ASMARA TRUK SAWIT

“Entahlah..” katanya suatu hari. “Kau bahkan tak tahu namaku.”
Ya, benar aku tak tahu namamu. Dan aku juga tak paham mengapa aku mulai berandai-andai, setidaknya sejak pertengahan musim panas tahun lalu.

“Ini mungkin tentang kita, atau tepatnya tentang aku.” Begitu aku menyikapinya dengan sangat bijak, dengan segenap kedewasaanku.

“Kau masih di sana?”
“Ya, masih.”
“Kau tidak akan pulang?”
“Tidak…hmmm..maksudku, tidak untuk musim panas tahun ini.”

“Kalau misalnya aku meminta kau memberiku nama, apa usulmu?”

Aku mendiamkan pertanyaan itu beberapa minggu. Aku benar-benar serius memikirkannya. Siang malam.Hujan panas.

“Aku sudah punya dua nama, kau mau tahu?” Kataku suatu pagi.
“Ya, aku merasa lama sekali menunggunya. Kau benar-benar seorang pemikir. Maksudku pemikir yang lamban.”
“Benar kau mau tahu?”
“Cepatlah…jangan plin-plan.”
“Sabarlah..kau sangat tidak sabaran rupanya.”
“Aku penasaran. Lagi pula rencananya besok aku akan merubah namaku di KTP. Mungkin nama pemberianmu akan jadi salah satu pilihan.”
“Yeyen atau Mikmek, kau pilih nama yang mana?” Tanyaku.
“Mikmek, aku memilih itu.” Dia menyambutnya dengan nada bersemangat.
“Hmmm….” Aku sedikit meradang.
“Kenapa?”
“Mengapa kau tidak memilih Yeyen?”
“Itu akan jadi nama warung pecah belah kita.”
“Setuju..” timpalku setengah mendesah.
Kami seketika melompat ke dalam truk sawit yang sedang melaju.

bersambung…(sampai waktu yang tidak dapat ditentukan)

IMG_4125

Comments are closed.