Agustus, 2016 Archive

SEPUCUK SURAT

Surat itu, aku tahu engkau menulisnya….segurat duka membayang pada tiap-tiap larik yang kau bubuhkan mungkin dengan tinta kepedihan dan gelimang air mata: ‘Ibuku telah pergi, wahai sahabatku…membiarkan seberkas luka terdalam yang niscaya bisa kau lihat serpihannya dengan ┬ámatamu….Aku sekarang yatim piatu, lalu bisakah aku menganggap engkau sebagai saudara kandung agar ibumu bisa kujadikan tempat menghiba?….karena [...]