Tips Sukses Menembus Imigrasi Singapura

Nah berbicara negara pulau ini, mungkin gak ada habisnya ya. Bagaimana suatu negara yang tidak memiliki sumber daya alam, mampu menjadi salah satu negara yang diperhitungkan. Bayangkan, sumber utama pendapatan negara berasal dari sektor jasa. Singapura menjadi hub bagi kapal-kapal dagang yang melintasi selat Melaka. Ribuan pekerja dari Johor memasuki Singapura tiap hari. Bahkan antara Johor  dan Singapura juga terhubung melalui pipa penyaluran air kotor untuk disuling menjadi air bersih lagi di Singapura. Dan singapura mendapat ‘upah’ berupa sekian persen dari air bersih suling yang dikirimkan Malaysia. Aduuh…kalau ingat ini jangan-jangan air yang dipakai di hotel juga air suling.  Kisah Singapura memang membuktikan bahwa keterbatasan memang menjadi lecutan untuk kreatif.

 

Salah satu yang keren sekaligus serem di Singapura adalah imigrasinya. Kalau kita melihat petugas imigrasi yang dingin, cuek, gak ramah dan sedikit galak, mungkin itu sudah tipikalnya mereka ya. Tapi memasuki imigrasi Singapura mempunyai kesan yang berbeda daripada imigrasi lainnya. Read the rest of this entry »

Resensi Novel Pulang : Sebuah Akhir Perjalanan Menaklukkan Diri Sendiri

Namaku Bujang. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.

buku pulangSuatu hari keluarga Samad kedatangan tamu istimewa dari kota. Begitu istimewanya tamu tersebut hingga membawa beberapa rombongan mobil ke desa Talang di lereng perbukitan Bukit Barisan yang jarang disinggahi kendaraan. Adalah Tauke Besar yang ternyata merupakan seseorang yang dekat dengan kehidupan Samad di masa lalu, hendak datang berburu babi.  Bujang, putra Samad, yang tengah beranjak remaja diajak Tauke Besar ikut berburu babi. Bujang yang selalu dilarang Mamak masuk hutan, langsung setuju karena biasanya Bujang masuk hutan sambil sembunyi-sembunyi. Read the rest of this entry »

Mahasiswa Ujian Dalam Bidikan Kamera

20151208_151356

Kebijakan pimpinan Fakultas saya mulai semester ini, penyelenggaraan UAS murni diawasi oleh dosen yang bersangkutan. Tidak ada lagi penggunaan Tenaga Kependidikan (Tendik) untuk pengawasan dengan alasan mengganggu kinerja mereka dalam pelayanan administrasi dsb. Namun kabar kaburnya sih karena ketiadaan honor dengan alasan itu sudah menjdi Tupoksi-nya. Read the rest of this entry »

A Second Opinion, Perlukah?

1446268244611

“Kok Evi itu cepat saja mengambil keputusan operasi? Apa dia gak mencoba dulu pengobatan tradisional?”

Demikian kira-kira bunyi pertanyaan tentang saya yang ditujukan kepada sahabat saya, tentang operasi mastektomi yang saya lakukan? Read the rest of this entry »

Yervi Hesna, Satu Nama Berjuta Cerita

hello-my-name-is1

” What is in a name?” dulu sekali pujangga Shakespeare mempertanyakan.

Dan saya sendiri sewaktu kecil, seingat saya, sama sekali tidak mempertanyakan kenapa orangtua saya memberi nama saya sebuah nama yang ‘terasa’ janggal. Janggal dilidah dan janggal di telinga juga.

Sewaktu saya SD, mostly nama-nama teman saya akan selalu berakhiran i. Kumala Dewi, Deni Suryati, Mensi Emilia Betti, adalah contoh dari sederet nama yang mempergunakan langgam akhiran i. Ada sih beberapa nama lain yang beda akhirannya, bisa berakhiran a atau pun huruf mati. Nah yang ini masuk tipe’ out of the box’ jaman dulu kayaknya:)

Nah saya juga tidak pernah mempertanyakan kenapa saya saya dipanggil dengan nama kecil Evi. Walaupun kebanyakan dari teman-teman masa kecil saya dulu, nama kecilnya merupakan suku pertama dari nama panjangnya.

 

First Time I Truly Ask About My Name

Sewaktu saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, yakni MTsN atau Madrasah Tsanawiyah, saya baru tahu kalau ternyata ada teman-teman yang menggunakan nama berbau Arab. Tersebutlah Fitratul Ani, Miftahul Qalbi, Raudhatul Jannah, Rahmat Hidayat dan sebagainya. Apa karena saya sekolahnya di MTsN yah semuanya kumpul disini?

Nah sewaktu dibangku MTsN inilah karena gurunya sudah gonta ganti per pelajaran, gak sama pas di SD, makanya setiap pelajaran harus absen dulu. Dan setiap absen, khususnya di awal semester dimulai, maka setiap nama saya disebut,  gurunya selalu bilang ,” Oh saya pikir laki-laki?”

Waduh, berarti nama saya bias gender dong ya.

Dari situ baru mulai saya mempertanyakan ke Mama dulu, kenapa saya dikasih nama Yervi Hesna.

Pengen tahu ceritanya?

Yuk Mari!

 

Nama Saya Merupakan Gabungan Inisial Nama Orangtua Saya

” Jadi Yervi Hesna itu adalah dari inisial mama papa,” cerita mama.

“Y untuk Yasmir dan H untuk Husnaini.”

Wah baru tahu saya. Kok gak pernah terpikirkan ya.

“Tapi kok Yervi Hesna sih, Ma. Guru evi selalu menyangka kalau itu nama laki-laki.” protes saya.

“Dulu papa ingin menamakannya dengan nama Yarvaul Husna, nama bahasa Arab. Mau tau gak artinya?” tanya mama.

“Mau-mau, Ma.”

“Yarvaul Husna itu artinya meninggikan kebenaran. Tapi karena mama takut nanti banyak kesalahan di penulisan nantinya, karena saat evi lahir belum banyak nama yang berbahasa arab, akhirnya mama poles sedikit.” jelas mama saya.

Nah, jadilah Yervi Hesna. Lebih ngartis kali ya. Hi…hi…

Sampai disini saya bangga, ternyata nama saya mengandung arti yang baik.

 

Lalu beberapa permasalahan sering timbul…..

Memasuki masa dewasa baru kelihatan bahwa sering kali nama saya membawa sedikit ‘permasalahan’.  Kalau untuk di penulisan rapor sih gak pernah. Soalnya di cek kan dulu?

Paling sering timbul masalah adalah ketika saya akan daftar sesuatu dan saya harus menyebutkan nama saya. Misalnya daftar via telpon untuk kunjungan ke dokter, daftar untuk masuk suatu kursus dan sebagainya. Bahkan untuk daftar face to face pun sering nama saya mengalami kesalahan penulisan. Paling konyolnya ada kartu lebaran dari seseorang yang naksir saya, juga salah dalam menuliskan nama saya.

Nah ini daftarnya ya, seingat saya aja sih.

nama

Banyak juga ya kombinasinya.

Bagaimana supaya kesalahan tidak pernah terjadi? Saya biasanya bawa kertas kecil, nah begitu ditanya untuk memberikan nama, maka nama lengkap akan saya tulis di kertas dan saya berikan. Bahkan tak jarang saya harus mengeja. Khususnya ini yang minta memberikan nama via telpon.

Y – e -r – v – i , ini saja sudah ribet ya. “Pake v ya bukan f.”

Lucunya pernah saya menyebutkan nama ala-ala biro travel gitu.

“Yengkie – Eko – Romeo – Viktor – India.” Eh habis itu saya lupa klo H apa.

 

Sampai sekarang masih berlanjut….

Hingga saya bekerja sekarang, kesalahan penulisan nama maupun penyebutan jenis kelamin berdasar nama masih sering terjadi. Salah satunya dari gambar berikut.

 

Totally Wrong About My Name

Totally Wrong About My Name

Bisa-bisanya ya nama saya Yervi berubah menjadi Yersiva dalam suatu kontrak penelitian. Ini kan sudah jauuuuh banget menyimpangnya.

Nah yang ini contoh pengiriman majalah langganan saya, yang masih mengasumsikan bahwa nama saya dari gender laki-laki.

Saya jadi Laki-laki

Saya jadi Laki-laki

Tapi saya sama sekali gak nyesal kok diberi nama demikian. Di bawa santai aja. Anggap jadi bahan lucuan.

Biar ga berkelanjutan, maka pas saya akan memiliki anak, saya dan suami benar-benar menimbang nama yang akan diberikan. Baik dari segi artistik penulisan, arti kebaikan nama bayi tersebut maupun gender namanya. Semoga cerita lucu nama emaknya ga diwarisi pada anak saya.

 

banner-gaarmitafibri

Berusaha Menjadi Blogger Serius

1445502605542

Kenapa Musti Nge-Blog?

Walaupun punya hobi membaca sejak kecil, namun  saya sama sekali tidak punya ide, pemikiran dan kesenangan untuk menulis. Dulu sekali, dunia tulis menulis yang saya kenal hanya melalui pelajaran Mengarang di kala SD. Praktis setelah tamat SD, dunia menulis hilang dari memori saya. Read the rest of this entry »

Road To The Operating Theatre

 Mata ini tiba-tiba membuka dengan sendirinya. Sepintas cahaya dari bola lampu yang terletak tepat beberapa meter diatas, terasa sedikit menyilaukan. Sadar akan keberadaan saya dimana hati ini langsung berucap, “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih memberiku kesempatan untuk meneruskan hidup ini.

Panggilan itu Akhirnya Datang

“Kak, kita ke ruang OK (baca : oka) ya. Kakak sudah dipanggil. Silahkan mengganti baju dengan baju operasi dan semua perhiasan juga dilepas.” Read the rest of this entry »

Menelisik Romantisme Nasionalisme Dari Rumah Pengasingan Bengkulu

Mengapa Harus Ke Bengkulu?

Bung Karno diasingkan Belanda di Bengkulu dalam kurun tahun 1938 hingga 1942 setelah sebelumnya diasingkan ke Ende, Flores. Semangat pergerakan kemerdekaan yang tak jua surut walaupun telah diasingkan, membuat Belanda kewalahan dan mengeluarkan maklumat Vergader Verbod yang mengharuskan Bung karno dan keluarga pindah ke Bengkulu. Saat itu menurut sejarah, daerah Bengkulu masih dianggap daerah rawan penyakit Malaria sehingga Belanda berkeyakinan Bengkulu dapat membungkam Bung Karno.

Belanda menyewa sebuah rumah yang cukup asri dari seorang pengusaha Tionghoa. Dari literatur pengusaha tersebut bernama Lion Bwe Seng, seorang pedagang sembako. Rumah pengasingan ini terletak di jalan Soekarno Hatta kelurahan Angkut Atas Kota Bengkulu.

Tampak Depan Rumah Pengasingan Bung Karno

Tampak Depan Rumah Pengasingan Bung Karno

Read the rest of this entry »

Menyingkap Sejarah Fatmawati Dari Bengkulu

DSC_0250aMata saya terpana memandang sebuah rumah panggung khas melayu yang terbuat dari kayu. Pondasi slof dari beton yang di cat putih menopang massa dari rumah tersebut. Terdapat satu pintu model kisi-kisi di tengah yang diapit oleh dua jendela di kanan kirinya. Sebuah papan pengumuman bertuliskan Rumah Ibu Fatmawati Soekarno tertulis di sudut kiri rumah tersebut. Rasanya ingin langsung masuk ke dalam untuk menyingkap tirai sejarah yang tersimpan di dalamnya. Namun tak  ada siapa-siapa di situ. Read the rest of this entry »

Tuhan, Maaf Saya Sedang Sibuk

indexaTak henti-hentinya kamu menangis malam itu

Kamu mengadukan nasibmu pada Tuhanmu

Kamu pertanyakan mengapa semua ini terjadi padamu

Tapi tiada jawaban Read the rest of this entry »

←Older