Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari Mata Kuliah Filsafat di pascasarjana yang saya ampu. Pagi itu, topiknya terkait dengan etika keilmuan. Semangat mahasiswa untuk mengejar dan memahami konsep etika dan implementasinya terlihat dari antusiasme mereka menanyakan dan menghubungkannya dengan realitas yang ada.

Salah satu komentar dari mahasiswa adalah ketika etika mahasiswa di kampus dengan orang di pasar jauh berbeda. Misalnya dalam berbahasa, ketika orang di pasar berkata yang dinilai kasar di kampus atau ranah akademik, justru bagi mereka itu dianggap beretika. Hal demikian menjadi pertanyaan bagi mereka bagaimana standar etika bisa berbeda.

Pertanyaan kedua muncul saat mahasiswa mengomentari orang tua yang terpaksa mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak-anak yang menangis karena kelaparan menyebabkan orang tua ini melakukan perbuatan tidak terpuji. Etika orang tua ini pun dipertanyakan.

Apakah mereka pantas untuk melakukan itu? Ataukah perbuatan itu dapat diterima karena pertimbangan kemanusiaan?

Inilah kemudian yang menjadi debat antara mahasiswa ini karena sebagian ada yang pro dan kontra. Masing-masing mereka memiliki argument sendiri.

Di sinilah saya melihat dan mengamati bagaimana cara mahasiswa menyampaikan pendapat. Cara dan strategi mereka berpendapat memberi nilai tersendiri dalam perspektif norma dan etika berbahasa.

Apakah etika itu?

Kata etika  secara etimologi berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom).  Etika ini bertemali dengan sesuatu yang bersifat moral. Moral  merupakan pengetahuan atau wawasan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik, buruknya perbuatan dan kelakuan.

Seseorang dikatakan beretika ketika dia mampu mengidentifikasi ajaran yang baik dan buruk yang bermuara kepada sikap dan perilakunya dalam hidup. Salah satu bentuk perilaku itu adalah ketika berbahasa.

Berbahasa menurut Revita (2013) berhubungan dengan orang lain karena berbahasa itu implikasinya adalah berkomunikasi. Berkomunikasi berarti membutuhkan orang lain. Karena sebuah komunikasi dikatakan juga interaksi yang paling tidak melibatkan orang kedua (Wijana, 2003). Tidak tertutup kemungkinan komunikasi ini melibatkan orang ketiga (Revita, 2008) sehingga ada banyak pihak yang akan ambil bagian dalam sebuah komunikasi. Untuk itulah, dalam tulisannya di Singgalang (30 September 2018), Revita menyebutkan berbahasa hendaklah dilakukan dengan hati-hati.

Berbahasa tidak menutup kemungkinan orang lain tersakiti. Saat berbahasa, ada kalanya tuturan yang disampaikan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal demikian terjadi karena ketidakpahaman dan ketidaksepahaman konteks antarorang yang terlibat dalam komunikasi.

Ketidakpahaman artinya orang yang berbicara itu tidak memahami konteks secara utuh sehingga apa yang dikatakan menjadi ‘tidak nyambung’ dengan apa yang ditangkap mitra tutur. Tidak hanya itu, mitra tutur juga bisa menjadi tidak nyaman atas apa yang dikatakan.

Ketidaksepahaman diartikan sebagai tidak adanya common knowledge  atau common sense  antarpeserta tutur. Peserta tutur mengacu kepada orang pertama (yang berbicara), orang kedua (mitra tutur), dan orang ketiga (pihak yang hadir ketika pembicaraan dilakukan). Orang yang terlibat dalam komunikasi ini tidak selamanya memiliki pemahaman yang sama sehingga potensi terjadinya miskom sangat besar (Revita, 2016).

Untuk itulah dikatakan perlu adanya pemahaman dan kesepahaman saat komunikasi dilakukan. Agar pemahana  dan kesepahaman ini terpenuhi, peserta tutur harus memahami apa yang disebut dengan konteks.

