Pemanfaatan TIK Dalam Pembangunan E-Government

PEMANFAATAN TIK DALAM PEMBANGUNAN E-GOVERNMENT

Resnia Vilda

 

Kemajuan teknologi dan hadirnya internet tentu menjadi bagian kebutuhan masyarakat luas. Melihat fenomena tersebut menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun yang akan datang teknologi informasi akan menguasai sebagian besar pola kehidupan masyarakat, sehingga sistem e-Government harus dipersiapkan dan dikembangkan dengan baik dan sedini mungkin hal ini berfungsi untuk mengimbangi perkembangan teknologi dan kebutuhan masarakat. E-government adalah proses pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat untuk membantu menjalankan sistem pemerintahan secara lebih efisien. Adapun tujuan dari dibangunnya e-Government adalah sebuah layanan yang berbasis elektronik yang dapat mentransaksi layanan public yang tidak dibatasi oleh waktu, tempat dan lokasi, serta dengan memberikan biaya yang terjangkau bagi masyarakat sehingga efektif dan efesiens agar  lembaga tersebut dapat dicapai dengan maksimal dan sesuai sasaran.

Salah satu penyebab kurang berkembangnya e-government adalah kurangnya sarana infrastuktur dan aplikasi pendukung dari teknologi informasi di lingkungan kantor pemerintahan tersebut. Ditambah

lagi dengan budaya, pola pikir dan perilaku pegawai negeri yang masih enggan untuk mulai memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan tugasnya dengan aktivitas hariannya. Hal ini perlu adanya sebuah motivasi, inovasi dan komitmen dari pegawai tersebut agar dapat memunculkan rasa tertarik terhadap teknologi informasi yang mana dapat mempermudah pekerjaan hariannya untuk mendukung dan menerapkan e-Government ini semaksimal mungkin.

eGovAplikasi pendukung dalam kegiatan perkantoran khususnya administrasi dengan nama e-office. e-Office banyak digunakan dikalangan instansi negeri ataupun swasta. sedangkan di kalangan  pemerintahan, e-Office belum terlalu dikenal dan dikembangkan pemanfaatannya. Misalnya dikantor pemerintah daerah  yang masih menggunakan sistem administrasi perkantoran yang bersifat manual seperti menggunakan kertas dalam membuat sebuah surat, proposal dan sebagainya. Sebagaimana yang pernah dilihat sistem manual ini membutuhkan persediaan alat tulis kantor yang cukup banyak, terutama penggunaan kertas, membutuhkan waktu dan tenaga dalam proses mendistribusikan dokumen, penyimpanan dan pencarian dokumen juga membutuhkan ruangan yang besar tentunya membuat ruangan tersebut semakin sempit dan berantakan serta pencarian dokumen pun akan semakin sulit apabila dokumen tersebut tidak disimpan dengan teratur sesuai dengan klasifikasinya.

e-Office sebagai salah satu hasil dari pengembangan e-Government tentunya akan membantu pegawai di dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Selain dapat membantu tugas harian bagi pegawai,para pemimpin pun juga akan ikut menikmati hasilnya seperti menghasilkan laporan yang dapat dilakukan dengan cepat berdasarkan data-data yang ada didalam sistem ini. Selain meminimalisasi penggunaan kertas, sistem ini  juga mempermudah penyimpanan dan pengolahan data di dalam suatu kantor pemerintahan karena data menjadi terpusat (centralized) dengan bantuan database, sehingga data yang ada akan saling terhubung dan menjadi kesatuan utuh yang dapat memberikan informasi bagi kantor pemerintahan. Selain data tentunya penggunaan komputer bagi para pegawai juga mutlak diperlukan demi terciptanya sistem ini.

DAFTAR PUSTAKA

Sitanggang, H. Ekologi Pemerintahan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1996.

http://www.academia.edu/8857335/Pemanfaatan_Teknologi_Informasi_Dan_Komunikasi_E-Government

Pemerintah kota bogor.Penerapan Teknologi Informasi untuk mendukung e-Government Pemerintah Kota Bogor. Bogor:Pemererintah kota Bogor.2013

E-Government: Konsep Pelayanan Publik Berbasis Internet dan Teknologi Informasi http://www.academia.edu/14190703/EGovernment_Konsep_Pelayanan_Publik_Berbasis_Internet_

dan_Teknologi_Informasi

 

Pustakawan: peluang dan tantangan di masa depan

Pustakawan: peluang dan tantangan di masa depan

Perpustakaan merupakan bukunya jendela dunia. Bahkan al quran pun diperintahkan untuk membaca iqro artinya bacalah. Saat ini, jangankan membaca, pergi ke perpustakaan pun enggan, tentunya dengan berbagai alasan yakni waktu luang, lokasi, kurangnya pemahaman tentang penggunaannya, lebih memilih mencari bahan di mbah google, sarana dan prasarana yang kurang memadai. Banyak orang yang mendefinisikan bahwa bekerja diperpustakaan itu hanya sebagai orang buangan bahkan dikatakan penjaga buku yang hanya menyusun buku ataupun menunggu pengunjung pinjam buku. pustakawan sekarang ini bertugas sebagai pengelola informasi mulai proses mengumpulkan, mengolah dan mengelola informasi sampai siap disebarluaskan dan dimanfaatkan oleh pengguna.

Seiring kemajuan dan perkembangan jaman, tugas-tugas pustakawan terus berkembang dan lebih bervariasi. Dimana pustakawan saat sekarang tidak hanya berkutat melayani informasi dalam bentuk tercetak dan terekam saja. Tetapi harus mulai berubah dan berorientasi ke depan menjadi pustakawan modern yang dapat menjembatani masa transisi antara menyediakan layanan berbentuk cetak maupun elektronik disertai kemampuan untuk mengatur strategi penelusuran secara cepat dan tepat. Dengan telah diterbitkannya undang-undang perpustakaan tersebut, semakin jelas tugas dan tanggung jawab pustakawan. Untuk dapat mengemban amanah yang telah ditetapkan, yaitu mengelola dan melayani kebutuhan pemustaka, maka pustakawan dituntut untuk selalu mengembangkan diri, memiliki kompetensi dan profesionalisme sehingga dapat memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang dan tantangan untuk menciptakan bentuk-bentuk layanan baru, meningkatkan layanan yang diharapkan pemustaka, yang tujuan akhirnya adalah pemustaka puas dengan layanan yang diterima (PP No. 24 tahun 2014).

Berdasarkan pemaparan penulis diatas, upaya untuk memajukan perpustakaan adalah  meningkatkan SDM pengelola perpustakaan, manajemen, kelengkapan koleksi, ketersediaan dana untuk pengembangan, sarana dan prasarana yang memadai.

Meningkatkan SDM pengelola perpustakaan. Selain berijazah akademik, pengelola perpustakaan perlu juga mengikuti training, seminar, pelatihan, workshop baik itu dari perpustakaan nasional maupun lembaga profesi pustakawan untuk meningkatkan kemampuannya. Sehingga sebelum memberikan informasi kepada pengguna, pengelola perpustakaan mengetahui masalah yang akan dihadapi dan memahami duduk persoalan.

Selain itu, Manajemen. Manajemen adalah kebutuhan pokok sebagai salah satu syarat pendirian perpustakaan, karena minimal berfungsi sebagai perencana (planning), pengorganisaasian (organizing), pengawasan (controling). agar dapat dioptimalkan maka perlu manajemen yang baik dan terencana demi lancarnya dan tercapainya tri darma perguruan tinggi. selain itu juga membuat laporan, memantau dan mengukur kinerja serta mengevaluasi dan membuat program kerja secara berkesinambungan dengan analisis SWOT.

Selanjutnya kelengkapan koleksi. banyak kasus ditemui perpustakaan menjadi tidak lakunya koleksi tersebut karena koleksinya yang sedikit, tidak lengkap, kurang menarik, kurang beragam dan hanya mengandalkan buku teks bantuan dari alumni bahkan tidak mengalami pembaharuan selama bertahun-tahun. masalah ini maka perlu adanya kebijakan dan perencanaan dalam sistem pengembangan koleksi perpustakaan.

Kemudian, ketersediaan anggaran untuk pengembangan perpustakaan. Anggaran adalah permasalahan yang sampai saat ini masih minimnya anggaran untuk pengembangan perpustakaan. tentu hal ini tidaklah mudah, perlu perjuangan keras dari para pengelola perpustakaan. disisi lain, usaha inovatif dari pengelola perpustakaan dalam mendapatkan dana juga perlu dipertimbangkan. Seperti membuka layanan fotokopi untuk menambah kas anggaran perpustakaan.

Selanjutnya adalah sarana dan prasarana yang terdiri dari lahan, gedung, ruang, perabot, dan peralatan. masalah sarana prasarana meliputi perabot peralatan penyimpanan, layak atau tidaknya sebuah gedung perpustakaan, seberapa besar daya tampungnya, seberapa kokoh, apakah bocor ketika hujan, apakah sudah sesuai standar bangunan ideal termasuk luasnya sudah sesuai apa belum. tempat baca perlu dibuat senyaman mungkin dan luasannya mampu menampung pembaca, ada yang duduk kursi ada yang lesehan di tikar. tentunya tata ruang harus dikelola sebaik mungkin, sesekali perlu dirombak ulang agar tidak bosan.

Melihat persaingan pustakawan di masa depan tentu mengingatkan kepada pustakawan bahwa pentingnya mengembangkan skill yang dimiliki dengan didukung oleh berbagai pihak. Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang mendatang. Sudah saatnya memaksimalkan pemanfaatkan teknologi informasi dengan memanfaatkan internet untuk mendapatkan informasi yang aktual bagi penggunanya.