SEPUCUK SURAT

Photo0493Surat itu, aku tahu engkau menulisnya….segurat duka membayang pada tiap-tiap larik yang kau bubuhkan mungkin dengan tinta kepedihan dan gelimang air mata: ‘Ibuku telah pergi, wahai sahabatku…membiarkan seberkas luka terdalam yang niscaya bisa kau lihat serpihannya dengan  matamu….Aku sekarang yatim piatu, lalu bisakah aku menganggap engkau sebagai saudara kandung agar ibumu bisa kujadikan tempat menghiba?….karena dulu, kita berjanji untuk selalu menjadi dua karib  yang tak pernah berhenti mencintai sampai semua terkapar dalam keranda. Maka hari ini aku menagih hutang kedamaian itu…sembuhkan lara atas perginya orang-orang kesayanganku….aku mulai lelah…aku tak ingin kehilangan lebih banyak lagi….harapku ibumu  jadi penggantinya…bisakah?’

image

Sahabat kecilku yg tak pernah berkurang sayangnya terhadapku, aku selalu memandangmu sebagai karib kecil yg dahulu sering berlarian melintasi pematang sawah, jembatan bambu dan tepian ngarai tak jauh dari kampung kita.

 

Comments are closed.