Pada Suatu Petang

boy

“Pada akhirnya semua akan pergi, satu demi satu,” ucapnya dengan nada sangat getir.

“Ya,” timpalku pelan, “semua jelas akan pergi. Tapi, sekiranya bisa memilih aku ingin jadi yang duluan. Bukan yang tertinggal. Sakit rasanya seperti ini. Sakit.” Aku mendongak ke langit.

“Sabarlah..yang duluan dan yang ditinggalkan kelak juga akan bertemu lagi,” suaranya semakin tenggelam dalam hempasan angin.

“Itu akan lama!” sentakku. “Mungkin butuh waktu bertahun-tahun. Aku takkan sanggup.”

“Lama? Bertahun-tahun?” Ia mengerling. Senyumnya tampak begitu pahit ke arahku. “Dari mana kau tahu bahwa jarakmu dengan pertemuan itu akan bertahun-tahun?”

Aku menatapnya dalam.

“Sudah stadium empat, ‘kan?” Ia tersenyum lagi.

“Ya,” jawabku ringkas.

“Takkah kau ingin bertahan agak lama lalu berkubur dalam liang yang sama denganku? Kelak.”

“Hmm…entahlah…” Aku masih tengadah. “Aku tidak yakin.”

“Jadi, kau hanya ingin berbaring di antara dua makam  ini?”

“Ya…” Nafasku hampir tercekat. “Tak ada yang lebih ku harapkan daripada berbaring bersama kedua orang tuaku.”

“Kau tak ingin pulang? Atau setidaknya mengantarku ke ujung jalan itu?”

Aku menggelengkan kepala. Ia kemudian melangkah sendiri menjauhi pemakaman. Senja semakin tua. Angin terus menghempas.

(Akhir Winter di Shimotsuke-shi, Japan, 2016)

 

 

Comments are closed.