Pustakawan: peluang dan tantangan di masa depan

Pustakawan: peluang dan tantangan di masa depan

Perpustakaan merupakan bukunya jendela dunia. Bahkan al quran pun diperintahkan untuk membaca iqro artinya bacalah. Saat ini, jangankan membaca, pergi ke perpustakaan pun enggan, tentunya dengan berbagai alasan yakni waktu luang, lokasi, kurangnya pemahaman tentang penggunaannya, lebih memilih mencari bahan di mbah google, sarana dan prasarana yang kurang memadai. Banyak orang yang mendefinisikan bahwa bekerja diperpustakaan itu hanya sebagai orang buangan bahkan dikatakan penjaga buku yang hanya menyusun buku ataupun menunggu pengunjung pinjam buku. pustakawan sekarang ini bertugas sebagai pengelola informasi mulai proses mengumpulkan, mengolah dan mengelola informasi sampai siap disebarluaskan dan dimanfaatkan oleh pengguna.

Seiring kemajuan dan perkembangan jaman, tugas-tugas pustakawan terus berkembang dan lebih bervariasi. Dimana pustakawan saat sekarang tidak hanya berkutat melayani informasi dalam bentuk tercetak dan terekam saja. Tetapi harus mulai berubah dan berorientasi ke depan menjadi pustakawan modern yang dapat menjembatani masa transisi antara menyediakan layanan berbentuk cetak maupun elektronik disertai kemampuan untuk mengatur strategi penelusuran secara cepat dan tepat. Dengan telah diterbitkannya undang-undang perpustakaan tersebut, semakin jelas tugas dan tanggung jawab pustakawan. Untuk dapat mengemban amanah yang telah ditetapkan, yaitu mengelola dan melayani kebutuhan pemustaka, maka pustakawan dituntut untuk selalu mengembangkan diri, memiliki kompetensi dan profesionalisme sehingga dapat memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang dan tantangan untuk menciptakan bentuk-bentuk layanan baru, meningkatkan layanan yang diharapkan pemustaka, yang tujuan akhirnya adalah pemustaka puas dengan layanan yang diterima (PP No. 24 tahun 2014).

Berdasarkan pemaparan penulis diatas, upaya untuk memajukan perpustakaan adalah  meningkatkan SDM pengelola perpustakaan, manajemen, kelengkapan koleksi, ketersediaan dana untuk pengembangan, sarana dan prasarana yang memadai.

Meningkatkan SDM pengelola perpustakaan. Selain berijazah akademik, pengelola perpustakaan perlu juga mengikuti training, seminar, pelatihan, workshop baik itu dari perpustakaan nasional maupun lembaga profesi pustakawan untuk meningkatkan kemampuannya. Sehingga sebelum memberikan informasi kepada pengguna, pengelola perpustakaan mengetahui masalah yang akan dihadapi dan memahami duduk persoalan.

Selain itu, Manajemen. Manajemen adalah kebutuhan pokok sebagai salah satu syarat pendirian perpustakaan, karena minimal berfungsi sebagai perencana (planning), pengorganisaasian (organizing), pengawasan (controling). agar dapat dioptimalkan maka perlu manajemen yang baik dan terencana demi lancarnya dan tercapainya tri darma perguruan tinggi. selain itu juga membuat laporan, memantau dan mengukur kinerja serta mengevaluasi dan membuat program kerja secara berkesinambungan dengan analisis SWOT.

Selanjutnya kelengkapan koleksi. banyak kasus ditemui perpustakaan menjadi tidak lakunya koleksi tersebut karena koleksinya yang sedikit, tidak lengkap, kurang menarik, kurang beragam dan hanya mengandalkan buku teks bantuan dari alumni bahkan tidak mengalami pembaharuan selama bertahun-tahun. masalah ini maka perlu adanya kebijakan dan perencanaan dalam sistem pengembangan koleksi perpustakaan.

Kemudian, ketersediaan anggaran untuk pengembangan perpustakaan. Anggaran adalah permasalahan yang sampai saat ini masih minimnya anggaran untuk pengembangan perpustakaan. tentu hal ini tidaklah mudah, perlu perjuangan keras dari para pengelola perpustakaan. disisi lain, usaha inovatif dari pengelola perpustakaan dalam mendapatkan dana juga perlu dipertimbangkan. Seperti membuka layanan fotokopi untuk menambah kas anggaran perpustakaan.

Selanjutnya adalah sarana dan prasarana yang terdiri dari lahan, gedung, ruang, perabot, dan peralatan. masalah sarana prasarana meliputi perabot peralatan penyimpanan, layak atau tidaknya sebuah gedung perpustakaan, seberapa besar daya tampungnya, seberapa kokoh, apakah bocor ketika hujan, apakah sudah sesuai standar bangunan ideal termasuk luasnya sudah sesuai apa belum. tempat baca perlu dibuat senyaman mungkin dan luasannya mampu menampung pembaca, ada yang duduk kursi ada yang lesehan di tikar. tentunya tata ruang harus dikelola sebaik mungkin, sesekali perlu dirombak ulang agar tidak bosan.

Melihat persaingan pustakawan di masa depan tentu mengingatkan kepada pustakawan bahwa pentingnya mengembangkan skill yang dimiliki dengan didukung oleh berbagai pihak. Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang mendatang. Sudah saatnya memaksimalkan pemanfaatkan teknologi informasi dengan memanfaatkan internet untuk mendapatkan informasi yang aktual bagi penggunanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>