Ibuku Seorang PhD

ibu-nenek-tua

Ibuku tak pernah tahu apa itu naik kelas dan jadi juara, Ibuku juga tak pernah tahu berapa angka sempurna di rapor anak anaknya. Ibuku cuma sesekali bertanya, “sebenarnya kamu itu sudah kelas berapa?” dan kami akan serentak tertawa dengan tanpa menjawabnya, sebab kelak sebelum tidur kami satu per satu berbisik kepadanya, “aku sebentar lagi kelas tiga, atau aku sebentar lgi tamat sekolahnya.”

Ibuku juga takkan prnah tahu apa arti summa cumlaude, Apalagi istilah IPK nyaris sempurna. Dia bakal terkekeh-kekeh bersama Bapakku kalau mereka mendengarnya. Entah dimana lucunya? Tapi…Ibuku adalah pakar pemetik daun singkong. Ia profesional sekali mengikat dan dengan perkasa membawahnya. Ibuku juara bangun dini hari, membawa obor lalu duduk manis di emperan pasar tradisional yg belum perna dipugar lagi sejak zaman orde lama.  Kadang kadang air hujan membasahinya, lalu sayur dagangannya akan tanpa pembeli, sampai petang hari, sampai malam tiba. Biasanya ia dengan senyum senyum sendiri berkemas dan membagikannya kepada siapa saja. Dengan tanpa dibeli….tanpa harga. Ibuku akan sangat marah jika ada yg membayarnya…Katanya ‘kantor layanan penjualan sayur internasionalnya’ tidak akan perna ia buka di luar jam kerja,  maka jangan coba coba melakukan transaksi sebab ia harus segera pulang karena anak anaknya pasti sedang cemas di ladang menunggu kedatangannya.

Ibuku akan pulang sore hari, sendiri, berjalan kaki dengan keranjang bambu di bahunya. Lalu berebutan kami menyambut dan memeluk dengan sayangnya, satu persatu, bergiliran….penuh kemesraan. Ia akan selalu berbisik ke kuping kami, “tenang saja, hari ini ibu jadi juara dan sepertinya tahun depan juga bakal naik ke kelas tiga….”

Hahahah…ibuku wanita terindah yang paling lucu. Kelak dikemudian hari, ingin ku letakkan gelar PhD ku dibelakang namanya…..karena ia adalah pedagang sayur emperan dengan IPK nyaris sempurna.

 

One Response to Ibuku Seorang PhD

  1. So sweeet..Waw wow waw ,.fiksinya the best,oh uyah,is the best.