Delapan Matahari (1)

Pawang Orang-Orang Kebun

 empolah02Sebenarnya sebutan ‘orang-orang kebun’ melekat sejak dahulu kepada tetua kami, kumpulan transmigran yang hidup morat-marit di lereng Bukit Barisan Kawasan Barat Provinsi Bengkulu. Menurut Bapakku, tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, beberapa keluarga dari para tetua kami Suku Serawai memutuskan untuk bermigrasi dari kawasan padang resam tropis yang tandus di Ulu Talo Bengkulu Selatan ke dataran tinggi di wilayah Kabupaten Rejang Lebong. Kawasan ini telah dihuni oleh penduduk asli dari Suku Rejang.

Secara ekonomi, keadaan orang-orang Rejang jauh lebih mapan karena mereka menguasai lahan-lahan pertanian yang luas. Lagi pula, mereka adalah turunan Biku Bermano, salah satu bangsawan yang pernah berkuasa di kawasan itu selama beberapa dekade. Sedangkan tetua kami, yang juga dikenal dengan sebutan orang-orang selatan, kebanyakan menjadi penghuni dusun, yang tak lebih dari sekumpulan gubuk melarat di wilayah perbukitan dengan kondisi  mengenaskan. Layaknya para perantau yang gagal merubah nasib tapi tak enggan pulang ke negeri asal. Menanggung malu jika kembali.

Pada tahun pertama di sekolah, anak-anak orang kebun biasanya sengaja dipisahkan dalam kelas khusus. Pemisahan ini tidak ada sangkut pautnya dengan diskirminasi sosial, tapi karena memang kenyataannya kami memerlukan perlakuan istimewa agar cepat beradaptasi dengan peradaban yang lebih manusiawi. Maklum saja, sebagian besar dari kami memang terkenal sedikit liar, bersuara keras, percaya dengan mitos-mitos gaib, suka mencemooh dan cenderung penyerang. Tentu saja bukan sembarang pawang yang akan diterjunkan oleh pihak sekolah untuk mengendalikan gerombolan Tarzan jadi-jadian yang dipenuhi orang-orang setengah gila seperti kami. Dan pawang mempuni itu rupanya seorang lelaki tua berkopiah hitam dan berjanggut putih: Pak Zulkarnaen, sang pendekar pilih tanding penakluk anak-anak kebun.

Pak Zulkarnaen telah menjadi guru abadi di SD kami, bahkan beliaulah yang pertama kali menjadi pengajar di sana ketika wujud sekolah itu masih berupa gubuk darurat duka merana. Beliau adalah lulusan terbaik dari Kweekscool, sekolah pendidikan guru rintisan Hindia Belanda yang terpandang jauh sebelum kemerdekaan. Ketika memperkenalkan diri pada murid-murid di hari pertama pertemuannya, Pak Zulkarnaen menyebut dengan lantang nama negeri asalnya dengan aksen Belanda: Fort de Kock. Dan ketika mendengar nama itu, kami terkekeh-kekeh tidak percaya. Sebab dalam penafsiran kami sebagai orang-orang kebun yang pencemooh, Pak Zulkarnaen telah membual dengan pengakuan dirinya dari Belanda. Maklum saja, kami cukup akrab dengan orang-orang Belanda yang sering datang untuk menelusuri jejak harta kharun pada beberapa lokasi di sepanjang Bukit Barisan. Dan dari bentuk tubuhnya yang agak kurus, berkulit sedikit gelap dengan batang hidung seperti kebanyakan orang-orang melayu, maka kami berani bertaruh bahwa Pak Zulkarnaen jauh dari kategori turunan Belanda. Kami terkekeh sekali lagi dan sama-sama berharap hidungnya segera memanjang seperti boneka Pinokio ketika membual.

Fort de Kock itu nama lain dari Bukittinggi,” kata Pak Zulkarnaen sambil membenahi posisi kopiahnya dengan sabar. “Dahulu, itu adalah nama sebuah benteng, yang namanya diambil dari gubernur Hindia Belanda terkenal, Hendrik Markus baron de Kock.”

Kami masih saja cekikikan mendengarkan penjelasannya. Dan setelah hari perkenalan itu, kami sepakat untuk memanggilnya dengan gelar  Pak Baron, Baron de Kock tepatnya. Sebuah gelar penghormatan atas keberaniannya menjinakkan kebrutalan kami: segerombolan bocah liar yang diduga mengidap gangguan jiwa sejak janin.

Kepiawian Pak Baron dalam mengendalikan anak-anak kebun tidak terlepas dari keakrabannya dengan kehidupan para tetua kami sejak puluhan tahun silam. Beliau sangat terkenal di kalangan orang-orang kebun karena aktif bergerilia untuk memberi semangat kepada penghuni-penghuni talang agar mengirim anak mereka ke sekolah. Meski murni berdarah Minang Kabau, Pak Baron dapat berbahasa Serawai dan bahasa Rejang dengan fasih seperti layaknya seorang native speaker, lengkap dengan idiom-idiom klasiknya yang hanya dikuasai oleh para tetua dari kedua suku. Sebagai alumni Kweekschool, tentu saja Pak Baron memiliki kecakapan berbahasa Belanda dan Inggris dengan sangat baik. Hal itu semakin memperkokoh posisi terhormat beliau sebagai sosok ulama dan guru agung di mata orang-orang kebun. Maka, kalau sekiranya ada seseorang yang mencari pakar untuk sejarah orang-orang selatan di wilayah pegunungan Bukit Barisan, Pak Baronlah satu-satunya.

Tapi menurut pandangan kami, terlepas dari segala kepahaman Pak Baron akan kehidupan ekonomi dan kejiwaan orang-orang kebun, kekuatan dhasyat yang dimiliki beliau sebenarnya berasal dari pancaran matanya. Tatapan Pak Baron sangat magis, seperti sebuah lubuk yang tenang dan akan menenggelamkan siapa saja di hadapannya. Mata yang menyemburatkan aura teduh kepada jiwa-jiwa kami yang brutal dan sukar untuk dikendalikan oleh orang-orang kebanyakan. Karenanya, tak satupun dari kami yang sanggup beradu pandang dengan beliau setiap kali ia berdiri di depan kelas memberikan petuah. Pak Baronlah yang kemudian mengikis secara pelan-pelan segala kepercayaan kami akan perkara-perkara tahayul yang sering kami dengar sejak bayi. Beliau juga kemudian menjadi salah satu alasan kami semakin kencang untuk berlari setiap pagi, menyusuri semak-semak belukar menuju sekolah dengan senyum penuh pengharapan. Dan..lelaki tua itu akan jadi salah satu matahari yang cemerlang dikemudian hari.

Seperti kebanyakan tetua Minang, Pak Baron juga memiliki jiwa seni yang tinggi. Beliau acap kali memulai pelajaran dengan meniup salung atau menggesek rabab dengan irama yang sangat indah. Bahkan suatu hari ketika kami begitu gaduh seperti koloni kera lepas kendali di dalam kelas, Pak Baron tiba-tiba masuk dan membawakan dendang malapeh anak dengan tiupan salungnya. Maka, dalam sekejap kera-kera liar yang tadi tampak begitu binal seketika berubah menjadi bocah-bocah beriman yang duduk dengan tu’maninah di bangku masing-masing. Dan sejak itu pula, kami menjadi yakin bahwa beliau adalah pendekar pilih tanding yang memiliki kekuatan gaib untuk melumpuhkan anak-anak kebun dalam hitungan detik. Kami langsung berhamburan memeluknya saat itu juga, sambil berharap dapat menjadi murid-muridnya yang sakti dimasa depan.

Kami meyakini bahwa Pak Baron adalah utusan sebuah padepokan di negeri antah berantah yang sengaja didatangkan untuk mendidik kami menjadi orang-orang sakti.  Kepercayaan itulah yang kemudian merombak secara besar-besaran niat dasar kami ke sekolah:  dari cita-cita luhur ‘memberantas buta aksara’ menjadi ‘berguru kepada pendekar seruling sakti’.  Sebuah penyimpangan serius dalam dunia pendidikan yang harus kami sembunyikan baik-baik dari pengetahuan orang-orang dewasa. Tapi tentu saja, kesaktian akan lebih penting buat kami daripada baca tulis ketika harus berhadapan satu lawan satu dengan Barbarosa: mahluk kejam yang telah mencabik-cabik salah seorang tetua kami tempo hari.

“Bapak Guru, bisakah aku bertanya?” Salah seorang diantara kami tiba-tiba menyela ditengah hiruk pikuk ritual memeluk tubuh Pak Baron di dalam kelas.

“Tentu saja, wahai belahan hati,” Pak Baron menimpal dengan kata-kata yang menawan sembari terus membiarkan tubuhnya terombang-ambing dalam kerumunan anak-anak kebun.

“Di kelas berapakah kami akan mendapatkan pelajaran ilmu seruling saktimu itu?”

“Dikelas tinggi, anakku. Kelas paling tinggi,” Jawab Pak Baron dengan lantang.

“Bapak Guru..”

“Apalagi, wahai ananda?”

“Sekarang kami ini kelas berapa?”

Beliau hanya tersipu dan membiarkan kami larut dalam pelukannya. Hari itu, kami dengan semurni-murninya mencintai pendekar seruling sakti.

(Next Part 2)

Comments are closed.