Author Archives: Heru Dibyo Laksono

Kematian adalah kehidupan kedua setelah kehidupan dunia.
Menjadi sebuah misteri yang tak habis dikupas, tak mudah dilepas.
Selalu hadir dalam endap pikiran.
Ada  resah, gelisah,
Ada tanda tanya besar, seperti apa kehidupan disana.

Tak terbayang seberapa pekat alam kubur.
Apakah ada sedikit cahaya
Atau terang benderang.
Atau gulita dan penuh dengan ketakutan yang mencekam.

Seberapa panjang masa yang harus dilalui, dalam senyum bahagia atau tangis derita.
Dalam kesepian atau berkawan, sungguh sebuah rahasia .

“Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Munafiqun : 11)

Kematian tak bisa ditawar, tak mungkin ditunda. Datang tanpa tanda, tetiba menyergap tak terelakkan.
Kehidupan kedua yang indah, penuh senyum bahagia, berkawan tanpa sepi, tanpa pengap,

sesungguhnya dipersiapkan sejak kehidupan di dunia.
Bukan sekedar harap dan impian tapi diperjuangkan. Diupayakan dengan daya maksimal.
Karena jalan menuju indahnya kematian sudah dicanangkan.
Yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholih.
Tinggal bagaimana kita melangkah. Seberapa kuat, seberapa jauh, seberapa yakin akan sanggup meraih keindahan hidup kedua.

Sepanjang nafas masih berhembus
Sepanjang nyawa masih bersatu raga
Sepanjang itu pula persiapan dilakukan.
Setelah semua itu hilang, kesempatan pun melayang.
Senyap, lenyap, tak berbekas.

Sumber : WA Grup

 Seorang wanita muda tengah duduk santai di dalam bis yang melaju ke tengah kota.  Di satu pemberhentian bis, seorang wanita tua yang cerewet dan berisik naik ke dalam bis dan duduk di samping wanita muda tadi. Tas-tas bawaannya yang berat dia tumpuk begitu saja di atas kursi, membuat wanita muda itu harus menggeser duduknya sambil setengah terjepit di antara tas-tas berat dan jendela bis. Seorang pemuda yang duduk di bangku sebelah melihat kejadian itu dengan kesal, dan bertanya kepada wanita muda itu, “Kenapa kamu tidak bicara saja, katakan pada wanita tua itu bahwa kamu jadi terganggu” . Wanita muda itu menjawab sambil tersenyum : “Aku rasa tidak perlu bersikap kasar dan beradu argumentasi untuk sesuatu yang sepele seperti ini, perjalanan bersama kita ini terlalu singkat. Saya juga akan turun di perhentian bis berikutnya di depan nanti.  Jawaban wanita muda tadi sangat pantas untuk ditulis dengan huruf emas: “Kita tidak perlu berdebat untuk sesuatu yang sepele. Perjalanan kita bersama amat singkat. Alangkah indahnya kalau masing-masing kita bisa menyadari bahwa perjalanan hidup kita di dunia ini  sangat singkat, sehingga kita tidak akan membuang waktu untuk membuat perjalanan hidup kita jadi suram dengan macam-macam perdebatan atau dengan adu argumentasi yang sengit dan tajam.
Kalau kita tahu bahwa perjalanan hidup ini begitu singkat, maka kita tidak akan mau membuang tenaga dengan terus mengeluh, merasa tidak puas, bersikap mencari-cari kesalahan karena semua hanya membuang waktu kita di perjalanan yang singkat ini. Apakah seseorang sudah melukai bahkan menghancurkan hatimu. Tetaplah tenang, perjalanan hidupmu terlalu singkat. Apakah seseorang sudah menghianati kamu, mengejek-ejek  kamu, menipu atau bahkan menghina kamu. Tetaplah tenang, maafkan mereka, karena perjalanan hidup kita sangat singkat. Apapun masalah yang dibuat oleh orang lain kepada kita, mari kita selalu ingat bahwa perjalanan hidup kita sangat singkat. Tidak seorang pun yang tahu kapan perjalanan hidupnya akan berakhir. Tidak ada orang yang tahu kapan dia akan tiba di perhentian bis yang berikutnya. Perjalanan hidup kita bersama sangat singkat. Mari kita saling memberikan kebahagiaan kepada keluarga dan teman-teman kita. Mari kita saling menaruh hormat, saling berbuat baik dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Mari kita isi hidup ini dengan rasa syukur  selalu.  Kalau saya pernah menyakiti hati, saya mohon dimaafkan.   Bila sahabat atau saudaraku pernah menyakiti hatiku, aku sudah maafkan semua karena perjalanan hidup kita terlalu singkat.
Berkata Imam Abu Hurairah radhiallahu anhu : ” Setiap kali datang nya tahun baru, membuat daku risau dan resah selalu, karena semakin singkat umurku, semakin dekat ajalku, semakin tipis pengampunan  Allah SWT terhadapku  dan semakin dekatnya hari perhitunganku”. Selagi dinamai kehidupan,  umur adalah kesempatan, mudalah dengan kesungguhan, dewasalah dengan pengajaran, tualah dengan pengalaman, lapanglah dengan kemaafan, sibuklah dengan kebaikan, kayalah dengan kemurahan, miskin lah dengan keredhaan, kuatlah dengan kesabaran, hiduplah dengan ketaatan, matilah dengan keimanan dan Berbahagialah dengan baik sangka.
Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Berilah kesempatan seseorang untuk berubah. Seseorang yang hampir membunuh Rasulullah pun kini terbaring disebelah makam beliau yaitu Sahabat Umar Al Khattab .  Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah SWT pun akhirnya menjadi pedang-nya yaitu Sahabat Khalid Ibnu Walid.   Jangan menilai orang dari rupanya. Rasulullah SAW melihat si pendek tak menawan yaitu sahabat beliau Sshabat Julaybib r.a , dikejar oleh para bidadari syurga. Jangan memandang orang dari  status dan hartanya. Kerana sepatu emas fir’aun pun berada di neraka, sedangkan sandal lusuh Sahabat Bilal bin Rabah kedengaran langkahnya di syurga.
(Dipetik daripada facebook Ustaz Iqbal Zain)
Jika sebuah sumur ditimba airnya, maka setiap hari airnya jernih dan tidak akan pernah kering, selalu ada air di dalam nya. Namun anehnya, kalau dalam satu hari saja airnya tidak ditimba, ketinggian air yang ada di dalam sumur itu tidak meningkat, sama seperti semula. Sumur yang tak pernah lagi diambil airnya, bahkan akan cenderung airnya kotor dan beracun, tak layak diminum. Inilah hukum alam. Di mana di dalam alam terdapat misteri yang bertujuan untuk selalu memberi & keseimbangan. Sesungguhnya kehidupan kita juga sama & serupa dengan sumur ini. Pada umumnya orang berpikir bahwa jika kita memberi apa yang kita miliki pasti akan berkurang dari apa yang di miliki semula. Tapi kalau kita mau belajar dari sumur ini, semakin banyak dan sering kita memberi akan semakin banyak air yang mengalir kepadanya.
Dalam hal memberi tidak harus dalam bentuk uang atau materi. Kita bisa saja memberi dalam bentuk apa saja yang kita miliki. Saat kita mengajarkan dan memberi ilmu, maka dengan sendirinya kemampuan kita akan semakin meningkat.  Perlu diperhatikan adalah jangan memberi karena terpaksa, jangan memberi karena ingin dipuji, jangan memberi untuk menunjukkan bahwa kita kaya dan  jangan memberi karena kebiasaan. Sebaiknya kita memberi karena menginginkan orang lain agar bisa bahagia, bisa hidup lebih baik dan layak. Dengan mengembangkan sikap mental memberi yang murni, kita yakin setiap orang bisa melakukannya. Pilihan terserah pada diri kita. Sedangkan manfaat langsung yang bisa kita rasakan saat memberi adalah perasaan kepuasan batin. Inilah sebenarnya kebahagiaan sejati.
Seorang dokter datang dengan terburu-buru, ia bahkan setengah berlari menuju ruang operasi. Setibanya di sana, ayah pasien segera menghadangnya dengan kemarahan seraya berata: “Kenapa Anda baru datang ?!….Tidakkah anda tahu, nyawa anak saya sedang dalam bahaya ?….”. Dokter itu tersenyum tulus dan meminta maaf, ia berkata sedang tidak berada di rumah sakit dan segera kembali saat ditelepon ada operasi darurat. Masih diiringi keluhan dan kekesalan orang tua pasien, dokter itu bergegas bersiap melakukan operasi. Kemudian, dokter itu keluar dengan tersenyum. Kepada keluarga pasien ia berkata, “Syukurlah, operasi berjalan lancar, anak Anda sudah dalam kondisi yang stabil. Jika ada pertanyaan, anda bisa menghubungi perawat.” Setelah itu, sang dokter tanpa menoleh segera bergegas pergi. Lelaki itu menatap kepergian sang dokter dengan sangat tidak puas. Pada perawat ia berkata, “Angkuh sekali dokter itu, harusnya ia memberikan penjelasan mengenai kondisi anak saya!”.
Perawat itu berkata dengan pelan, “Dokter itu sedang tidak bertugas, anaknya baru saja meninggal kemarin sore. Kami mengganggu waktunya di saat penguburan sang anak. Ia rela datang kemari demi menyelamatkan nyawa anak Anda. Selesai operasi ia harus bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman anaknya yang tadi tertunda demi anak Anda.” Penjelasan perawat itu, kontan membuat lelaki itu terdiam menyesal, ia bahkan menangis karena merasa berterima kasih sekaligus menyesal. Begitulah kita, kerap menilai orang lain sesuai persepsi kita sendiri. Ingin dilayani dengan penuh perhatian namun enggan memperhatikan orang lain. Tanpa kita tahu, bisa saja orang yang tersenyum di depan kita, pada nyatanya sedang menyimpan banyak duka dan kesedihan. Semoga kita bisa menjadi manusia yang penuh pengertian dan toleransi kepada orang lainnya.
(Satria Hadi Lubis)

Bukan kehidupan namanya jika tanpa hadirnya ujian. Semua memiliki kadarnya masing-masing . Mereka yang terlihat bahagia bukan berarti bebas dari masalah. Hanya saja ia pandai dalam bersabar dan bersyukur. Bersabar ketika mendapatkan cobaan hidup dan bersyukur ketika memperoleh nikmat hidup.

Memberi kepada orang lain, sesungguhnya pemberian itu untukmu. Saat kamu membahagiakan orang lain, sesungguhnya kebahagian itu untukmu. Saat kamu memuliakan orang lain, sesungguhnya kemuliaan itu untukmu. Saat kamu mendoakan orang lain terbaik, sesungguhnya doa itu untukmu. Saat kamu berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya kebaikan itu untukmu. Semua perbuatan yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali pada dirimu sendiri. Maka berikan dan lakukan yang terbaik, niscaya kamu akan menerima yang terbaik. Jangan ada keraguan dan kekhawatiran sedikitpun atas kebaikan yang kamu lakukan. Sebab, tidak ada balasan yang lebih baik atas kebaikanmu kecuali kebaikan itu sendiri.

Adakalanya apa yang kita perjuangkan tak membuahkan hasil yang menyenangkan. Tak mengapa tak ada yang perlu disesali. Setiap perjuangan pasti ada bayarannya. Percayalah Allah akan membalasnya dilain kesempatan, dengan balasan yang jauh lebih baik dari yang kita inginkan.  Jika semua ikhtiar dan doa telah dilakukan, maka serahkan hasilnya kepada Allah SWT.  Bukankah Allah SWT sebaik-baik pemberi balasan? Tenang, jangan buru-buru berburuk sangka. Allah SWT pasti punya rencana indah dibalik pupusnya harapan.

Jangan terkecoh melihat sebagian orang  diberikan kelebihan  oleh Allah.  Kelebihan berupa pangkat,  kekuasaan atau harta benda.  Padahal tak nampak kesalehan pada keseharian mereka. Yang  terlihat justru sebaliknya sikap sinis dan kebencian atas orang yang berusaha berada dalam kebenaran  dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Kelompok yang melakukan amar ma’ruf nahi. Mungkar dicemooh,  diperlakukan tak adil.  “Jika kalian memang benar,  kenapa kekuasaan diberikan Allah SWT kepada Kami?  Kenapa kekayaan dan kemegahan ada pada kami?”. Ternyata  kami lebih diberkahi Allah SWT dari kalian! Lihat diri kalian,  miskin,  bodoh,  tidak punya daya! ” Seakan begitu kalimat bernada ejekan dilontarkannya. Bagi yang tetap  berusaha di atas jalan kebenaran  dan memegang  idealisme,  aqidah yang benar dalam kehidupan,  tidak usah berkecil hati. Karena sesungguhnya sunnatullah bahwa Allah SWT akan memberikan ujian,  maka tampaklah mana yang sabar mana yang  munafiq dan durhaka. Bagi orang-orang  yang mendurhakai Allah SWT, janganlah sombong,  karena boleh jadi Allah sedang mengulur-ulur waktu,  memberikan tangguh agak sejenak.

“Dan janganlah sekali-kali  orang kafir menyangka bahwa pemberian  tangguh kami kepada mereka adalah baik bagi mereka.  Sesungguhnya  Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya  bertambah -tambah dosa mereka,  dan bagi mereka azab yang menghinakan” (QS Ali Imran: 178)

Sebaliknya  Allah SWT mengingatkan orang beriman  untuk tidak terkecoh dan silau  dengan apa yang dimiliki  orang  yang ingkar Itu :

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak  mereka menarik hatimu.  Sesungguhnya Allah menghendaki dengan harta benda dan anak-anak Itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka,  sedang mereka dalam keadaan kafir” (QS At-Taubah 55).

Kehidupan  memiliki  dua dimensi,  ada dimensi dunia  dan ada dimensi  akhirat.  Maka jangan sampai  terlena,  lalai dan terkecoh.

Penulis : Henmaidi, Juli 2020

Sebuah foto lama, namun masih cukup baik untuk dipetik kembali hikmahnya. Yaitu tentang insiden yang terjadi belasan tahun silam di China, ketika sebuah truk besar tergelincir saat melintasi jalan layang. Kepala truk tersebut menerobos pembatas jalan dan bisa menyebabkan kendaraan berat itu terjun bebas ke bawah. Namun karena muatan yang dibawanya cukup banyak, justru truk itu selamat. Beban berat yang dipikulnya ternyata menahan kepala truk agar tidak terjatuh. Petugas keamanan lantas datang melakukan operasi penyelamatan dan orang-orang kemudian ramai mengomentari insiden tersebut bahwa terkadang beban yang berat itu menyelamatkan hidup kita.
Mengingatkan saya kepada kisah tentang seorang lelaki dari India dan temannya yang sedang mendaki gunung Himalaya. Mereka berdua dalam perjalanan turun dari gunung dan berjuang melawan suhu dingin yang ekstrem. Di tengah perjalanan mereka menjumpai seorang pendaki lain yang kakinya terjepit di antara bebatuan. Sang lelaki memutuskan untuk menolong orang itu, sementara temannya justru memilih untuk terus berjalan menyelamatkan diri sendiri. Maka tubuh orang yang tidak berdaya itu dipikul di atas punggung sang lelaki dan mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan tertatih-tatih. Sesekali sang lelaki merasa kelelahan, ia istirahat sejenak hingga tenaganya pulih kembali. Meski penuh perjuangan, mereka berdua tiba di kaki gunung dengan selamat. Namun anehnya justru temannya yang sudah berjalan jauh di depannya ternyata belum sampai. Seharusnya ia sudah tiba lebih dulu. Hingga beberapa jam kemudian, tim SAR mendapat kabar bahwa temannya itu mati membeku di tengah perjalanan. Tubuhnya tak sanggup melawan cuaca dingin yang menusuk tulang itu. Tersadarlah si lelaki justru karena beban berat yang ia pikul tersebutlah yang menyebabkan tubuhnya berkeringat dan menjaganya tidak membeku. Ditambah lagi punggungnya yang bersentuhan badan dengan orang yang ia tolong, menjaga panas tubuhnya. Sekali lagi terbukti bahwa terkadang beban yang berat itu menyelamatkan hidup kita.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.”
( Surat Al-Baqarah: 216)