Konteks menurut Revita (2013) dimaknai sebagai segala sesuatu yang mewadahi terjadinya pertuturan. Konteks dipertegas oleh Revita (2018) sebagai everything. Apa saja bisa menjadi konteks karena   banyak hal yang harus dijadikan konteks atau landasan dalam berbicara.

Foley (2003), seorang Antropolog Amerika, mengatakan ada beberapa variabel yang menjadi konteks saat berbicara, misalnya sosial, budaya, dan geografis. Variabel ini ditambahkan Revita (2014)  dengan psikologi dan agama. Kelima variabel ini merupakan pertimbangan paling dasar saat memilih tuturan.  Latar belakang sosial seseorang, budayanya, daerah asal, kondisi psikologis, dan agama yang dianut harus diperhatikan. Jika ini diabaikan, potensi terjadinya ketidaknyamanan mitra tutur sangat besar. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, mitra tutur akan marah dan disharmonisasi antarmereka terjadi.

Beberapa kasus terjadi hanya persoalan salah dalam memilih strategi dalam berbahasa termasuk topik yang disampaikan. Bahkan, tidak jarang salah strategi ini berujung pada tuntutan hukum yang bermuara pada dimasukkannya ke dalam penjara. Di sinilah konsep etnografi dalam berkomunikasi sangat perlu diperhatikan agar komunikasi dapat berjalan dengan baik (Hymes, 1976).

Penguasaan konsep ini membuat komunikasi menjadi aman karena komunikasi itu berjalan dengan smooth. Tidak ada ketidaknyamanan antarapeserta tutur karena  kesepahaman sudah terbangun diantara mereka.

Saat kesepahaman sudah terbangun, persoalan etika yang sering menjadi pembicaraan dan pandangan dalam perilaku dan berbahasa tidak lagi perlu dipertanyakan dan dikomentari. Hal ini sejalan dengan kemampuan seseorang yang sudah mampu mengidentifikasi konteks yang tepat dalam berkomunikasi.

Persoalan yang muncul adalah apakah semua  orang mampu menguasai konteks ini dalam berkomunikasi. Yang terjadi adalah banyak orang yang gagal menguasai konteks ini. Akibatnya mereka berbahasa ‘sesuka hati’. Berbahasa yang talonsoang  (Revita, 2014). Mulut yang digunakan dalam berbahasa tidak lagi dikontrol sehingga mengecek ndak babandrol, demikian yang sering disebut dalam gaya berbahasa generasi zaman now.

Tidak jarang didengar orang mengeluhkan cara berbahasa anak-anak zaman sekarang yang dinilai sudah keluar dari koridor berbahasa. Anak-anak zaman sekarang banyak yang sudah lupa dengan nilai-nilai, tradisi, dan norma budaya masyarakat tempat mereka tinggal. Dengan demikian, banyak mereka yang dianggap tidak beretika  dalam berbahasa.

Dalam budaya masyarakat Minangkabau, ada yang disebut dengan kato nan ampek sebagai koridor mereka dalam berbahasa. Kato nan ampek  ini disebut Revita (2015) sebagai ruke of speaking-nya seorang Minangkabau. Yang ironis adalah kato nan ampek ini sudah mereduksi menjadi tiga atau dua.

Inilah  yang menjadi bibit-bibit keruntuhan etika dalam berbahasa. Ketika nilai-nilai budaya sudah dilupakan atau dijauhi saat berbahasa. Ini menjadi tanggung jawab kita semua agar koridor ini tidak sampia jebol. Frame berbahasa dalam kato nan ampek untuk masyarakat Minangkabau harus tetap dijaga. Konsep kesantunan berbahasa yang dibungkus etika dan moral harus tetap dipertahankan. Tidak hanyan oleh generasi muda tetapi semua pengguna bahasa.

 

 

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 8 Oktober 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation