Seorang perempuan itu ibarat sekolah, apabila kamu siapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan suatu bangsa yang harum namanya  (anonim)

 

Ike2-3

Kutipan yang entah siapa pertama kali mengungkapkannya dengan tegas menyebutkan bahwa perempuan itu dianalogikan dengan pendidikan. Jika pendidikan itu disiapkan dengan baik dan penuh perhitungan, maka hasilnya akan baik juga. Hasil itu tidak hanya berefek pada perempuan itu sendiri, tetapi juga negara.

Kenapa?

Karena perempuan adalah masa depan. Ini yang dijelaskan Revita dalam sebuah tulisannya di Harian Padang Ekspres (2017)  ‘ perempuan sebagai agent of change’. Perempuan tidak hanya masa depan tetapi juga pencetak masa depan. Di tangannya,  banyak tergantung generasi akan datang yang akan mengisi dan menjalankan negara ini. Dimulai dari ketika hamil. Dalam masa kehamilan, seorang perempuan senantiasa menjaga kandungannya dengan mengkonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi agar lahir seorang anak yang sehat dan cerdas. Di masa kehamilannya pula, seorang perempuan melakukan kegiatan yang positif, seperti membaca atau memperdengarkan ayat-ayat Al-Quran pada janinnya agar anak yang dilahirkan nanti menjadi anak sholeh/sholehah.

Ketika anak sudah lahir, perempuanlah yang pertama kali mengenalkan anak-anaknya dengan pendidikan karena dikatakan madrasah pertama adalah ibu karena ibulah manusia pertama yang ditemui anak setelah melihat dunia. Melalui cinta kasih seorang ibu, seorang anak diajarkan kebaikan dan cinta kasih. Di tangan seorang ibu pula anak diperkenalkan dunia melalui komunikasi via bahasa. Itu pulalah sebabnya dikenal istilah bahasa ibu atau mother tounge, yakni bahasa yang pertama kali dikenalkan pada seorang anak (Dardjowidjojo, 2005).

Ibu adalah makhluk yang paling sering berinteraksi dengan seorang anak sejak dia lahir. Disebutkan demikian karena  paling tidak secara intensif seorang ibu melakukan sentuhan fisik dengan anaknya lewat kegiatan menyusui selama 6 bulan yang dalam ilmu kedokteran disebut dengan ASI Eksklusif. Selama 6 bulan ini, seorang anak secara penuh diberi air susu ibu tanpa diintervensi oleh makanan lain.  Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 223 dikatakan “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”

Dengan kata lain, adalah hak anak untuk disusui yang sudah pasti membangun kontak fisik dan psikologis dengan anak. Selama proses menyusui, si Ibu akan dengan penuh kasih sayang mendoakan agar anak-anaknya menjadi sesuai dengan harapan orang tua, berbakti pada negara, dan agama.

Uraian ini baru sebagian kecil dari peran yang dilakoni seorang perempuan. Karena ada banyak peran lain lagi yang harus dijalankan. Revita dalam tulisan berjudul ‘Kartini Jaman Now’ di Padang Ekspres (2018) mengatakan, setidaknya ada lima peran seorang perempuan: 1) istri; 2) ibu; 3) partner dari suami; 4) bagian dari kelompok sosialnya; dan 5) career woman.

Peran nomor 5 adalah sebuah pilihan karena tidak sedikit perempuan yang justru lebih menyukai menjadi ibu rumah tangga. Walaupun demikian, seorang ibu rumah tangga justru memiliki tugas yang luar biasa. Bahkan menjadi seorang ibu rumah tangga tidak pernah ada sekolah atau pelatihannya, beda dengan career woman.

IMG-20180311-WA0020 IMG-20180316-WA0065

Hebat dan kuatnya seorang perempuan kemudian dimuntahkan oleh keadaan yang disebut dengan kekerasan pada perempuan. Dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan kekerasan dalam Rumah Tangga disebutkan kekerasan sebagai sebuah perbuatan terhadap perempuan yang berakibat kepada timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikis, dan ekonomis. Ketika kekerasan terjadi dalam ranah rumah tangga maka disebut dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena seperti gunung es yang di puncaknya terlihat kecil tetapi sesungguhnya banyak kejadian yang menimpa kaum perempuan dan menjadi korban kekerasan (Revita dan Tim, 2018). Dalam penelitian yang dilakukan Revita dan tim ini disebutkan bahwa pelaku kekerasan justru banyak berasal dari keluarga dekat korban sendiri.  Ironisnya, pelaku adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keselamatan perempuan ini, yakni suami.

Terjadinya praktik kekerasan ini salah satunya memang dipicu oleh ketidakpahaman kaum perempuan atas apa yang dialami. Dalam wawancara dengan beberapa perempuan, mereka menganggap perlakukan yang diterima dari pasangannya adalah sebagai bagian dari proses pendidikan seorang istri. Seorang istri wajar diperlakukan dengan cara dimarahi, dikata-katai, dipukul, diperlakukan kasar saat berhubungan seksual,  bahkan dieksploitasi secara ekonomi.

Jawaban ini sesungguhnya sangat mengejutkan karena perlakuan yang diterima perempuan ini jika dihubungkan dengan UU Nomor 23 Tahun 2004 terkategori sebagai kekerasan. Ada unsur penganiayaan yang sebenarnya membuat perempuan ini menderita. Hal demikian terjawab ketika sebuah pertanyaan saya munculkan. Apakah mereka nyaman saat perbuatan yang dilakukan itu terjadi cukup sering?

Jawaban cepat yang diberikan adalah walau tidak nyaman mereka mencoba untuk bersabar. Suami adalah ‘junjungan’ yang tidak boleh dilawan. Apa pun yang dilakukan suami harus dituruti walau itu menyakitkan bagi mereka.

Barangkali pandangan ini perlu diluruskan. Meskipun suami itu ‘junjungan, bukan berarti dia dapat berlaku sesuka hati terhadap pasangannya. Tidak satu agama pun dalam ajarannya membolehkan kekerasan terhadap perempuan.

Islam, misalnya,  memandang rumah tangga dengan mengidentifikasinya sebagai tempat ketenangan, keamanan dan kesejahteraan. Islam juga memandang hubungan dan jalinan suami-istri dengan menyifatinya sebagai hubungan cinta dan  kasih sayang.

Islam melarang suami melukai perasaan istri dengan perkataan. Karena hal itu yang akan membuka terjadinya pemukulan dan kekerasan lain oleh suami kepada istri, akibatnya istri akan tersakiti secara fisik juga mentalnya, walaupun dalam batas-batas yang dibenarkan oleh syariat karena istri tidak taat kepada suaminya sehingga memukul diperbolehkan. Memukul pun dilandasi oleh kasih sayang bukan untuk menyakiti.

Ketidakpahaman ini menjadikan kekerasan terhadap perempuan sebagai sebuah realitas dalam ranah domestik yang orang lain tidak boleh interfensi. Pemahaman ini harus dirubah karena tidak semua kekerasan menjadi persoalan domestic saja. Ada kalanya perlu pihak ketiga yang turun tangan agar perempuan-perempuan ini terselamatkan dari ketidaktahuan mereka sehingga menjadi korban.

Efek kekerasan tidaklah sederhana. Tidak sedikit perempuan yang mengalami catat fisik, tekanan jiwa, gila, bahkan bunuh diri akibat menjadi korban dari kekerasan. Ini adalah realitas yang harus sama-sama kita ketahui.

Mari selamatkan perempuan dari tindakan yang disebut dengan kekerasan!

 

Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, 29 Agustus 2018 di hal.1 (Teras Utama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation