Bertemu dengan banyak orang merupakan sesuatu yang termasuk sangat saya nikmati. Apalag jika bertemu dengan orang yang berbeda di tempat berbeda pula. Inilah sebabnya ketika berkunjung ke suatu daerah, yang dinamakan city tour dijadikan salah satu agenda wajib.

IMG-20171028-WA0011

Melakukan City tour biasanya lebih saya pilih dilakukan sendiri  karena selain bisa menikmati pemandangan di kota tanpa harus ada pengawalan yang ketat, saya juga bisa berinteraksi dengan orang-orang yang terkait dengan pengguna kendaraan umum. Saya bisa menyaksikan bagaimana masyarakat berkomunikasi dalam konteks yang faktual.

Inilah yang saya lakukan ketika berkunjung pertama kali ke daerah Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Berada di kota yang terkenal dengan salaknya  ini membuat saya begitu tinggi keinginannya menjajal armada angkutan umum yang disebut dengan ‘motor’. Berbekal informasi dari petugas hotel, saya pun meminta pengemudi ‘motor’ untuk membawa saya berkeliling kota Padangsidimpuan.

Tidak hanya itu, saya juga meminta pengemudi membawa  ke pusat jajanan dan oleh-oleh. Di pusat jajanan dan oleh-oleh ini saya akan bertemu dengan bermacam orang dan di sini saya bisa menggali pandangan mereka tentang masyarakat di sana, khususnya dalam berbahasa.

Sama halnya ketika  berkunjung ke daerah Teluk Kuantan dimana saat itu sedang musim durian. Banyak pedagang meletakkan dagangannya di pinggir jalan. Menikmati buah durian sembari duduk di pinggir trotoar adalah suatu hal yang menarik dilakukan. Bertemu orang-orang penyuka durian sambil bercerita tentang buah durian dan kebiasaan masyarakat saat makan durian menginspirasi saya untuk menulis sesuatu terkait budaya.

Dalam beberapa kali perjalanan di waktu yang cukup berdekatan, saya merasakan betapa setiap daerah memiliki keunikan. Dengan beragam tradisi dan budaya yang dimiliki, keberagaman itu tercermin dari bahasanya. Misalnya, saat di Padangsidimpuan, ada kecenderungan masyarakat yang berbahasa secara langsung. Hal ini saya lihat saat berinteraksi di pasar tradisional. Ketika menawar harga barang, pedagang relatif tidak banyak  melalukan persuasi. Justru mereka langsung memberikan harga yang memang tidak boleh lagi ditawar.

IMG-20171230-WA0013

Hal yang sama juga saya temui ketika berbelanja di Palembang. Saat hunting berbelanja di Pasar Ramayana, saya menemukan cara yang tidak berbeda  dengan pedagang di Padangsidimpuan. Menawarkan barang dengan harga yang mendekati pas dan kemudian tidak melakukan persuasi yang dalam. Ketika barang ditwarkan dengan harga A, kemudian ditwar pembeli dengan harga B, si pedagang kembali menawarkan dengan harga C. Saat pembeli menawar dengan harga D, pedagang bertahan dengan harga C tersebut.

Ini adalah realita yang saya temukan dalam beberapa saat kunjungan ke beberapa daerah di Sumatera. Pengalaman ini menjadi inspirasi bagi saya karena setiap daerah memiliki perbedaan-perbedaan dalam mengkomunikasikan sesuatu. Perbrdaan itu tidak menjadikan daerah yang satu lebih baik dari yang lain. Justru, di sinilah keunikan suatu masyarakat terletak.

Hai ini senada dengan yang dinyatakan Chaika (1986) dan Revita (2017) bahwa apa yang dikatakan menjadi cerminan dari apa yang dipikirkan. Dari tuturan yang digunakan dan dipilih, tergambar realitas sosial dari masyarakat tersebut (Revita dkk, 2016).

Seperti halnya masyarakat Minangkabau yang identik dengan bahasa yang metaphor. Dalam bahasa metafor  bahwa berbicara tidak harus to the point tetapi dilakukan terlebih dahulu dengan berputar-putar. Ini juga yang disebut dengan berbahasa seperti spiral.IMG-20170718-WA0056

Berbahasa seperti spiral ini bertemali dengan rule of speakingnyan (Revita, 2008) masyarakat Minangkabau, yakni kato nan ampek. Kato nan ampek menjadi dasar seorang Minangkabau dalam berbicara. Dalam kato nan ampek terdapat empat pertimbangan yang dijadikan acuan ketika berkomunikasi. Pertama adalah kato mandaki, artinya berbahasa ditujukan kepada orang yang lebih tua. Kedua, kato malereang, saat berbahasa dengan orang yang harus dihormati. Misalnya, bertutur kepada mertua atau besan. Ketiga adalah kato mandata, komunikasi dengan mitra tutur yang seusia. Dalam konteks kato mandata ini, karena usia peserta tutur sama, maka pilihan kata-kata relative lebih leluasa dibandingkan kato mandaki dan kato manurun.

