Prof. Djoko Tjahjono Iskandar: Pendekar Katak Pengguncang Dunia (Profil Idola)

Picture1Angin Laut Mediterania menyapanya begitu ramah ketika pertama kali ia berlabuh di Montpellier, Perancis dipenghujung era 1970-an. Ia adalah sosok yang kelak menjadi salah satu permata paling  berkilau Indonesia: Djoko T. Iskandar. Perantauannya di sebuah kota di selatan Perancis tersebut dalam rangka menempuh pendidikan lebih tinggi, setelah sebelumnya menyelesaikan jenjang sarjana di ITB (tahun 1975). Perjuangannya di negeri menara Eiffel akhirnya berujung gemilang ketika ia mengantongi gelar Master (tahun 1981) dan Doktor (tahun 1984) di Université des Sciences et Techniques du Languedoc, Montpellier. Ia lalu memutuskan untuk kembali ke tanah air dan mengabdikan diri sebagai dosen dan peneliti papan atas di almamaternya, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.

 

‘Kekasih-Kekasih’ yang Terus Ia Cintai

 

Selaras dengan kompetensi keilmuwannya, pria energik kelahiran Bandung 23 Agustus 1950 ini memilih untuk menggeluti kajian biodiversitas, evolusi, ekologi dan biogeografi hewan-hewan dari kelompok amphibi dan reptil (herpetofauna). Salah satu ‘kekasih’ yang selalu membuatnya jatuh cinta adalah katak. Katak, menurutnya, adalah mahluk menawan yang dapat dengan mudah ditemui di manapun bahkan di pekarangan rumah. Mirisnya, menurut beliau, sebagai negara megabiodiversitas, telaa ilmiah berkenaan dengan hewan tersebut masih sangat terbatas di negara kita. Berdasarkan hasil studinya, sejak awal kemerdekaan hingga tahun 1970-an hanya ada lima publikasi ilmiah yang melaporkan perihal eksistensi katak di Indonesia. Ironisme tersebutlah yang kemudian mengobarkan semangat berpetualangnya untuk mengeksplorasi biodiversitas dan eksotika katak-katak di seluruh kepulauan nusantara. Hasil-hasil petualangannya telah ia tuangkan dalam salah satu bukunya The Amphibians of Java and Bali.

       Selain menggemari kajian diversitas katak, guru besar ITB bidang sistematika, ekologi dan evolusi vertebrata kecil ini juga intensif mengeksplorasi keragaman kelompok kadal dan ular. Baru-baru ini beliau mempublikasikan salah satu temuannya tentang deskripsi spesies-spesies kadal baru dari Sumatra dan kepulauan Mentawai  di Journal of Herpetology (2017). Ditahun 2011 lalu, namanya juga telah diabadikan dalam nomenklatur salah satu genus ular di kawasan Australia yaitu monotypic banded watersnake  Djokosikandarius. Hal tersebut merupakan bentuk pengakuan atas kontribusi-kontribusi signifikan beliau dalam bidang kajian reptilia.

 

Temuan-Temuannya yang Mengguncang Dunia

Pada bulan Desember 1978, Professor Djoko T. Iskandar memperkenalkan spesies katak baru kepada dunia dari kelompok Barbourula. Temuannya yang dipaparkan dalam jurnal internasional Coepeia (terbitan American Society of Ichthyologists and Herpetologists) menjadi catatan ilmiah pertama tentang keberadaan katak  Discoglossidae  di kawasan Borneo. Temuan ini menjadi salah satu debut internasional perdananya yang sangat mengesankan.

Picture2Pada tahun 2008, pria penyuka durian ini kembali menghebohkan jagad ilmu pengetahuan atas temuan fenomenalnya tentang satu-satunya katak tanpa paru-paru (lungless frog) di dunia yaitu Borbourula kalimantanensis. Bersama pakar herpetologi dari National University of Singapore (David Bickford) dan ahli anatomi ITB (Anggraini Barlian),  ia mendeskripsikan hasil ekspedisi mereka di kawasan barat Kalimantan dalam  jurnal Current Biology. Selain tanpa paru-paru, spesies katak ‘ajaib’ tersebut juga memiliki keunikan lain dimana struktur morfologi kepalanya pipih sehingga juga dinamai bornean flat-headed frog. Katak langka tersebut telah dimasukkan dalam red list IUCN (The International Union for Conservation of Nature) sebagai spesies terancam punah (endangered species).

Dipenghujung tahun 2014, ahli herpetologi ini kembali menggegerkan dunia dengan temuan spektakulernya tentang katak jenis baru yang beranak dan berfertilisasi internal. Jika selama ini kita ketahui bahwa katak merupakan hewan bertelur dan melakukan pembuahan di luar tubuh (fertilisasi eksternal), maka spesies ‘aneh’ dari Pulau Sulawesi yang diberi nama ilmiah Limnonectes larvaepartus ini termasuk dari segelintir kecil spesies katak beranak dan berfertilisasi internal yang ada di dunia.  Laporan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal PLoS One tersebut menjadi trending topic selama berminggu-minggu di berbagai media massa internasional dan telah disitasi sebagai referensi acuan oleh berbagai peneliti lainnya di seluruh belahan dunia.

Buah Baktinya Bagi Negara

Sebagai pengakuan dunia atas karya-karyanya yang fundamental di bidang ilmu pengetahuan, maka Prof. Djoko T. Iskandar telah dianugerahi berbagai penghargaan baik dalam skala nasional maupun internasional. Namanya telah dimaktubkan dalam berbagai spesies amphibi dan reptil antara lain  Djokoiskandarus annulatus (2011, reptil), Polypedates iskandari (2011, amphibi), Draco iskandari (2007, reptil), Luperosaurus iskandari (2000, reptil), Fejervarya iskandari (2001, amphibi) dan Collocasiomya iskandari (1998, amphibi). Tahun 2001 ia memperoleh Kenedy Award kategori best published paper of the year (bersama R.M. Brown) dari The International Society for the Study of Amphibian and Reptiles, USA. Tahun 2005 ia juga dianugerahi Habibi Award in Basic Science oleh The Habibi Center. Tahun 2003 dan 2009 ia dianugerahi silver dan gold medal award oleh pemerintah Indonesia.

 

Harapannya Untuk Anak Bangsa

 

Putra kebanggan bangsa ini mengimpikan bahwa kelak Indonesia akan dipenuhi oleh generasi penerus yang memiliki kepakaran handal di bidang herpetologi. Ia, sebagai pioneer bagi perkembangan telaa biodiversitas amphibi dan reptil Indonesia, sangat menginginkan adanya  regenerasi dalam eksplorasi berkelanjutan untuk menggali, menyelamatkan dan memanfaatkan megadiversitas nusantara. Diusianya yang sekarang (67 tahun), ia masih memiliki semangat untuk melakukan ekspedisi ilmiah di belantara-belantara hutan perawan di kepulauan Indonesia. Hal ini hendaknya menjadi teladan bagi kita semua, bahwa gairah untuk berkarya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah modal besar untuk mencapai kedijayaan di mata dunia.

 

Sumber Foto:

Foto Prof. Djoko T. Iskandar dari Kompas edisi cetak, 24 Maret 2009 dan dimuat di blog https://biologilover.wordpress.com.

 

Foto katak tanpa paru-paru (lungless frog) diperoleh dari jurnal Current Biology Vol. 18 (19), 6 May 2008, R374-R375

 

Sumber Referensi:

Iskandar, D.T. 2017. Description of five new day geckos of Cnemaspis kandiana group (Sauria: Gekkonidae) from Sumatra and Mentawai Archipelago, Indonesia. Journal of Herpetology, 51(1): 142−153.

 

Iskandar, D.T, Evans, B.J., McGuire, J.A. 2014. A novel reproductive mode in frogs: A new species of fanged frog with internal fertilization and birth of tadpoles. PLOS One. 9 (12): e115884. doi:10.1371/journal.pone.0115884.

 

Murphy, John C. 2011. The nomenclature and systematics of some Australasian homalopsid snakes (Squamata:Serpentes: Homalopsidae) Raffles Bulletin of Zoology. National University of Singapore. 59 (2): 229–236.

 

Bickford, D., Iskandar, D.T. Barlian, A. 2008. Correspondence: A lungless frog discovered on Borneo. Current Biology 18(9):374-375.

 

Iskandar, D. T. 1978. A New Species of Barbourula: First Record of a Discoglossid Anuran in Borneo. Copeia (American Society of Ichthyologists and Herpetologists) 1978 (No. 4): 564–566.

 

Profile Prof. Dr. Djoko Tjahjono Iskandar (https://biologis1.sith.itb.ac.id/1062-2/).

 

Putri, M.L. 2017. Prof. Djoko T. Iskandar: Menjadi Saksi Keanekaragaman Indonesia. https://www.itb.ac.id/news/read/5446/home/prof-djoko-t-iskandar-menjadi-saksi-keanekaragaman-indonesia.

 

 

 

Comments are closed.