Elegi Matahari

7968631-water-reflections-and-autumnSETIAP kali aku melangkah sendiri  dalam senja yang sepi dimusim gugur seperti ini, selaksa kenangan menyeruak dengan cara yang sangat menyakitkan. Bayangan-bayangan kelam seolah membias pada daun-daun maple yang mulai menjadi jingga dan kemerahan, pada pohon-pohon gingko dengan tajuk kuning tuanya  yang melancip atau pada ranting-ranting willow yang meranggas kusam. Seyogyanya semuanya kelak akan runtuh, pelan, satu demi satu, terhempas oleh hembusan angin penghujung bulan November yang menusuk. Lalu aku berharap salju musim dingin yang tebal akan segera menguburnya; hening, beku dan ditinggalkan.

Pulanglah..,’ bisikan itu selalu menggema di dalam kepalaku, selama belasan tahun. ‘Tidakkah engkau rindu akan hari-hari indah dimasa kecil kita? Saat mana matahari sore yang merah menerpa ladang-ladang jagung dan jewawut pada dataran yang luas milik ayahmu. Atau ketika kita berlarian mengejar arakan-arakan awan di atas pematang sawah yang membentang di kaki bukit itu. Bukankah sekarang awal musim penghujan? Dan sebentar lagi para pekerja akan segera menyemai benih-benih dengan setia.  Pulanglah…aku menunggumu untuk duduk bersama lagi pada sebuah kursi kayu panjang yang menghadap ke kolam besar, di sudut timur rumahmu. Kau masih ingat, bukan? Di sana, di sisi sebatang pohon tua berdaun rindang itu; aku kadang tertawa,  kadang tersedu-sedu, berganti-ganti, meningkahi setiap cerita yang kau bacakan untukku dari buku-buku yang dibelikan ayahmu tiap kali ia ke kota. Dan setiap petang, aku selalu datang tergesah-gesah, dengan rambut berkepang, seperti permintaanmu, lalu duduk dengan sumringah sembari mendengarkan celotehanmu yang selalu renyah dan menyenangkan. Pulanglah…bukankah engkau pernah berjanji untuk tidak meninggalkan kebun bunga matahari kita? Tahukah? Bahwa semenjak engkau pergi, senja-senja di sini berganti menjadi hening dan sedikit menyakitkan. Mengapa kau begitu jauh? Mengapa kau tidak mengabariku? Pulanglah, tinggalkan saja negeri asing tempat pelarian itu. Daun-daun musim gugur kelak akan semakin memerah di sana, bukan? Lalu jatuh dan berserakan di atas rumput kering yang kusam lagi merana. Salju mungkin saja akan segera turun beberapa hari dan kau akan diterkam lara yang panjang setelah itu. Maka pulanglah. Mengapa kau berlari begitu jauh? Apa kau benar-benar kuat menanggung rindu? Atau kau memang seorang lelaki pengecut yang tak berperasaan?

Pengecut? Tidak berperasaan? Ya, itu memang kata yang sepadan untukku; untuk segala pembiaranku, ketakutan-ketakutanku, dan bagaimana caraku membalas segala pengabdian tanpa batas  yang telah dipersembahkan oleh seorang gadis kecil berwaja bundar itu. Sukma, gadis kecil berkepang dua itu bernama Sukma. Hal yang paling kusenangi dari sahabatku itu adalah melihat ia menangis; wajahnya akan sedikit tertunduk, telapak tangannya menutupi bibirnya yang tipis, lalu air matanya akan jatuh berderai-derai pada kedua pipinya yang sedikit gelap. Tangisnya selalu tanpa suara, hanya terisak pelan. Lalu ia akan menghapus air matanya dan segera menggantinya dengan sebuah senyuman. Senyum yang selalu tampak mesra seperti setiap kali kami bertemu pada petang-petang kebersamaan: manis dan terlalu merona. Senyum itu pulalah yang kelak menyembunyikan banyak hal dari pengetahuanku: kepedihan-kepedihannya, kekecewaan-kekecewaan, dan segala luka atas pengabdiannya yang begitu tulus. Ah, Sukma, andai saja ia tidak pernah datang sore itu, di ujung jalan setapak berkerikil yang tak jauh dari rumahku, mungkin saja cerita kami akan sedikit berbeda. Mungkin saja aku tidak akan berlari ke sini, sebagai seorang pengecut yang terdampar jauh ke negeri matahari terbit ini.

Pulanglah..Tidakkah engkau rindu akan hari-hari indah dimasa kecil kita.’

(bersambung)

Comments are closed.