Sebilah Senyum (part 3)

stadtansicht-wien--oesterreich-werbung-julius-silver--d.jpg.3146489Hari terakhir dimusim panas sepuluh tahun silam. Ayahmu dalam sebuah  penerbangan transit dari Amsterdam menuju bandara Flughafen Wien di Vienna. Takdir telah menggariskan bahwa ia akan dipertemukan kembali dengan seseorang di pesawat itu. Dalam debaran yang tetap sama.

“Apa yang kau lakukan di Amsterdam, Herman?” Suara itu terdengar akrab ketika ayahmu baru saja meletakkan tasnya ke dalam bagasi kabin. Ia menoleh ke arah perempuan yang duduk di dekat jendela.

“Haryati..?”

“Kau dari Jakarta, ‘kan?”

“Ya, a.a..aku hanya transit di Amsterdam sebelum ke Vienna,” ayahmu menjawab agak gelagapan. “Kau sendiri?”

“Dari liburan musim panas.”

“Dengan suamimu?”

“Tidak, aku saja.”

“Oo..”

Tak ada perbincangan setelah itu. Ayahmu berhenti menanyakan apapun lagi kepada perempuan di dekatnya. Mereka mengabiskan waktu penerbangan selama dua jam itu dengan diam.

Willkommen zu Wien, Herman,”  Tante Haryati mengucapkan selamat datang ketika pesawat telah mendarat di Flughafen Wien Schwechat, Vienna. Ayahmu hanya tersipu.

“Apa yang membawamu ke Vienna?” Perempuan itu bertanya sambil merapikan shwl tipis yang melingkar di lehernya.

Musikverein,” ayahmu menyebut nama pusat musik Austria itu. “Tapi, aku belum jelas betul alamatnya.”

“Di kawasan Innere Stadt,” timpal Tante Haryati. “Kami juga tinggal di daerah itu.”

“Oya..?”

“Ya, kita bisa naik kereta bersama kalau kau mau. Sepuluh menitlah dari sini.”

“Hmm..rencananya seseorang dari Philharmonic akan menjemputku,” ayahmu tampak menyesal.

Philharmonic? Wow…” Tante Haryati mengangkat kedua alisnya ketika mendengar nama orkestra terkenal itu.

“Kebetulan, aku mendapat undangan untuk berlatih bersama mereka,” sahut ayahmu.

Erstaunlich!” Tante Haryati mengungkapkan kekagumannya. “Berapa lama?”

“Tiga bulan.”

“Cukup lama, ya.” Perempuan itu tampak senang. “Baiklah, aku akan pergi dengan kereta.” Ia tampak terburu-buru.

“Bi..bisakah aku meminta alamatmu?” Ayahmu mencegah langkahnya.

“Tentu. Ini..” Tante Haryati kemudian menyodorkan secarik kertas. “Kau bisa menghubungiku kapan saja.”

“Terimakasih.”

“Wiedersehen!” Ia mengucapkan sampai jumpa sambil melambaikan tangan.

Mereka berpisah sampai di situ. Tante Haryati menyisakan sesungging senyum ketika sebuah kereta melesat membawanya. Ayahmu terus memperhatikannya hingga kereta itu benar-benar menghilang. Dan entah kenapa, dadanya kembali berdebar ketika sebilah senyum yang sama kembali menghujam dengan telak hari itu. Tepat ke jantungnya.

 

**

 

“Bagaimana kabar ibu? Apa dia baik-baik saja?” Tante Haryati bertanya ketika ayahmu berkunjung ke rumahnya suatu malam, dua minggu setelah perpisahan di Flughafen Wien.

“Dia baik-baik saja.”

“Senang mendengarnya. O ya, ini Danil, suamiku,” Tante Haryati kemudian memperkenalkan seorang yang baru saja bergabung dengan mereka.

“Selamat datang di Vienna. Apa kau kerasan?” Lelaki bertubuh kekar itu menyalami ayahmu sebelum duduk mesra di samping istrinya.

“Lumayan,” jawab ayahmu singkat.

“Sebentar lagi ku rasa kau akan terbuai dengan suasana Vienna,” Danil berkelakar. “Hati-hati, nanti kau bisa lupa diri.”

“Ha..ha..mungkin saja,” Sahut ayahmu. Mereka sama-sama tertawa.

“Waktunya makan malam,“ sela Tante Haryati.  “Aku ada menu spesial.”

Merekapun berpindah ke ruang tengah.

“Kau wajib mencicipi hidangan ini sampai puas, Herman.” Danil menyodorkan piring besar berisi sayatan daging sapi empuk, saus apel dan beberapa potong kentang.

Tafelspitz?” Ayahmu menebak nama menunya. “Ku dengar  makanan ini biasanya disajikan dengan saus horseradish, bukan?”

“Benar sekali,” sahut Danil. “Tapi, tahukah kau kalau saus si lobak pedas itu rasanya seperti digigit semut? Dan kami kurang yakin kalau lidahmu terbiasa dengan gigitan semut.”

“Ha..ha..ha,” keduanya kembali tertawa lebar.

Tante Haryati tidak banyak bicara malam itu. Ia seolah membiarkan ayahmu dan suaminya berbincang sepuas-puasnya. Perempuan itu kemudian menuang sari lemon almdudler ke dalam gelas di hadapan mereka. Ayahmu dan Danil menyeruputnya dengan lahap.

“Kami harus mengabadikan pertemuan ini, Haryati.” Danil segera berdiri dan merangkul tubuh ayahmu ketika acara makan malam telah usai.

“Ya..ini momen langka,” ayahmu setuju.

“Kau tahu, Herman? Aku selalu memperlakukan tamuku dengan sangat mesra,” Danil kembali berkelakar sambil mendekatkan wajah ke pipi ayahmu. Mereka berusaha menahan tawa sebisa mungkin.

“Baik, bersiaplah!” Tante Haryati memberi aba-aba sebelum membidikkan kamera beberapa kali.

“Ini akan jadi kenangan.” Danil terlihat riang setelah melihat foto-foto di layar kamera. “Aku akan mengirimkannya suatu saat kelak.”

Danke!” Sahut ayahmu berterimakasih, yang segera disusul gelak tawa mereka lebih keras.

Menjelang pukul sembilan malam ayahmu akhirnya berpamitan untuk pergi. Sinar bulan di atas boulevard tampak terpenggal ketika ia melangkah dari rumah itu. Angin musim gugur bertiup sepoi melintasi sungai Danube di tengah kota.  Menampar-nampar perasaanya dengan kejam.

Pertemuan malam itu telah menyisakan satu rasa yang tak pantas ia ungkapkan. Ia cemburu. Ayahmu cemburu melihat kenyataan bahwa Tante Haryati hidup bahagia tanpa dirinya. Keadaan yang sangat terbalik dengan rumah tangganya yang mungkin akan hancur berkeping-keping sebentar lagi.

 

**

 

“Besok kita jalan-jalan. Kau ada waktu?” Tante Haryati tiba-tiba meneleponnya ke apartemen beberapa hari setelah acara makan malam itu.

“Tentu,” ayahmu sedikit terkejut. “Kita akan bertemu di mana?”

“Tunggu saja di sana. Nanti ku jemput.”

“Ya, sampai jumpa. Salamku pada Danil.”

Telepon segera terputus.

Pagi-pagi sekali, perempuan itu sudah tiba di depan pintu apartemen ayahmu. Senyum di bibir tipisnya sangat menawan. Cuaca kota yang cerah seakan menyepakati rencana mereka hari itu. Takdir baru akan dimulai dengan caranya sendiri.

“Berdua saja?” Ayahmu penasaran ketika tidak melihat Danil.

“Ya,” Tante Haryati menjawab cepat.

“Suamimu?”

“Tidak ikut. Keberatan?”

“O..ti..tidak. Aku kira dia ikut.”

“Danil tidak suka jalan-jalan,” ekspresi Tante Haryati hambar.

“Oke. Lalu..kita akan kemana?”

Kahlenberg,” Tante Haryati menyebut nama pegunungan di utara Vienna itu. “Kini musim panen anggur. Suasananya pasti menyenangkan di sana.”

“Baiklah. Aku setuju.” Ayahmu segera mengikuti langkahnya.

Sepoi angin diawal Oktober membimbing Tante Haryati dan Ayahmu ke ketinggian Kahlenberg. Perkebunan  anggur yang menghampar menyambut mereka dengan sangat riang di tempat itu. Daun-daunnya mulai menguning, berpadu dengan tandan-tandan buah merah pekat yang seakan meminta-minta untuk dipetik siapa saja. Di kejauhan, atap-atap bangunan kota Vienna terlihat seperti perca yang berserakan.  Aliran sungai Danube juga tampak meliuk-liuk bak ular raksasa menuju laut hitam. Musim gugur benar-benar telah dimulai, menyuguhkan terlalu banyak kesempatan kepada mereka berdua.

“Kau ingin mencoba sturm?” Tante Haryati menawari ayahmu ketika mereka singgah di sebuah kedai anggur yang disebut Haurieger di kaki bukit.

Sturm?”

“Itu..jus anggur yang diberi ragi. Aku yakin kau suka.”

“Akan ku coba.” Ayahmu terlihat bernafsu. Mereka menunggu beberapa saat sebelum seorang pelayan Haurieger mengantarkan pesanan mereka.

“Kalau saja Danil di sini,  mungkin kami bisa berlomba minum sturm.” Ayahmu menyengir sambil mengangkat gelas minuman di hadapannya.

“Bisakah kau berhenti menyebut nama itu?” Wajah Tante Haryati mendadak masam.

“Memangnya kenapa?”

“Aku tidak suka! Sejak pagi tadi kau terlalu sering menyebut nama itu,” Ekspresi Tante Haryati semakin tidak senang.

“Ada apa?” Ayahmu kebingungan. “Kau ini aneh.”

“Apa aku pernah menyebut nama Irma sejak kau datang?”

“Tidak, kau tidak pernah menyebut nama istriku sejak bertemu di pesawat.”

“Lalu, mengapa dari pagi tadi kau selalu menyebut-nyebut nama Danil?”

“Wajar saja. Dia ‘kan suamimu. Lagipula, dia pria yang menyenangkan menurutku.”

“Baik, kalau begitu!” Suara Tante Haryati kian kesal. “Bagaimana keadaan Irma? Seberapa sering kau berjalan-jalan dengan Irma? Seberapa bahagia kau dengannya? Mengapa kau tidak mengajak dia ke Vienna.”

Ayahmu sejenak terdiam.

“Apa maksudmu?”

“Kenapa? Tidak suka dengan pertanyaanku? Sulit buatmu menjawabnya?!”

Ayahmu memiringkan kepala.

“Aku tahu kalau kau tidak bahagia dengan Irma,” sambung Tante Haryati. “Ibumu banyak bercerita lewat surat kepadaku, hampir tiap bulan.”

“Kami bahagia kok!” Sahut ayahmu ketus.

“O..benarkah?! Saking bahagianya lantas kau menggugat Irma untuk cerai? Kebahagiaan macam apa itu?”

“Sudahlah, Haryati! Aku tidak ingin membicarakannya.”

“Kalau begitu, berhentilah menyebut nama Danil.”

Mereka sama terdiam. Tante Haryati memegang-megang gelas minuman.

“Mengapa kau tidak bahagia dengan Danil?” Ayahmu tiba-tiba bertanya.

“Mengapa kau tidak bahagia dengan Irma?” Tante Haryati membalas secara beriringan.

“Kami terlalu banyak perbedaan,” ayahmu menjawab sederhana.

“He..banyak perbedaan? Bukankah dulu kau sangat menyukai perbedaan?”

“Tapi, kalau terlalu berbeda itu menyakitkan rasanya. Kau sendiri, kenapa?” Ayahmu menatap mata Tante Haryati. “Apa yang salah dengan lelaki ramah itu?”

“Dia pengkhianat,” Tante Haryati begitu lepas mengatakannya.

“Apa?!” Ayahmu terperanjat hebat.

“Ya, Danil itu selalu mendua. Aku baru tahu itu setelah sebulan pernikahan kami. Tapi, dahulunya ku pikir sebuah pernikahan akan membuatnya perlahan sadar. Makanya, aku awalnya tidak memikirkan resiko.”

“Lantas?” Ayahmu penasaran.

“Semua berjalan dengan tidak muda, Herman. Serba rumit.”

“Maksudmu?”

“Sebenarnya aku menyayangi Danil, tapi di sisi lain aku juga lelah.” Tante Haryati mengalihkan wajahnya ke arah lain. “Terlalu banyak cinta dalam hidupnya. Kau tahu, wanita-wanita itu.. terkadang mereka mengalahkan besarnya cinta dan perhatianku kepadanya.” Air mata Tante Haryati bercucuran.

“Sudahlah..,” ayahmu berusaha untuk menenangkan perempuan yang tadi mengajaknya singgah di Haurieger itu. “Sebaiknya kita pulang.” Ayahmu mereguk isi gelas terakhirnya. Mereka kemudian meninggalkan Kahlenberg ketika matahari hampir tenggelam.

Perjalanan hari itu rupanya menjadi titik balik atas hubungan mereka. Menyemai kembali bara cinta yang sudah terkubur bertahun-tahun. Merubah pertemuan-pertemuan berikutnya menjadi ladang pelampiasan atas dahaga yang liar dan terlarang.  Hingga janji-janji berikutnya di beberapa kedai kopi di Innere Stadt hampir terjadi setiap hari. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdua saja.

“Kita sama-sama telah terjatuh, Haryati,” bisik ayahmu suatu malam ketika perempuan itu kembali tidur di apartemennya. Suhu di Vienna mulai dingin saat itu.

“Bawahlah aku pulang, Herman,” Tante Haryati menghiba dengan manja.

“Itu bukan perkara mudah.”

“Kau segera ceraikan Irma, maka aku akan tinggalkan Danil di kota ini.”

“Besar sekali rencana itu, Haryati..”

“Dasar pengecut!” Tante Haryati mulai marah.

“Jujur saja, aku rindu kepada anakku. Kita tidak bisa lebih jauh lagi.”

“Lelaki plin-plan!” Perempuan itu kian murka.

“Pulanglah! Esok aku akan pergi dari Vienna.”

“Pengkhianat!” Tante Haryati membanting pintu apartemen sebelum pergi. Ayahmu termenung saja di atas ranjangnya.

“Kelak akan ku habisi seluruh kebahagiaanmu, Herman!” Perempuan itu mengancam.

Tante Haryati berlarian meninggalkan ayahmu sambil menangis. Udara bertambah dingin di sepanjang jalan-jalan Vienna. Lampu-lampu di boulevard terus menyala, menyaingi sepotong bulan yang menggantung di atas menara katedral St. Stephen. Janji-janji mereka telah hanyut terbawa arus sungai Danube. Perempuan pemilik senyum tajam itu kini terluka. Hatinya mendendam.

Bersambung ke Part 4 (Part 4)

Comments are closed.