Saat tidak ada lagi yang berani menyuarakan kebenaran, maka saat itulah akan menandakan kezaliman dan ketidakadilan akan tumbuh dengan suburnya.

Saat tidak ada lagi pertimbangan yang bijak, saat itulah muncul kesemena-menaan,

Saat tidak ada lagi “raso jo pareso”, maka saat itulah budi kan “binaso”

Maukah kita  itu semua terjadi di hadapan kita, Teman-teman….?

1_ike 

Ini adalah postingan status kawan saya di sebuah media sosial. Postingan yang baru saya baca setelah beberapa hari berada di wall kawan ini sangat mengena di hati saya. Saya jatuh cinta dengan tulisan atau ekspresi pendek ini.

Saya mencoba menterjemahkan maksud kawan ini dengan menanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Teman ini merespon pertanyaan saya dengan tertawa. Pertanyaan yang sama kembali saya ulang tetapi melalui media sosial berbeda.  Tetap teman ini menjawabnya dengan senyum.

Beberapa waktu kemudian, teman ini saya chat  secara pribadi atau ‘japri’. Karena begitu ‘kepo’, teman ini pun memastikan tujuan pertanyaan saya. Dengan lugas saya coba uraikan bahwa saya khwatir salah dalam memaknai sehingga bertanya dinilai sebagai sikap yang paling bijak.

Setelah mendegar uraian saya, teman ini pun mencoba menantang dengan meminta saya untuk menganalisis maksud postingannya itu. Menurut teman ini, dia sangat suka dengan beberapa tulisan saya yang merupakan terjemahan dari banyak kejadian dan itu adalah benar adanya. Sekarang saya yang menjadi tertawa karena kepo malah membuat saya mendapat tugas.

Ada semacam gelitikan terasa karena bagi saya memahami maksud sebuah tuturan adalah dinamika sendiri. Ketika kata memiliki sekerenjang makna a word has a bundle of meaning  (Palmer, 1986), maka tuturan memiliki sejuta tafsiran. Akan ada multi tafsir dari sebuah tuturan. Apalagi jika tidak ada konteks yang jelas (Revita, 2008).

Dalam tuturan teman ini dikatakan  (1) Saat tidak ada lagi yang berani menyuarakan kebenaran, maka saat itulah akan menandakan kezaliman dan ketidakadilan akan tumbuh dengan suburnya. (2)  Saat tidak ada lagi pertimbangan yang bijak, saat itulah muncul kesemena-mena.  (3)  Saat tidak ada lagi “raso jo pareso”, maka saat itulah budi kan “binaso”.

Saya sengaja memberi nomor untuk mempermudah analisis maksud  dari masing-masing tuturan ini. Tuturan pertama secara literal diartikan sebagai  kezaliman dan ketidakadilan akan berkembang dengan cepat dan suburnya ketika semua orang tidak ada yang berani dan mau bersuara. Kezaliman dak ketidakadilan ini akan semakin merajalela saat diam sudah menjadi pilihan apalagi bila dilakukan oleh orang-orang baik.

Siapakah orang-orang baik itu?

Sudah pasti mereka yang menjadi tempat bertanya. Mereka tempat berberita dan mereka tempat mengadu. Salah satunya adalah guru/dosen. Sebagai pendidik yang tugas utamanya adalah mengisi ‘otak’ manusia yang dititipkan orang tua kepada mereka, guru/dosen memiliki peran yang tidak sederhana. Selain itu, mereka juga memiliki andil dalam membentuk kharakter karena anak-anak yang mereka didik dan ajar adalah masa depan. Saat mereka salah dan gagal dalam mencetak manusia depan yang berkarakter, maka sudah dipastikan masa depan itu menjadi suram. Karena apa? Calon pemimpin mereka tidak memiliki karakter.

IMG-20180316-WA0049

Selain itu, ada juga kaum ulama yang harus senantiasa menyiram rohani anak-anak generasi muda sehingga mereka menjadi orang-orang yang beriman. Ketika guru/dosen menjadikan anak-anak ini berilmu, ulamalah yang menjadikan mereka orang-orang beriman. Peran kedua ini sudah tentu tidak lepas dari campur tangan orang tua dan lingkungan.

Saat orang tua dan lingkugan senada seirama dalam mengisi jiwa dan otak anak-anak, maka In sya Allah akan terlahir generasi masa depan yang bekarakter lewat ilmu dan iman yang dimiliki.

Bagaimana halnya jika semuanya sudah diam dan cuek bebek  dengan ketidakbenaran. Semuanya sudah tutup mata dan telinga dengan sesuatu yang salah. Potensi kondisi menuju kehancuran sudah terindikasi. Keadaan ini diperparah dengan adanya tuturan 2 Saat tidak ada lagi pertimbangan yang bijak, saat itulah muncul kesemena-mena. Artinya, ketika seseorang yang didulukan selangkah dan ditinggikan seranting   sudah jauh dari kata bijaksana, apa yang dikatakan di atas semakin dekat nyatanya.

Itulah sebabnya, dalam tulisannya di Singgalang (2017), Revita menyebutkan memilih pimpinan itu sebenarnya tidak sederhana. Karena pimpinan adalah iman yang menjadi penuntun kita dalam banyak hal. Jika yang menuntun saja sudah tidak benar, semena-mena inilah yang muncul. Perilaku karek kayu dan main ancam dijadikan pilihan. Bahkan, mirisnya lagi, sikap childish juga tidak jarang muncul.

Mendiamkan orang-orang yang menyampaikan kebenaran. Mengucilkan dan menggunakan power  untuk mengintimidasi orang-orang yang tidak disukai. Lewat amanah berupa kuasa yang diberi, justru terjadi intimidasi terhadap orang-orang tersebut. Bahkan, pikiran bahwa hidupnya tidak akan pernah mati seperti tidak terpikir sama sekali. Parahnya lagi, ujian yang diderita sebelumnya tidak menjadikan dirinya bercermin.

Alangkah naifnya perilaku berpikir dan bersikap seperti ini. Orang-orang seperti ini barangkali perlu dikasihani.

Ketiga adalah Saat tidak ada lagi “raso jo pareso”, maka saat itulah budi kan “binaso”. Inilah yang paling berbahaya, menurut saya. Dikatakan demikian, konteks tuturan ini terjadi di ranah masyarakat yang sangat kental dengan raso dan pareso. Masyarakat yang dikenal dengan konsep nan ampek. Selain ada raso  dan pareso, juga ada malu  dan sopan. Itulah mereka masyarakat Minangkabau.

Masyarakat Minangkabau adalah kelompok yang sangat menjaga nan ampek. Dalam berperilaku dan berbahasa, nan ampek ini senantiasa dijadikan pedoman. Itulah sebabnya, saat berbahasa mereka selalu memilih tuturan yang tidak langsung. Inilah yang dikatakan oleh Errington, seorang antropolog Amerika, bahwa Minangkabau people tend to speak implicitly.

Ada kecenderungan masyarakat Minangakabau untuk menghindari tuturan yang straight forward atau tembak langsung. Inilah yang saya namakan dengan berbahasa seperti spiral. Untuk menuju ke suatu tujuan, dipilihlah jalan yang berbelok-belok. Walaupun ada pilihan untuk menyampaikan secara langsung.

Ada nilai kebijaksanaan dan kesabaran dalam berbahasa yang seperti spiral ini. Bijaksana dalam arti kata berbahasa yang berpotensi untuk melindungi  muka orang dari perasaan tidak nyaman atau tersinggung. Berbahasa yang jauh dari mengancam muka orang lain (Revita, 2014).

Selain itu, kesabaran artinya seseorang yang memilih cara seperti spiral saat berbahasa mengindikasikan adanya kesabaran untuk menahan menyampaikan sesuatu secara langsung. Justru, saat berbelit-belit dan berputar-putar, penutur menahan diri agar maksudnya cepat tersampaikan dan maunya cepat terpenuhi.’

Ketika raso dan pareso ini sudah terkikis atau habis, berarti berbahasa tidak lagi menggunakan hati (Revita, 2014) tetapi berbahasa menggunakan ‘kaki’. Kalau seseorang berbahasa dengan hati, dia akan menjaga agar bahasanya   jauh dari efek menyakitkan bagi orang lain. Justru saat berbahasa dengan ‘kaki’, tuturan itu main hantam saja tanpa memikirkan orang lain akan tersakiti.

Naudzubillahiminzalik!

Jika ketiga tuturan di atas digabung, maka yang dimaksud oleh penutur adalah semacam ekspresi protes dan kekecewaan atas sikap seorang pimpinan yang dengan powernya berlaku semena-mena. Teman ini adalah salah satu korbannya. Qalbu sudah tidak lagi digunakan saat berbahasa dan berperilaku sehingga tindakan semena-mena, kezaliman, dan ketidakdilan akan bertebaran.

Yang jelas, kebenaran harus tetap disampaikan karena diamnya orang-orang yang tahu dengan kebenaran adalah gerbang menuju kehancuran.

Semoga kita jauh dari sikap-sikap seperti ini. Aaamiin!

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang,  14 Oktober 2018 Hal A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation