PETANI DAN KETAHANAN PANGAN

Tulisan  Gubernur Sumbar yang ditulis di harian Singgalang pada tanggal 23 Maret 2017 dengan judul “ BI, Inflasi dan Pangan”, lalu beberapa hari berikutnya Gubernur juga menulis tulisan dengan topik yang hampir sama di harian Padang Ekspres, dengan judul “ OJK dan Pangan”. Kedua tulisan Pak Gubernur ini menarik untuk direspon. Kita senang Gubernur Sumbar  memiliki perhatian dan kesadaran  pentingnya ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Dua hal yang penting dan seharunya berhubungan. Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah dengan cara bagaimana sebaiknya ketahanan pangan kita bangun?. Gubernur melalui dua artikel tersebut telah menunjukkan satu hal penting, yakni sinergi multi pihak untuk membangun ketahanan dan kesejahteraan petani.

Meneruskan arah pikir Gubernur ini, secara konseptual kita perlu bicara dan merumuskan lebih jauh suatu hal penting yang disebut dengan; Sistem Inovasi Pertanian.  Lalu pada saat yang bersamaan membangun satu  kesadaran kolektif bahwa; “Pertanian adalah landasan peradaban”, maka dengan demikian kita akan bisa menciptakan ketahanan pangan yang kuat dengan landasan kesejahteraan petani yang baik, bukan sebaliknya, bahwa ketahanan pangan berusaha kita bangun diatas kemiskinan dan ketimpangan yang semakin parah.

Sistem Inovasi Pertanian

Sistem inovasi pertanian dapat dirumuskan sebagai sekumpulan aktor (seperti organisasi petani, suplai input, pengolahan dan pemasaran, lembaga penelitian dan pendidikan, lembaga perkreditan, unit penyuluhan, perusahaan jasa konsultasi, lembaga pembangunan internasional dan pemerintah) yang memberikan kontribusi secara bersama sama terhadap difusi dan adopsi inovasi serta memberikan pengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap proses perubahan teknologi pertanian ( Temel, et.al, 2002). Dengan demikian sistem inovasi pertanian secara sederhana bisa kita maknai sebagai keterpaduan antara berbagai aktor yang terkait secara langsung ataupun tidak langsung dengan sektor pertanian, yang mana keterpaduan tersebut bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan sekaligus kesejehteraan petani. Dengan mengaitkan BI dan OJK ke sektor pertanian, pemerintah sebenarnya sudah mencoba bekerja pada garis keterpaduan antar aktor tersebut, namun langkah ini perlu dibuat lebih sistemik, dalam kerangka sebuah sistem inovasi pertanian yang teruji secara konseptual dan praktek empiris.

Satu hal penting yang mesti dipahami banyak pihak terutama pemerintah, persoalan ketahanan pangan bukan hanya persoalan menghasilkan teknologi, ataupun mencetak sawah baru. Bisa jadi teknologi kita sudah banyak tapi tidak mampu berfungsi baik karena  banyak faktor sosial, ekonomi dan politik yang justru menjadi persoalan yang lebih rumit. Maka dengan keterpaduan berbagai stakeholder/ aktor tersebut dalam kerangka sistem inovasi pertanian persoalan-persoalan yang muncul akan lebih mudah diatasi. Melalui sistem inovasi yang sudah jelas dengan dukungan multi pihak didalamnya maka pemerintah  lebih jelas dan terarah membuat regulasi yang benar atau mencabut regulasi yang menghambat dan menyulitkan bagi penciptaan ketahanan pangan yang berbasis kesejahteraan petani. Dalam pendek kata sistem inovasi pertanian tidak hanya akan mengatasi kemandekkan teknologi saja tetapi juga mengatasi persoalan-persoalan non teknis yang terkadang justru lebih menghambat.

Pertanian adalah Landasan Peradaban    

Semua pihak perlu sadar, tidak ada gunya membangun ketahanan pangan tanpa kesejahteraan petani. Ketahanan pangan yang dibangun tanpa kesejahteraan petani bisa dipastikan tidak akan berkelanjutan. Pemerintah terus berusaha melakukan berbagai macam kebijakan untuk memperkuat sektor pertanian, mulai dari anggaran sektor pertanian yang semakin besar, yang turunannya adalah beberapa program seperti peningkatan produksi Padi, Jagung dan Kedele (PAJELE), Pencetakan sawah baru, dan berbagai kebijakan lainnya,  namun satu fakta yang terjadi adalah tingkat kesejahteraan petani tidak beranjak naik, bahkan nilai tukar petani cendrung menurun. Hal ini disebabkan selain karena ketiadaan sebuah sistem inovasi pertanian juga karena sikap dan cara pandang kita terhadap sektor pertanian yang tidak benar, sehingga pendekatan dan kebijakan menjadi tidak tepat. Kita selalu memandang bahwa sektor pertanian adalah sektor yang lebih rendah dari industri, jasa dan sektor lainnya. Kesimpulan kesimpulan prematur selau dibuat, seperti dengan mengatakan semakin mengecilnya sumbangan PDB pertanian terhadap PDB nasional menunjukkan bahwa sektor ini menjadi tidak relevan lagi. Pikiran semacam ini adalah cara pandang yang datang dari  pemahaman yang tidak komprehensif dan historis. Banyak negara maju adalah negara yang membangun pondasi pertanian secara kuat. Amerika serikat misalnya, meluncurukan program Homestead Act dan Morrill Act  pada tahun 1862 dan dilanjutkan dengan Agricultural Adjustment Act 1933 yang diluncurkan oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, yang mana kebijakan-kebijakan tersebut adalah pondasi utama bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Amerika serikat.

Sudah saatnya kesadaran kolektif bangsa ditumbuhkan bahwa pertanian adalah landasan peradaban. Landasan bagi kemajuan dan keberlanjutan suatu bangsa yang kuat. Industri, jasa dan sektor ekonomi lainnya hanya akan bisa bergerak maju jika persoalan disektor pertanian telah mampu kita atasi, terutama soal kesejahteraan petani yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini.

TULISAN INI TELAH DITERBITKAN DI HARIAN SINGGALANG / 13 APRIL 2017

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *