Geliat Penelitian Dosen Indonesia

Profesi Dosen sangatlah dihargai di tengah masyarakat Indonesia yang masih belum terlalu memikirkan pendidikan tinggi. Seseorang dengan profesi dosen ini biasanya dilingkungan rumah mereka dihandalkan menjadi juri runding dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, dikarenakan kemampuan logis seorang dosen dalam berbicara di depan khalayak ramai telah dipercaya masyarakat.

Akan tetapi masih banyak kita yang belum mengetahui mengenai profesi dosen ini secara menyeluruh. Kebanyakan masyarakat, sampai saat ini, banyak yang berpikiran bahwa dosen itu adalah pekerjaan yang hanya disibukkan dengan kegiatan mengajar, menilai pekerjaan mahasiswa dan menyiapkan bahan perkuliahan. Kekurangtahuan ini kadang menimbulkan kesan negatif bagi dosen itu sendiri, karena ada juga sebagian masyarakat bahwa profesi ini terkesan santai dan bebas. Santai karena dalam seminggu hanya ada dua atau tiga pertemuan perkuliahan saja yang diajarkan serta bebas karena dosen dapat mengatur jadwal mengajarnya sesuai dengan kesibukan masing-masing, sehingga banyak dosen yang bisa membuka usaha sendiri selain pekerjaannya sebagai dosen. Bahkan yang lebih parahnya, ada orang yang bercita-cita menjadi dosen, dikarenakan kesantaian yang terlihat pada sosok seorang dosen dalam imajinasi mereka.

Sesungguhnya, pemahaman tersebut tidak lengkap dan sangat perlu diperbaiki kembali. Menurut undang-undang RI Nomor 12 Tahun 2012, terdapat tiga tugas utama dalam perguruan tinggi yang harus diemban oleh setiap individu yang berprofesi sebagai dosen, yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Setiap tugas tersebut memiliki berbagai macam kegiatan di dalamnya, seperti memberi perkuliahan, membimbing penelitian, dan mengikuti pelatihan pada bagian pendidikan. Tugas pengabdian masyarakat dapat berupa memberikan penyuluhan pada masyarakat ataupun berperan serta lansung dalam kegiatan pemerintah berdasarkan keahlian yang dimiliki. Sedangkan pada bidang penelitian, berdasarkan Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan/Akademik Dosen tahun 2014, terdapat paling tidak delapan kelompok kegiatan pada bidang penelitian ini. Dan yang perlu menjadi catatan kita semua bahwa kegiatan tersebut wajib dilaksanakan setiap semesternya, bukan pilihan yang bisa ditinggalkan. Bahkan dalam proses kenaikan pangkat untuk menjadi professor maka bobot kredit untuk penelitian ini lebih tinggi dari pada pendidikan, sedangkan pada level Lektor Kepala bobot kredit penelitian sama dengan kegiatan pendidikan. Hal tersebut dapat menggambarkan bahwa penelitian merupakan sebuah pekerjaan yang besar dalam profesi dosen.

Berbicara mengenai penelitian di Indonesia, maka kita dapat merujuk pada data yang diberikan oleh The SCImago Journal & Country Rank (www.scimagojr.com). Pada website tersebut, terdapat data publikasi yang terindeks oleh scopus dari tahun 1996. Scopus adalah mesin pengindeks artikel yang telah diakui dunia internasional saat ini.

Berdasarkan dari website tersebut, jumlah artikel yang dipublikasikan dengan menggunakan afiliasi Indonesia pada tahun 1996 adalah 539 artikel. Kala itu artikel dari Negara Singapore sekitar lima kali dari pada yang dimiliki Indonesia dan Thailand unggul dua kali dari pada publikasi Indonesia. Malaysia waktu itu masih tidak terlalu jauh dibandingkan dengan Indonesia.  Grafik tren publikasi dari empat Negara tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan data yang ada, selama kurun waktu 20 tahun, maka publikasi Malaysia sampai dengan tahun 2015 mengalami kenaikan yang paling siknifikan, yakni sebesar 24 kali dibandingkan dengan tahun 1996, singapore dengan kenaikan 6 kali dan Thailand sebesar 9 kali. Sedangkan Indonesia mengalami kenaikan sebesar 11 kali, atau menduduki peringkat kedua setelah Malaysia. Jika dicermati dengan seksama, Malaysia memiliki loncatan besar pada dua kesempatan, yaitu pada tahun 2003 dan 2008.

Meskipun begitu, sesunguhnya Indonesia sendiri memiliki tren sangat yang bagus dalam beberapa tahun terakhir ini, terutama sejak tahun 2008 sampai 2015. Indonesia memiliki peningkatan terbanyak dibandingkan tiga Negara lainnya pada fase tersebut, yaitu sekitar 4 kali. Pada sisi lainnya, Thailand dan Singapore seperti sudah memperlihatkan stabilitas jumlah publikasi mereka dalam lima tahun terakhir ini. Peningkatan mereka setiap tahunnya tidak lagi terlalu siknifikan. Malaysia sendiri tidak sampai mencapai peningkatan 3 kali. Ilustrasi dari kenaikan publikasi ini diperlihatkan oleh Gambar 2.

Angka publikasi Negara Indonesia pada data yang diberikan oleh website www.scimagojr.com tentu tidak sepenuhnya berasal dari dosen, karena bisa saja dari lembaga pemerintah, lembaga penelitian, perorangan, maupun kelompok yang bergerak di bidang pendidikan. Akan tetapi, faktor dosen sangatlah dominan terhadap angka-angka tersebut.

Berdasarkan data website www.forlap.ristekditki.go.id, saat ini jumlah dosen Indonesia adalah 210.780 orang, dengan total jumlah dosen yang memiliki pendidikan S3  adalah 28.395 orang dan 144.477 dosen telah berpendidikan S2. Jika seandainya setiap dosen berpendidikan S3 tersebut diamanahkan untuk minimal satu publikasi artikel saja dalam setiap tahunnya, maka tentu jumlah publikasi artikel Indonesia akan meningkat pesat. Akan tetapi semua itu perlu dukungan penuh dari pemerintah agar dosen dapat melakukan tugas penelitian ini dengan baik. Jika program satu doktor untuk satu artikel setiap tahunnya dapat terlaksana, maka tidaklah mustahil Indonesia akan menjadi salah satu Negara yang pendidikannya semakin diakui oleh dunia. Berdasarkan angka-angka tersebut, rasanya pantas kita optimis akan pendidikan kita pada tahun-tahun yang akan datang.

 Gambar 1

Gambar 1. Jumlah publikasi Empat Negara di ASEAN.

 Gambar 2

Gambar 2. Tren kenaikan publikasi pada beberapa periode.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation