Sebilah Senyum (Part 4)

82884641Di stasiun kereta pukul sepuluh. Langit berawan tipis. Orang-orang berlalu lalang menembus kepulan debu yang menebar di udara kota. Suhu agak panas. Beberapa pengumuman terdengar lewat pengeras suara secara berulang-ulang.

“Gerbong nomor tiga, sekitar delapan menit lagi, Bu,” petugas loket memberikan keterangan tentang jadwal keberangkatan kepada ibumu.

Engkau tak mengetahui arah perjalanan kali ini. Ibumu hanya berkata bahwa kalian akan turun di stasiun keempat. Itu saja. Tapi, kau cukup menikmati suasana di dalam gerbong ketika kereta mulai melesat. Pohon-pohon dan rumah-rumah penduduk di tepi rel seolah berlarian menjauhimu. Dan seperti biasa, engkau tak bicara sepatah pun kepada perempuan yang kini membawamu pergi.

“Akhirnya kita sampai, Akhsan.” Ibumu tampak sumringah ketika kalian telah tiba  di depan sebuah bangunan.

“Rumah sakit?” Tanyamu sembari mengerenyitkan dahi ketika membaca tulisan di gerbang bangunan besar itu. Itulah kalimat perdana yang terucap dari bibirmu setelah kau diam beberapa hari.  Wajah ibumu bertambah sumringah.

“Ya, kita akan bertemu Dokter Jamal, Sayang.”

“Siapa Dokter Jamal?”

“Teman Ibu.” Lagi-lagi ia tersenyum lega setelah berhari-hari tidak mendengar suaramu.

“Aku tidak sakit,” kau menggerutu. “Mengapa membawaku ke dokter?”

“Benar, kau tidak sakit, sayang.”

“Lalu, kenapa?”

“Hmmm…” Ibumu berpikir keras.

Kalian terus melangkah menyusuri koridor panjang berlantai putih, dengan selasar-selasar berbentuk persegi berjejeran di kiri dan kanannya. Beberapa perawat berpapasan dengan kalian.

1_Lorong_Kamar_Mayat“Kenapa?” Sekali lagi kau meminta penjelasan ibumu.  Ia masih diam. Tangannya segera mendorong pintu kaca besar ketika kalian telah sampai di ujung koridor. ‘UNIT PELAYANAN PSIKIATRI’. Kau sempat membaca tulisan yang terpampang di atas pintu kaca tebal itu.

“Apa kabarmu, Akhsan?” Seorang lelaki berbadan tegap menyambut kedatangan kalian di ruang depan dengan ramah.

“Kamu pasti ingat, ‘kan? Kita pernah berjumpa beberapa kali.”

Engkau berpikir sejenak, karena jambang tipisnya memang mengingatkanmu pada lelaki yang sering menjemput ibumu ke rumah.

“Namaku Dokter Jamal. Panggil Om Jamal saja.” Ia kembali tersenyum ramah kepadamu. Kau masih bergeming. Tapi, lelaki itu kemudian membungkukkan badan dan membisikkan sesuatu ke kupingmu.

“Kata Ibumu kau sangat mahir bermain violin, ya?”

“Ya, sedikit,” jawabmu ringkas.

“Om juga,” ia masih berbisik.

“Benarkah?” Kau tiba-tiba mengerling antusias. Ia membalasnya dengan senyum lebar. Senyum yang menandakan bahwa ia telah menaklukkanmu dalam hitungan detik.

“Kesinilah. Om akan tunjukkan sesuatu.” Dokter Jamal menggandeng pundakmu ke dalam setelah memberi kode kepada ibumu  untuk tetap menunggu.

Tempat kerja Dokter Jamal cukup besar. Ada meja berlapis kaca dengan beberapa kabinet berisi map yang tersusun rapi di atasnya. Dan ketika memasuki ruangan itu, perhatianmu segera tertumpu kepada violin yang tersender di dekat lemari.

gottlieb-painting-violin_big“Kamu akan suka yang ini, Akhsan.” Dokter Jamal seketika memegang benda tersebut dan langsung memainkannya. Kau tertegun mendengarkannya.

Pachelbel Canon in D minor?”  Kau terpesona.

“Tepat sekali, Akhsan. Kau suka karya Paganini ini, ‘kan?”

“Ya, aku sangat suka.”

“Kau lihai memainkannya?” Dokter Jamal berhenti.

“Tidak.”

“Kau ingin diajari?”

“Ya, ingin sekali.” Senyummu merekah. Kau bahagia sekali saat itu.

Dokter Jamal meletakkan violin. Lalu ia mengajakmu duduk di sebuah kursi panjang sambil menyuguhkan sebotol minuman dingin. Kau mulai merasa akrab dengan lelaki itu. Kalian kemudian minum bersama.

2016-TOP-modern-Music-ART-100-handpainted-canvas-oil-font-b-painting-b-font--font“Kamu belajar musik dari ayahmu, ‘kan?” Tanya Dokter Jamal.

“Iya..ayahku jago musik,” jawabmu semakin antusias.

“Om kenal dekat dengan ayahmu.”

“Sungguh?” Kau membelalakkan mata seolah tak percaya.

“Sungguh,” sahut Dokter Jamal. “Kau sangat mencintai ayahmu?”

“Sangat. Kadang aku menginginkan dia pulang.”

“Tapi, mungkinkah dia bisa pulang?” Dokter Jamal menunjukkan wajah serius ke arahmu.

“Entahlah. Mungkin tidak. Ayah ‘kan sudah meninggal.”

“Bagaimana kalau seandainya ada seseorang yang mirip ayahmu?”

“Tidak mungkin. Tidak ada yang mirip dengan ayahku.” Kau menggeleng.

“Maksud om..misalnya dia mahir bermain musik, sayang denganmu dan..kemudian menikah dengan ibumu.”

“Aku tidak sayang dengan ibuku,” suaramu bernada kesal.

“Kenapa? ‘Kan dia sayang sekali denganmu.”

“Tidak! Dia aneh,” kau menyanggahnya dengan cepat.

“Aneh?”

“Dia tidak suka musik, dia perokok, dia sering pergi. Aku tidak suka!” Bicaramu cepat sekali.

“Itu saja?”

“Dahulu, dia pergi meninggalkan aku dan ayah sangat lama. Kata ayah, itu tandanya dia tidak mencintai kami lagi,” nada suaramu terdengar menurun.

“Jadi, kamu masih sedih karena dahulu ibumu pergi, ya?”

Kau berhenti menjawab pertanyaan lelaki itu. Kau hanya mendambakan permainan violinnya sekali lagi. Itu saja.

“Kapan Om akan mengajariku Pachelbel?” Tanyamu kemudian.

“Setelah kau menjawab pertanyaanku.”

“Apa?” Kau menatap bola matanya.

“Adakah orang yang kau sayangi setelah ayahmu?”

“Eyang Putri.” Balasmu cepat.

“Setelah itu?”

“Hmmm…” Kau tertahan sejenak untuk memikirkan sesuatu sambil menghirup minuman.

“Hanya Eyang Putri?” Dokter Jamal memegang tanganmu, meminta kepastian.

“Tante Haryati..,” nama itu meluncur begitu saja dari bibirmu. Tanpa kau sadari.

“Tante Haryati?!” Lelaki di hadapanmu tersentak. “Siapa itu Tante Haryati?”

Kau belum sempat menjawabnya karena mendadak terdengar ketukan keras di pintu.

“Siapa?!” Dokter Jamal menyongsongnya dengan cepat. Pintu segera terbuka.

“Mana Akhsan?!”

Kau terkejut. Eyang Putri telah berdiri di depanmu dengan wajah masam.

“Eyang..” Kau segera keluar. Ia menyambar lenganmu untuk pergi.

“Tunggu dulu, Bu!” Dokter Jamal berusaha mencegahnya. Eyang Putri tidak peduli. Ia segera menghampiri ibumu yang masih duduk di ruang depan.

“Lancang sekali kau membawa Akhsan ke sini tanpa memberi tahu aku, Irma!” Eyang Putri berucap dengan beringas kepada ibumu.

“Pentingkah?! Dia ‘kan juga anakku!” Ibumu membalas dengan lantang. Eyang Putri hanya mendesis. Ia berusaha menyembunyikan kemarahannya di depan orang-orang yang ada di situ.

“Dia mengenal Haryati..” Bisik Dokter Jamal pelan kepada ibumu. Perempuan itu begitu terkejut mendengarnya.

“Kita harus bicara!”

Dokter Jamal segera menarik tangannya ke dalam.

Eyang Putri bergegas membawamu keluar dari tempat itu. Sepanjang koridor hingga ke gerbang ia tidak berbicara apa-apa. Kau terpaksa berlarian kecil mengikuti geraknya yang dipercepat. Sampai suatu ketika matanya terbelalak saat hampir bertabrakan dengan seseorang di dekat lapangan parkir rumah sakit.

“Aaaa…,” Eyang Putri terpekik kecil sembari menutupkan telapak tangan ke mulutnya. “Kaukah itu?”

“Ibuu…?” Perempuan di hadapannya juga ternganga. Mereka berpelukan.

“Aku kira kau masih di Vienna, Haryati. Sejak kapan kau pulang ke sini?” Eyang Putri langsung menangis. Mereka berpelukan sekali lagi.

“Hampir lima bulan, Bu,” Tante Haryati masih terharu. “Sebelumnya aku tinggal di kota lain. Baru sekitar dua bulan di sini.”

“Di rumah orang tuamu dulu?”

“Iya, di dekat rumah Herman.”

“Sungguh bahagia bisa bertemu denganmu lagi, Haryati.”

“Akupun sangat bahagia, Bu.” Tante Haryati mengusap air matanya dengan saputangan beberapa kali.

“Ada keperluan apa ke sini? Keluargamu dirawat?” Eyang keheranan.

“Tidak, Bu. Hanya ingin bertemu seseorang di bagian Psikiatri.”

“Oo…baiklah kalau begitu.” Eyang Putri tersipu. “Tapi, kau harus datang ke rumah setelah ini, ya.” Tangan mereka berpegangan. Tante Haryati tercenung sejenak seperti menimbang-nimbang.

“Ayolah..kau belum lupa alamatnya, ‘kan? Aku memaksa,” Eyang Putri sangat berharap.

“Baiklah. Nanti aku usahakan, Bu.”

“Kau pasti bisa.” Eyang Putri mengguncangkan pegangan tangan mereka beberapa kali. “Banyak yang ingin ku ceritakan kepadamu, Haryati.”

“Iya, Bu. Aku akan datang.”

Kalian segera berpisah. Eyang tersenyum-senyum ketika meninggalkan Tante Haryati di tempat itu. Sedangkan kau direndung penasaran tentang hubungan mereka berdua yang begitu akrab.

**

            Tante Haryati tiba menjelang siang, tepat seperti janjinya di lapangan parkir rumah sakit itu. Ia menunggang Volkswagen beetle clasic warna silver yang sedikit usang. Kau segera membukakan pintu pagar tanpa berucap apa-apa. Aroma parfum khasnya kembali menyambar-nyambar penciumanmu.

“Aku tahu kau pasti datang, Haryati.” Eyang Putri membenamkan wajah ke pipinya ketika perempuan berbaju jingga itu membuka pintu mobil. Ia membalasnya dengan sebuah pelukan erat.

vw-kaefer-1959-2605edff-9fa2-497a-a28f-996ca59bb97c“Ini Akhsan, cucuku satu-satunya,” Eyang Putri memperkenalkanmu.

“Manis sekali.”  Tante Haryati menyentil pipimu dengan jemarinya yang lentik. Kau hanya tersenyum kecil sebelum bersama-sama melangkah memasuki rumah. Engkau masih tak mengerti mengapa perempuan itu tetap saja berpura-pura tidak mengenalmu.

“Minumlah, aku tak menyediakan yang lain selain jus kesukaanmu ini,” pinta Eyang Putri.

“Aaa…kau tetap mengingat minuman favoritku, Bu?” Tante Haryati tertawa lebar ketika segelas jus jambu biji disodorkan ke hadapannya. Ia langsung mereguk hampir seperempat isi gelas itu.

“Aku selalu mengingat banyak hal tentang mu, Haryati.” Rona kebahagiaan menebar dari wajah Eyang Putri. “Bahkan, aku terkadang berandai-andai bahwa kamulah yang dulu dinikahi Herman, bukan Irma.”

“Sudahlah, Bu. aku tidak ingin mengingat cerita itu lagi.” Tante Haryati meletakkan gelas dari tangannya ke atas meja.

“Ya..cerita lama.” Eyang Putri duduk di sisinya. “Andai saja dahulu Herman mau bersabar hingga kau menyelesaikan studi di Austria, pasti keadaannya tidak akan berantakan seperti sekarang ini.”

“Mungkin Irma memang pantas menjadi istri Herman, Bu.”

“Pantas bagaimana? Orang tuanya saja sudah menjodohkan dia dengan Dokter Jamal waktu itu. Irmanya saja yang tidak mau.”

Tante Haryati tidak menanggapinya.

“Sekarang, sepertinya Dokter Jamal kembali dekat dengan Irma.” Eyang Putri terus bercerita.

“Benarkah?” Tante Haryati mengerenyitkan dahinya.

“Iya. Irma dijemputnya hampir tiap hari. Sudah jadi cibiran orang-orang.”

“Ini benar-benar cerita lama, Bu.” Tante Haryati hampir menyengir. “Seingatku, sejak dulu Dokter Jamal memang terobsesi dengan Irma, ‘kan?”

“Entahlah..aku tak mau peduli dengan urusan Irma. Aku bahkan tak pernah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga kami. Hanya saja, yang memalukan itu, si Irma sering marah-marah dengan Dokter Jamal seperti kesetanan.”

Kok bisa, ya?”

“Belum mau diajak nikah, mungkin.”

Tante Haryati tak ingin lagi membahasnya. Ia memilih menghabiskan minuman yang tersisa di gelas dalam beberapa kali regukan.

Eyang Putri kemudian mengajaknya untuk berbincang di gazebo kecil di taman belakang. Udara siang biasanya akan terasa nyaman sekali di tempat itu. Mereka berjalan berbimbingan.

“Ada yang ingin ku tanyakan sejak tadi kepadamu, Haryati,” sambung Eyang Putri, ketika mereka telah duduk bersebelahan di gazebo.

“Tentang apa, Bu?”

“Tubuhmu ini, kok kurus sekali. Apa kau sakit? Apa kau tidak bahagia di Vienna?”

“Ya..aku sakit, Bu,” sahut Tante Haryati.

“Sakit apa?” Eyang Putri menatapnya dengan cemas.

Pneumonia.

Pneumonia..?” Eyang Putri menarik nafas panjang. “Almarhum Herman juga menderita pneumonia, Haryati.” Tatapannya kemudian menerpa sangat jauh.

“Ya, aku tahu itu, Bu.” Mereka berhenti berbincang agak lama. Membiarkan angin berbisik riuh lewat dedaunan di pekarangan.

“Apa kau masih bisa bercerita apa adanya seperti dulu, Haryati?” Eyang Putri kembali memulai pembicaraan.

“Rasanya terlalu banyak yang ingin ku sampaikan kepadamu, Bu. Tapi, aku tak tahu harus mulai dari mana?”

“Tentang Vienna, Haryati. Mengapa kau tinggalkan kota itu?”

“Hmm…Vienna,” Tante Haryati terhenyak. “Suamiku Danil juga jatuh sakit, Bu. Kami sama-sama kehilangan penghidupan di sana,” suaranya memarau.

“Vienna hanya negeri perantauan buatmu, Haryati. Akan selalu ada tempat kembali dan berkumpul dengan keluargamu di sini, bukan?”

“Ya, ku pikir pulang ke sini setidaknya bisa bersama kembali dengan kakak-kakakku, walau orang tua kami sudah tiada.” Tante Haryati terlihat sedih.

“Lantas, bagiamana?” Eyang Putri merasa janggal.

“Kiranya tidak, Bu..” Air mata Tante Haryati tiba-tiba jatuh berderaian. “Kami berdua telah dilupakan. Mereka bilang kami tak pantas menjadi anggota keluarga lagi.”

“Kenapa, Haryati?” Eyang Putri turut menangis sambil memeluk perempuan itu.

“Ka..kami berdua mengidap AIDS, Bu.”  Tangis Tante Haryati pecah seketika di siang itu. Sedemikian berat beban di dadanya.

“Haryati..” Eyang Putri semakin mempererat rangkulannya. Lalu keduanya tenggelam dalam keharuan untuk beberapa saat di gazebo itu.

Tante Haryati masih tercenung cukup lama. Pandangannya kosong, hanya desah nafasnya yang terdengar lelah dan menyakitkan. Eyang Putri sengaja meninggalkannya sendirian di tempat itu. Ia bersegera ke dapur untuk menyiapkan makan siang.

Engkau kembali ke ruang keluarga. Sebuah piano menunggumu di tempat itu. Lalu kau buka lembaran-lembaran kertas di dekatnya, memilih lagu. Dan..pada akhirnya, My Way dari Frank Sinatra menjadi suguhan manis disiang yang lengang itu. Jemarimu menari dengan sangat lincah. Orang-orang akan segera terdiam menikmati permainan itu.

“Indah sekali..,” satu suara lirih seketika menyambar kupingmu. Kau menoleh dan tersenyum kecil. Tante Haryati rupanya telah duduk di sampingmu sejak tadi. Menyunggingkan bila tajam itu sekali lagi ke arahmu.

“Tante sudah tidak sedih?” Tanyamu dengan suara yang rendah.

“Tidak, sayang..,” ia hampir mendesah. Aroma parfumnya kembali memutar ingatanmu kepada kejadian-kejadian manis sebelum ini di rumahnya.

1-good-eyes-bob-duncanSeperti biasa, kau menutup mata beberapa saat hingga sesuatu yang hangat dan sedikit basah mendarat di bibirmu dengan begitu lembut. Kalian sama-sama menikmatinya. Tanganmu memelan memainkan tuts piano. Nafasmu tertahan beberapa detik. Lagu My Way kemudian berhenti begitu saja. Kau dan Tante Haryati perlahan terbenam lebih dalam.

“Akhsaan…!” Pekikan itu menyergapmu bersama suara pintu depan yang dihentakkan. Traaaak!

Kau segera menoleh. Ibumu datang ke rumah itu. Tante Haryati langsung mendorong tubuhmu hingga kau terlepas dari dekapannya.

“Apa yang telah kau lakukan terhadap anakku, perempuan jahanam?!” Ibumu tiba-tiba menampar wajah Tante Haryati dengan keras. Praaak!!

Ia meringis, lalu mundur beberapa langkah. Ibumu mencoba menghantamnya sekali lagi. Praaak!! Tubuhnya terhuyung ke belakang.

“Hentikan, Irmaaa!” Eyang Putri menjerit dari arah dapur. Dia berlarian menyongsong ke arah kalian bertiga.

“Mengapa kau menganiaya Haryati? Apa kau sudah gila?!” Eyang Putri melengking tinggi.

“Kau yang gila!” Ibumu mendelik hebat. “Segeralah kau usir wanita murahan ini sebelum aku membunuhnya!”

“Jaga ucapanmu!” Eyang Putri menahan amarahnya yang menggelegak. “Aku yang mengundangnya ke sini. Kau yang harus pergi!”

“Kau undang dia hanya untuk merusak anakku, ha?!” Tatapan ibumu masih nanar seakan hendak menghabisi Tante Haryati seketika itu juga.  “Pergi kau dari sini, Haryati!! Pergiiii..!! Kubunuh kau! Ku habisi kau, perempuan laknat!” Ibumu berteriak menjadi-jadi.

“Akulah yang akan membunuhmu, Irma!” Tante Haryati menatap dingin. “Akulah yang akan menghabisimu!” Tangannya segera meraih tas kecil di atas meja lalu berlarian meninggalkan ruangan itu.

“Haryati…jangan pergi!” Eyang Putri berusaha mencegahnya. Perempuan itu semakin cepat meninggalkan halaman rumah. Iya tidak menoleh lagi. Suara kendaraannya segera menjauh dari tempat itu.

“Kesini kau Akhsan!” Ibumu tiba-tiba menyambar. “Kita tinggalkan rumah terkutuk ini.” Tanganya mencengkram lenganmu. Kau pasrah saja ketika ia hampir menyeretmu dari ruangan itu.

“Kau tidak akan pernah bisa membawanya pergi, Irma!” Eyang Putri menghadang di depan pintu.

“Menepilah!” Ibumu mengancam sambil terus menyeretmu.

“Kau lepaskan Akhsan atau pisau ini akan ku hujamkan ke dadamu!” Eyang Putri mengacungkan pisau dapur di genggamannya.

“Kau bunuh sajalah aku! Kau habisi sajalah aku agar puas!” Ibumu memburu ke arah Eyang Putri seperti orang kerasukan. Saat itu juga kau berusaha melepaskan cengkramannya sebisa mungkin.

“Jangan lakukan, Eyaang…!” Kau menjerit dengan keras sembari menghambur ke arah Eyang Putri. Perempuan itu secepatnya menurunkan pisau yang tadi terhunus. Ia seketika merangkul tubuhmu.

“Kau biarkan cucumu dinodai orang di rumahmu sendiri, ha?! Kau biarkan perempuan jalang itu merusak anakku?” Ibumu masih dibakar oleh rasa marah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.

“Keluar kau dari rumah ini! Keluaar..!” Eyang Putri kembali mengacung-acungkan pisau di tangannya ke arah ibumu.

“Baik, aku akan keluar. Tapi, kau tanyakanlah kepada Akhsan sudah berapa kali dia dinodai perempuan iblis itu!” Sahut ibumu sebelum meninggalkan kalian berdua. “Akan kuhabisi Haryati! Akan kubunuh dia!” Pekikannya kemudian masih terdengar lantang di halaman.

Rumah kini kembali lengang. Eyang Putri menutup pintu lalu merapikan posisi kursi dan taplak meja yang tadi berantakan. Ia kemudian mengajakmu duduk di meja makan.

“Sudah sering Tante Haryati melakukan itu kepadamu?” Eyang Putri berbisik pelan-pelan.

Kau merunduk saja sambil menganggukkan kepala. Suara giginya kemudian gemeretak.

“Biadap kau Haryati!” Perempuan itu menggeram. (Bersambung)

**

Please read from here : (Part 1)

Comments are closed.