Orasi Ilmiah : Aktivasi Saraf-Saraf Pengendali Makan di Hipotalamus Untuk Mencegah Obesitas dan Diabetes Melitus

Assalamu’alaikum wrwb

Yang terhormat Bapak Rektor UNAND beserta jajarannya

Yang terhormat Bapak Dekan dan Wakil-Wakil Dekan FMIPA UNAND

Yang terhormat Ketua-ketua Jurusan di Lingkungan FMIPA UNAND

Yang terhormat para guru besar, dosen, tenaga kependidikan, karyawan/karyawati, mahasiswa dan segenap undangan Dies Natalis FMIPA UNAND

 

Dalam kesempatan penuh berkah ini, izinkan saya mempersembahkan rasa hormat dan terimakasih yang dalam kepada Dekan FMIPA UNAND, Bapak Prof. Dr. Mansyurdin, dan Ketua Jurusan Biologi, Ibu Dr. Mairawita, yang telah berkenan mempercayai saya untuk menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis FMIPA yang ke-.62 tahun 2017. Terimakasih juga saya haturkan kepada hadirin semua yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk berada di ruang berlimpah rahmat ini.

Paparan yang berjudul Aktivasi Saraf-Saraf Pengendali Makan di Hipotalamus Untuk Mencegah Obesitas dan Diabetes Melitus ini adalah elaborasi dari data empiris sebagai hasil-hasil riset yang telah saya lakukan selama 4 tahun terakhir dalam bidang Fisiologi. 

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Obesitas (kegemukan) dan diabetes melitus merupakan gangguan kesehatan beresiko tinggi yang menjadi pandemik global. Survei WHO pada tahun 2015 menguak fakta bahwa sepertiga dari populasi dunia berstatus obesitas dan pengidap diabetes melitus. Diproyeksikan pula bahwa sekitar tiga milyar manusia pada satu dekade kedepan akan menyandang status obesitas dan rentan terhadap diabetes.

Obesitas telah terbukti berkolerasi nyata dengan perkembangan diabetes melitus. Gangguan metabolik ini juga bertanggung jawab terhadap perkembangan penyakit-penyakit mematikan lainnya seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, kerusakan hati, disfungsi ginjal, munculnya tumor dan kanker yang kian ganas. Keseluruhannya adalah mimpi buruk bagi kita sebagai masyarakat yang hidup dalam peradaban modern saat sekarang ini.

Kecanggihan teknologi masa kini telah menyuguhkan kepada kita diversitas pilihan yang begitu banyak, kemudahan dan kepraktisan hidup yang berkelas serta kecepatan dan efektivitas dalam merentas dimensi ruang dan waktu. Sebagai konsekuensi negatifnya, telah terjadi kecenderungan pergeseran pada pola hidup masyarakat diantaranya adalah (a) perubahan perilaku makan (feeding behavior), (b) penurunan aktivitas fisik (sedentary habit), dan (c) penggunaan cahaya artifisial berlebih di malam hari yang mengacaukan siklus siang-malam alami (circadian misalignment). Perubahan-perubahan tersebut dapat memicu ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke tubuh (energy intake) dengan energi yang dipakai untuk metabolisme (energy expenditure) yang akan berujung kepada perkembangan penyakit obesitas dan diabetes melitus.

Tingginya resiko akibat perubahan pola hidup pada masyarakat modern menantang kita untuk mengeksplorasi rahasia-rahasia terdalam dari sistem tubuh yang berpeluang untuk dijadikan target dalam pencegahan penyakit obesitas dan diabetes. Secara khusus, kita memfokuskan riset pada potensi-potensi endogenik dari tubuh untuk dapat (a) menekan peningkatan asupan energi akibat perubahan perilaku makan, (b) memacu pemakaian energi ditengah rutinitas sedentary yang tak terelakkan dan (c) meminimalisir dampak sekaligus memulihkan kekacauan ritme biologis sistem tubuh akibat paparan cahaya diluar periode terang-gelap alami. Ringkasnya, untuk menyibak mekanisme bagaimana sistem tubuh kita dapat dikerahkan sedemikian rupa dalam rangka menghambat perkembangan obesitas dan diabetes melitus.

Hadirin yang berbahagia,

Salah satu entry point dalam sistem tubuh yang berpeluang untuk dijadikan target dalam pencegahan obesitas dan diabetes adalah kinerja pusat pengendali makan di hipotalamus (feeding regulation centers). Kelenjar hipotalamus yang terletak di dasar otak disusun oleh kumpulan sel-sel saraf yang memiliki kendali dalam pengaturan metabolisme tubuh. Telah diketahui bahwa pada zona paraventricular nucleus (PVN) hipotalamus terdapat saraf-saraf yang bertanggung jawab terhadap munculnya rasa kenyang (anorexigenic) yaitu saraf NUCB2/nesfatin-1 (Nesf-1), arginin vasopresin (AVP), corticotropin-releasing hormone (CRH) dan saraf oksitosin (Oxt). Sedangkan di zona arcuate nucleus (ARC) hipotalamus, terdapat dua tipe saraf sekaligus yaitu saraf yang memicu munculnya rasa lapar (orexigenic) (saraf neuropeptide Y/agouti-related peptide, NPY/AgRP), dan saraf pemicu rasa kenyang dan pemacu pemakaian energi tubuh (saraf proopiomelanocortin, POMC). Menariknya, saraf-saraf tersebut memiliki sistem sensor seluler terhadap status metabolisme tubuh (dalam kondisi makan atau puasa) dan aktivitasnya berjalan sesuai ritme biologis (senada dengan siklus timbul dan tenggelamnya matahari dan pergantian siang dan malam).

orasi 1

Gambar 1. Pusat-pusat pengendali makan utama dan saraf penyusunnya di hipotala-mus. Ket: PVN (Paraventricular nucleus), ARC (Arcuate nucleus) (Santoso et al., JASSO 2014).

Berdasarkan penelitian-penelitian dengan menggunakan hewan model, telah berhasil diidentifikasi tiga mekanisme baru  sistem aktivasi dan pengaturan kinerja saraf-saraf pada pusat pengendali makan di hipotalamus. Masing-masingnya melibatkan interaksi hormonal dan neuronal antara (a) hati dengan hipotalamus, (b) ginjal dengan hipotalamus,  dan (c) indera penglihatan dengan hipotalamus.

Aktivasi Saraf Pengendali Makan Nesfatin-1 Oleh Hormon FGF21 Dari Hati

Hati secara aktif memproduksi hormon fibroblast growth factor 21 (FGF21) ketika tubuh dalam keadaan berpuasa (fasted state). Semakin sering frekuensi puasa, semakin tinggi pula level hormon ini dihasilkan. Menariknya, pada tikus percobaan yang dipuasakan secara berulang-ulang selama 30 hari, konsentrasi FGF21 dalam darahnya tetap terjaga tinggi hingga berbulan-bulan kemudian meskipun hewan tersebut tidak pernah lagi dipuasakan. Lebih menarik lagi, bahwa tikus-tikus tersebut menjadi resisten terhadap obesitas dan diabetes melitus kendati didedahkan terhadap makanan berlemak dan berkadar gula tinggi atau perlakuan dengan stress pengekangan dalam tempo relatif lama (chronic restrained stress).

Telah diketahui bahwa hormon FGF21 terlibat penting dalam proses penyediaan badan keton sebagai sumber energi untuk menjaga sel-sel saraf tetap bekerja normal selama  puasa. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hormon tersebut tetap dipertahankan tinggi kadarnya pasca berpuasa (fed state)? Lalu, bagaimana hal ini dapat bermanifestasi terhadap pencegahan obesitas dan diabetes melitus?

Dispekulasikan bahwa FGF21 memiliki fungsi yang berbeda ketika tubuh tidak berpuasa dan hal tersebut melibatkan mekanisme aktivasi saraf di pusat pengendali makan hipotalamus. Untuk membuktikan spekulasi tersebut, dilakukanlah serangkaian eksperimen menggunakan hewan model (mencit normal dan transgenik).

Penginjeksian hormon FGF21 ke rongga otak menyebabkan penurunan konsumsi makan secara signifikan sejak 3 jam pasca perlakuan hingga 24 jam kemudian. Selanjutnya, penginjeksian FGF21 ke otak juga menyebabkan terjadinya pelonjakan aktivitas saraf-saraf di pusat pengendali makan PVN hipotalamus hingga lima kali lipat dibandingkan kontrol. Analisis molekuler menunjukkan bahwa FGF21 secara selektif meningkatkan ekspresi gen pengkode protein NUCB2/nesfatin-1 di PVN hipotalamus dan meningkatkan ekspresi protein penanda aktivitas saraf (protein c-Fos) pada sel saraf pemciu rasa kenyang tersebut (saraf nesfatin-1). Percobaan in vitro (di dalam medium kultur) menunjukkan bahwa hormon FGF21, dalam keadaan kadar gula tinggi, mampu meningkatkan konsentrasi ion Ca2+ di sitosol sel saraf nesfatin-1 yang mengindikasikan bahwa hormon tersebut mengaktivasi neuron nesfatin-1 hanya dalam kondisi tidak berpuasa/gula darah tinggi. Rekayasa genetik dengan menghapus gen pengkode protein nesfatin-1 pada sel saraf di hipotalamus menyebabkan hormon FGF21 gagal dalam memicu munculnya rasa kenyang (menghentikan makan). Secara resiprokal, penghapusan gen pengkode hormon FGF21 juga menyebabkan terhambatnya ekspresi protein nesfatin-1 di hipotalamus. Eksperimen selanjutnya juga membuktikan bahwa dalam kondisi gula darah tinggi, FGF21 akan bekerja lebih giat untuk mengaktivasi saraf nesfatin-1 di pusat pengendali makan hipotalamus sehingga memicu penurunan  konsumsi makanan.

orasi 2

Gambar 2. Mekanisme kerja hormon FGF21 dari hati dalam mengaktivasi saraf pengendali makan nesfatin-1 di hipotalamus dan implikasinya terhadap pencegahan obesitas dan diabetes melitus (Santoso et al., Nature-Scientific report 2017).

Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat dipahami bahwa dalam kondisi tidak berpuasa, FGF21 yang dihasilkan oleh hati akan bekerja di pusat pengendali makan hipotalamus yang secara selektif mengaktivasi saraf nesfatin-1. Peningkatan aktivitas saraf nesfatin-1 akan memicu munculnya rasa kenyang (satiety state) sehingga mencegah terjadinya konsumsi makanan secara berlebihan (hiperpagia) yang dapat berujung kepada obesitas. Sementara itu, interaksi antara hormon FGF21 dan saraf nesfatin-1 membentuk sistem sensor yang mengontrol kadar gula darah agar tetap dalam batas normal sehingga mencegah perkembangan diabetes melitus. Fungsi FGF21 sebagai pembawa pesan dari hati ke otak sangat tergantung kepada saraf nesfatin-1, sedangkan ekspresi protein nesfatin-1 di otak juga sangat tergantung kepada hormon FGF21.

Aktivasi Saraf-Saraf Pengendali Makan Oleh Hormon ELABELA Dari Ginjal

ELABELA adalah hormon yang baru diidentifikasi pada tahun 2013 oleh tim peneliti dari A*STAR dan National University of Singapore. Hormon ini dihasilkan oleh ginjal dan dapat dengan mudah mencapai jaringan otak melalui aliran darah (menembus pembatas antara darah dan otak atau blood-brain barrier, BBB). ELABELA berfungsi pada proses pembentukan jantung saat fase embrio, tetapi perannya pada individu dewasa belum banyak dipelajari. Telah dilaporkan bahwa reseptor ELABELA diekspresikan pada pusat pengendali makan di hipotalamus sehingga diduga kuat bahwa ELABELA juga berinteraksi secara langsung dengan saraf-saraf pada pusat pengendali makan tersebut dan berimplikasi terhadap perilaku makan.

Hadirin yang diberkahi Allah,

Untuk membuktikan bahwa ELABELA dapat mengaktivasi saraf-saraf pada pusat pengendali makan, maka hormon tersebut diinjeksikan secara langsung ke rongga otak pada hewan model (mencit). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa ELABELA mampu meningkatkan ekspresi protein penanda aktivitas saraf (c-Fos) secara signifikan di pusat pengendali makan PVN hipotalamus. Selanjutnya, dari pengukuran konsumsi makan juga diketahui bahwa aksi ELABELA dapat menginduksi munculnya rasa kenyang (satiety state) dan meningkatkan temperatur tubuh. Hasil observasi imunohistokimia mengindikasikan bahwa ELABELA secara selektif mengaktivasi saraf-saraf arginine vasopressin (AVP) dan saraf corticotropin-releasing hormone (CRH) hipotalamus. Hal tersebut juga didukung oleh hasil eksperimen in vitro (di dalam medium kultur) yang mendemonstrasikan bahwa ELABELA dapat meningkatkan konsentrasi ion Ca2+ di dalam sitosol sel-sel saraf AVP dan CRH (indikator adanya interaksi langsung antara ELABELA dengan sel-sel saraf).

Berdasarkan hasil-hasil eksperimen yang telah dilakukan, diketahui bahwa ELABELA menjadi media komunikasi antara ginjal dengan pusat pengendali makan di hipotalamus. Aktivasi saraf-saraf AVP dan CRH oleh ELABELA dapat menurunkan nafsu makan yang berlebih (hiperpagia) sekaligus memacu laju metabolisme tubuh. Hal tersebut berimplikasi terhadap kesetimbangan jumlah energi yang masuk ke tubuh (melalui makanan) dan jumlah energi yang dipakai oleh tubuh (melalui katabolisme) yang menjadi mekanisme penting dalam pencegahan obesitas dan diabetes melitus. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian-penelitian lanjut guna mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memicu produksi ELABELA di ginjal serta hubunganya dengan kondisi puasa dan makan (fasted/fed state) individu.

Picture2

Gambar 3. Aksi hormon ELABELA dari ginjal dalam mengaktivasi saraf-saraf  AVP dan CRH di pusat pengendali makan PVN hipotalamus serta implikasinya terhadap pencegahan obesitas dan diabetes melitus. Ket: BBB (blood-brain barrier, pembatas antara darah dan jaringan otak) (Diadaptasi dari Santoso et al., Neuroreport 2015).

Aktivasi Saraf Pengendali Makan Oksitosin Oleh Sinyal Cahaya Dari Mata

Cahaya dari mata dapat mengendalikan ritme fisiologis tubuh dengan mempengaruhi jadwal kerja saraf-saraf di pusat jam biologis suprachiasmatic nucleus (SCN) di hipotalamus yang dikenal dengan master clock/circadian center. Selanjutnya, seluruh organ, seluruh sel, seluruh unit organel dan pola ekspresi gen-gen dari milyaran sel penyusun tubuh akan tunduk patuh kepada sistem perintah molekuler dan elektrik yang disampaikan oleh pusat jam biologis tersebut. Ini menjadi bukti nyata perihal bagaimana perputaran bumi dan terjadinya siang malam dunia akan bermanifestasi terhadap ritme biologis dari aktivitas sel-sel pembangun semua sistem tubuh kita. Siklus paparan cahaya alami yang teratur akibat pergantian siang-malam bumi akan berdampak positif terhadap proses metabolisme tubuh. Tetapi, paparan cahaya diluar waktu normalnya akan mengakibatkan kekacauan besar pada kinerja sistem-sistem yang ada.

 cird

Gambar 4. Siklus paparan cahaya sesuai periode siang/malam bumi menentukan sinkronisasi antara ritme jam biologis utama di suprachiasmatic nucleus (SCN) otak (master clock) dengan ritme jam kerja organ-organ di seluruh tubuh (peripheral clocks) (Diadaptasi dari Santoso, Doctoral Dissertation, JMU 2017).

 

Bapak dan Ibu sekalian yang budiman,

Telah dilaporkan bahwa paparan cahaya artifisial malam hari (akibat pemakaian lampu terang, iluminasi layar piranti elektronik, pekerja shift malam dll) berkolerasi nyata dengan peningkatan resiko obesitas dan diabetes melitus pada manusia. Dalam percobaan di laboratorium, tikus-tikus yang diperlakukan dengan paparan cahaya di luar siklus siang-malam bumi memperlihatkan peningkatan bobot lemak tubuh, kadar gula dan kolesterol darah yang tinggi, serta munculnya nafsu makan tak terkendali (sindrom hiperpagia) yang disertai gejala-gejala stress. Fenomena-fenomena tersebut mengundang pertanyaan apakah informasi terang-gelap yang diterima oleh mata memiliki implikasi secara langsung terhadap aktivitas saraf-saraf pada pusat pengendali makan di hipotalamus?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukanlah serangkaian eksperimen paparan cahaya pada hewan model (tikus normal dan transgenik) dan observasi terhadap respon saraf-saraf yang bertanggung jawab dalam pengaturan ritme biologis dan pengendalian makan di hipotalamus. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa sinyal cahaya dari mata dapat meningkatkan aktivitas saraf oksitosin di pusat pengendali makan PVN hipotalamus dan saraf arginine vasopressin (AVP) di pusat jam biologis utama (suprachiasmatic nucleus, SCN). Investigasi selanjutnya menemukan bahwa sebagian besar saraf AVP terproyeksi secara langsung ke pusat pengendali makan PVN hipotalamus. Pada eksperimen lain didapati bahwa jika aktivitas saraf AVP meningkat maka aktivitas saraf oksitosin juga akan meningkat. Penginjeksian molekul AVP ke rongga otak dapat mengaktivasi saraf oksitosin dan menurunkan nafsu makan secara signifikan. Selanjutnya, eksperimen in vitro (di medium kultur) juga membuktikan bahwa AVP mampu meningkatkan konsentrasi ion Ca2+ di sitoplasma dan meningkatkan frekuensi aktivitas elektrik saraf oksitosin. Hal tersebut mengindikasikan bahwa saraf AVP dari SCN berinteraksi secara langsung dengan saraf oksitosin. Selanjutnya juga terungkap bahwa efek cahaya terhadap perilaku makan akan berkurang secara nyata jika aktivitas saraf oksitosin dihambat (dengan antagonis oksitosin).

light

Gambar 5. Mekanisme aktivasi saraf oksitosin (Oxt) di pusat pengendali makan PVN hipotalamus oleh cahaya dengan perantara saraf arginine vasopressin (AVP; di pusat jam biologis SCN). Ket: RHT (retinohypothalamic tract, saraf penghubung antara retina mata dengan SCN di hipotalamus) (Dimodifikasi dari Santoso et al.,American Journal of Physiology 2017).

Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa aktivitas saraf pengendali makan oksitosin dapat dipengaruhi oleh cahaya. Keberadaan saraf arginine vasopresin (AVP) di pusat jam biologis memegang peranan kunci sebagai mediator aktivasi cahaya terhadap saraf oksitosin tersebut. Selanjutnya, aktivasi saraf oksitosin akan bermanifestasi kepada penurunan nafsu makan, penurunan kadar gula darah, dan peningkatan laju pemakaian energi metabolisme (energy expenditure). Hal ini menjadi salah satu mekanisme penting perihal bagaimana cahaya dapat mempengaruhi perilaku makan dan bagaimana ketidakteraturan ritme pencahayaan (periode terang/gelap) akan berdampak langsung terhadap abnormalitas kerja oksitosin yang pada akhirnya akan memicu perkembangan obesitas dan diabetes melitus.

Hadirin yang terhormat,

Pertanyaan selanjutnya yang tak kalah penting adalah bagaimana mekanisme kerja saraf oksitosin dalam mengatur konsumsi makan sekaligus meningkatkan laju pemakaian energi tubuh? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, telah dilakukan serangkaian observasi terhadap interaksi antara saraf oksitosin dengan saraf-saraf lainnya yang mengontrol perilaku makan (saraf pemicu rasa lapar-NPY/AgRP; dan saraf pemicu rasa kenyang sekaligus pemacu laju metabolisme tubuh- proopiomelanocortin POMC) di hipotalamus.

Telah dilaporkan sebelumnya bahwa mekanisme utama munculnya rasa lapar adalah karena aksi hormon ghrelin (yang dihasilkan oleh lambung saat kosong) yang mengaktivasi saraf NPY/AgRP di pusat pengendali makan hipotalamus. Selanjutnya, berdasarkan eksperimen yang telah dilakukan, diketahui bahwa saraf oksitosin dapat menghambat aksi ghrelin dalam mengaktivasi saraf NPY/AgRP sehingga rasa lapar menjadi terkendali yang juga berarti mencegah terjadinya konsumsi makan yang berlebihan pasca kelaparan. Dari investigasi lanjut terungkap bahwa oksitosin juga mampu mengaktivasi saraf proopiomelanocortin (POMC) sehingga meningkatkan laju metabolisme tubuh dan menurunkan selera makan. Dengan demikian, terdapat dua  mekanisme penting dari saraf oksitosin dalam meregulasi perilaku makan dan laju metabolisme tubuh yang berimplikasi terhadap pencegahan obesitas dan diabetes melitus.

Picture1

           ee

kengany

Gambar   6. Dua mekanisme  dasar saraf oksitosin di otak dalam mengontrol perilaku makan, yaitu dengan (A) menghambat aktivasi hormon ghrelin terhadap saraf NPY di hipotalamus dan (B) mengaktivasi saraf proopiomelanocortin (POMC) di hipotalamus (Diadaptasi dari Maejima and Santoso, FEBS Letter 2014; Santoso et al., JASSO 2014).

 

Saudara/saudari sekalian yang berbahagia,

Dari temuan-temuan yang telah dipaparkan, dapat kita pahami bahwasanya terdapat sistem komunikasi yang unik antara organ hati, ginjal, dan indera penglihatan dengan pusat pengendali makan di hipotalamus. Interaksi-interaksi tersebut adalah bagian dari kekuatan endogenik tubuh yang dapat dikerahkan guna menangkal terjadinya obesitas dan diabetes melitus. Aktivitas puasa yang rutin, pengurangan paparan cahaya artifisial di malam hari, dan penjagaan stabilitas fungsi ginjal adalah strategi-strategi penting yang sangat direkomendasikan untuk menghindarkan kita dari obesitas dan diabetes. Kedepan, kiranya penting pula dilakukan riset-riset yang mengarah kepada eksplorasi dan pemanfaatan bahan alami tropika sebagai penyokong kekuatan endogenik tubuh dalam mencegah dan mengobati gangguan metabolik obesitas, diabetes melitus, dan penyakit-penyakit terkait lainnya.

Hadirin semua yang dirahmati Allah,

Sebelum saya mengakhiri orasi ini, perkenankan saya mempersembahkan terimakasih kepada orang-orang yang telah berkontribusi besar bagi tuntasnya riset-riset saya: dewan promotor saya di Graduate School of Medicine, Jichi Medical School (Prof. Toshihiko Yada, Associate Prof. Masanori Nakata), dewan promotor saya di Fukushima Medical University (Prof.  Kenju Shimomura, Associate Prof. Yuko Maejima), kontributor sekaligus konsultan saya dalam penggunaan hewan-hewan transgenik (Prof. Joel K. Elmquist dan Prof. Steve Kliewer, The University of Texas at Austin, USA) dan Prof. Yoichi Ueta (University of Occupational and Environmental Health, Kitakyusu, Jepang),  dan untuk para dosen sekaligus motivator dan inspirator handal saya di Jurusan Biologi FMIPA UNAND serta untuk keluarga yang selalu saya cintai.

 

Saudara/Saudari sekalian yang terhormat,

Tak ada temuan yang mutlak keabsahannya, tak ada sintesis-sintesis pemikiran yang senantiasa hidup dalam keabadian dan kesempurnaan yang tak terbantahkan. Begitupun dengan gagasan dan fakta-fakta empiris yang sudah saya kemukakan dalam kesempatan begitu berkah ini. Semoga apa yang sudah dipaparkan dapat sedikit mencerahkan, menyumbang sebutir debu bagi khazanah ilmu pengetahuan dan perkembangan sains yang berdaya guna bagi diri saya sendiri, hadirin semuanya, dan untuk kejayaan bangsa. Terimakasih atas segala perhatiannya, semoga Allah selalu menganugerahi kita kecerdasan dalam berfikir, kebijaksanaan dalam bertindak, hati yang ikhlas dan ketakwaan yang semakin tebal lagi tinggi. Salam sejahtera dan do’a sukses selalu. Wassalamu’alaikum wrwb.

Untuk Mensitasi Naskah ini sbb:

Santoso, P. 2017. Aktivasi Saraf-Saraf Pengendali Makan  di Hipotalamus Untuk Mencegah Obesitas dan Diabetes Melitus. Orasi Ilmiah Disampaikan Pada Dies Natalis Ke-62 FMIPA UNAND, Padang 10 Okober 2017. FMIPA Universitas Andalas. 

WhatsApp Image 2017-10-29 at 21.12.07

 

Comments are closed.