*Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS Al-An’am: 162-163)*

IMG-20171230-WA0037

*Jika kita tidak mampu untuk memberikan yang terbaik untuk negara, agama dan keluarga maka tancapkanlah sifat jujur, peduli terhadap rakyat terhadap diri sendiri karena tanpa sebuah kejujuran negara dan isinya akan rapuh dan akan mudah kembali terjajah* (anonim)

Judul di atas ‘Antara Kemerdekaan dan Kurban’ secara harfiah seperti tidan ‘nyambung’. Apa hubungan antara kemerdekaan dank urban. Inilah yang akan coba saya uraikan bahwa keduanya sesungguhnya memiliki hubungan yang erat.

Dimulai dari memaknai kata kemerdekaan yang dalam KBBI (2012) dimaknai sebagai keadaan atau hal yang berdiri sendiri, bebas, lepas, dan tidak terjajah oleh pihak lain. Kemerdekaan biasanya indentik dengan negara terjajah atau seseorang yang terikat.

Seperti halnya negara kita, Indonesia, yang baru saja merayakan kemerdekaannya. 73 tahun sudah Indonesia lepas dari belenggu penjajahan Belanda dan Jepang. Tepatnya di tanggal 17  Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta. Semenjak itu, setiap tanggal 17 Agustus, Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan itu. Bentuk perayaan yang selalu dilakukan adalah melakukan upacara bendera. Akan tetapi, hal ini biasanya dilakukan di instansi pemerintah saja. Sangat jarang, bahkan relatif tidak ada kelompok masyarakat biasa yang melakukan upacara ini.

2a

Yang lazim dilakukan masyarakat dalam menyambut perayaan kemerdekaan ini adalah dengan melakukan berbagai macam lomba. Misalnya, lomba makan kerupuk, tarik tambang, atau panjat pinang. Lomba-lomba ini menjadi atraksi tersendiri bagi masyarakat. Dengan modal yang tidak banyak, tetapi ada kebersamaan dalam setiap perlombaan ini.

Di sinilah masyarakat merasakan bagaimana senangnya dan tenangnya menjadi manusia yang merdeka. Tanpa harus dibayangi oleh rasa takut kepada penjajah atau penguasa, mereka terlihat sangat menikmati setiap perlombaan, baik sebagai peserta maupu hanya penonton.

Sorak-sorak memberi semangat kepada peserta lomba seakan menunjukkan bahwa kemerdekaan ini telah menjadikan  mereka sebagai manusia yang seutuhnya. Memiliki hak sebagai manusia seperti yang dideklarasikan dalam Human Right bahwa manusia memiliki hak yang sama untuk hidup di muka bumi tanpa adanya perbedaan dan pembedaan.

Tidak hanya untuk negara, kemerdekaan juga dimiliki oleh seorang individu. Dalam UUD 1945, jelas dinyatakan bahwa semua rakyat Indonesia memiliki hak yang sama di mata negara. Artinya, seorang Indonesia punya hak untuk tidak dibeda-bedakan. Semua insan Indonesia tidak boleh didiskriminasi atas alasan apa pun.

Inilah yang mungkin tidak ditemukan pada sebagian perempuan Indonesia yang berjuang untuk hidup mereka di luar negeri sana. Banyak perempuan Indonesia yang tergabung dalam ‘pejuang nafkah’–mereka yang memilih menjadi TKI untuk mensupport perekonomian keluarga. Sayang sekali, perjuangan mereka tidak selamanya berjalan mulus. Banyak hak mereka yang tidak diberi, seperti makan, minum, kebebasan bersosialisasi, dan gaji selama bekerja yang tidak diperoleh (Revita, 2017).

Tidak jarang mereka justru harus menjadi korban atas perjuangan ini. Tidak sedikit perempuan Indonesia yang pulang dengan mengandung bayi akibat diperkosa oleh majikannya saat bekerja. Selain itu, tidak jarang mereka yang harus pulang dengan tubuh babak belur akibat disiksa dengan tidak manusiawi (Revita, 2014). Fenomena ini adalah salah satu realita yang memperlihatkan ketidakberdayaan perempuan di era kemerdekaan yang sudah berusia 73 tahun.

Akan tetapi, tidak sedikit perempuan Indonesia yang justru berhasil setelah pergi merantau ke luar negeri. Mereka pulang dengan membawa dolar, ringgit, atau rial yang kemudian dijadikan modal berusaha di kampung halaman. Mereka kemudian justru lebih sukses saat kembali ke Indonesia.

Yang jelas apa yang dilakukan perempuan-perempuan ‘pahlawan ekonomi’ ini adalah bagian dari sebuah perjuangan. Mereka berkorban untuk masa depan keluarganya sendiri.

Apa hubungan semua ini dengan kurban?

Kurban dalam Islam juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Kurban ini disunatkan kepada orang  yang mampu dan akan jadi makruh ketika tidak mereka lakukan. Dengan kata lain, hukum berkurban sifatnya sunat bagi orang-orang yang bisa berkurban dan haram jatuhnya jika tidak dilakukan oleh orang-orang ini.

Orang yang berkurban memakan daging kurbannya, menghadiahkannya kepada para kerabat, dan menyerahkannya kepada orang-orang fakir. Rasulullah saw bersabda, “Makanlah dan berilah makan kepada (fakir-miskin) dan simpanlah.” Di sinilah letak indahnya berkurban, saat berbadi dengan kerabat dan fakir miskin yang memang hanya makan daging sekali setahun, yakni di Hari Raya Idul Adha.  Di hari inilah terasa kebersamaan antara si kaya dan si miskin. Banyak orang (kaum muslim) bertakbir meneriakkan kalimat Allah agar semangat kurban tetap berkorbar.

Semangat kurban inilah yang bertemali erat dengan kemerdekaan.

Jika dibaca sejarah kurban ini, saat Nabi Ibrahim dengab ikhlas mengorbankan anak satu-satunya untuk dijadikan kurban. Keikhlasan ini dibalas Allah dengan justru mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba. Jadi, yang disembelih Nabi Ibrahim bukan putranya, tetapi seekor domba. Keihklasan ini menunjukkan betapa ketika semuanya diserahkan kepada Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Justru rasa ikhlas dibalas dengan yang lebih baik.

Seperti halnya ketika seseorang harus terkebiri oleh aturan yang menghilangkan kemerdekaannya, seperti kisah di atas, keihklasan dapat meminimalisir semuanya. Ketika diri sudah dipasrahkan pada Allah, saat itulah pertolongan Allah akan datang. Banyak kisah TKI yang terselamatkan seperti kisah dalam sinetron. Mereka diselamatkan oleh situasi yang kadang tidak masuk akal. Ini membuktikan bahwa Allah itu ada dan akan memberi pertolongan kepada umatnya yang berlaku ikhlas.

Demikian juga dengan beberapa kejadian terkait dilarangnya seorang perempuan berinteraksi dengan  kelurganya sendiri oleh pasangannya untuk alasan yang tidak jelas. Tindakan ini termasuk dalam domestic violence  (Revita, 2018) karena perbuatan tersebut membuat orang lain tidak nyaman. Namun, pertimbangan sosial, keluarga, atau anak-anak membuat perempuan ini hanya diam dan mencoba menyelesaikan sendiri.

Walaupun dalam kondisi tertekan, tidak jarang perempuan seperti ini justru survive. Hal demikian terjadi salah satunya dengan berpikir positif. Dalam sebuah diskusi dengan korban domestic violence, mereka menyikapi ini sebagai sebuah upaya pasangan untuk melindungi dirinya dari hal-hal negative. Pikiran positif ini kemudian menjadikan mereka kuat. Ada juga perempuan ini yang kemudian memutuskan menjauh dari kehidupan pasangannya, sebagaimana yang dikatakan Revita (2018) dalam tulisannya tentan IKDRT sebagai sebuah realitas sosial’.

Di sinilah bentuk pengorbanan perempuan dengan ‘berkurban’ lewat cara berbeda. Yang pasti, saat semua perbuatan yang dimulai dengan Bismillah dan dikerjakan hanya karena Allah pasti berujung pada ibadah. Semoga!

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 26 Agustus 2018, hal A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation