Kalimat-kalimat tidak pantas pun akhirnya keluar dan sudah pasti memicu rasa tidak enak bagi kedua pihak.

Dalam kedua kejadian di atas, mucullah apa yang disebut dengan sumbu pendek.

Secara semantis, sumbu merupakan benang atau kapas yang berfungsi sebagai jalan  untuk peresapan minyak  ke bagian yang disulut (KBBI 2012).  Misalnya adalah sumbu kompor atau lampu. Semakin panjang sebuah sumbu maka akan semakin lamalah api menyala di bagian yang disulut. Akan berbeda halnya dengan sumbu yang pendek. Begitu disulut, api langsung menyala. Bahkan, untuk petasan atau meriam pada umumnya digunakan sumbu pendek agar cepat meledak.

Di sinilah saya melihat filosofi dari sumbu pendek ini.

Bahwa ada manusia yang begitu gampang tersulut dan meledak-ledak dalam sebuah kemarahan. Begitu terpancing, emosi langsung muncul. Emosi ini akan berbahaya tatkala si sumbu pendek ini langsung mengambil keputusan final. Hal ini lebih fatal jika dilakukan oleh seorang pimpinan. Dia dengan serta merta mengambil keputusan di saat emosi.

Biasanya, putusan yang diambil dalam kondisi emosi dinilai tidak objektif. Putusan itu bukanlah terbaik. Itulah sebabnya Rasulullah Muhammad Saw meminta umatnya untuk tidak pernah mengambil keputusan ketika sedang emosi. Untuk itu, bersikap sabar adalah yang terbaik. Dengan berlaku sabar, emosi  bisa diminimalisir sehingga ‘sumbu’ ini tidak akan meledak.

Ketika berdiskusi dengan Promotor saya saat mengambil program doktor, Prof. I Dewa Putu Wijana beberapa hari yang lalu di Yogyakarta, beliau dengan tegas meng-highlight pernyataannya untuk berhati-hati dalam menyampaikan dan mengekspresikan sesuatu lewat media sosial. Apa yang di-posting  di media sosial ini oleh Crystal (2003) merupakan bentuk semi-lisan. Artinya, komunikasi di media sosial adalah bentuk interaksi menggunakan suatu media. Bentuk lisan yang disampiakan menggunakan media. Salah satunya media sosial.

Perbedaan paling signifikan  antara komunikasi via lisan dan media (sosial) adalah adanya dokumen yang akan menjadi bukti atas apa yang dikatakan. Apalagi jika itu dilakukan dalam komunitas atau kelompok media sosial tertentu, seperti whatsapp. Ketika si sumbu pendek meledak, dia langsung menulis  di media sosial. Dia juga langsung mem-posting apa yang ingin dikatakan. Padalah secara psikologis saat itu bisa jadi dia sedang labil. Akibatnya, muncullah bahasa yang menyakitkan hati orang lain dan memiliki bukti fisik, yakni hasil posting-an. Posting-an ini diikuti dengan adanya saksi yang ikut membaca apa yang dituliskan.

Di sini si sumbu pendek sering lupa. Apo nan taraso di kaluaan. Tidak ada konsep mangango sabalun mangecek  tadi. Yang ada adalah mangango se taruih sehingga menjadi gradak-gruduk menyenggol orang lain.

Orang  bersumbu pendek seperti ini patut dikasihani. Mereka adalah orang-orang yang barangkali perlu diberi pencerahan agar mampu mengendalikan emosi dan menahan diri  untuk tidak bermain jari di atas keypad android atau hand phone seketika sedang emosi.

Revita (2013) dalam bukunya yang berjudul ‘Tindak tutur permintaan’ menjelaskan berbahasa berhadapan dengan orang lain. Orang lain itu bukanlah kita yang sudah  pasti tidak sama dengan kita. Oleh karena itu, berbahasa menuntut kecerdasan linguistik. Berbahasa merupakan realisasi dari kekayaan repertoire seorang manusia. Orang yang memiliki repertoire luas dan lebar berkorelasi dengan elegant-nya dia berbahasa.

da367157-dc0d-469c-9d3e-0b2e58a187fd

Sering kita bertemu dengan orang yang tetap tersenyum tatkala dia disakiti. Rasa sakit itu tetap tertutupi lewat tutur kata yang baik. Meskipun ada pihak yang menyebutnya dengan munafik atau hypocrite tetapi itu adalah wujud dari kebesaran jiwa. Jika memiliki sumbu, sumbu itu sangatlah panjang sehingga butuh waktu yang sangat lama untuk menyala. Nyala itu tidak berupa ledakan tetapi adalah pencerahan atau penerangan.

Sekarang semuanya kembali kepada kita. Apakah akan memilih menjadi seseorang yang bersumbu pendek, sedikit-sedikit meledak dan merealisasikan amarah melalui tulisan-tulisan di media sosial. Alangkah mirisnya.

Pilihan bisa juga menjadi orang yang bersumbu panjang sehingga senantiasa sabar dengan berbagai bentuk cobaan dan cercaan yang diterima. Walau menyakitkan, senyum tetap menjadi pilihan. Bahkan tetap berbuat baik kepada si sumbu pendek yang sudah menyakiti atau melukai hatinya.

Semoga kita termasuk dalam kelompok orang sabar dan tidak dengan mudah terpancing sehingga larut dalam emosi yang justru dapat menenggelamkan diri sendiri. Semoga!

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

 FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 4 November 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation