Sebilah Senyum (Part 2)

a_walk_in_the_forest_by_lord_makroMinggu ketiga dibulan Februari. Badai baru saja usai, menyisakan lembab pada dedaunan dan permukaan tanah di halaman depan. Serasah berserakan di mana-mana. Ibumu telah pergi. Seorang lelaki berbadan tegap dan berjambang tipis menjemputnya beberapa saat yang lalu. Ia belakangan ini memang sering kali pergi bersama pria penunggang Jeep Wrangler warna merah itu. Mereka terkadang tampak sangat mesra.

“Itu calon ayahmu yang baru?”

“Pengidap AIDS juga, kan?”

Beberapa orang di dekat rumahmu bertanya sambil tertawa-tawa ketika ibumu telah pergi. Kau diam saja. Tak banyak yang kau pahami ihwal pembicaraan orang-orang sejak kematian ayahmu. Apalagi perihal hubungan ibumu dengan pria penunggang Wrangler itu.

Langkahmu terus bergegeas keluar dari pekarangan. Kau setengah berlarian sambil memegang violin hitam di tangan kananmu. Hari hampir petang. Awan di langit seperti terpenggal-penggal, berserakan. Tak ada lagi pelangi yang tersisa hari itu.

Engkau sebenarnya sedang menyongsong janji dengan seorang perempuan: Tante Haryati. Ada tiga hal yang ingin kau tanyakan kepadanya dikedatanganmu kali ini: Vienna, penyuka lelaki, dan AIDS. Selebihnya,  kau ingin menciumi aroma lavender dari tubuhnya yang semerbak sembari menikmati suaranya yang nyaris mendesah.

“Tante….apakah kau di dalam?” Tanganmu mengetuk daun pintu ketika tiba di depan rumahnya. Senyap, tak ada sahutan.

“Tante Haryati….” Sekali lagi kau mengetuk. Tak ada siapa-siapa. Kau mencoba mengintip dari jendela. Di dalam tampak temaram. Hanya terdengar suara-suara dedaunan dan ranting yang jatuh menimpah atap. Berpadu dengan irama nafasmu sendiri.

“Aneh…,” gumammu setelah itu. Biasanya Tante Haryati telah menunggu-nunggumu di pekarangan rumah. Atau terkadang dia mengangakan pintu lebar-lebar agar kau segera masuk.

Awesome_Rainy_Wallpapers_www.laba.ws‘Selamat datang, Akhsan’ sapaan lembut itu selalu terucap saat menyambut kehadiranmu. Dibumbui sebilah senyum yang merekah. Tapi tidak untuk kali ini.

Kau memutar gagang pintu kuat-kuat. Tetap terkunci. Senyap.

Sekitar tiga puluh menit berlalu. Sekali lagi kau menatap jam tangan. Tepat pukul setengah lima. Tak ada yang terlambat, dia tidak menantimu. Kau berdebar.

Traaaaaaaaak…. Satu suara mendadak terdengar dari arah belakang rumah. Kau memburunya dengan cepat.

“Tante…,” sapamu ketika menemukan Tante Haryati di belakang rumah. Ia diam saja. Tidak menyambutmu. Tidak jua berpaling.

“Tante…aku datang sejak tadi,” kau menyapa untuk kedua kalinya. Ia tertahan sejenak, kemudian terus saja dengan pekerjaannya. Seolah tak berharap atas kehadiranmu sore itu.

Di hadapannya ternganga sebuah lubang agak dalam. Persegi panjang, membujur ke arah utara, seukuran tubuh lelaki. Tangannya memegang sekop yang berlumpur. Pakaiannya kumal oleh tanah yang sudah menggunung di salah satu sisi lubang itu.

“Bisakah aku membantu?” Kau berusaha mendekat.

“Tunggu saja disana!” Tante Haryati seketika menyergapmu. Tangannya teracung lurus. Kau menurut saja. Menunggu beberapa waktu sambil berdiri.

“Sudah selesai,” Tante Haryati kemudian berbicara ketika menancapkan sekop ke atas gundukan tanah. Ia membalikkan badan, menghadap ke arahmu.  Tidak dengan senyuman. Wajahnya nyaris beku meski beberapa berkas cahaya matahari sore mendarat di kedua pipinya yang tirus.

“Tante baik-baik saja?” Kau menghampir dengan rona penasaran. Ia hanya menghela nafas panjang, kemudian bergerak ke pintu belakang yang terbuka sejak tadi. Kau mengikutinya. Gagang violin masih dalam genggamanmu. Kalian beriringan memasuki pintu.

“Duduklah..,” pinta Tante Haryati agak parau ketika kalian telah sampai di ruang tengah. Ia mendorong sebuah kursi kayu berbentuk balok ke arahmu. Kau hanya meletakkan violin di atasnya.

‘Huff…’ ia seperti menahan sesak. Tatapannya agak sayu. Kau tidak berani lagi berbicara sepatah pun kepadanya.

Tante Haryati melepas separuh pakaian luarnya yang kumal, pelan-pelan. Lalu membiarkannya jatuh dan tergeletak begitu saja, tepat di hadapanmu. Tubuhnya yang kurus segera menghilang di balik pintu kamar mandi. Kau menundukan wajah. Kupingmu mendengar suara gemercik air dan gayung berganti-ganti. Kau menunggunya di situ dalam tempo cukup lama. Tanpa berbuat apa-apa.

“Kemarilah, bawa violinmu!” Tante Haryati tiba-tiba telah berdiri di hadapanmu dengan gaun panjang warna putih. Rambutnya tersanggul kecil, bibirnya berpoles gincu ungu muda. Aroma lavender semerbak menelusuri kedua lubang hidungmu. Jemarinya terulur. Lentik.

