Spesialis Juara Tiga

Menulis fiksi sebenarnya salah satu kegemaran saya selain nonton film dan berenang di akhir pekan (itupun kalau tidak hujan). Sebagai generasi keahiran delapan puluhan, tentu saya memiliki cukup banyak pengalaman belajar tentang kepenulisan fiksi sejak duduk di bangku SD. Saya ingat betul, bahwa dahulu di zaman bercocok tanam ladang berpindah, pelajaran mengarang dan seluk beluk prosa adalah salah satu mata pelajaran wajib. Tak tahu apakah zaman sekarang ujian mengarang masih ada atau sudah dipenuhi dengan pelajaran-pelajaran fisika nuklir, mekanika kuantum dan kajian orang dewasa lainnya.

Jujur saja saya penggemar berat pelajaran mengarang bebas dengan tema entah kemana-mana. Apalagi waktu SD guru prosa kami sangat cantik dan bijaksana bak cinderela…kwkkww…Dan setiap ada kesempatan mengikuti lomba  terutama cerpen, saya selalu ikut. Motivasinya tentu seperti kebanyakan anak-anak lainnya: ingin menang, dapat hadia-hadia berlimpah ;buku tulis gambar haji oma irama atau Ita Purnama Sari, singlet dan kaos oblong satria baja hitam, atau pernah sepeda BMX  plus satu baskom anti pecah….pokoknya macam-macam..

Beruntungnya pada beberapa kesempatan karya saya berhasil menjadi juara, tapi entah mengapa sepertinya saya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang spesialis juara tiga….Selalu..selalu….saya ingat betul ketika kelas 5 SD mengikuti lomba menulis prosa, walhasil…juara tiga kabupaten (ini debut pertama saya lho…hahah), kelas 2 SMP juga menjadi juara tiga (sedikit berkelas sich karena levelnya tingkat provinsi), dan SMA juga begitu pas lomba menulis fiksi bulan bahasa (yang bertema datang bulan kwkkw)…

Nah, baru-baru ini, saya juga mengikuti lomba mengarang cerpen bertema remaja tingkat nasional…cukup bergengsi lho..(dibandingkan tingkat jurusan apalagi tingkat labor)….Saya pengen sekali ikut karena toh  dahulu saya juga pernah remaja…(walau keremajaan saya sempat terenggut baik paksa maupun suka tapi tak rela; maksudnya karena training olimpiade sains  berbulan-bulan, sampai kadang tidak sadar apa saya masih remaja ..kwkk)

Walhasil…jreng..pas pengumuman…halo-halo …(kata MC nya..)…sodara dapat juara tiga…….(tuh kan kata saya…lagi-lagi juara tiga)……benar-benar spesialis juara tiga aja…kwkkww…saya tuch sudah melakukan meditasi dan muhasabah bertubi-tubi lho…supaya bisalah naik dikit jadi juara kedua atau apalah gitu…tapi takdir berkata lain….kualitas saya memang baru sampai di sana…hhaa…oke saya Qonaah…

Seminggu pasca pengumuman, saya dapat kiriman sertifikat dari panitia…pas baca, saya langsung komplain..”Mbak, itu kok di suratnya tertulis PEMENANG LOMBA  REMAJA”.  Secara ya, saya ini sudah dewasa, sudah om-om gitu..walau masih tergolong om yang imut dan lucu..(ampun …!)

Picture1

Si Mbak Panitianya balas gini, “Maaf Mas, itu bukan berarti Mas nya kami anggap remaja, tapi ini kan temanya memang remaja…”

Nanti, rencananya ya…kalau ada lomba bertema orang dewasa saya bakal ikut lagi….target sich gak muluk-muluk, mempertahankan spesialisasi juara tiga jadilah..hahaa..

 

 

 

 

 

 

 

Comments are closed.