Yang terakhir adalah kato manurun. Dalam kato manurun, tuturan ditujukan kepada mitra tutur yang berusia lebih muda. Misalnya ketika seorang kakak berbicara dengan adiknya. Meskipun ada keleluasaan untuk memilih bentuk tuturan, bahasa yang digunakan, dan diksi, seorang penutur juga harus memperhatikan aspek edukasi. Pertimbangan edukasi ini mempengaruhi pilihan-pilihan berbahasa yang dimaksud.

Empat rule of speaking ini dinilai sudah mencukupi dalam membantu seorang Minangkabau dalam bertutur. Dengan kata lain, tuturan yang digunakan idealnya tidak akan membuat seseorang dianggap tidak sopan sejauh keempat aturan ini dipatuhi. Kenyataannya adalah realita berbicara berbeda. Banyak orang Minangkabau sekarang yang sudah kehilangan keminangannya. Inilah yang dikatakan Revita dalam tulisannya di Singgalang (2015), Minangkabau – Minang = kabau. Artinya, seorang Minangkabau yang lupa dengan kato nan ampek termasuk dalam golongan ‘kabau’ ini.

Kabau  ‘kerbau’ merupakan hewan yang sangat familiar dengan masyarakat Minangkabau. Seekor kerbau memiliki banyak fitur yang bisa secara negatif dimanfaatkan dalam berkomunikasi. Misalnya, sifat malas dan akan bergerak kalau lebih dulu dilecut, suka bermain dalam lumpur, atau warna kulitnya yang gelap.

Tidak seorang manusia normal pun yang mau dikatakan sebagai kerbau. Jangankan sebagai kerbau, seperti kerbau saja pasti mereka akan komplain. Tahu tidak mau dikatakan seperti kerbau, tetapi tetap memelihara sifat seperti kerbau.

Adalah dua hal yang kontradiktif. Jika memang tidak mau dikatakan seperti kerbau, seorang Minangkabau seharusnya mampu menjaga attitude melalui sikap dan perilaku berbahasa. Salah satuya adalah memperhatikan kato nan ampek dalam berkomunikasi.

Suatu kejadian yang dialami teman ketika seorang yang masih muda berbicara tidak sopan kepadanya.Ketidaksopanan itu terjadi ketika teman ini memprotes ketidakprofesionalannya dalam bekerja. Protes ini tidak diterimanya. Justru  dia langsung memutuskan komunikasi yang dilakukan via mobile phone.

Kawan ini sangat terkejut karena tidak menyangka orang yang diajaknya berbicara berperilaku setidaksopan itu. Yang luar biasa adalah teman ini kemudian menitipkan permintaan maaf lewat teman anak muda ini.

Dalam hubungannya dengan power, anak muda ini pun tidak lebih tinggi dari kawan ini. Artinya, secara kuasa kawan ini bisa saja melakukan suatu tindakan sebagai orang yang lebih powerful. Justru kecerdasan emosi, kedewasaan, dan kearifan lebih dia ketengahkan melalui permintaan maaf.

Akan tetapi, kawan ini sempat menginformasikan bahwa saat dia berada dalam posisi yang jauh lebih kuat dan hebat dibandingkan anak muda ini, dia tidak pernah berperilaku seperti itu. Menjadi pekerja baru di sebuah institusi perguruan tinggi, dengan status yang juga tidak tetap justru menjadikan anak muda ini sombong dan arogant.

Ada apa dengan dia?

Inilah realita bahwa kearifan lokal berbahasa bijak, seperti menggunakan metafor sudah tergerus. Ada local genius yang sudah  tergerus.

Ini adalah tugas kita semua. Mempertahankan karifan lokal tidak menjadikan kita kampungan, justru tradisi-tradisi positif harus dipertahankan.

Semoga anak-anak kita terlindung dari perilaku sombong dan tinggi hati ini. Aaamiin.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

 Sudah dimuat di Harian Singgalang, 19 Agustus 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation