About delfiatanjungsari

A daughter, a wife, a mom of four, a lecturer and a researcher who sincerely dedicated her time for family, students and community, as a form of worship with expecting the blessing of Allah.

Sedikit Cerita di Hari Guru

619b54c8f3cdd

Hari ini, 25 November 2021, adalah Hari Guru Nasional Indonesia. Anak – anak begitu bersemangat untuk merayakannya. Si nomor dua yang sekarang kelas IV SD, sejak 2 minggu yang lalu telah menyampaikan rencana kelas mereka, dan apa yang menjadi tugasnya. Lagu “Guruku Tersayang” mulai disenandungkan dan dihafal, yang ternyata merupakan persembahan bersama bagi para guru. Bahkan dia juga telah menyiapkan selembar kartu ucapan “Selamat Hari Guru” berwarna merah dan berbentuk hati untuk guru kelas.

Tidak semua guru bisa mendapatkan perhatian yang sama dari murid – muridnya. Teringat sepenggal cerita seorang “GURU”, disaat menemani si Sulung Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Kelas V SD kemarin. Umpama perintang hati dan perintang hari, dengan penuh semangat dan ekspresif si Ibu menceritakan pengalaman beliau sebagai kepala sekolah SD yang berlokasi di lingkungan kurang bagus. Dikemas sedemikian rupa sehingga berhasil membuat kami terbahak dengan kisah beliau, namun sangat dalam pesan tersirat yang disampaikan. “galak – galak rusuah“, begitulah kira – kira yang kami rasakan.

Bersama kami, duduk juga dua orang kepala sekolah lainnya. Salah seorang adalah Kepala Sekolah SD Negeri yang lingkungan sekolahnya 11 – 12 dengan si Ibu yang bercerita, yang punya pengalaman tak kalah serunya dengan si Ibu. Sedangkan seorang lagi adalah kepala sekolah SD Swasta yang rerata muridnya berasal dari lingkungan keluarga menengah keatas, yang notabene cukup concern dengan kualitas pendidikan anak.

Sekolah tempat Ibu tersebut mengabdi berada di lingkungan kurang bagus, dengan kondisi rumah sebagian besar berkualitas rendah, akses jalan yang sempit, dan juga rawan kejahatan. Sebagian besar orang tua murid si Ibu memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan bekerja sebagai pekerja kasar.

Beberapa murid si Ibu adalah penerima Program Indonesia Pintar (PIP), dan ada juga yang mendapatkan beasiswa lainnya. Si Ibu bercerita bagaimana begitu bersemangatnya beliau mengurus PIP dan beasiswa tersebut, agar bisa membantu meringankan beban orang tua dalam menyekolahkan anak. Si Ibu mejelaskan ke orang tua tentang peruntukkan PIP dan beasiswa lainnya saat penyerahan. “Belikan untuk buku, belikan seragam sekolah, sepatu dan kelengkapan sekolah anak lainnya”, begitu pesan beliau ke orang tua.

Namun apa daya si Ibu, ketika uang diterima orang tua malah menggunakannya untuk hal – hal lain seperti mengangsur hutang, membayar kredit motor, bahkan ada yang menggunakan untuk membeli barang – barang yang ndak ada hubungannya dengan Pendidikan anak sama sekali. Ketika si Ibu memberikan teguran, respon orang tua sungguh diluar dugaan. Salah satunya, “Ndak dibayia kredit ko, tantu ditarik motor kami, Buk? Jo apo kami ka maojek lai?” (Kalau ndak dibayar kredit ini, tentu ditarik motor kami, Buk? Trus dengan aja kami mengojek lagi?).

Jangankan untuk memikirkan kualitas Pendidikan, memikirkan bagaimana agar anak – anak bisa hadir di sekolah saja sudah cukup menyita fikiran, waktu dan tenaga beliau. Sesuatu yang perlu diapresiasi dan diacungkan jempol. Apalagi dengan ucapan “Selamat Hari Guru” dari murid. Sesuatu yang mungkin ndak pernah terlintas di kepala beliau akan mendapatkannya, seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Entah apa yang beliau rasakan ketika menonton perayaan hari guru yang sangat meriah dilaksanakan oleh murid – murid di sekolah tempat beliau bertugas sebagai pengawas AKM.

Respon yang kami berikan ke beliau, “Allah itu ndak sia – sia, Ibu mendapatkan tugas ini karena Allah tahu Ibu sanggup dan kuat untuk menghadap orang tua seperti mereka”. Si Ibu memang terlihat sangat tegas, berani dan cara beliau berbicara sangat luwes. Sangat cocok rasanya jika harus berhadapan dengan orang tua murid di sekolah beliau.

Beliau bercerita, pernah di suatu pagi ke lapangan mencari salah seorang murid yang seharusnya ikut Ujian Nasional (UN). Si Anak ternyata tengah berada di pasar sambil berjualan kantong asoi (kantong kresek). Begitu abainya orang tua dengan Pendidikan anak. Bagi mereka, jika anak bekerja bisa langsung menghasilkan uang ketimbang dikirim ke sekolah untuk belajar. Jangankan dukungan orang tua atas program sekolah, mengharapkan kepedulian orang tua tentang pentingnya pendidikan anak – anak adalah sesuatu yang akan terus diperjuangan oleh si Ibu dan guru – guru lainnya.

Hal serupa juga dihadapi oleh kepala sekolah SD Negeri yang satu lagi. Pernah beliau terpaksa mendatangi rumah dan menjemput salah seorang murid yang seharusnya berada di sekolah untuk mengikuti ujian. Sesampainya di rumah, kedua orang tua anak tersebut terlihat acuh tak acuh. Setelah dicari ternyata si anak tengah asyik bermain di lapangan depan rumahnya. Kesal bercampur sedih si Ibu memikirkan begitu tidak pedulinya orang tua dengan Pendidikan anak.

Lingkungan tempat tinggal murid si Ibu ini bisa dikatakan tidak tepat untuk tumbuh kembang anak. Tidak hanya pendidikan, masalah sosial lainnya juga akan sangat mempengaruhi. Lingkungan yang kurang sehat, sanitasi yang buruk, kualitas air yang jelek dan kurang gizi menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan anak. Ujuk – ujuk, kondisi lingkungan dan gizi yang buruk ini tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik si anak, tetapi juga akan mempengaruhi kemampuan anak menangkap pelajaran dan tentunya berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.

Butuh usaha lebih bagi guru disekolah ini untuk bisa menuntaskan materi ajar. Ibarat mengendarai mobil, ketika guru – guru disekolah lain bisa menyampaikan materi dengan kecepatan 60 – 80 km/jam, guru di sekolah si Ibu ini hanya mampu 20 – 40 km/jam. Bisa membuat anak – anak tenang mendengar pelajaran selama 30 menit saja sudah merupakan suatu prestasi yang luar biasa bagi para guru ini.

Selain itu, lingkungan yang buruk juga memiliki dampak signifikan pada perilaku anak. Karakter anak sangat ditentukan oleh didikan orang tua, pertemanan teman sebaya, dan perilaku orang dewasa di sekitarnya. Sebagai role model, baik dan buruknya perilaku orang dewasa di lingkungannya akan diikuti oleh anak. Kekerasan, tontonan, dan perilaku yang tidak baik yang ada dilingkungan besar kemungkinan akan ditiru oleh anak. Memperbaiki tutur kata dan tingkah laku murid adalah pekerjaan rumah lainnya bagi para guru disini. Tak jarang kelas dimulai dengan nasehat yang tak bosan – bosannya disampaikan.

Tidak banyak lagi SD yang kondisinya seperti sekolah tempat si Ibu ini mengabdi, tetapi ada. Bila tidak segera diatasi dan dicarikan solusinya, tentu bisa menjadi penyebab lingkaran setan yang ndak ada putusnya bagi si anak kelak dikemudian hari. Pun menjadi masalah yang sama akan terus dihadapi dan diturunkan ke guru – guru berikutnya. Lebih jauh

Masalah ini tidak akan selesai kalau kita serahkan ke si Ibu dan guru – gurunya, apalah daya beliau sebagai seorang guru dan kepala sekolah? Tugas beliau yang lainnya sebagai kepala sekolah dan guru juga sangatlah banyak. Tentunya ini adalah tugas kita Bersama untuk terlibat demi masa depan yang lebih baik. Basamo mangko manjadi, mungkin itu ungkapan yang pas. Ini tidak sekedar masalah pemukiman kumuh, anak yang berpendidikan rendah, tetapi yang paling utama adalah masalah kemiskinannya. Mencari akar permasalahan adalah hal yang pertama haris dilakukan agar solusi yang diberikan bisa tepat.

Mengutip salah satu tulisan Professor Elfindri tentang penanganan kemiskinan dengan sistem Gotong royong. Sistem gotong royong, kerjasama dan kolaborasi yang melibatkan pemerintah, non state actors (NSA), perantau, perusahaan dan gerakan volunter perlu disegerakan Terutama yang concern dengan bidang ekonomi produktive, pendidikan dan lingkungan. Keterlibatan semua fihak dengan sistem gotong royong adalah cara yg mungkin dilakukan untuk membantu si Ibu meningkatkan partisipasi sekolah murid – murid beliau, dan tentunya bisa meningkatkan kualitas pendidikan sekolahnya.Program Bantuan Bersama untuk keluarga miskin yang dinilai relatif effektif mungkin bisa menyasar keluarga murid – murid si Ibu.

Selamat Hari Guru buat Ibu, Insya Allah apa yang Ibu lakukan selama ini menjadi amal jariah bagi Ibu.

Budidaya Tanaman Hias perlu Dibantu untuk Berkembang

Seperti tertulis pada Harian Haluan, Tanggal 2 Januari 2021

125815053_10225078160371288_330878362197634194_n

Kehidupan serba natural dan dekat dengan alam adalah salah satu gaya hidup kekinian yang sebenarnya juga sudah ada dari lama. Koleksi tanaman di halaman rumah atau disudut ruangan bukan hal baru lagi. Pembatasan aktivitas selama pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) pun kemudian membuat masyarakat semakin gemar memelihara tanaman hias. Hal ini menjadi berkah tersendiri bagi petani dan pedagang bunga hias di berbagai daerah. Tanaman hias menjadi incaran seiring banyaknya warga yang lebih banyak diam di rumah selama pandemic. Permintaan tanaman hias untuk kebun halaman rumah terus mengalami peningkatan dan ini perlu direspon dengan baik.

Disamping itu, peluang bisnis bunga hias tergolong menjanjikan, sehingga perlu terus dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar. Pengembangan usaha tanaman hias dinilai memberikan banyak keuntungan ekonomi karena potensi pasarnya cukup besar. Sektor usaha potensial seperti ini perlu dipacu berkembang guna meningkatkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan menjadi lebih baik kedepan. Berkembangnya usaha budidaya tanaman hias ini juga meningkatkan rasa cinta akan keindahan dan bisa memacu pertumbuhan ekonomi lebih giat karena tidak hanya mendapatkan sebatas benefit tapi juga menyaksikan keindahan.

Peluang usaha di bidang tanaman kini punya porsi yang lebih besar lagi sejak adanya media sosial yang membantu kegiatan marketing. Ditambah lagi ibu-ibu sekarang cukup mudah terpengaruh dengan barang yang dipromosikan oleh para influencer di media sosial. Satu saja influencer mengunggah foto bunga cantik di sudut rumahnya bisa menjadi peluang usaha besar buat para penjual tanaman. Cara berjualannya pun tidak lagi konvensional, harus punya tempat luas untuk memajang tanaman di tengah kota supaya mudah dilihat orang. Bantuan akun Instagram dan layanan kirim foto di aplikasi WhatsApp sangat memudahkan kamu untuk berjualan tanaman hias. Pangsa pasarnya juga bukan ke ibu-ibu saja, kantor dan kafe sekarang juga sudah sangat perhatian dengan tampilan dekorasinya.

Namun demikian, saat ini usaha tanaman hias belum optimal dimanfaatkan sebagai sector ekonomi potensial. Padahal usaha ini tidak memerlukan lahan yang luas. Kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa pengelolaan usaha budidaya tanaman hias ini masih belum mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Hal ini berdampak belum optimalnya pemenuhan potensi pasar yang cukup besar. Belum semua pelaku budidaya tanaman hias mampu menangkap peluang pasar yang sangat bagus tersebut.

Hal tersebut disebabkan oleh sistem budidaya tanaman hias yang dimiliki masih banyak yang bersifat tradisional, tidak memiliki keunikan, usaha belum dikelola secara baik dan profesional, keuangan belum tercatat dengan rapi dan belum banyak yang memanfaatkan media social sebagai tempat marketing. Akibatnya usaha tidak bisa berkembang dengan berkelanjutan dan tidak memiliki daya saing pasar.

Perlu kiranya dipetakan permasalahan yang dihadapi oleh para petani budidaya tanaman hias tersebut agar bisa segera diatasi guna mengoptimalkan potensi yang ada dan memenuhi permintaan pasar. Selain memerlukan:pelatihan mengenai budidaya tanaman hias yang baik dan benar, tata kelola usaha dan keuangan yang tepat, perlu juga diberikan ilmu tentang bagaimana melakukan diversifikasi product serta ilmu tentang cara menangkap peluang usaha baru. Pengusaha budidaya tanaman hias perlu diberikan pelatihan penanganan pasca panen khususnya terkait pengemasan tanaman hias untuk souvenir, dekorasi interior ruang, hingga pengemasan bunga potong. Solusi lain yang bisa ditawarkan kepada petani bunga adalah berupa pelatihan dan pendampingan agar mereka mampu mengelola usahanya dengan baik dan berkembang.

Fair Trade: Dorong Keseimbangan Untuk Kesejahteraan Petani Kopi

Seperti ditulis pada: http://madaniy.com/news/detail/1574/ekbis/fair-trade-dorong-keseimbangan-untuk-kesejahteraan-petani-kopi
Senin, 01 November 2021 – 19:18:59 WIB

40606303839-fairtrade-coffee-006 Foto sekedar ilustasi

KOPI merupakan komoditas kedua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Diproduksi oleh lebih dari 75 negara dan menjadi mata pencarian bagi sekitar 25 juta keluarga petani di seluruh dunia.

Negara penghasil kopi terbanyak adalah Brazil dan diikuti Vietnam, Colombia, Indonesia dan Honduras. Rerata negara produsen kopi terkategori negara sedang berkembang di Amerika Latin, Afrika dan beberapa Asia Pasifik, sementara konsumen terbanyak berada di negara maju yang berada di Amerika Utara dan Eropa.

Produksi kopi telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama 50 tahun terakhir, namun peningkatan ini seringkali tidak disertai dengan kenaikan harga kopi mentah di tingkat petani.

Disisi lain, harga jual di negara-negara konsumen mengalami peningkatan, yang keuntungannya hanya dinikmati oleh perantara, pengolah, eksportir, dan perusahaan internasional besar. Tren ini tentunya mengurangi kesejahteraan petani dan mendorong mereka ke dalam kemiskinan.

Ketidakpastian harga menjadi permasalahan utama bagi petani dalam meningkatkan taraf hidupnya. Rendahnya profitabilitas penjualan membuat rumah tangga petani terkendala dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam merencanakan dan mengalokasikan sumber dayanya.

Hal tersebut telah memperburuk produktivitas tanaman yang pada akhirnya akan berdampak pada produksi kopi itu sendiri. Ketidakpastian harga ini juga menjadi perhatian serius bagi negara-negara konsumen kopi.

Petani Kopi

Mereka menyadari bahwa untuk menjaga keberlangsungan pasokan dari negara produsen, mereka perlu memberikan insentif, khususnya kopi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan guna meningkatkan taraf hidup petani kopi adalah sertifikasi Fair Trade (Srirahayu, 2018), sebuah konsep yang dicetus oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pasca perang dunia kedua.

Mengenal Coffee Fair Trade Continue reading

Test – drive Blog

Sudah lama ingin sekali punya blog, biar bisa sedikit eksis dan punya makna. Beberapa kali mencoba untuk publish, namun akhirnya dihapus karena merasa kurang pas. Kali ini, biar tidak terlalu stress menunggu jadwal ujian, mencoba lagi untuk nge-blog. Sebenarnya ini juga bukan blog yang baru, sudah dibuat sejak pertengahan 2015, hanya belum sempat mengotak-atiknya.

Yups, hari ini spent time buat pilih-pilih themes, header, background, menus serta widges yang maching dan mengena di hati. Kali ini tema yang terpilih sedikit romantis, pinky mawar, biar kelihatan agak feminim saja. Padahal lagi mellow, jauh dari keluarga. Pilihan themes-nya tidak terlalu banyak, tapi berasa lebih cool aja karena nyantol ke website kampus (paling ngak ada unand.ac.id nya). Alhamdulillah, sangat puas dengan tampilan blog yang dihasilkan, semoga bisa menjadi penggairah untuk menulis.

Banyak yang ingin ditulis, diceritakan, dibagi, tapi tidak tahu bagaimana. Takut salah. Ya, begini ini kalau tidak punya pengalaman menulis lepas, punya sesuatu di kepala, sayang tidak tahu bagaimana menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Ada rasa tidak pede ketika mencoba untuk mengungkapkanya dalam bentuk tulisan.

Bak pepatah minang, “Pasa jalan dek ditampuah, lanca kaji dek baulang” , practice makes perfect. So, it’s time to learn and let’s writing.

Why Education

Education plays pivotal roles in fostering the development of human resources who will be the key to create sustainable economic growth development of a country. Education can improve the ability of individuals who will be the catalyst that is closely related to change in economics, social, cultural and demographic, which is defined as national development. Education will increase the ability of citizenship’s of a country to absorb new  technologies and to develop the capacity for self-sustaining growth. Highly developed education system are typically associated with successful economies and high standard of living, in contrast countries with limited development of their education systems lack in economic development and also poor standards of living where many of their children cannot access to education. If it so, if wanna out of poverty and promote a sustainable development, a country should educate its peoples. That why, as a lecturer and researcher on Economics Department of Universitas Andalas, I interested and concerned on educational issues, especially those related to poverty and social exclusion problems. Human resources economics has become the main research area since beginning of my career, with focusing on education.