Kau penuh hasrat menyongsonya, sambil tersenyum kegirangan. Ia menggenggam telapak tangan kananmu kuat-kuat.

“Kita akan kemana?,” tanyamu penuh pengharapan.

“Ke kamarku..,” suaranya mendesah. Jantungmu berdentum keras seketika itu.

Tirai pintu kamar masih tergerai. Tipis, berwarna biru pekat. Tante Haryati menyibakkan separuhnya dengan tangan kiri. Hati-hati sekali.

“Masuklah..,” suaranya kembali seperti mendesah. Ia menarik tanganmu ke dalam. Kau sudah sangat pasrah.

“Akhh..!” Kau tiba-tiba tersentak hebat ketika mendapati sesosok lelaki terbujur di kamar itu. Tubuhnya sangat kurus seperti tengkorak. Lingkar matanya cekung. Tulang-tulang di wajah dan dagunya menonjol dengan tegas. Pipinya keriput. Tangannya tersilang di atas dada. Jari-jarinya biru kehitaman.

“Tante…,” kau sangat gugup. “Siapakah ini?” Kau keheranan karena belum pernah bertemu dengan lelaki itu.

“Dia suamiku.”

“Sedang sakit?”

“Sudah meninggal, siang tadi,” suara Tante Haryati rendah. Tangannya segera membuka lipatan-lipatan kain putih yang tersusun di atas ranjang. Ia menghamparkannya satu demi satu dengan sangat tergesa.

Kau masih terpanah. Sosok jenazah itu segera membawamu kepada kejadian dua tahun silam. Saat kematian ayahmu. Keadaannya sama persis: kurus, terbujur beku. Bahkan kau masih terbayang-bayang ketika mulutnya juga berlumuran darah. Kau meringis seketika itu juga.

“Ke..ke..kenapa tante tidak memberi tahu orang-orang?”

“Tentang apa?” Tante Haryati menoleh sejenak ke arahmu yang terus gemetaran. Bola matanya berkaca-kaca.

“Ka..ka..kalau suami Tante mati,” jawabmu gugup.

“Tidak perlu, Akhsan. Kami sudah lama mati.”

“Maksud Tante?” Kau kebingungan.

“Kelak kau akan mengerti.”

“A..a..aku tidak mengerti.”

“Kelak,” jawab Tante Haryati diiringi hela nafas panjang. Ia menyelesaikan balutan kain putih terakhirnya ke tubuh lelaki itu. “Kelak, setelah kau bantu aku membawanya ke belakang rumah.”

Kepalamu mengangguk. Perempuan itu membenamkan bibir pada wajah suaminya beberapa saat. Bekas gincu menempel di keningnya. Tante Haryati tidak menangis. Hanya matanya terlihat sayu.

“Kau bisa mengangkat bagian kakinya, Akhsan?”

“Bisa,” jawabmu cepat.

Perempuan itu mulai membopong tubuh suaminya dengan perlahan. Kau turut membantunya. Kau pandangi kembali wajah jenazah itu lekat-lekat.  Ada tahi lalat besar di dekat pematang hidungnya. Engkau seketika mengingat foto-foto ayahmu bersama seorang lelaki di Vienna. Dialah lelaki yang disebut-sebut ibumu.

Semua berjalan begitu cepat disore itu. Jenazah ditimbun dengan tanah lalu Tante Haryati menaburkan sekeranjang kecil kelopak dahlia dan mawar putih beberapa kali. Kau ikut tertunduk di sampingnya. Angin petang kembali berlabuh pada  wajah kalian berdua. Matahari nyaris tenggelam. Perempuan itu masih termangu di atas makam. Telah ia kubur suaminya, dengan tangannya sendiri.

“Bisakah kita memulainya, Akhsan?” Tanya Tante Haryati kepadamu dengan bola mata berkaca-kaca.

“Ya…,” balasmu sendu.

Kalian segera melakukannya, melantunkan  Sad romance dengan gesekan violin yang suaranya seakan terapung-apung di udara. Meningkahi daun-daun luruh yang terus berguguran, melepaskan diri dari setiap gagangnya dengan sangat pasrah.

Angin sore masih menghempas. Awan berjalan berarak-arak, berwarna pudar, menaungi kedalaman atas sedih yang menghujam telak ke dada seorang perempuan di hadapanmu. Ia tidak meratap. Pipinya basah, walau mulutnya tak mengeluarkan satupun suara rintihan yang bisa kau dengar dalam samar.

“Pulanglah..,” Tante Haryati kemudian berbicara sambil terisak.

“Tapi, kau belum menjawab pertanyaanku?”

“Tentang Vienna?” Ia meletakkan lengannya ke pundakmu dengan lembut.  “Ya, aku pernah tinggal di Vienna.”

“Apakah suami Tante menderita penyakit paru-paru?”

Ia hanya mengangguk perlahan.

“Apakah dia mengenal ayahku?” Kau mengakhiri pertanyaanmu.

Ia tidak membalasnya.

“Pulanglah!” Tante Haryati tiba-tiba mendorong tubuhmu dengan keras. Kau terperangah.

“Pulanglah..tinggalkan aku sendirian!” Ia tergesa-gesa menjauhimu.

a-walk-in-the-forest-niels-christian-hansenAroma lavender dari tubuhnya masih menebar disore itu. Pintu rumah segera tertutup. Kau berjalan seperti kehabisan tenaga. Kepedihan sudah hampir selesai.

(BERSAMBUNG KE BAGIAN 3 : Part 3)

Comments are closed.