Delapan Matahari (2)

 Watson Kecil Bermata Binar

 

maulana-surya_sekolah-kehidupan-anak-pedalaman-13Kawan, kalau saja ada sebuah mazhab khusus tentang mata, maka aku adalah pengikutnya yang paling taat. Menurut teori Pak Baron, mata tak ubahnya seperti muara dari sebuah tabung  panjang yang menjulur dari alam jiwa seseorang. Dan kita akan dapat mengintip rahasia-rahasia terbesarnya yang tak pernah mencuat kepermukaan melalui muara tabung itu. Rupanya benar saja, ketika pertama kali berpapasan dengan seorang bocah lelaki berponi rata di halaman sekolah suatu tadi, dalam hitungan detik aku dapat memastikan bahwa dia bukan mahluk biasa. Tapi, lebih mirip seorang cenayang amatiran: penerawang masa depan dengan tingkat ketepatan mengkhawatirkan.  Sepasang mata bundarnya berbinar-binar, seperti cermin bening tertimpa cahaya matahari di gurun pasir saat musim panas. Bahkan, menurutku bola matanya bukanlah muara tabung seperti dalam gagasan teori Pak Baron, melainkan moncong meriam laras panjang yang tiap saat dapat meledakkan apa saja di hadapannya hingga berkeping-keping. Itu artinya lebih menakutkan. Dia cenayang bermata tajam.

DSC_0131Setelah tahun sebelumnya kami anak-anak kebun dipisahkan dalam kelas khusus untuk tujuan penjinakan, pada tahun kedua tibalah masa dimana kami akan dipasangkan dengan anak-anak lain sebagai kawan sebangku dari kaum penuh peradaban. Ini bukanlah sebuah rencana jahat untuk menyingkirkan orang-orang kebun, tapi suatu strategi besar yang sudah dirancang pihak sekolah dan persatuan guru di kecamatan demi kemaslahatan bersama. Maklum saja, meski seluruh anggota gerombolan anak-anak kebun telah dinyatakan lulus seleksi pemanusiaan oleh Pak Baron, hampir separuh dari kami sebenarnya belum lancar membaca, apalagi perkara berhitung sebagai pelajaran yang harus kami kuasai di kelas atas. Maka, teman-teman sebangku dari bangsa berperadabanlah yang diharapkan jadi balatentara penolong, asisten sukarela dalam pertempuran sengit kami melawan kutukan kebodohan turun-temurun. Tapi naasnya, bocah cenayang amatiran yang ku ceritakan tadi ternyata akan jadi rekan sebangkuku. Kawan, ini yang disebut kiamat kubra, petaka akhir zaman yang tak dapat dielakkan lagi. Aku harus hidup berhari-hari dengan cenayang itu.

“Namaku Ibrahim,” mahluk berponi tempurung itu tiba-tiba memperkenalkan diri setelah beberapa saat kami hanya berpandan-pandangan. “Akan terasa lebih berkelas jika kau panggil saja aku Watson, James Watson.” Dia mengulurkan tangan dengan gaya seorang diplomat tingkat kabupaten.

Aku hanya diam dan menatap moncong meriam itu lekat-lekat. Dalam hati ingin sekali aku berkata kepadanya ‘coba saja kau selami dasar jiwaku, Mister Watson!’

Bocah cenayang itu hanya tersenyum dengan bola mata bergerak-gerak penuh selidik, seolah ia benar-benar tengah meneropong ke dalam jiwaku dengan semenah-menah.

“Kau tahu, Dang?” Katanya kemudian. “Aku memiliki catatan terlengkap perihal riwayat hidup anak-anak kebun.” Ia menyodorkan sebuah buku tulis tebal dari dalam tasnya.  “Semua rahasiamu telah termuat dalam kitab keramatku ini.”

Dan andai saja aku tidak menimbang jabatannya sebagai asisten guru dalam pelajaran berhitung nanti, sudah pasti ia telah ku bentak habis-habisan saat itu juga: ‘lancang sekali kau, wahai boneka berponi!’

Jika diperhatikan, kita akan segera menyadari bahwa Watson sesungguhnya memiliki dua sisi yang bertolak belakang: membuatmu gemas ketika melihat dahi mungilnya yang bundar seperti bulan, tapi kau pasti ingin segera mencekik leher kecilnya kuat-kuat ketika dia mulai bicara. Bagaimana tidak, si poni linier itu bisa saja membeberkan segala hal yang terlintas dibenakmu kepada semua orang dengan seketika. Watson dapat membaca pikiran dengan mudah, itulah potensinya yang paling membahayakan keselamatanku. Pertama kali melihat reaksiku dalam perkenalan,  cenayang kelimis itu langsung berucap “aku tahu persis kalau hatimu keberatan dengan nama Watson, Dang. Tapi, itu lebih baik daripada kau harus memanggilku dengan nama bapakmu sendiri, bukan?”

Seisi kelas terpingkal-pingkal mentertawakanku. Sedang aku hanya bisa mengurut dada. Kau tahu persis kawan, nama orang tua adalah isu paling sensitif yang dapat memicu keributan besar-besaran, rahasia yang harus kau jaga sedemikian rupa dari pengetahuan teman-teman kecilmu. Celakanya, nama asli cenayang kurus itu sama persis dengan bapakku. Tidak! Aku ingin sekali menjambak poni linier bocah itu dengan sekuat-kuatnya.

Konon katanya, nama Watson ia adopsi dari seorang tokoh: James Dewey Watson, ahli biologi yang pertama kali memetakan susunan DNA, seseorang yang telah menginspirasi tujuan masa depannya. Aku bisa memaklumi jika seorang cenayang seperti dia telah memikirkan masa depan, karena tentu saja Watson memiliki kemampuan menerawang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada dekade-dekade mendatang. Tapi masalahnya, topik ocehan Watson yang tidak pernah berganti tentang perkara idolanya itu telah membuatku mengidap gangguan saluran pencernaan serius selama berbulan-bulan. Apalagi jika ia mengait-ngaitkan dengan sejumput rambut lurus di keningnya itu. Kawan, aku benar-benar tidak akan tahan hidup berdampingan dengan mahluk jadi-jadian seperti dia.

“Tahukah kau, Dang?” Watson mulai mengoceh lagi. “Ketika kecil, James Dewey Watson itu juga memiliki poni. Bukankah itu mengagumkan?” Bola matanya yang besar seperti burung hantu seketika mengerling.

Aku mengangguk saja dengan senyum penuh pelecehan. Jauh di lubuk hati sebenarnya aku sedang meratap sejadi-jadinya, ‘andai saja bocah bedebah ini tahu penderitaanku, sesungguhnya tiap kali ia menyebut perkara poni,  seketika itu juga seluruh isi perutku mengejang seperti perempuan yang akan melahirkan bayi sungsang kembar tiga. Wahnan ala wahnin, derita atas derita.’

“Hei, Dang. Kau tidak bisa mengabaikan perkara poni begitu saja.”

Dan aku benar-benar langsung muntah.

“Dimasa depan, pesona ketampanan hanya akan memancar dari orang-orang berponi,” suara cenayang itu terdengar semakin menyiksaku.

“Kapan kau akan berhenti, Mister Watson?” Aku memohon.

“Apa kau tidak dapat merasakan aura poniku?”

Seluruh isi perutku keluar ditempat itu juga.

Kawan, derita berkepanjangan akibat kajian perponian bedebah kecil itu rupanya tidak akan berakhir dengan cepat. Ia kemudian menjelma sebagai asisten guru yang bertindak semenah-menah kepadaku, mengabaikan segala kaidah mendidik anak-anak kebun yang masih butuh perhatian khusus dari pihak sekolah. Maka, saat aku meminta bantuannya untuk meminjamkan buku wajib “Lancar Tulis Baca”, Watson mala memaksaku untuk membaca kitab tebal karangan idolanya: Double Helix, kitab keramat tentang DNA untuk universitas. Tamatlah riwayatku.

“Kau pelajarilah buku ini sampai paham, anak muda,” suara Watson penuh penindasan.

“Tidak, Mister Watson! Ini hanya untuk orang-orang dewasa,” aku menolak setengah merintih.

“Kalau kau membacanya sebelum dewasa, maka kau akan terbebas dari pertanyaan malaikat tentang perkara kelalaianmu dalam menuntut ilmu.”

Aku seketika menyambar buku tebal untuk orang dewasa itu.

Dilain kesempatan, ketika aku meminta untuk diajari penambahan dan pengurangan, Watson kembali menganiayaku dengan kitab keramat berikutnya.

“Kau pelajarilah buku ini, wahai pemuda belia!” Watson menyodorkan kitab berjudul ‘Pengantar Ilmu Kalkulus’ kepadaku.

“Apa kau pikir aku sanggup membaca pelajaran untuk orang-orang dewasa ini, Watson?” Aku menghiba belas kasihan dari manusia jadi-jadian itu. “Mengapa tidak sekalian kau suruh aku membaca Dasar-Dasar Fisika Nuklir?” Sahutku agak sengit.

“Sudah ku katakan, Dang,” ceramahnya begitu meyakinkan. “Ini satu-satunya cara untuk membebaskanmu dari pertanyaan malaikat kubur sekiranya kau mati sebelum dewasa”.

Akupun seketika menyambarnya. Seperti yang sudah ku sampaikan, kawan, cenayang ini memang sengaja diciptakan Tuhan untuk menjadi ujian terberat atas kesabaranku. Tapi sebagai manusia beriman, aku paling takut jika gagal menjawab pertanyaan malaikat kubur jika memang harus mati sebelum dewasa. Ini yang membuatku galau berkepanjangan.

anak2Ditengah semua kesemenahan yang dilakukan oleh Watson, ada satu hal lain yang ku anggap layak dicoba: penerawangan masa depan, praktik ilegal cenayang amatiran yang terselubung di sekolah. Aku rasa ini menjadi sisi menarik dari boneka berponi ini buat orang-orang, terutama anak-anak kebun. Pasalnya, kami sangat penasaran akan jadi apa kelak kalau sudah dewasa.

“Aku melihat tubuhmu diliputi salju, Dang,” Watson memulai ritual penerawangannya ketika giliranku tiba.

Hatiku gembira bukan kepalang.

“Apakah itu artinya kelak aku akan kuliah ke Eropa?” Aku hampir memeluknya karena kegirangan.

“Mungkin tidak.” Watson mengerenyitkan dahi. “Aku rasa maksudnya kau akan jadi penjual es keliling.”

Cis! Seharusnya aku tidak pernah meminta mahluk berponi ini untuk menerawang. Akan kujambak poninya dengan beringas.

Comments are closed.