Lelaki Medang Batu

maxresdefaultDan ketika germis senja mulai merinai di pangkal tebing, tiba-tiba selaksa luka kembali menyeruak dengan semenah-menah. Luka atas kenangan masa lalu yang tetap menganga lebar, dendam yang tak pernah pudar walau sudah belasan tahun ingin ku kubur dalam-dalam. Ini adalah ihwal sakitnya rasa menanggung rindu. Rindu akan sebuah senja dalam gerimis di pangkal tebing yang sama, ketika seorang lelaki paruh baya biasanya berdiri tegap di sampingku. Sampai lama, hingga hari menjadi gelap dan semakin tua.

Lelaki bermata teduh itu ku panggil Bak: ayahku, sang lelaki medang batu. Dahulu, pada tiap-tiap kali angin musim panas telah berlabuh di kaki bukit, ia akan segera menyongsongnya,  dengan seulas senyum kecil tapi selalu tampak mesra. Lalu kami akan berjalan ke pangkal tebing dan tengadah ke udara. Lengannya yang kokoh acap kali ia letakkan di atas bahuku. Kemudian kami pasti sama-sama terdiam, membiarkan hembusan demi hembusan menerpa wajahnya yang mulai kusam dan semakin payah.

“Ini angin dari selatan, Dang,” suaranya setengah berbisik ke kupingku. “Sepatutnya kita bergembira.” Bak membiaskan senyum yang jauh lebih mesra dari senja-senja sebelum itu.

Ya, angin dari selatan. Angin pengharapan pertanda musim menuai padi akan segera tiba. Kami selalu bahagia menyambut musim-musim itu, walau tak sepinggan sawah pun kami punya.

Maka keesokan harinya pengawal kampong akan berkeliling sambil memukul sepotong bambu manyan, mengisyaratkan pesan agar warga dapat berkumpul di balai pengao, balai adat kampong. Akan ada rembuk adat; membicarakan perihal perbaikan kiang besak, bangunan kayu di tengah kampong tempat seluruh warga menyimpan padi secara bersama-sama setelah panen usai nanti.  Biasanya, Bak begitu bersemangat untuk datang ke pertemuan itu, walau sebenarnya keluarga kami bahkan tak punya sejengkal sawah pun untuk dituai.  Tapi, perbaikan kiang besak akan selalu membutuhkan sebatang pohon medang batu. Maka Bak adalah bagian terpenting dalam ritual adat orang-orang Talo Rantau itu. Karena dialah lelakinya, satu-satunya lelaki medang batu di kampong kami.

Pada malam ketiga belas dibulan Dzulhijjah, ketika kabut dari lembah telah menipis dan bulan mulai menyembul di balik bukit, maka obor-obor besar pun segera dinyalakan di sepanjang jalan menuju balai pengao. Kampong kecil kami tampak begitu benderang hingga anak-anak turun ke laman dengan segala gelak tawa mereka. Warga akan berkumpul di dalam balai, duduk melingkar di atas tikar-tikar pandan lebar yang dianyam oleh para gegebai kampong, ibu-ibu kami sendiri. Sesepuh adat yang dipanggil dengan sebutan Puyang akan duduk di tengah-tengah lingkaran. Orang-orang kemudian begitu khidmat menyimak setiap kata yang keluar dari mulut lelaki tua kharismatis itu.

Kiang besak adalah lambang dari kesejahteraan, kekokohan kampong kita.” Suara Puyang terdengar dalam dan bertenaga di tengah balai. Sisa-sisa keperkasaan masih tampak jelas pada gerak tubuhnya. “Ia ibarat sebuah mahkota bagi suku Talo Rantau. Ia adalah mahkota kita!”

Orang-orang menganggukkan kepala tanda sepakat dengan ucapan itu.

“Minggu depan pergilah engkau ke belantara gimbo kaum,” Puyang kemudian memberi perintah kepada Bak yang sedang bersila di hadapannya. “Pilihkan sebatang medang batu terbaik untuk kiang besak kita.”

“Akan aku pilihkan, Puyang,” timpal Bak kepada lelaki bergamis putih itu.

Wajahku langsung sumringah ketika mendengar pembicaraan mereka dari balik dinding balai. Sebab aku tahu persis bahwa itu artinya Bak akan segera membawaku ke atas bukit, lalu kami akan menghabiskan beberapa hari memilih sebatang medang untuk orang-orang kampong. Sudah lama aku menunggunya, karena ini hanya akan terjadi setiap lima tahun sekali.

Dan ketika waktunya telah sampai, Bak mengajakku berjalan agak pelan di antara ratusan pohon-pohon besar di sepanjang punggung bukit itu. Ia mulai bercerita tentang cara memilah medang batu di gimbo kaum.

“Kita tidak boleh menebang pohon yang sedang dihinggapi Percang Gunong, Dang,” kata Bak sembari mendongakkan kepalanya ke atas kayu medang yang paling tinggi.

“Kenapa, Bak?” Tanyaku keheranan.

“Karena mungkin saja itu adalah rumah atau tempat berteduh bagi anak-anaknya.” Telunjuk Bak tertuju ke arah burung Percang yang sedang bertengger di atas dahan. “Sudikah kau kalau tiba-tiba anjong tempat tinggal kita dirobohkan orang?”

“Tidak, Bak!” Sahutku lugas. “Aku akan sangat sedih dan marah.”

“Begitu pula kalau rumah Percang Gunong itu kau hancurkan tiba-tiba, Dang.” Bak lalu menepuk-nepuk bahuku. Dan aku ingin sekali memeluknya saat itu juga.

Maka perlahan aku mulai mengerti beberapa hal tentang pekerjaan seorang lelaki berkulit legam ini. Walau dahulu, aku sering kali bertanya apa susahnya untuk memilih satu saja diantara ratusan pohon di tengah belantara itu. Lagi pula, perbaikan kiang besak hanya membutuhkan sebatang kayu medang setiap lima tahun sekali, dan itu pasti tidak akan susah. Tapi, mengapa ketika kayu itu telah ditebang, Bak justru menghabiskan waktu lebih lama di dalam gimbo? Aku tidak suka itu. Kiranya Bak harus menanam anakan medang lalu memeriksanya berulang kali, melelahkan, berhari-hari. Kata Bak itu bukan tentang pekerjaan,  tapi amanah, sebuah penghormatan terhadap keluarga kami. Ia akan menjaga kehormatan itu sampai nyawanya tiada.

“Kita mungkin akan kehilangan hak untuk mengambil medang batu dari gimbo kaum.” Puyang menampakkan raut muram ketika aku dan Bak menemuinya di berendo pada suatu pagi yang berkabut dingin.

“Kenapa,  Puyang? ” Suara Bak lugas dan penasaran. “Bukankah gimbo kaum adalah milik kita orang-orang Talo Rantau? Tak ada yang bisa melarang kita!”

Lelaki itu hanya membalasnya dengan hela nafas panjang. Ia kemudian  melinting tembakau dengan jemarinya sebelum memulai bertutur lagi.

“Sudah tiga hari berturut-turut aku melihat seekor burung Punai hinggap di atap kiang besak kita.” Keresahan di wajah keriputnya semakin terlihat dengan jelas. “Dan…aku tak bisa tidur memikirkan itu.”

“Pertanda apakah gerangan, Puyang?” Bak turut cemas mendengarnya. Ia menggeser letak duduknya lebih dekat lagi ke arah Puyang.

“Sebenarnya ada kabar buruk untuk kampong kita.” Puyang lalu menghirup secangkir nira segar di hadapannya.

Bak terdiam. Keningnya berkerut-kerut seperti sedang menerka sesuatu. Kami sama-sama menunggu kata-kata berikutnya dari lelaki tua itu.

“Malam kemarin beberapa orang dari suku Ulu datang ke sini bersama pengawal-pengawal berseragam.” Suara Puyang seperti tertahan. “Mereka menggugat kepemilikan gimbo kaum, pugan medang batu kebanggaan kita orang-orang Talo Rantau.”

“Mereka tidak berhak, Puyang!” Suara Bak tiba-tiba gusar dan menyentak  ketika mendengar kabar itu. “Orang-orang Ulu tidak bisa menggugat kita. Gimbo itu telah ditanami medang batu sejak zaman  puyang-puyang pendahulu.”

“Ya, aku sangat tahu itu,” Puyang menyela dengan nada sangat tenang. “Bahkan, aku telah bersumpah kepada para tetua untuk menjaga gimbo kaum kita sampai aku mati.”

“Lalu apa yang akan kita perbuat, Puyang?” Kening Bak kembali berkerut.

“Hmmm…,” lelaki di hadapan Bak hanya bergumam sambil menghisap lintingan tembakau di tangannya beberapa kali. “Mungkin takkan terlalu banyak yang dapat kita lakukan. Pasalnya, orang-orang Ulu memiliki surat penguasaan yang sah atas wilayah gimbo kita.” Puyang kembali menghentikan kalimatnya untuk beberapa saat. “Terlebih, setelah ku lihat ada cap besirah dalam surat itu. Mereka punya pembela yang kuat, orang-orang dari kota. Ini akan sulit.”

“Tapi, kita sudah memiliki gimbo itu sejak lama, Puyang. Lancang sekali mereka!” Bak memperlihatkan kemarahannya yang menjadi-jadi.

“Betul, sejak lama.” Puyang mengangguk-anggukan kepala, tetap dalam gerak yang begitu tenang. “Tapi,  surat kepemilikan orang-orang Ulu kiranya telah dibuat jauh sebelum kampong kita ini ada.”

“Begitukah?!” Bak tersentak hebat. “Akan tamatkah riwayat gimbo kaum kita? Akan habiskah sejarah kiang besak kita, Puyang?”

Lelaki itu seketika menatap lurus ke wajah Bak sembari berkata, “Sabarlah. Kelak aku akan datang menemui orang-orang Ulu.” Nada suaranya sangat pasti.  “Yakin saja bahwa akan ada jalan penyelesaian terbaik atas perkara ini.”

“Aku tidak yakin, Puyang,” Bak menimpal cepat. “Kita tahu persis bahwa orang-orang Ulu sudah lama menginginkan gimbo medang itu. Mereka dengki! Mereka iri! Mereka ingin merambah pohon-pohon bertuah itu! Kita akan menghadapinya, walau harus mati!”

“Mereka hanya menuntut haknya. Hormati itu!” Puyang menimpal dengan suara yang bergetar. “Bagaimanapun kita harus tetap memegang teguh tata krama orang-orang Talo Rantau. Sejak zaman para tetua, kita selalu memilih jalan damai sebagai sebaik-baiknya cara. Dan tahukah kau artinya Talo Rantau?” Puyang menatap lekat-lekat ke arah Bak. “Rantau adalah kaum orang-orang pendatang, tamu di negeri orang-orang Ulu. Kita ini adalah tamu!”

Bak hanya terdiam setelah itu. Suasana berendo kembali menjadi sepi. Aku pun hanya tertunduk di dekat Bak. Udara kampong mulai menghangat. Hari mungkin akan cerah.

“Pulanglah…” Puyang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. “Ajaklah orang-orang kampong menebang bambu betong dan manyan  untuk memperbaiki kiang besak kita. Bagaimanapun jadinya kelak, kita tetap memerlukan tempat untuk menyimpan padi secara bersama-sama. Mintalah para gegebai untuk memasak lemang dan jambar kuneng sebelum kalian memperbaiki kiang. Aku dan pengao akan berusaha sebaik-baiknya menyelesaikan perkara ini. Pugan medang itu tetap milik kita!” Puyang memegang bahu Bak.

“Baik, Puyang.” Bak menganggukkan kepala. Kami seketika meninggalkan tempat itu dalam langkah yang cepat.

Maka, seperti permintaan Puyang, kiang besak pada akhirnya diperbaiki dengan menggunakan betong dan manyan. Tak ada medang batu terbaik meski sudah dipilihkan oleh Bak di gimbo kaum beberapa waktu lalu. Dan..ketika seluruh padi telah tersimpan di dalam kiang, orang-orang kampong segera melangsungkan upacara sedeka udim ngetam di pelataran; ritual kesyukuran atas hasil sawah di kampong kami yang terpencil. Orang-orang akan bergembira dalam upacara itu.

“Pakailah sarung putih lalu ajak adik-adikmu duduk di tikar paling belakang, Dang,Mak berpesan kepada ku sebelum berangkat lebih dulu bersama Bak ke pelataran.

“Ya, Mak,” timpalku begitu bersemangat.

Hari sedeka telah tiba. Mak segera menjinjing bakul rotan yang berisi bekal untuk upacara adat. Suasana kampong menjadi sangat meriah. Aku dan dua orang adikku berlari-lari menyusuri jalan, berlomba bersama anak-anak Talo Rantau lainnya dengan rona bahagia yang berpendar-pendar. Dan ketika kami tiba di pelataran, tikar-tikar pandan lebar sudah dibentangkan dengan rapi. Orang-orang duduk bersila dalam barisan-barisan panjang dan mulai membaca kitab persanji.  Senyum-senyum lebar pada wajah yang bercahaya bertebaran dimana-mana, juga pada wajah Mak dan Bak yang duduk di barisan depan. Tempayan-tempayan berisi bubur putih, lemang ketan, serabi, jambar, nasi putih dan gulai kambing mulai dibagikan oleh para gegebai dengan teratur. Gema do’a-do’a dan persanji riuh-rendah, berganti-ganti, memenuhi pelataran kampong ketika matahari mulai menanjak.

Kabut telah tiada. Orang-orang kampong sedang larut dalam suka cita, terlebih tahun ini jumlah padi yang masuk ke kiang besak lebih banyak dari tahun-tahun sebelum itu. Keresahan atas gugatan orang-orang Ulu seakan sengaja dibiarkan menguap ke udara, setidaknya untuk hari itu saja. Wajah Puyang pun turut berseri-seri, walau tetap saja sesekali roman mukanya membiaskan sebuah beban yang sedang menghimpit dada. Perkara dengan orang-orang Ulu terus berkembang menjadi bara yang panas, meski Puyang dan pengao sudah mengadakan pertemuan dengan mereka berulang kali. Orang-orang Ulu memang terkenal sulit dalam bermufakat. Mereka keras. Sesuatu yang mengerikan mungkin saja sedang menunggu untuk terjadi di kampong kami.

Rupanya benar saja, kemeriaan upacara sedeka di pelataran itu tidak berlangsung sampai lama. Ketika kami mulai hening dan tertunduk menikmati kesakralan do’a dan persanji, tiba-tiba terdengar suara meraung-raung di atas bukit, tempat di mana gimbo kaum berada. Semua penduduk sama terperanjat dan mulai berdiri dengan tatapan mata penuh tanda tanya. Jiwa-jiwa kembali digelayuti rasa cemas.

Sinso….sinsoooo..! Itu suara sinsoo..!” Bak berteriak-teriak dengan suara sangat lantang. “Orang-orang Ulu telah merambah gimbo medang dengan mesin sinso!”

Dalam sekejap pelataran berubah menjadi sangat gaduh. Semua orang tampak kian gelisah. Hidangan-hidangan diabaikan, tak ada lagi yang menyentuhnya. Tikar-tikar pandan masih tergelar sementara para lelaki mulai berlarian mengambil kujur, pedang panjang, dan pementok. Bak pun tampak bergegas dengan raut muka yang penuh kemarahan. Bola matanya yang teduh tiba-tiba  berubah hampir mendelik. Aku terperanjat.

“Bawalah anak-anak kalian pulang!” Puyang dan pengao menghimbau para gegebai sambil berkeliling di pelataran. “Tetaplah tenang dan tutup pintu anjong rapat-rapat. Beberapa orang tetaplah berjaga di dalam kampong. Kami akan pergi untuk memeriksa ke dalam gimbo. Waspadalah!

Mak dengan cekatan menarik lengan adik-adikku. Mereka mulai menjerit-jerit karena suasana mendadak berubah tegang dan menakutkan. Dan sebelum pergi mengikuti Mak, aku masih sempat menoleh ke arah Bak  di tengah rombongan para lelaki kampong. Ia berjalan cepat mengarah ke atas bukit. Sebilah kujur setinggi badan ditentengnya. Orang-orang kampong akan berperang. Darah akan segera tertumpah. Aku meringis hebat.

“Apakah semua akan baik-baik saja, Mak?” Tanyaku kepada Mak ketika kami sudah memasang palang di pintu anjong.

“Ya, semua akan baik-baik saja,” jawab Mak dengan sorot mata penuh kegamangan. Kami lantas duduk berdempetan pada sehelai tikar di tengah-tengah anjong.

Sampai lama setelah itu, orang-orang kampong yang tinggal tetap mengurung diri di dalam anjong masing-masing. Mak sesekali mengajakku mengintip ke luar lewat celah dinding, mencari tahu jikalau ada sesuatu yang mencurigakan di luar sana. Laman dan jalan kampong tampak semakin  sepi, semakin temaram. Lalu malam mulai menjalar, membawa resah yang menjadi-jadi pada hati semua penduduk. Tiba-tiba aku pun mulai memikirkan perihal keadaan Bak dan Puyang di dalam gimbo. Hayalan-hayalan mengerikan mulai datang.

“Tidurlah.” Mak kemudian mengulurkan sehelai selimut kepadaku. “Hari sudah malam, Dang.”

“Aku ingin menunggu Bak,” timpalku pelan. “Sampai dia pulang.”

“Tidurlah..sebentar lagi Bakmu pasti pulang,” suara Mak setengah berbisik kepadaku. Aku menurut saja walau itu takkan bisa menepis bayangan-bayangan mengerikan itu. Bak mungkin tidak akan pulang, begitu perasaanku. Aku tercekat beberapa kali, sebelum akhirnya  kami sama-sama rebah di atas tikar.

Kiang besak kebakaraan….kiang besak kebakaraan….!” Suara jeritan itu mendadak  terdengar dari arah jalan kampong, diiringi oleh derap langkah orang-orang berlarian.

Kiang terbakar, Mak.” Aku dan Mak sama-sama memburu ke arah pintu. Saat kami sudah turun ke tengah laman, nyala api tampak membumbung tinggi bersama asap pekat yang meliputi kiang besak di tengah kampong. Beberapa warga berupaya memadamkannya sambil terus menjerit kepanikan. Mahkota kampung segera musnah.

“Masuklah ke dalam anjong! Puyang kita telah terbunuh di dalam gimbo!” Seorang  pengawal kampong  berlarian menghampiri kami dengan wajah berlumuran darah. “Orang-orang Ulu telah membakar kiang! Mereka menyerang kampong kita!”

Kabar mengerikan telah datang. Mak seketika menyambarku untuk kembali ke dalam anjong dan kami memalang pintu rapat-rapat. Tanganku terasa dingin. Tapi, belum lama berselang setelah itu,  mendadak terdengar pekikan Mak Mus di sebelah anjong kami.

Anjong terbakaar…anjong kami terbakaaaar!” Suaranya melengking.

Kobaran api begitu cepat membesar dan menyemburatkan sinar terang lewat celah-celah dinding tepat di hadapan kami. Aku dan Mak sama-sama terkesima.

“Kita bawa adik-adikmu ke laman, Dang!” pintah Mak terburu-buru. Kami setengah melompat menuju laman.

Api dari anjong Mak Mus ternyata mulai menjalar ke atap anjong kami. Pekikan dan jeritan pun terdengar semakin ramai di seluruh penjuru kampong, berganti-ganti. Orang-orang mulai berlarian tak tentu arah di antara kobaran-kobaran api yang terus membumbung seperti arakan-arakan raksasa. Langit malam berubah menjadi terang dan kemerah-merahan. Aku dan Mak masih membopong adik-adikku di tengah laman. Mereka terus menangis, merontah-rontah lantaran ketakutan melihat kobaran api dan teriakan orang-orang.

Lalu, tiba-tiba dari arah belakang beberapa orang berbadan besar menghunuskan senjata ke arah Mak. Mereka tak ubah seperti hantu yang muncul dari kobaran api.

“Segera tinggalkan kampong ini atau kalian kami bunuh!” Salah seorang dari mereka menghardik Mak dengan beringas.

Aku merasa sangat marah dan berdiri menantangnya, tapi tangan Mak segera menyeretku untuk pergi dari tempat itu.

“Cepatlah, Dang!” Suara Mak terdengar kecut dan parau.

Aku lantas berlarian menyusuri jalan sambil menggendong adikku bersama Mak, mengikuti arah orang-orang yang sudah bergerak cepat ke luar kampong. Rasanya suasana semakin mengerikan. Api terus membakar. Orang-orang Ulu terlihat dimana-mana dan terus mengintai kami seperti srigala-srigala rakus. Beberapa orang warga tampak terkapar dan berlumuran darah di perbatasan kampong. Nyala api terus meninggi di belakang kami.

“Bergegaslah, Dang!” Mak memaksaku untuk berjalan lebih cepat dan semakin cepat. Rombongan kami terus berlari sejauh-jauhnya meninggalkan kampong itu.

Hingga ketika hari menjelang pagi dan suasana mulai terang, kami berhasil mencapai kampong lain pada sebuah dataran tinggi. Anjong-anjong di kampong itu masih mengatup dan beku. Udara sangat dingin. Tak terdengar suara orang. Lampu-lampu telah dimatikan. Kabut tebal masih menebar di mana-mana, menambah rasa kalut dan ketakutan. Kakiku mulai nyeri.

“Berhentilah sejenak, Dang.” Mak lalu mendekat dan memeriksa kakiku yang diliputi bercak-bercak darah. Aku mulai meringis, merasakan perih pada jari dan telapak kakiku yang cabik oleh duri dan kerikil di sepanjang jalan.

“Turunkan adikmu,” pinta Mak sambil tersendat-sendat kepayahan.

“Tidak, Mak. Orang-orang Ulu akan membunuh kita,” sahutku gemetaran. “Kita harus tetap berjalan lebih jauh lagi!” Aku semakin erat membopong adikku.

“Tidak lagi, Dang. Turunkanlah adikmu! Kita sudah sampai di tempat yang aman.”

“Cepat, Mak!” Aku terus berlari penuh ketakutan.

Daang…!” Mak menahan langkahku.

Aku lalu terhenti dan memandangi orang-orang dalam rombongan di belakang. Mereka telah berhenti. Kami mungkin telah lepas dari pembunuhan.

“Ini Talang Betutu, Dang, tempat Bakwo berada. Kita sudah aman.” Mak segera merangkul pundakku sambil menangis. Aku lantas menurunkan adikku dari gendongan pelan-pelan.

“Ya, Mak..” Aku langsung membenamkan wajah ke pelukannya. “Tapi, Bak bagaimana?” Nafasku masih tersendat-sendat di tenggorokan. “Dia akan sampai di sini?”

Mak tidak menjawabnya. Ia kembali mendekap tubuhku. Semua orang hanya terdiam sembari menghela nafas-nafas panjang di perhentian. Rasanya, malam penuh api dan darah belum tertinggal jauh di belakang kami. Gemuruh dan pekikan itu masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas. Menakutkan.

Maka setelah berhari-hari kami mengungsi di Talang Betutu, aku hampir tak bisa tidur barang sekejap mata di anjong Bakwo. Bayangan tentang Bak selalu saja membuat dadaku sesak tak tertahankan. Setiap kali menjelang pagi, aku berdiri di ujung jalan bersama  adik-adikku. Ada seberkas harap bahwa kelak di suatu kesempatan,  lelaki medang batu itu akan datang lalu kami segera berlarian menyambutnya; menciumi pipi kusamnya satu per satu, silih berganti, berulang kali. Tapi, penantian itu terus terjadi sampai cukup lama, hingga pada akhirnya Mak mengajakku berbicara tentang sebuah keputusasaan.

“Besok kita pergi ke Muaro Nibong, Dang, ke arah selatan, kampong jauh tempat Mak dilahirkan.” Wajah perempuan itu terlihat buram pada suatu petang terakhir di Talang Betutu. Aku terduduk lesu di sampingnya. Angin mulai menderu-deru.

“Jadi, Bak takkan pernah menyusul kita ke sini, Mak?” Ku tatap bola matanya lekat-lekat, meminta kepastian.

Mak hanya mendongak,  menahan sesak. Lalu bibirnya yang mengelupas mulai bergetar dengan perlahan, “Bakmu mungkin telah sampai duluan di selatan, Dang.”  Ia tidak ingin lagi memandangiku. Air matanya berderaian.

Entahlah…petang itu, semua terasa jauh lebih menyakitkan. Angin terus menderu-deru. Esok kami akan kembali berjalan.

**

Daftar istilah dalam bahasa Serawai (Salah satu suku asli di Provinsi Bengkulu):

Anjong: rumah sederhana/gubuk; Bak: ayah atau bapak; Bakwo: paman; Berendo: semacam ruangan kecil tanpa dinding di bagian depan rumah; Besirah: pejabat/pimpinan pemerintahan daerah; Betong: bambu betung; Dang: panggilan untuk anak lelaki jika ia memiliki adik; Gegebai: ibu-ibu/perempuan paruh baya yang sudah menikah; Gimbo kaum: hutan ulayat/ hutan adat yang dikeramatkan oleh kaum/kelompok masyarakat; Jambar kuneng: nasi ketan yang dimasak dengan santan dan disajikan seperti tumpeng; Kampong: kampung/ dusun/ desa; Kiang  besak: lumbung besar; Kujur: tombak panjang; Laman: halaman/ pekarangan rumah; Mak: ibu; Manyan : salah satu jenis bambu berkulit tipis; Medang batu: pohon dari family Dipterocarpaceae, spesies Shorea platyclados (dark red meranti), status terancam punah (berdasarkan IUCN red list endangered species); Pementok: pentungan atau alat pemukul dari kayu; Pengao: pengurus pemerintahan kampung; Percang gunong: burung percang gunung (Pycnonotus sp. dalam bahasa ilmiah); Persanji: kitab berbahasa arab yang berisi selawat nabi dan puji-pujian kepada Tuhan; Pugan: kumpulan dalam jumlah banyak; Punai: burung punai (Treron sp. dalam bahasa ilmiah); Puyang: Kakek buyut/tetua yang dihormati; Sedeka udim ngetam: upacara adat pasca panen padi; Sinso: mesin penebang kayu; Talo Rantau: salah satu marga dari suku serawai yang bermigrasi dari Bengkulu Selatan ke wilayah bukit barisan di sebelah barat Provinsi Bengkulu; Ulu: penduduk asli/yang sudah lama tinggal di suatu daerah sejak awal sekali.

Comments are closed.