Pro-Kontra Sistem Rangking dalam Pendidikan Indonesia

Tulisan ini merupakan copy paste dari tulisan saya dua setengah tahun lalu yang bisa diakses melalui tautan ini. Rasanya masih sangat relevan dengan kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Apalagi dengan hiruk-pikuk  masalah pelaksanaan UN yang baru lalu. Semoga ada manfaatnya.

=========

Menarik menyimak diskusi hangat di milis Kibar (Keluarga Islam Indonesia Britania Raya) belakangan ini mengenai plus minus sistem pendidikan yang memberikan ranking dengan sistem pendidikan yang tidak memberikan ranking bagi siswa. Ada yang pro dan ada yang kontra. Yang pro beralasan bahwa sistem tersebut menimbulkan kompetisi sehingga masing-masing anak akan terdorong untuk berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi yang terbaik. Sedangkan yang kontra beralasan bahwa pemberian ranking demikian ditengarai dapat menyebabkan kurangnya sikap menghargai antar siswa dimana anak yang tidak mendapat juara kurang mendapat penghargaan meskipun telah melakukan peningkatan yang cukup bagus.

Jika ditanya pendapat saya mengenai sistem ranking ini, tentu saya akan mengatakan bahwa sitem ini ada baik dan buruknya. Untuk sekedar berbagi, saya pernah punya pegalaman tidak mengenakkan akibat sistem ranking tersebut. Kebetulan saya selalu mendapat ranking terbaik di kelas dan di sekolah sejak di bangku SD sampai tamat SMA. Tentu saja saya senang mendapatkan ranking terbaik karena di samping mendapatkan penghargaan dan hadiah dari para guru, saya juga dapat membuat orang tua saya bangga. Namun ternyata tidak semua orang senang dengan keberhasilan saya. Beberapa teman merasa iri dan bersepakat untuk membuat ranking saya jatuh. Mereka menyusun rencana yang sungguh luar biasa untuk ukuran anak-anak yaitu: Pertama, mencuri buku catatan saya; Kedua, mengganggu konsentrasi saya ketika belajar dan Ketiga, memukul kepala saya berulang-ulang. Logikanya sangat sederhana, jika saya kehilangan catatan, maka saya tidak bisa mengulang pelajaran lagi. Dengan mengganggu konsentrasi saya ketika belajar, saya tidak akan dapat menangkap pelajaran dengan baik. Terakhir dengan memukul kepala saya, maka kemampuan otak saya untuk berpikir akan berkurang. Sungguh komprehensif. Saya mengetahui rencana ini karena mereka mendiskusikannya di dekat saya. Meskipun saya sudah mengetahui rencana tersebut, saya tidak dapat berbuat apa-apa. Saya tidak berani melawan karena mereka lebih tua (merupakan murid yang tinggal kelas), badannya besar-besar dan berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Berkali-kali saya kehilangan catatan, berkali-kali pula konsentrasi belajar saya diganggu dan berkali-kali pula kepala saya mengalami pukulan. Ketika berusaha untuk mengadukan hal ini kepada guru, para guru malah menganggap saya mengada-ada karena tidak bisa membuktikannya. Kejadian ini baru berakhir setelah saya masuk SMA. Betul-betul pengalaman buruk yang membuat saya trauma.

Lalu apakah saya juara karena termotifasi oleh sistem ranking ini? Jawabannya tidak. Saya tidak pernah merasa termotifasi karena sistem ini. Cara belajar saya tetap sama bahkan cenderung malas. Saya lebih senang membaca sambil tiduran atau sambil berkebun. Kadang-kadang saya terpaksa belajar karena beberapa teman baik datang ke rumah dan minta diajari. Ujianpun saya lalui dengan biasa-biasa saja. Barulah pada saat pengumuman juara kelas atau juara sekolah, perasaan saya tak menentu. Teman-temanpun berkerubung disekitar saya dan menakut-nakuti bahwa saya tidak juara lagi kali ini. Bosan katanya mendengar yang juara selalu saya. Mereka ingin sekali-sekali mendengar nama orang lain yang dipanggil sebagai juara. Jantung sayapun berdebar dengan kencangnya, antara menyesal karena tidak belajar dengan baik dan keyakinan bahwa saya telah menjawab setiap soal ujian dengan baik. Karena tidak siap menghadapi pengumuman ini, kadang-kadang saya lebih memilih untuk tidak datang ke sekolah dan menitipkan pengambilan rapor ke orang lain. Ketika mengetahui bahwa saya masih juara seperti biasa, senangkah saya? Ternyata tidak juga. Perasaan saya tetap seperti biasa karena memang begitulah biasanya.

Kembali ke diskusi dalam milis yang mayoritas anggotanya merupakan warga Indonesia yang pernah tinggal untuk bekerja atau mengenyam pendidikan tinggi di UK diatas, yang menarik adalah adanya semacam kesepakatan bahwa sistem pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai luhur lebih baik dari sistem pendidikan yang sekedar mengejar nilai angka. Bahkan inilah salah satu keunggulan pendidikan Indonesia yakni bertujuan menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa. Sayangnya tujuan ini mengalami distorsi dalam tataran operasionalnya. Pendidikan yang seharusnya menghasilkan manusia yang lebih mulia karena berilmu dan memiliki moralitas yang tinggi, justru berubah menjadi ajang kompetisi semu antara sesama pejabat, antar sekolah, dan antar kelas. Berbagai usaha dilakukan untuk memenangkan kompetisi semu tersebut. Salah satu faktanya adalah terungkapnya berbagai kebocoran soal ujian yang melibatkan berbagai pihak. Kompetisi semu ini sangat miskin ‘nilai-nilai’, kulit lebih diutamakan dari isi. Sekolah-sekolah berlomba mengadakan pelatihan kiat-kiat menghadapi ujian, atau membebankan sebagian tugasnya ke berbagai lembaga bimbingan belajar.

Saya teringat dengan pesan seorang Professor Emeritus dari salah satu perguruan tinggi di Sumatera. Ketika itu saya merupakan salah seorang peserta pelatihan Bahasa Inggris di universitas tersebut. Salah satu tujuan pelatihan itu adalah agar para peserta mendapatkan skor TOEFL yang memenuhi syarat untuk diterima di perguruan tinggi luar negeri. Kami, para peserta, bingung karena sampai mendekati akhir masa pelatihan, peserta belum juga mendapatkan kiat-kiat bagaimana agar sukses dalam TOEFL. Sang Professor dengan tenang menjelaskan bahwa mereka tidak menyiapkan kami hanya untuk mencapai skor TOEFL tinggi, namun menyiapkan kami (para peserta) dengan kemampuan penguasaan Bahasa Inggris yang pasti akan sangat berguna bagi kehidupan kami. Beliau mengingatkan kami untuk jangan belajar hanya untuk TOEFL, tapi belajarlah untuk menguasai bahasa itu sendiri. Dengan kemampuan tersebut, kami akan siap menghadapi jenis test Bahasa Inggris yang manapun. Sungguh luar biasa. Sebuah pesan yang tidak dapat kami pahami saat itu, namun terasa sekali kebenarannya saat ini.

Menurut saya inilah sistem yang seharusnya diterapkan. Sistem yang tidak mengutamakan hasil ujian semata, namun sistem yang lebih menghargai proses. Para peserta didik dididik menguasai ilmu itu sendiri tanpa dibebani untuk mencapai skor tertentu. Setiap orang diberikan penghargaan atas setiap capaian baik yang dia peroleh dan mendapatkan perhatian dibagian yang masih perlu peningkatan tanpa perlu dibandingkan dengan orang lain secara terbuka. Moralitas anak-anak didik dijaga agar tetap jujur dan yakin dengan kemampuan diri sendiri. Ujian dilakukan bukan untuk mem-vonis peserta didik melainkan untuk mengevaluasi kinerja guru, mengevaluasi efektifitas teknik yang diterapkan dalam proses belajar-mengajar serta menyiapkan strategi lanjutan untuk meningkatkan penguasaan peserta didik. Bahwa dikemudian hari peserta didik harus menghadapi ujian tertentu, tidak akan mengapa. Karena mereka sudah memperoleh segala jurus untuk menaklukkannya. Wallahua’lam.

Professor Pengais Sampah

spring 2012 247Dia adalah professor pembimbing disertasi saya. Usianya sudah melebihi masa pensiun. Sudah beberapa tahun ini dia tidak menerima gaji lagi dari negara karena sudah pensiun. Namun kampus tetap masih membutuhkannya sehingga tetap memperpanjang masa pengabdiannya atas biaya kampus. Saat ini, dia merupakan salah satu professor terproduktif di group riset kami. Dia banyak mendatangkan proyek dengan biaya besar ke universitas yang berimbas ke banyaknya publikasi. Tapi bukan itu yang hendak saya tulis disini, juga bukan mengenai cara dia dalam membimbing mahasiswanya. Ini adalah cerita langka yang tidak semua orang mengapresiasi yakni kecintaannya pada pemeliharaan lingkungan.

Saat itu group kami kedatangan tamu dari Indonesia. Karena saya adalah salah satu mahasiswa asal Indonesia, maka saya pun diajak ikut serta dalam pertemuan. Saat itu para peserta pertemuan disuguhi makan siang berupa burger, cake, buah, dan jenis makanan standard lainnya. Selesai makan, si professor dengan aktif mengumpulkan piring-piring yang diletakkan oleh para peserta di meja. Kemudian dia memilah sampah makanan tersebut berdasarkan jenisnya: sampah organik, sampah yang bisa di daur ulang dan sampah umum. Kemudian dia membawa dan memasukkan sampah tersebut ke tong sampah yang bersesuaian yang tersedia dalam ruangan. Saat itu saya pikir, mungkin dia sedang “mengajari” kami dan para tamu mengenai bagaimana mereka (Inggris) memperlakukan sampah sehingga wajar saja dia mau bersusah-susah mengumpulkan sampah padahal ada tenaga CS.

Pikiran tersebut sedikit terbantahkan ketika pada suatu konferensi di kota lain, kembali si professor mengumpulkan sampah-sampah dari para peserta. Padahal para peserta adalah para dosen dari berbagai universitas termasuk yunior-yunior beliau dan kami, mahasiswanya. Saya berusaha menolak dan menawarkan untuk mengambil alih tugas mengumpulkan sampah tersebut. Namun dia bersikeras sehingga saya harus mengalah. Para dosen yang lainpun membisikkan bahwa si prof itu memang begitu, hobby mengumpulkan sampah.

Pernah juga suatu kali ketika saya hendak menyampaikan materi pada sebuah seminar dan beliau sebagai pembawa acara. Di ruangan terlihat beberapa kertas berserakan. Tidak di sangka, si Prof pun membungkuk di sela-sela meja untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut dengan tangannya sendiri kemudian memasukkannya ke tong sampah. Anehnya yang lain hanya memperhatikan saja, tidak hendak membantu.

Di ruangan kerja beliau, terdapat sebuah tong sampah biru yang biasa digunakan untuk bahan-bahan yang bisa di daur ulang. Sekantong tutup botol plastic juga terdapat disamping tong sampah tersebut. Sekretaris pribadinya pun hanya bias geleng-geleng kepala melihat tindakan beliau itu.

Penasaran, akhirnya saya pun menanyakan kepada beliau. Kenapa beliau senang mengumpulkan sampah tersebut. Beliaupun menjawab, bahwa pekerjaan mengumpulkan dan memisahkan sampah itu hanyalah pekerjaan kecil dan ringan saja, namun manfaatnya untuk keberlangsungan alam ini sangat besar. Sayangnya banyak orang yang tidak peduli. Sampah-sampah itu akan dibuang sembarangan dan tidak terpisahkan antara yang organik, daur ulang dan sampah umum walaupun tong untuk masing-masing jenis sampah sudah disediakan. Kalau kita tidak bertindak maka lingkungan ini akan lebih cepat rusaknya.

Begitulah keunikan dari professor ini. Padahal usianya sudah sangat tua dan beliau sangat dihormati. Dia bisa saja meminta bantuan kami para mahasiswanya atau para dosen yuniornya untuk melakukan yang diinginkannya. Toh sampah juga sampah kami, sehingga tidaklah terlalu menjadi persoalan. Dia juga punya sekretaris yang bisa dia mintai tolong, atau CS yang memang bertugas untuk itu. Tapi dia lebih cenderung melakukannya sendiri sebagai salah satu kontribusinya menjaga lingkungan. Bukan untuk dirinya karena dia sudah sangat tua, tapi untuk generasi-generasi mendatang. Semoga ada hikmahnya.

I know what you did on train

iphone_247Sekitar empat tahun yang lalu, saya mengikuti sebuah diskusi yang sangat menarik menurut saya. Diskusi itu terjadi dalam sebuah kelas Pelatihan Bahasa Inggris untuk dosen yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahasa Universitas Sriwijaya atas biaya Dikti. Kebetulan saya adalah salah seorang pesertanya. Adalah Dra Rita Hayati, M.A. yang menjadi fasilitator pada diskusi tersebut.

Diskusi itu dikembangkan dari sebuah artikel di BBC tentang hasil survey nasional penumpang kereta api di Inggris. Survey itu dilaksanakan oleh sebuah lembaga publik yang bertujuan untuk mengetahui kepuasan pelanggan kereta api serta perbaikan seperti apa yang diinginkan oleh masyarakat di Inggris. Salah satu keluaran dari survey itu adalah jenis-jenis kegiatan apa saja yang disenangi untuk dilakukan diatas kereta api oleh pelanggan kereta api di Inggris. Nah hal inilah yang menjadi topic diskusi saat itu.

Penelitian itu menemukan, pelaku perjalanan dengan kereta api di Inggris mengaku membaca buku selama perjalanan (33%), melihat pemandangan (18%) dan bekerja dengan computer/smartphone (14%). Bagi sebagian yang lain, waktu perjalanan adalah waktu untuk bisa bebas dari gangguan dan dimanfaatkan untuk diri sendiri (“me time”). Melalui aktifitas-aktifitas tersebut, mereka mengaku bahwa waktu perjalanannya sangat bermanfaat. Kedepannya, diperkirakan kemungkinan penggunaan waktu perjalanan secara lebih produktif akan semakin besar seiring dengan perkembangan technologi informasi saat ini. (Note: Saya pernah mengamati aktifitas penumpang dalam salah satu perjalanan kereta yang dapat dibaca melalaui link: Menit demi menit menuju London).

Satu pertanyaan dari fasilitator adalah: Kegiatan apa yang paling disenangi oleh peserta diskusi untuk dilaksanakan diatas kendaraan berikut alasannya? Mayoritas dari teman-teman peserta diskusi menjawab tidur. Sebagian kecil menjawab ngobrol dengan penumpang lain dan sebagian lagi menjawab melihat-lihat pemandangan. Yang menjawab lebih menyukai tidur beralasan karena perjalanan tersebut tidak menyenangkan dan tidur adalah salah satu cara untuk menghindari kebosanan. Yang menjawab menyukai ngobrol beralasan bahwa dia senang bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Diskusi dengan penumpang lain seperti itu diyakini dapat menambah wawasan. Salah satu topic yang hangat dibicarakan selama perjalanan adalah masalah olah raga dan politik. Bagi yang menyukai melihat pemandangan beralasan untuk menyegarkan mata dengan melihat pemandangan atau melihat tingkah laku orang di luar kendaraan sepanjang perjalanan.

Saya tahu bahwa pada empat tahun lalu itu, smartphone dan computer tablet di Indonesia belumlah banyak. Saat ini teknologi tersebut sudah menjadi mainan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Pertanyaannya, apakah teknologi tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia selama dalam perjalanan agar perjalanan menjadi lebih produktif?

Pemanfaatan waktu perjalanan secara lebih produktif kelihatannya sepele. Padahal ada sebuah perbedaan yang substansial pada skema evaluasi investasi transportasi jika waktu perjalanan bisa dibuat lebih produktif. Umumnya manfaat dari sebuah proyek transportasi saat ini diukur dari banyaknya waktu yang bisa dihemat. Dalam hal ini waktu yang dihabiskan untuk suatu perjalanan dianggap sebagai waktu yang terbuang, tidak bernilai dan harus diminimalkan (jika tidak bisa dihilangkan). Nah jika waktu perjalanan bisa dimanfaatkan secara produktif, maka otomatis nilai dari waktu yang terbuang bisa dikurangi. Kemacetan, delay dan sebagainya tidak mesti menyebabkan stress berlebihan karena produktifitas tetap ada.

Sayangnya pemanfaatan waktu perjalanan demikian di Indonesia masih sulit. Alih-alih meningkatkan produktifitas, pemanfaatan teknologi selama perjalanan dikhawatirkan mengancam keselamatan harta dan jiwa. Selain dari itu, faktor-faktor seperti kondisi kendaraan, ketersediaan ruang perpenumpang, dan sifat/karakter pribadi juga mempengaruhi. Dalam sebuah diskusi di media sosial terungkap bahwa teknologi smartphone dan komputer tablet lebih banyak digunakan untuk mengakses media sosial dibanding untuk membaca e-book atau menulis. Semoga suatu saat, kondisi ini berubah ke arah yang lebih baik.