Berbahasa bertemali dengan orang lain karena saat berbahasa media yang digunakan adalah bahasa itu sendiri. Sebagai alat komunikasi, bahasa dan penggunaanya melibatkan orang lain sebagai mitra wicara atau mitra tutur. Bersama mitra tutur inilah kemudian seorang penutur berinteraksi dan berbahasa.

IMG-20180327-WA0033

Saat berbahasa, tidak jarang komunikasi itu berjalan dengan tidak mulus. Ketidakmulusan ini salah satunya dipicu oleh tidak adanya common share  atau common knowledge ‘pengetahuan bersama’ antarorang yang terlibat. Masing-masing mereka melihat dan memandang tuturan dengan cara sendiri sehingga terjadilah apa yang disebut dengan gagal komunikasi atau gagal pragmatik (Revita, 2018).

Untuk menghindari terjadinya gagal pragmatik ini, peserta tutur yang terlibat dalam percakapan, yakni penutur dengan mitra tuturnya harus memiliki kesepahaman. Bukti adanya kesepahaman ini adalah dengan berjalannya komunikasi secara lancar. Salah satu  modal agar kelancaran komunikasi ini tetap berjalan adalah adanya kecerdasan linguistik.

Apa itu Kecerdasan Linguistik?

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan seseorang atau individu dalam mengolah serta menggunakan kata dengan sangat baik, dilihat dari lisan ataupun tulisan (Lwin, 20013) . Kecerdasan linguistik ini dapat mencakup adanya  penguasaan kata yang matang, suara dan ritme yang sangat jelas dan tenang serta intonasi yang diucapkan sangatlah baik. Dalam Ilmu Psikologi disebutkan kecerdasan linguistik  merupakan 1 diantara 7 tipe kecerdasan yang ada di dalam tubuh manusia.

Kecerdasan linguistik ini dianggap sangat penting dan bahkan vital karena mereka yang memiliki kecerdasan ini termasuk golongan yang spesial. Hal ini berhubungan dengan bahasa atau penyampaian kata merupakan sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk bisa berkomunikasi dengan yang lainnya dan membangun lingkungan yang baik. Jika seseorang memiliki kecerdasan linguistik, itu mengartikan bahwa dia telah berhasil duduk manis diantara lingkungannya yang baik dan memiliki komunikasi yang baik dengan orang lain juga. Tak jarang mereka yang memiliki kecerdasan ini dianggap berwibawa dan disegani banyak orang.

Salah satu elemen yang terkait dengan kecerdasan linguistik dalam Linguistik (ilmu yang mempelajari bahasa dengan unsur-unsurnya secara ilmiah) adalah linguistic repertoire (Revita, 2013). Istilah repertoire dipakai untuk semua bahasa dan ragam bahasa yang diketahui dan dipakai seseorang  dalam pergaulan,  pekerjaan, dan urusan- urusannya. Setiap orang berpotensi untuk menguasai dan menggunaan banyak dari ragam bahasa pertamanya. Dengan demikian, seorang individu tidak tertutup kemungkinan mengusai lebih dari satu bahasa atau variasi dari bahasa ibunya.

Misalnya, seorang Minangkabau menjadikan Bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibunya. Karena di sekolah digunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar menyebabkan dia juga menguasai Bahasa Indonesia. Akan tetapi, lingkungan tempat tinggalnya yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai kawasan Sumatera Barat membuat dia pun mengetahui dengan baik variasi Bahasa Minangkabau Solok, Pariaman, atau Payakumbuh.

Penguasaaan atas beberapa bahasa atau variasi/ragam bahasa ini disebut dengan linguistic repertoire.  Beberapa ahli menyebutnya dengan verbal repertoire yakni kemampuan komunikatif yang dimiliki seorang individu karena adanya linguistic repertoire. Biasanya, semakin banyak seseorang bergabung dalam sebuah komunitas, semakin lebarlah linguistic repertoire nya. Hal ini dipastikan oleh bervariasinya ragam bahasa yang dikuasai sebagai hasil dari interaksi dengan anggota komunitas yang berbeda ini. Masing-masing komunitas biasanya memiliki register atau kosa kata yang indentik  dengan komunitas itu. Di sinilah kayanya kosa kata seseorang  yang nantinya akan digunakan secara cerdas dalam konteks tertentu. Kemampuan komunikatif ini berhubungan juga dengan apa yang disebut dengan retorika.

Apa itu Retorika?

Secara historis, istilah retorika mulai dikenal pada tahun 465 SM, ketika Corax menulis makalah bejudul Techne Lagon (Seni Kata-Kata). Pada waktu itu seni berbicara atau ilmu berbicara hanya digunakan untuk membela diri dan mempengaruhi orang lain. Membela diri di pengadilan ketika orang lain mengambil tanah atau mengakui tanahnya karena waktu itu belum ada sertifikat tanah. Membela diri ketika seseorang, katakanlah orang kaya raya dituduh mengorbankan kehormatannya dengan hanya mencari setandan pisang di kebunnya sendiri.

Sekarang retorika merupakan cara pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan atau metode yang teratur atau baik untuk menyampaikan suatu informasi, persuasi, motivasi, maupun pengetahuan itu sendiri. Berpidato, ceramah, atau khutbah adalah beberapa contoh aktivitas yang berhubungan dengan kemampuan retorika. Ilmu atau kemampuan retorika   banyak dimiliki oleh seorang orator, politikus, atau pimpinan. Ini disebabkan oleh mereka berhubungan dengan publik dalam rangka memberi informasi, motivasi, atau persuasi.

Bagaimana Hubungan Kecerdasan Linguistik dan Beretorika?

Dalam KBBI (2013)  retorika diartikan sebagai keterampilan berbahasa secara efektif atau seni berpidato yang muluk-muluk dan bombastis. Ketika kata prefiks ber- dipakai mendahului kata retorika, artinya  berubah menjadi memiliki kemampuan berbahasa secara efektif atau yang muluk-muluk karena ber- dalam Bahasa Indonesia salah satunya berarti memiliki.

Ketika seseorang yang memiliki kecerdasan linguistik sejatinya dia akan bagus dalam retorika. Yang menjadi persoalan adalah ketika retorika itu diseting untuk  kepentingan pribadi. Inilah yang saya maksud dengan beretorika.

Seorang individu melalui bahasanya tidak jarang melakukan maneuver-manuver dalam berbahasa. Menggunaan linguistic repertoire  yang lebar menyebabkan dia semakin leluasa dalam beretorika. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah fitnah.

Fitnah dalam ajaran Agama Islam disebutkan lebih kejam dari pembunuhan. Fitnah merupakan satu perbuatan melalui bahasa yang mengarang-ngarang sebuah cerita untuk suatu hal yang tidak ada atau tidak benar demi kepentingan tertentu. Fitnah berkonotasi negatif karena tindakan berbahasa itu didasarkan atas ketidakbenaran atau fakta-fakta yang diada-adakan. Revita dalam sebuah tulisannya di Harian Padang Ekspres (2018) tentang Menyibak Fakta dalam Korupsi Kata-kata mengatakan bagaimana seseorang melakukan korupsi lewat kata-kata yang digunakan agar ambisinya terpenuhi. Dia bisa mengatakan iya untuk yang tidak ada atau tidak untuk yang ada hanya untuk mengejar nafsu dunia yang bersifat hedonis.

Betapa banyaknya orang yang menjadi korban fitnah sehingga hubungan baiknya berubah jadi buruk atau  putus. Silaturahim tidak terbangun lagi akibat fitnah yang sudah ditebar. Ironisnya, si penerima berita fitnah tidak pernah cross-check  dan menelan mentah-mentah informasi tidak benar itu. Akibatnya, perubahan drastis pun terjadi. Tiada lagi tegur sapa. Bahkan, tuturan-tuturan yang berisi sindiran tidak jarang diujarkan pada orang yang difitnah ini.

Seorang sahabat yang pernah mengalami kejadian korban fitnah  merasakan betapa dahsyatnya efek sebuah fitnah. Demi kuasa, kawan yang sudah dianggap saudara menceritakan berita bohong berbentuk ftnah kepada tim kerjanya. Tim ini juga percaya sehingga sahabat ini diisolasi dalam tim itu. Kesabaran dan kebesaran jiwa sahabat ini membuat dia bertahan. Keyakinan bahwa Allah adalah Maha segala Kuasa menyebabkan dia tetap sabar. Beberapa kali dia diperlakukan tidak adil, tetapi kecerdasan emosinya membuat dia tetap bisa kuat  melewati setiap fase dari efek fitnah. Doa yang tiada putus membuat dia tetap mampu menjalani rangkaian kegiatan tim secara normal. Walaupun dia sering diperlakukan tidak adil, sahabat ini tetap tersenyum. Bahwa sabar tiada berbatas merupakan keyakinannya sehingga dia tidak pernah berhenti. Doa adalah kekuatan sahabat ini juga.8f74b283-2150-4a60-8212-bf85bcbf0a45

Kisah sahabat ini adalah satu dari ribuan fitnah yang terjadi di dunia ini. Tidak jarang kita mendengar orang yang sampai bacakak sakampuang atau lempar batu antargang dalam  satu RT hanya gara-gara fitnah. Fitnah memang benar-benar keji. Makanya fitnah dalam Islam termasuk  dosa besar. Akibat yang ditimbulkan  tidaklah sederhana.

Fitnah adalah wujud dari kemampuan seseorang dalam mengarang konteks sehingga lahirlah retorika yang cantik. Dengan kecerdasan linguistik yang disalahgunakan melalui kekayaan kosakata atau linguistic repertoire muncullah karangan indah yang kemudian dipercaya oleh pimpinan atau publik. Mind set orang langsung berubah. Fitnah yang ditelan bulat-bulat oleh seorang pimpinan akan lebih berbahaya lagi. Tidak jarang dia mengambil keputusan dan menyikapi fitnah itu yang bersifat mengorbankan orang yang difitnah. Tanpa ada konfirmasi, korban fitnah langsung diperlakukan tidak fair lewat kuasa yang dimiliki. Fitnah yang ada bahkan semakin diperluas dan disebarkan dengan memasukkan interpretasi pribadi.

Alangkah naifnya jika hal demikian terjadi. Apakah kecerdasan linguistik ini harus digunakan untuk memenuhi hedonis dunia? Sangat disayangkan sekali! Semoga kita bisa terlindung dari perilaku fitnah dan orang-orang penyebar fitnah. Aamiin.

Ike Revita

Dosen Prodi Linguistik Pascasarjana

Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, 20 Oktober 2018, halaman 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation