INOVASI INKLUSIF, PANGAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI

Hari Senin/27 November 2017, Fakultas Pertanian Universitas Andalas mengadakan puncak perayaan Dies Natalis. Hari tersebut menandai bahwasanya Fakultas Pertanian Unand telah memasuki usia yang ke 63. Usia yang sudah sangat matang, kata Pak Rektor, usia yang sudah tua, bahkan lebih tua dari Universitas Andalas sendiri. Tugas berat Fakultas Pertanian Unand tidak hanya mendidik anak bangsa dibidang pertanian, tetapi juga terus menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang mendukung pencapaian ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani. Melalui artikel singkat ini saya ingin mengajak kita semua untuk reflektif melihat sejauh mana kebijakan pangan dan juga kebijakan riset dibidang pangan telah memberikan kontribusi kepada pembangunan pertanian dan pangan yang lebih maju. Soal riset dan inovasi serta intervensi kebijakan adalah bagian dari peran sentral dan tanggung jawab yang harus dijalankan Fakultas Pertanian Unand.

Setiap Dies Natalis Fakultas Pertanian Unand, secara bersama kita selalu menyanyikan lagu Dian Pertanian, lagu yang menunjukkan ironi dunia petani dan sekaligus lagu tersebut mengajak kita untuk berjuang bersama mewujudkan kesejahteraan petani. Saya ingin menunjukkan suatu data soal kesejahteraan petani yang dilansir Prof Arief Anshory seorang ekonom dari UNPAD, dia membandingkan  data NTP (nilai tukar petani)  dan PDB (produk domestik bruto) per kapita selama 5 tahun terakhir, maka ditemukan ketika rata-rata orang Indonesia kesejahteraannya meningkat 21 persen selama 5 tahun terakhir, petani praktis tidak mengalami peningkatan kesejahteraan. Sungguh ironi yang menganga didepan mata dan hidung kita. Petani adalah orang yang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan pangan segenap lapisan penduduk Republik, tidak peduli kelas sosial mana orang tersebut, yang penting pangan tersedia murah untuk mereka. Ini ironi pertama.

Ironi yang kedua adalah soal anggaran yang besar dan produktivitas pertanian kita yang rendah.  Mentri koordinator perekonomian menyebutkan bahwa, 50 triliun rupiah lebih pertahun dihabiskan untuk membiayai program-program pertanian, terutama dalam meningkatkan produktivitas pada komoditi-komoditi strategis, akan tetapi efisiensinya dikritik oleh banyak pihak, bahkan oleh Menteri perekonomian sendiri yang menyebutkan anggaran besar disektor pertanian tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Peningkatan produksi pangan baru bisa dikatakan berhasil jika dana yang dikeluarkan untuk sektor pertanian efektif untuk meningkatkan produksi pertanian dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Data Bank Dunia  menunjukkan bahwa dukungan pemerintah Indonesia terhadap sektor pertanian terus meningkat dibandingkan negara lainnya yang kecendungan dukungannya menurun. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa hasil produktivitas pertanian Indonesia masih rendah, hal ini bisa dilihat dari ekspor produk pertanian yang menurun tajam ditahun 2015 dan kembali mengalami penurunan ditahun 2016 (BPS, 2017). Sejalan dengan hal ini nilai tukar petani (NTP) juga terus memburuk. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data indeks nilai tukar petani (NTP) nasional pada bulan Februari 2017 sebesar 100,33. Angka ini Iebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 sebesar 102,23 dan 102,19 pada tahun 2015 (BPS, 2017). Selain ekspor produk yang menurun, harga komoditi strategis seperti beras dan sapi potong juga meningkat di dalam negri, dan bahkan jauh lebih tinggi dari pada negara lain. Data dari BPS dan Bank Dunia memperlihatkan kecendrungan kenaikan harga beras di Indonesia yang berbanding terbalik dengan Thailand yang harga berasnya terus menurun. Begitu juga dengan daging sapi, kecendrungan harga di dalam negri terus menaik sedangkan harga daging sapi di luar negri (dunia) kecendrungannya menurun (World Bank, 2017). Program yang dibuat dan inovasi yang dihasilkan di dalam negri nampaknya belum menyumbang kepada peningkatan produksi pada kedua komoditi strategis tersebut dan juga tidak berdampak positif pada kesejahteraan petani.

Solusi Kedepan

 Menghadapi fakta ini apa yang harus kita lakukan?. Saya ingin menawarkan perbaikan cara kita mengelola pertanian dan pangan dari hal yang fundamental dan hulu, yakni proses manajemen pengetahuan dan inovasi.  Pengetahuan dan inovasi yang terkelola dengan baik akan memberikan kita kapasitas untuk menyelesaikan dua problem klasik sektor pertanian, yakni produktivitas dan kesejahteraan petani. Inovasi adalah kata kunci dari proses memajukan sektor pertanian. Namun kita memerlukan inovasi yang inklusif, yakni inovasi yang sesuai dengan kebutuhan petani serta tidak hanya bersifat teknis.  Kita harus fokus dan mengutamakan inovasi untuk petani kecil jangan berambisi inovasi untuk industri, kalau persoalan inovasi dan pengetahuan untuk pertanian rakyat tidak kita urus dengan benar.

Anggaran untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi tersebar dibanyak Kementerian dan lembaga. Pada tahun 2017 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menganggarkan dana riset sebesar  Rp 1,395 Triliun (Kemenristekdikti, 2017). Dana  tersebut digunakan untuk membiayai penelitian dan pengabdian masyarakat termasuk di bidang pangan. Anggaran ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya inovasi bidang pangan, terutama pada komoditi pangan strategis. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah, apakah pengetahuan dan inovasi yang terus dihasilkan tersebut bersifat inklusif atau malah hanya menjadi cost center bagi institusi dan kemanfaatan dari output yang dihasilkan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Dalam mengelola pengetahuan dan inovasi bidang pangan, penulis mengusulkan beberapa hal; pertama, Kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi, sebagai lembaga utama yang mengelola pengetahuan dan teknologi perlu meminta institusi riset dilingkungannya membuat basis data penelitian yang setidaknya berisi ragam kepakaran peneliti yang ada, potensi/masalah/ tantangan komoditi strategis, serta tingkat atau pentahapan penelitian (dasar, terapan, pengembangan, atau komersialisasi). Data ini bekerja dalam sebuah aplikasi khusus yang dapat dibaca dan diperbaharui secara real time. Basis data penelitian inilah yang digunakan untuk mengambil kebijakan penelitian guna menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang inklusif.

Kedua, sejalan dengan pembangunan basis data tersebut, penelitian dengan skema kompetitif harus dikurangi. Penelitian dengan skema kompetitif seperti membagikan uang dari atas helikopter, sehingga tidak dapat diukur dengan baik pencapaian dan kemanfaatannya. Perlu dibuat skema penelitian baru yang lebih menjamin output yang terkontrol dan bekerja secara interdisiplin. Maka dari itu perlu penelitian dengan skema mandatori. Penelitian mandatori adalah penelitian multidisiplin dengan topik spesifik  yang keputusan soal penelitian tersebut diambil dengan menganalisis basis data penelitian di masing-masing institusi riset.

Kalaulah pengetahuan dan inovasi sudah terkelola dengan baik, barulah kita bisa mulai berharap produktivitas sektor pertanian dan kesejahteraan petani  akan menjadi lebih baik.  Peran Fakultas Pertanian sudah niscaya menjadi penting dalam hal ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *