Sebilah Senyum (Part 1)

L2010569-1Bingkai itu masih terpajang di sudut meja. Agak kusam walau tak pernah berdebu. Bentuknya persegi, warnanya coklat tua. Bingkai kesayangan yang terkadang kau peluk dalam selimut berbulu tebal abu-abu, saat malam mulai terasa dingin atau sedikit menyakitkan. Sebab akan selalu ada kehangatan yang menebar pada seulas senyum di dalamnya. Senyum lelaki pujaan berahang kokoh, beralis tebal, bermata binar, yang bibirnya hampir tiap hari mendarat di pipi dan keningmu secara berulang-ulang.

Sudah cukup lama ia pergi, bukan? Ya, dua tahun silam. Namun bisik lirihnya masih terngiang-ngiang hingga kini. Seakan ia baru saja beranjak beberapa hari belakangan, dalam sekaratnya yang terus kau catat lekat-lekat.

“Aku pergi, Akhsan…”

“Bagaimana kalau aku kesepian, Yah?” Tanyamu haru ketika itu. “Bagaimana kalau aku mulai rindu?”

“Tunggulah ayah dalam gerimis, Nak…,” suaranya pelan dan menyakitkan.

“Kau berjanji akan mengajariku Adagio lagi, ‘kan?”

Ia diam saja.

“Kau pergi takkan lama, ‘kan?”

Tak ada lagi sahutan.

“Ayaah…!”

Lelaki itu terbujur beku di hadapanmu, menyisakan seberkas sepi dalam ketiadaan. Raganya kemudian hilang direnggut oleh malam-malam yang terasa pengap dan begitu panjang setelah itu. Menjadi tulang-tulang yang terserak dan ditinggalkan. Lalu kau menunggunya. Sebab katanya ia ‘kan pulang, merangkul pundakmu bilamana sepi menikam berkali-kali, hingga kau meradang dengan hebat.

“Aku ingin lelaki bermata indah itu kembali melantunkan La Campanella dan Allegro Pastorale secara bersama-sama! Bersahut-sahutan!” Pekikmu disuatu malam yang gulita. “Lalu ia akan menggendongku sembari tertawa-tawa, mencumbui wajahku dalam kemesraan yang berlapis-lapis. Sampai aku puas atau terkapar dalam dekapannya.”

Sayang, harapan itu tak pernah terjadi lagi, kendati gerimis semakin sering turun dihari-hari belakangan. Seperti halnya petang ini, ketika rindu hampir saja mencabik-cabik dadamu yang sempit.

Sekarang kau berdiri. Kau rapatkan tubuh ke jendela, sebab suaranya mulai terdengar seperti sebuah desahan. ‘Akhsaan…Akhsaan’. Mesra sekali. Kau hirup aroma rumput basah bercampur kembang-kembang liar yang mekar di kejauhan. Terbawa oleh udara sore yang singgah dengan tergesa ke kamarmu.

“Ayah..,” desismu semakin perih. Kau menerawang, jauh sekali, menggapai pohon-pohon flamboyan yang berjejer di sudut timur. Dahan-dahannya menjuntai di atas atap sebuah rumah tua berdinding papan tebal yang lama ditinggalkan. Ada sesosok perempuan di pekarangannya: bergaun coklat muda,  berambut legam, bertubuh kurus.

“Akhsan…,” suara itu tiba-tiba menyeruak dari arah pintu. Suara yang menurutmu sengaja dibuat-buat agar terdengar lembut dan penuh kemesraan.

“Ibu membuatkan sup, kau mau disuapi?” Ia menawarkan.

“Aku tidak lapar.”

“Makanlah, rasanya enak sekali.” Tangannya lantas menyodorkan mangkuk putih yang diliputi kepulan uap panas ke hadapanmu. Kau mencium aroma bawang, irisan wortel dan  sepotong ikan karang yang bercampur jamur dibelah-belah. Hidangan nikmat yang dahulu juga sering disajikan seorang perempuan yang kau panggil Eyang; setiap selepas hujan, bersama lelaki kesayanganmu.

Sekali lagi kau lemparkan pandangan melalui celah jendela. Hari kian temaram. Perempuan dalam gerimis telah menghilang. Sunyi. Dahan flamboyan masih bergerak-gerak seperti jemari raksasa yang merayu untuk menari. Lalu, angin tiba-tiba menghempaskan daun jendela kamar dengan kuat. Traaak!

old-home-house-nki“Ibu tutup ya sayang?” Perempuan di sisimu bicara dengan sangat lembut.

“Tidak usah,” timpalmu samar.

“Kenapa?”

“Ya, tidak usah.”

“Nanti, kalau badai, bagaimana?”

Kemudian kau terdiam. Diam yang acap kali membuatnya tampak sangat terluka. Tapi kau tak pernah peduli. Bagimu ia tetaplah seorang perempuan yang tak pantas dihiraukan. Kau sudah diajari untuk terbiasa membencinya sejak lama. Mungkin, jauh sebelum ia sadar bahwa keputusan yang dahulu diambilnya adalah sesuatu yang keliru. Sungguh keliru.

Malam beranjak tinggi, meninggalkan deru angin yang terus menghantam setangkup daun jendela di kamarmu. Suara ranting-ranting akasia riuh-rendah di luar sana. Renyah, berdesak-desakan. membisikkan sajak-sajak sepi ihwal rindu dan kehilangan. Lamat-lamat di kejauhan terdengar sebuah nyanyian lirih, sayup-sayup sampai, seperti sengaja singgah ke kamarmu.  Suara violin yang terus menanjak, menerpa semak belukar yang sedang gelisah menunggu bulan. Nyanyian dari sebuah rumah tua yang kau pandangi sore tadi. Adagio, ratap kehilangan atas kekasih yang tak pernah kembali memelukmu. Bukankah itu lagu pengantar tidur yang sering dimainkan oleh ayah yang paling kau cinta?

“Tidak mau!” Kau tiba-tiba mengelak ketika sebuah sentuhan hangat dan asing terasa melingkar di badanmu.

“Ini ibu…”

“Tidak mau!” Kau mendorong tubuhnya. Dia kemudian beranjak pergi.

Dekapan itu, kau selalu saja menepisnya. Pelukan seorang perempuan yang belakangan ini acap kali datang ke kamarmu dalam langkah yang sangat tertata. Membawa semangkuk sup panas lalu meletakkannya di atas sebuah meja kecil di sisi dipan.  Ia pun berusaha untuk selalu tersenyum kepadamu, tiap kali hujan baru saja reda. Ia kadang berlama-lama menungguimu, mengajakmu untuk sekedar berbicara. Tapi kau selalu mengabaikannya.

“Tidurlah.. aku mencintaimu,” ucapnya lirih ketika terakhir kali menutup pintu kamarmu yang temaram.

Kau belum pernah membalas kata-katanya. Tapi, ia tetap saja ingin menyampaikan itu sebagai pengganti kecupan selamat malam. Aduhai, andai saja kau dahulu tak ditinggalkannya.

**

Benar kata ayahmu, bahwa musik dapat saja mempertemukan engkau  dengan orang-orang atau setidaknya menimbulkan rasa penasaran yang hebat. Ya, sekarang engkau sesungguhnya penasaran. Sebab belakangan ini kau selalu mendengar suara violin ketika malam semakin gelap dan tua. Seseorang di rumah itu selalu saja melantunkan aransemen-aransemen kesukaanmu: Vivaldi, Paganini, Bach, Mozzart. Membahana, berganti-ganti. Seolah-olah itu adalah arwah ayahmu yang sengaja datang agar kau dapat tertidur dan bermimpi indah di atas dipanmu.

Langkah kakimu sejenak berhenti. Kau telah sampai di sebuah pekarangan rumah. Kau dapati sesosok perempuan di antara rimbunnya bunga lili hujan, aster putih dan dahlia yang berbaris-baris. Ia membelakangi arah kedatanganmu.

0340856.jpg “Ada apa?” Suaranya sedikit serak ketika menoleh.

Kau melangkah lebih dekat lagi.

“Sedang mencari sesuatu?” Ia kembali bertanya sambil mengusap-usap telapak tangan yang berlumuran tanah. Seulas senyum juga tersungging di wajahnya yang tirus. Ramah, tapi mengerikan.

Kau masih saja diam. Tatapan kalian tiba-tiba bertabrakan. Ia tersenyum sekali lagi. Senyum yang kelak akan menjadi sebilah pisau tajam bagimu.

“Apa kau suka Adagio?” Kau mulai bertanya kepadanya.  Matamu tertuju kepada setangkup bibir tipisnya yang pucat dan tulang pelipisnya yang menonjol.

Ia tersentak. Sorot matanya memandang aneh ke wajahmu.

“Aku mendengarnya dengan jelas dari kamarku.” Telunjukmu mengarah ke sebuah rumah bertingkat putih, tak jauh dari situ. “Apa kau yang memainkannya tiap malam?” Kau bertanya lagi dengan nada penasaran.

“Ya, aku yang memainkannya tiap malam,” balasanya sayup-sayup sampai. Ia terus tersenyum ke arahmu.

“Apa kau suka gerimis?”

Perempuan itu semakin gagu.  Dia tidak mejawabnya.

“Siapa namamu?”

“Akhsan. Kau?”

“Aku Haryati. Tante Haryati. Apa kau suka musik?”

“Ya, ayahku juga.”

Kalian kembali saling berpandangan setelah itu. Hembusan angin sore yang lembab melintas-lintas di dekat pelipisnya.

“Boleh aku melihatmu bermain violin?” Kau memulai sebuah permintaan.

“Tentu. Kau mau masuk ke rumah?” Tante Haryati kemudian menimpalimu dengan nada sangat lembut.

“Ya..,” kau langsung setuju.

Perempuan berdaster krem itu segera saja mengangakan pintu. Lalu kau mengiringi langkah kakinya dengan pelan, tepat di belakang punggungnya.

Kini kau telah berada di ruang tamu yang agak temaram. Hanya seberkas sinar redup dari arah jendela yang tidak ditutupi tirai. Tak ada secercah lampu yang dihidupkan. Rumah itu sedikit dingin.

507734490“Duduklah di sini..” Tante Haryati menunjuk ke arah kursi berlapis beludru violet, tepat di hadapanmu.  Kau menurut saja.

“Tante ambilkan minuman hangat, ya. Atau mau bubur kacang?,” ia menawariku dengan ramah. Kau hanya tertunduk. Tanpa memberikan jawaban. Perempuan itu cepat berlalu dari hadapanmu.

Pandanganmu kemudian tertumpu ke sebuah foto yang tergantung di dinding. Kau mendekatinya. Sesosok perempuan  sedang tersenyum di tepi sebuah kanal besar. Kau begitu cepat mengenal tempat dalam foto itu; Sungai Danube, sama persis dengan pemandangan dalam foto-foto ayahmu ketika ia berkunjung ke Vienna sepuluh tahun silam.

“Maaf, Akhsan. Tante meninggalkanmu agak lama,” suara itu serta-merta menyergapmu.

“Ii..iya, Tante,” jawabmu terbata-bata. Kau kembali duduk di kursi. Ia kemudian menghidangkan secangkir teh dan semangkuk bubur panas di atas meja. Jari-jarinya terlihat gemetaran.

“Kamu suka kacang merah?”

Kau menggelengkan kepala.

“Kenapa?” Perempuan itu tersenyum sambil membaca mimik mukamu. Kau diam saja.

“Kamu takut? Tante terlihat seperti hantu, ya?” Senyumnya semakin lebar. Gigi-giginya terlihat jelas. Menyeringai ke arahmu.

“Ti…tidak. Ka..kata ayah tidak ada hantu yang memasak bubur,” balasmu tersendat-sendat.

“Hihihi… benar sekali,” ia tertawa cekikikan. “Hantu takkan pernah memasak bubur,” suaranya seolah menggema-gema di telingamu.

“Kau bisa memainkannya?” Tante Haryati langsung bertanya ketika matamu terarah kepada sebuah grand piano hitam di sudut ruangan.

“Bisa,” jawabmu. “Tapi, sedikit.”

“Bagaimana dengan violin? Kau lebih suka?”

Kau mengangguk saja.

“Tante sendirian di sini, ‘kan?” Tanyamu.

“Tidak, Tante tinggal berdua dengan suami.”

“Mana?”

“Ada, di dalam, sedang sakit.”

“Oo..” Kata-katamu tertahan. “Tante baru pindah ke sini, ya?”

“Ya, tapi dahulu tante juga pernah tinggal di sini kok.

“Kapan? Aku belum pernah melihat ada orang di rumah ini.”

“Dahulu…dahuluu sekali. Waktu Tante masih kecil.”

Kau mencoba merekahkan senyum untuknya.

“Ayo diminum, nanti keburu dingin,” Tante Haryati mempersilahkanmu untuk menikmati suguhannya. Tanganmu lalu meraih secangkir teh panas dan menyeruputnya  beberapa teguk. Tidak terlalu manis, kau suka.

“Tante punya anak?” Tanyamu lagi sembari meletakkan cangkir.

“Hmm..ada. Tapi, dia sudah pergi,” suara Tante Haryati layu.

“Kemana?” Kau penasaran.

Tante Haryati seperti menunda waktu, sebelum bibirnya bergetar lagi.

“Maksudku, dia sudah meninggal. Tiga tahun lalu.”

Kau terperanjat kecil.

“Apa dia sebesar aku?”

“Hmm..jauh lebih kecil,” ia memelan. Sekarang berapa umurmu?”

“Dua belas tahun setengah.”

“Anak tante mirip denganmu.” Suara perempuan itu sedikit mendesah. “Kau tampan.” Senyumnya segera mengembang. Bibirnya sedikit basah.

“Apa dia suka musik?” Tanyamu lagi.

“Ya, dia suka sekali bermain piano.”

“Ayahku juga…,” jawabmu. ”Tapi, dia juga sudah pergi.”

Kalian berdua seperti sepakat untuk membisu setelah itu. Hanya hela nafas dan desau angin sore yang saling bersahutan. Riuh-rendah, ketika udara di dalam rumah bertambah dingin.

“Sekarang kamu tinggal dengan siapa, Akhsan?” Tante Haryati membelah sepi.

“Ibuku,” balasmu singkat.

“Siapa lagi?”

“Tak ada.” Kau menggeleng.

“Kalau begitu kita sama-sama berdua, bukan?” Tante Haryati mengakhiri percakapan yang menyakitkan itu dengan sangat getir. Dan kau tidak akan membalasnya.

Wajahmu kembali tertunduk, menatapi lantai yang dilapisi pualam. Hening. Hari semakin petang.

Tante Haryati melangkah ke arah sebuah peti. Ia membukanya dan mengeluarkan sebuah violin bergagang coklat kemerahan. Bola matanya kemudian menatap sekali lagi ke arahmu, dan entah mengapa kau tiba-tiba membalasnya dengan kedipan.

fiddle-wine-and-music-by-Kevin-McEvoy“Baiklah pangeran kecil, ini persembahan untukmu.” Ia kemudian membungkukan badan.Kau ikut berdiri, dengan tak sabar mengharapkan permainan terindahnya. Dadamu akan bergemuruh seperti petir di sore itu.

Tante Haryati mempersembahkan Fur Elise dari Beethoven. Iramanya berawal rendah, lalu cepat meloncat, berkejar-kejaran seperti sepasang kupu-kupu,  membuat nafasmu naik turun sedang jantungmu membuncah ruah. Kau mulai merasakannya: terbang melayang-layang, menembus tumpukan sutra putih seperti gunung-gunung yang besar.

Rasanya, raga dan sukmamu kini terhempas di sebuah malam yang lengang dan sangat tua. Ketika ayahmu memainkan lagu yang sama sembari mencumbui pipimu berkali-kali. Tuhan, tiba-tiba kau begitu merindukan sebuah kecupan dan peluk mesra itu. Maukah tante Haryati melakukannya sekarang? Kau sudah tak berdaya lagi. Kau menginginkan itu terjadi secepatnya. Tubuhmu tiba-tiba meregang dengan hebat.

Engkau lalu memejamkan mata, hingga aroma parfum Tante Haryati tercium begitu dekat di pematang hidungmu. Hangat dan sedikit basah.

‘Ayah.. rasanya engkaulah yang kini sedang mencumbui pipi  dan mendekap mesrah tubuhku erat-erat’. Kau membatin, sementara ragamu terus meregang sehebat-hebatnya.

 

BERSAMBUNG KE PART 2 (Silahkan klik disini : Part 2)

Comments are closed.