Kekasih Ombak

sunset-2225387_960_720Ini tentang semilir angin pesisir yang dahulu selalu berlabuh di wajahnya. Menyanyikan senandung tentang suatu senja di dermaga kecil, ketika kami sama-sama berlarian mengejar matahari yang hampir tenggelam. Aku sering memanggilnya Bintang Kejora lantaran bola matanya selalu memancarkan sinar. Kadang-kadang aku juga menyebutnya Lembayung walau nama aslinya adalah Musdalifah. Tapi, dia lebih suka memanggilku Dang, seperti juga Bak dan Mak memanggilku di rumah. Musdalifah adalah bintang paling terang, seterang matahari. Kejora yang jadi kebanggaan orang-orang di sepanjang pesisir kampung nelayan ini.

            “Kamu anak lanang satu-satunya di keluarga ini, Dang. Akan jadi tulang punggung kalau Bak telah tiada.” Mak menceramahi ku lantaran terlambat bangun untuk menyiapkan peralatan Bak melaut dini hari tadi. “Tulang punggung jangan mudah retak, apalagi patah. Lihat saja Uwak Sar, sudah tak ada tulang punggung keluarganya lagi. Melaratlah hidup mereka.”

“Maafkan Dang, Mak,” sahutku menyesal. “Semalam kami mengaji sampai larut di langgar.” Aku kemudian bergegas menjinjing pukat dan bekal untuk Bak pergi melaut. Walau hampir tiap hari kata-kata itu jadi bahan omelan Mak, aku tetap saja bergidik mendengarnya. Kadangkala aku menutupkan telapak tangan ke telinga sampai Mak berhenti. Aku tak ingin berandai-andai kalau Bak mati, aku tak ingin ada tulang punggung yang retak ataupun patah. Aku juga tak ingin keluarga kami tambah melarat seperti Uwak Sar lantas aku dan adik-adikku jadi anak yatim seperti Lembayung.

“Rembuk kaum sudah sepakat kalau kau yang akan diberi sangu untuk melanjutkan sekolah ke Pesantren Thawalib, Dang,” Bak berbicara kepadaku saat kami menyusun peralatan melautnya ke dalam robin. “Minggu depan kau segera berangkat ke Padang Panjang.”

“Aku, Bak?” Timpalku terperangah. “Bukannya Musdalifah anak Uwak Sar yang semestinya dapat sangu?”

“Musdalifah itu tino, Dang,” Bak langsung menyanggah sambil melinting tembakau dengan daun nipah.

“Bukan masalah tino atau lanang, Bak..Muzdalifah yang lebih pintar, nilainya tertinggi di kabupaten. Bukan aku. Aku bisa lulus SMP ni karena belajar dengan dia. Dia  yang jenius, Bak.”

“Pahamlah aku, Dang. Tapi, seluruh anggota kaum sudah menimbang termasuk juga Uwak Sar sendiri.” Bak kemudian menghisap gulungan rokok nipahnya. “Adik-adik Musdalifah masih kecik. Kalau dia yang ke Thawalib, tambah sengsaralah Uwakmu itu.”

“Bimbanglah aku kalau begini, Bak.” Aku menggelengkan kepala beberapa kali.

“Tidak perlu kau bimbang, Dang. Kau jemput ijazahmu ke sekolah besok. Minggu depan kau langsung berangkat ke Padang Panjang bersama Pak Sabri.” Bak memegang bahuku.

Aku menghela nafas sejenak. “Bagaimana kalau aku tidak usah masuk Thawalib, Bak?”

“Kalau kau tidak mau ke Thawalib, aku juga akan berhenti melaut. Sepakat kau?” Bak menatapku dengan tajam. Tangannya pun berhenti mendorong robin ke bibir pantai. Aku diam saja sebab aku tahu persis bahwa lelaki di hadapanku itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Akhirnya Bak berlayar sendirian di pagi buta itu, meski udara terasa menusuk tulang.

Menjelang siang aku segera menemui Lembayung. Ingin ku ceritakan kepadanya perihal perbincanganku dengan Bak pagi tadi. Aku khawatir ia akan sangat kecewa.

“Aku sendiri yang mengusulkan itu kepada kepala kaum, Dang,” ucap Lembayung dengan santai ketika aku baru saja naik ke anjong. Wajahnya tidak menyiratkan sedikitpun rasa keberatan. Ia mala tersenyum sambil menyusun daun-daun nipah yang sudah dikeringkan.

“Mengapa tak kau saja yang nyambong ke Thawalib, Lembayung?” Tanyaku sambil membantunya mengikat gulungan nipah dengan bemban.

Dang…coba kau lihat adik-adikku ini.” Lembayung menunjuk tiga orang adiknya yang sedang bermain. “Kau tahu sendiri, ‘kan? Mak setiap hari harus mencari daun nipah ke ayap untuk dijual. Kadang-kadang saja ada pekerjaan tambahan di pengasapan ikan milik Pak Sati di dekat dermaga itu. Kalau tidak, berhentilah kami makan. Tamatlah riwayat adik-adikku. Daun nipah ni tak ada harganya.”  Lembayung menghempaskan ikatan daun nipah ke lantai.

“Maksudku, aku bisa bantu Uwak mengurusi adik-adikmu di sini. Kau yang lebih pintar, Lembayung. Kau lebih pantas untuk nyambong daripada aku.” Aku terus membujuknya.

“Ini bukan perkara siapa yang lebih pintar, Dang. Kalau saja Bak kami masih hidup, sudah pastilah aku mau sekolah jauh-jauh. Jangankan ke Thawalib, ke Cordova pun akan ku kejar, Dang. Tapi, sekarang kau lihat sendiri keadaan kami ni. Tak banyak pilihan rupanya.”

Aku tidak punya kata setelah itu. Lembayung benar bahwa pilihan selalu terbatas untuk kami jalani. Sangu dari kaum pun tidak seberapa. Paling-paling hanya sepadan dengan uang pangkal yang harus ku bayar ke Thawalib. Setelah itu, kemana tambahannya?

“Ingat kau bagaimana aku mendapatkan medali ini, Dang?” Lembayung langsung mengalungkan sebuah medali ke leherku ketika kami duduk di berendo. “Inilah setapak mimpiku untuk sampai ke Harvard University di Boston sana. Jagalah ini baik-baik. Sudah tahu kau dimana letak Boston itu, Dang?” Lembayung menatapku lekat-lekat. Sementara aku terus saja memegangi medali olimpiade sains yang diperolehnya dari kabupaten akhir tahun lalu.

“Tahulah, di Amerika sana kata Pak Sabri.”

“Janganlah kau pakai terus kata Pak Sabri kalau sudah sampai ke Thawalib nanti, Dang. Sudah khatam ku ajarkan bagaimana membaca peta dunia tempo hari.”

Aku mengangguk saja. Lembayung tersenyum setelah itu. Kami cukup lama terdiam. Angin terus mendesir, meningkahi ombak. Hari semakin tinggi. Aku pulang dengan medalinya.

21034419_514890868851604_7369598163932083303_nSeminggu kemudian pada akhirnya aku harus pasrah dengan kesepakatan kaum. Bak sengaja tidak pergi melaut hari itu. Mak pun telah meminta izin kepada Pak Sati untuk tidak bekerja di pengasapan ikannya. Dua orang adik perempuanku merengek-rengek semalaman. Mungkin mereka tahu kalau Dangnya akan pergi dan takkan pulang-pulang sampai tiga tahun kemudian. Aku akan segera berangkat bersama Pak Sabri ke Padang Panjang. Akan ku tinggalkan tempat itu. Rasanya sangat berat. Langit seolah akan hancur berkeping-keping.

“Ingat janji kau dengan Bak, Dang!” Sekali lagi Bak mengguncangkan bahuku ketika Pak Sabri telah datang untuk menjemput. “Apapun yang terjadi setelah ini kau tidak boleh pulang sebelum ijazah dari Thawalib di genggamanmu. Bak akan melaut tiap hari. Tak usah kau pikirkan biaya sekolahmu. Tiap bulan Bak kirimkan. Kau keraskan saja belajarmu!”

Aku mengangguk-angguk saja. Sebenarnya ingin sekali ku tumpahkan tangis dalam dekapan pelaut miskin berkulit legam di hadapanku itu. Tapi, takkan bisa. Bak paling benci air mata apalagi dari seorang anak lanang. Hanya Mak yang tak henti-hentinya sesegukan sejak sore kemarin. Entah sudah berapa kali air mata itu berderaian di pipinya yang kusam. Aku lantas memeluknya dengan tanpa suara sebelum melangkah pergi. Suasana terasa hening di pendengaranku. Hanya semilir angin yang berlabuh pada wajah-wajah yang akan segera terpisah.

**

  Minggu terakhir dibulan Juni. Gerimis baru saja usai, menyisahkan selengkung pelangi di barat daya kota Padang Panjang. Jalan-jalan masih tampak basah. Aroma tanah meruap. Kabut masih menggantung di atas puncak Merapi. Rasa rindu suara laut dan angin  pesisir kian membuncah di benakku. Untung saja sore kemaren Pak Sabri singgah ke Thawalib sebelum pulang ke kampungnya di Bukittinggi. Ada titipan Mak dan sepucuk surat dari Lembayung. Antara sedih dan senang aku membacanya.

21151474_514643612209663_7135640553444084355_nIni surat yang ketujuh belas. Apa kau baik-baik saja di sana, Dang? Sudah mahirkah kau mencari letak kota Boston di atlas dunia? Cerita Pak Sabri kau selalu jadi juara di Thawalib. Aku bangga sekali kepadamu. Kami di pesisir tiap malam berdo’a agar kau cepat pulang membawa ijazah. Jangan lupa bawa medali baru untukku. Sudah hampir dua tahun kau di Padang Panjang, Dang. Kiranya cepat sekali waktu berlalu. Aku sekarang tiap hari mencari daun nipah ke ayap. Adik-adik ku titipkan saja di rumahmu. Hidup agak sulit sekarang ini. Hari semakin sering berbadai, tak bisa orang melaut. Pengasapan ikan Pak Sati di dekat dermaga juga sudah tutup sebulan lalu. Bangkrut dia, pindahlah dia sekeluarga ke Ketaun. Tapi, sekarang kami dapat bantuan kitek dari kecamatan. Sudah pandai pula aku melaut. Kau do’akan saja musim badai segera berhenti, Dang. Akan ku dayung habis-habisan kitek itu ke tengah laut untuk mencari ikan. Akan ku sekolahkan pula adik-adikku kelak ke Thawalib seperti kau atau ku kirim mereka ke Cordova. Salam rindu dari orang-orang pesisir.

 Surat itu membuatku lama tercenung. Lembayung memang tak pernah berubah, semangatnya selalu saja merah seperti bara api. Mimpi-mimpinya seperti deru ombak: tinggi, kuat, pasti. Hanya saja setelah surat terakhirnya itu, aku tak lagi mendapat kabar apapun darinya, juga perihal Bak di pesisir. Belakangan, setiap Pak Sabri singgah ke Thawalib beliau hanya berbicara seadanya. Bahkan seperti sengaja memilih waktu agar aku tak banyak bertanya.

“Kau tetaplah keras belajar. Selalu ingat janji dengan orang tuamu bahwa kau takkan pulang sebelum membawa ijazah dari Thawalib.” Pak Sabri seolah menyelipkan sesuatu dalam kata-katanya. Sesuatu yang tak berani ku terkah lebih jauh. Sebab mungkin saja perihal kemelaratan yang kian menjadi-jadi di kampung kami. Atau sesuatu tentang pelaut miskin berbadan tegap itu. Sudah sering kali aku bermimpi tentangnya belakangan ini. Semakin tak sabar rasanya aku menghabiskan bulan-bulan terakhirku di Padang Panjang, sehingga waktu kadang-kadang seperti berhenti ditengah malam. Aku rindu adik-adikku, aku rindu deru ombak dan aroma karang. Aku juga rindu kepada kejora bermata binar itu. Aku ingin kembali berlari bersamanya, menyongsong matahari yang hampir tenggelam ketika senja akan berlabuh.

Maka pada akhirnya kesempatan itu datang juga. Ketika nyanyian camar terdengar riuh, menari-nari di antara tiang-tiang kapal yang beranjak kering tertimpa cahaya sore. Aroma bakau, daun-daun nipah, buih-buih ombak dan sepotong awan  di atas dermaga  memberikan ucapan selamat datang kepadaku. Setengah berlarian ku susuri jalan setapak menuju rumah. Rasanya ingin segera ku hempaskan segala kerinduanku kepada Mak dan Bak yang mungkin sudah menunggu di halaman rumah sejak tadi. Akan ku perlihatkan ijazah Thawalibku. Telah kupenuhi janji kepada pelaut dhuafa yang setiap hari bercucuran keringat dan darah. Aku juga ingin secepatnya menemui Lembayung, kejora pesisir yang sudah berbulan-bulan tak pernah lagi membalas suratku. Akan ku tunjukkan kepadanya letak Boston, Cordova, Cairo, Hamburg, Vienna dan kota-kota impian yang dahulu selalu ia sebut ketika mengajariku membaca peta dunia. Dan pasti..akan ku kalungkan tujuh medali emasku ke lehernya sebagai penghormatan terbaik kepada seorang gadis miskin pengumpul daun nipah itu.

Mak bahagia karena kau pulang, Dang.” Mak segera menyongsongku dengan air mata berderai-derai. Kami kemudian segera terbenam dalam sebuah pelukan haru bersama adik-adikku di berendo. Angin masih semilir dipetang itu. Matahari mulai redup dan memerah.

Bak kemana, Mak? Belum pulangkah dia melaut?” Aku mencari-cari di sekitar rumah. Mak mengangguk saja. Adik-adikku hanya terdiam. Seolah ada rahasia yang mereka simpan pada sorot mata yang sayu. Hati kecilku mulai ketakutan. Aku lantas memutuskan untuk menemui Lembayung. Banyak kisah di Padang Panjang yang ingin ku utarakan kepadanya.

“Sudah tujuh bulan Muzdalifah pegi, Dang. Tak mau dia lama-lama menunggumu.” Uwak Sar langsung menangis ketika aku menemuinya di dalam anjong. Tiga orang anaknya pun segera memelukku. “Takkan jadi dia mengirim adik-adiknya ke Thawalib. Sudah bosan rupanya dia mencari daun nipah tiap hari. Sudah tak tahan dia hidup sengsara,” Uwak Sar terus meratap.

“Pergi kemana Musdalifah, Wak?” Aku bertanya dengan pelan di sela tangisnya.

“Hilang melaut, Daaang…,” tangis Wak Sar kian pecah. “Tak pernah nampak jasad Musdalifah lagi sampai kini. Terkuburlah anak gadisku di samudra. Malang sekali nasib kami.”

kilo_dompuJiwaku serasa tak di badan seketika itu. Selaksa bilah tajam seolah menghujam dengan telak, menyayat-nyayat seperti sembilu. Perih, perih sekali. Telah tiada bintang pujaan, kejora kebanggaan orang-orang pesisir. Gadis yatim yang tak pernah berhenti untuk bermimpi tentang Boston, Hamburg, dan Cordova meski tubuh kurusnya kadang terkulai lelah di atas tumpukan daun-daun nipah. Ombak telah merenggutnya dari sisiku, mendaulatnya sebagai kekasih abadi yang mungkin takkan ia lepaskan sampai langit tiada. Selamat jalan wahai Musdalifah. Angin pesisir akan terus berhembus walau tak lagi berlabuh di wajahmu. Senja-senja mendatang akan tetap jingga seperti kerinduanku kepadamu. Dermaga kecil itu akan semakin hening, riak-riaknya akan menepi. Tapi percayalah wahai kejora, akan ku bawa jauh mimpi-mimpimu hingga ke Cordova. (Shimotsuke-shi, Japan, 4 Desember 2015, menjelang musim dingin).

 Catatan :

Naskah Cerpen ini dimuat dalam Buku Kumpulan Pemenang Cerpen Tinkat Nasional Tahun 2015 FAM PUBLISHING 

Keterangan bahasa daerah (dari bahasa suku serawai di Bengkulu Selatan):

Anjong : gubuk atau rumah sangat sederhana

Ayap : rawah

Bak : Bapak atau ayah

Bemban : tali yang dibuat dari bagian dalam kulit bambu

Berendo : semacam teras atau ruang kecil di depan rumah

Dang : panggilan kepada anak laki-laki jika dia memiliki adik

Kaum : persatuan keluarga atau kelompok masyarakat

Kecik : kecil

Kitek : biduk kecil

Lanang : lelaki

Mak : Ibu

Ni : ini

Nyambong : melanjutkan sekolah

Pegi : pergi

Robin : perahu yang dilengkapi dengan mesin boat tempel

Sangu : bekal atau bantuan dana

Tino : wanita

Uwak : bibi

Comments are closed.