I know what you did on train

iphone_247Sekitar empat tahun yang lalu, saya mengikuti sebuah diskusi yang sangat menarik menurut saya. Diskusi itu terjadi dalam sebuah kelas Pelatihan Bahasa Inggris untuk dosen yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahasa Universitas Sriwijaya atas biaya Dikti. Kebetulan saya adalah salah seorang pesertanya. Adalah Dra Rita Hayati, M.A. yang menjadi fasilitator pada diskusi tersebut.

Diskusi itu dikembangkan dari sebuah artikel di BBC tentang hasil survey nasional penumpang kereta api di Inggris. Survey itu dilaksanakan oleh sebuah lembaga publik yang bertujuan untuk mengetahui kepuasan pelanggan kereta api serta perbaikan seperti apa yang diinginkan oleh masyarakat di Inggris. Salah satu keluaran dari survey itu adalah jenis-jenis kegiatan apa saja yang disenangi untuk dilakukan diatas kereta api oleh pelanggan kereta api di Inggris. Nah hal inilah yang menjadi topic diskusi saat itu.

Penelitian itu menemukan, pelaku perjalanan dengan kereta api di Inggris mengaku membaca buku selama perjalanan (33%), melihat pemandangan (18%) dan bekerja dengan computer/smartphone (14%). Bagi sebagian yang lain, waktu perjalanan adalah waktu untuk bisa bebas dari gangguan dan dimanfaatkan untuk diri sendiri (“me time”). Melalui aktifitas-aktifitas tersebut, mereka mengaku bahwa waktu perjalanannya sangat bermanfaat. Kedepannya, diperkirakan kemungkinan penggunaan waktu perjalanan secara lebih produktif akan semakin besar seiring dengan perkembangan technologi informasi saat ini. (Note: Saya pernah mengamati aktifitas penumpang dalam salah satu perjalanan kereta yang dapat dibaca melalaui link: Menit demi menit menuju London).

Satu pertanyaan dari fasilitator adalah: Kegiatan apa yang paling disenangi oleh peserta diskusi untuk dilaksanakan diatas kendaraan berikut alasannya? Mayoritas dari teman-teman peserta diskusi menjawab tidur. Sebagian kecil menjawab ngobrol dengan penumpang lain dan sebagian lagi menjawab melihat-lihat pemandangan. Yang menjawab lebih menyukai tidur beralasan karena perjalanan tersebut tidak menyenangkan dan tidur adalah salah satu cara untuk menghindari kebosanan. Yang menjawab menyukai ngobrol beralasan bahwa dia senang bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Diskusi dengan penumpang lain seperti itu diyakini dapat menambah wawasan. Salah satu topic yang hangat dibicarakan selama perjalanan adalah masalah olah raga dan politik. Bagi yang menyukai melihat pemandangan beralasan untuk menyegarkan mata dengan melihat pemandangan atau melihat tingkah laku orang di luar kendaraan sepanjang perjalanan.

Saya tahu bahwa pada empat tahun lalu itu, smartphone dan computer tablet di Indonesia belumlah banyak. Saat ini teknologi tersebut sudah menjadi mainan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Pertanyaannya, apakah teknologi tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia selama dalam perjalanan agar perjalanan menjadi lebih produktif?

Pemanfaatan waktu perjalanan secara lebih produktif kelihatannya sepele. Padahal ada sebuah perbedaan yang substansial pada skema evaluasi investasi transportasi jika waktu perjalanan bisa dibuat lebih produktif. Umumnya manfaat dari sebuah proyek transportasi saat ini diukur dari banyaknya waktu yang bisa dihemat. Dalam hal ini waktu yang dihabiskan untuk suatu perjalanan dianggap sebagai waktu yang terbuang, tidak bernilai dan harus diminimalkan (jika tidak bisa dihilangkan). Nah jika waktu perjalanan bisa dimanfaatkan secara produktif, maka otomatis nilai dari waktu yang terbuang bisa dikurangi. Kemacetan, delay dan sebagainya tidak mesti menyebabkan stress berlebihan karena produktifitas tetap ada.

Sayangnya pemanfaatan waktu perjalanan demikian di Indonesia masih sulit. Alih-alih meningkatkan produktifitas, pemanfaatan teknologi selama perjalanan dikhawatirkan mengancam keselamatan harta dan jiwa. Selain dari itu, faktor-faktor seperti kondisi kendaraan, ketersediaan ruang perpenumpang, dan sifat/karakter pribadi juga mempengaruhi. Dalam sebuah diskusi di media sosial terungkap bahwa teknologi smartphone dan komputer tablet lebih banyak digunakan untuk mengakses media sosial dibanding untuk membaca e-book atau menulis. Semoga suatu saat, kondisi ini berubah ke arah yang lebih baik.

 

 

 

2 thoughts on “I know what you did on train

  1. Sangat menarik Pak Yos
    Tidak apa dipindahkan saja tulisan “menit demi menit menuju London” nya Pak. Biar tidak bingung kita nge blog banyak-banyak. Tinggal kita bikin aja kriteria yang baru di blog staff.unand ini.
    Hanya saran Pak Yos.
    Sukses selalu!
    Ditunggu tulisan selanjutnya Pak.

  2. Terimakasih atas komennya Pak Ilhamdi. Maaf baru tahu ada komen. Bisa nggak ya kalau ada komen masuk langsung terkirim ke e-mail kita? Begitu juga fasilitas reply langsung atas tiap komen?

    BTW, saya baru belajar Pak. Tulisan saya belum sebaik tulisan Bapak :) Sukses selalu Pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>