SURAT KEPADA PETANG

nelayan

Sebab sepi membelaiku, wahai kekasih, maka sejak itu pula aku mulai mengingatmu. Ada yang tiada mungkin terlewatkan dari kisah lama yang terus bergulir dan terpahat kuat di dinding nuraniku. Duhai perempuan kesayanganku, jika esok tubuh ini  menepi pada sebuah dermaga di seberang sana, sesungguhnya yang kuinginkan bukan hanya sebentuk pertemuan ataupun lambaian jari indahmu, tapi tentu aku ingini pelukan, ciuman dan dekapan termesra ; Sebab engkau istriku, sebab engkau ibu anak-anakku. Tiada mengapa jika esok, wahai tempat bermanjaku, layar yang ku titi patah tiangnya dan dinding perahuku retak pelan-pelan  lantaran badai malam ini terlalu kejam tuk ku lawan dan yang menepi hanya desau rinduku, yang kau temui di dermaga tinggal namaku. Sedang raga mulai punah, hanya serpihan tulang dan sedikit daging yang terserak dalam arus gelombang. Boleh kau taburkan kembang terwangi dan sehelai daun bidara yang kau petik di tepian jalan tepat menuju ke pelabuhan ini, lantas berceritalah kepada laut ikhwal raga suamimu yang lebur ditelan ombak dan plankton-plankton kelaparan. Tapi jangan menangis, wahai istri tersayangku, jangan teteskan air mata terbeningmu sebab aku tak inginkan itu. Aku tak kuat menatap binar matamu yang lalu menjadi sangat hampa, seumpama kerlip bintang yang ku lihat malam kemarin, sebelum kelam mengusirnya.

            Titip anak-anakku, wahai kekasih, ku serahkan mereka pada Rabb dan ku amanahkan dalam pelukan hangatmu seutuhnya. Jangan buat mereka merindukan ragaku, walau petang hari : saat dimana biasanya suamimu ini menepi dan mereka merangkulku, menciumi pipi usangku satu demi satu. Ah…mengapa ini terlalu pedih untuk ku mohonkan kepadamu, semestinya  soreh nanti aku masih mendengar cerita dan merdu suara mereka diantara riak-riak air dan desau angin senja pelabuhan. Seperti si sulung yang membopong keranjang rotan dan si bungsu yang selalu membelai wajah bundarmu, seperti itu pula kidung-kidung terindah mulai membahana di tiap-tiap dinding nuraniku bersama arus samudera  yang terus menghempas hingga aku benar-benar kalah, lelah dan terpisah dengan mimpi esok pagi : tentang pertemuanku dengan kalian.

            Petang nanti, wahai istriku, akan merapat sebuah biduk tua berdayung batang rapuh dan di dalamnya akan duduk lelaki paruh baya yang membopong secarik baju usang. Ya…baju usang, wahai kekasih. Baju yang dahulu sempat engkau telisik dengan benang coklat tua, sebelum aku  meninggalkanmu tiga minggu silam. Tak usah bertanya kepadanya, wahai kekasih, ia tak tahu aku, tapi ambilah helaian usang itu dengan jari tanganmu lalu dekap dengan penuh rasa, sebab itu adalah bajuku, sebab itu seumpama healaian kertas atau berita yang ingin menceritakan bahwa aku telah terbunuh, tenggelam dan engkau telah menjadi janda lantas anak-anak kita akan hidup tanpa aku, tanpa ayah dan sebutlah mereka anak yatim! Ingat istriku, sekarang mereka telah yatim! Tapi usah menangis lagi, aku benci air mata. Cukuplah taburan bunga dan sekedar isak sendu dari si sulung dan si bungsu yang melepasku: ayah yang terkubur di samudera. Pulanglah, pulang dan tinggalkan dermaga ini, wahai kekasih, sebab sebentar lagi matahari akan tenggelam dan dingin akan membelaimu bersama anak-anak kita. Senja akhiri saja dengan do’a terpanjang yang kau sambung sejak maghrib, isya hingga azan subuh mulai menjagakanmu pelan-pelan. Lalu berbisiklah kepada anak-anak kita :” Abimu kini menari di nirwana, di taman-taman hijau jannatun ma’wa yang sungainya mengalir sebening kaca.”

            Ah…pilu juga sebenarnya di relungku, ketika tak lagi bisa memberi ikan karang ataupun lobster muda untuk santapan nikmat yang selalu terhidang sebelum anak-anak kita ke sekolah. Nyeri juga rasa hatiku ketika engkau akan mengurus hidup sendirian tanpa aku, tanpa suami kesayanganmu. Sudah tentu sejak esok pagi-pagi, tubuhmu akan tampak kumal ketika harus bekerja di gudang ikan yang tak jauh dari pelabuhan, hanya demi membeli nasi dan sedikit lauk untuk buah hati kita. Alangkah sedihnya, wahai istriku, saat-saat zuhur, ketika si sulung dan si bungsu mengetuk pada daun pintu rumah kita, tak ada suaramu : sapaan sayang yang biasanya menyambut mereka sepulang dari sekolah. Pasti mereka akan menangis, wahai istriku, akan menetes air mata sebagai isyarat duka sangat dalam karena mereka ingat ayahnya dan ibu yang kini tak bisa lagi  menanti mereka pulang dengan cinta. Tangis itu…lara itu…wahai istriku yang rupawan, seumpama belati berkilauan yang segera menghujam tepat ke dada, ke hati, ke jantung dan menyumbat segenap rasaku, telak, begitu telak. Aku luka dan berdarah.

            Tapi tiada mengapa, wahai belahan hati, tidak mengapa  aku tenggelam dalam badai malam tadi lantaran semua kehendak Rabb: penguasa atas aku, dirimu, si sulung, si bungsu dan hati kita berdua. Terima saja dengan seulas senyum ketabahan pertanda ikhlasnya kita akan kelaraan hari ini. Sebentar lagi layar akan tegak lagi dan si sulung mulai memahat kayu untuk perahu: pengganti bidukku yang karam tengah malam. Lalu sepi itu tak lagi milikku, apalagi milikkmu, wahai kekasih. Tapi sebelum itu harus engkau jagakan mereka tengah malam: untuk tahajud dalam khusyuk dan syahdunya hingga subuh benar-benar tiba. Ajarkan  Albaqarah, Annisa, Luqman hingga semua surat yang dahulu senantiasa kita baca pada tiap-tiap malam kebersamaan, sebelum raga rebah pada balai-balai tua.

            Dengarkan aku, wahai istriku, belahan jiwa tersayang, yakinlah bahwa perpisahan ini hanya  sekali saja, sehari saja dan semua penyekat seperti waktu dan ruang esok akan musnah lantas aku menunggu  kalian tepat di gerbang janna, membawa tempayan  dari permata yakult berkilauan dalam senyum termesra. Lalu aku membimbingmu pelan-pelan, membopong anak-anak kita untuk menapaki permandani syurga dalam lambaian tirai-tirai sutra yang terlalu lembut, langkah pelan perlahan. Aku pasti segera merangkulmu, membelai indahmu dan membaringkan tubuh di atas dipan mutiara lalu kepada kalian aku berkata : “ Ikan karang dan lobster muda telah terhidang lagi, tapi bukan di gubuk tua dekat pelabuhan, melainkan di istana termegah yang sama kita mohonkan sejak perpisahan senja itu”. Darussalam – rumah keabadian di taman syurga. Itulah pembunuh rindu, pelebur ngilu atas kepergian suamimu yang dahulu tenggelam dalam samudera.

            Istriku, anak-anak termanisku, mari terlelap dalam dekapan Rabb paling mesra dan duka dunia itu, tinggalkan saja di pesawangan mimpi yang sepi, usah dikenang lantaran takdir telah berganti dan perjumpaan kita sangat abadi, benar-benar abadi.

                                                                        Senja dan gelombang,Pulau Penyu Pessel, Mei’06

 

2 Responses to SURAT KEPADA PETANG

  1. Saya ngefans banget dg sajak2 pak putra. Kalau boleh tahu sdh menerbitkan buku kumpulan sajaknya?

  2. HEHHE…alhamdulillah kalau tulisan Putra ada yang menyukainya Buk Yervi. Saya belum perna menerbitkan buku kumpulan sajak atau cerpen atau novel dan semacamnya bu…dahulu ketika masih S1 rutin nulis cerpen saja di ANNIDA..setelah itu tulisan-tulisan Putra untuk konsumsi diri sendiri aja…disimpan lalu dibaca kalau lagi ingin..tidak perna dibagi-bagikan…malu rasanya….hehe…Sebenarnya sekarang sedang menggarap draft novel tapi selalu overlap dengan kerjaan riset dan segala pernak pernik perkuliahan…maklumlah kembali jadi mahasiswa, di negeri orang pula…hehe..doakan semoga nanti novelnya bisa kelar ya Bu Yervi…salam sukses selalu