HELENA

 

a_walk_in_the_forest_by_lord_makroJalan itu masih tetap sama.  Setapak, kecil dan berliku. Dipagari kembang-kembang masa lalu  yang mekar sesukanya. Cemara laut, pohon bidara dan kenari beranting kusam. Berbaris-baris, mengitari sebuah rumah berukuran besar. Rumah  dengan bougenville ungu dan aster kuning tua tumbuh di pekarangannya. Rumah berdinding batu tebal dengan kaca-kaca jendela dibingkai putih. Rapi, rapi sekali.

Sesosok perempuan melangkah pelan. Menyeret koper hitam, menuju ke pintu kayu berwarna coklat. Jemarinya gemetaran ketika menekan bel yang terpasang di sisi kanan.

“Helena…engkau pulang” bibirnya bergumam lirih dengan wajah tertunduk.

Sesaat kemudian pintu sedikit terbuka. Seorang perempuan tua berdiri dengan sorot mata sangat tajam. Rambutnya panjang dan putih tergerai-gerai. Wajahnya penuh kerutan. Ia Bunda Izmi. Profesor Izmi, tepatnya.

“Ada apa?!”

“Aku Helena”

Tak ada sahutan. Pintu terbuka lebih lebar. Helena bergegas masuk.

“Tunggulah di sini! Aku mau ke dalam” perempuan itu berucap dengan nada sangat hambar. Helena hanya mengangguk. Merebahkan bahu pada senderan sofa yang empuk di ruang tamu. Ia lelah, tengkuknya berat. Rumah itu sepi. Temaram.

Mata Helena pelan-pelan menyelidik ke segala sisi. Menyapu tiap-tiap sudut ruang. Ah…ruang kenangan, ia membatin. Tak  banyak yang berganti. Beberapa aransemen justru tetap di tempatnya. Tak bergeser sedikitpun.  Bagian-bagian yang mungkin sengaja dipertahankan selama belasan tahun. Vitrase-vitrase biru, sulaman tangan berbingkai hitam pada dinding dekat jendela, lemari kaca dengan kendi-kendi porselen yang tertata di tiap-tiap tingkatnya. Aroma cendana juga masih semerbak,  menyeruak dari sebuah baki kecil berbentuk bulat di sudut meja. Tapi sekarang ada sofa panjang dan karpet berbulu tebal abu-abu. Itu saja yang sedikit menghadirkan nuansa berbeda. Apalagi  tiga pigura berjejeran di dinding arah ke dalam, menuju ruang tengah. Tampak baru dan begitu asing. Asing sekali. Helena seketika mendekat, menatap cermat kepada wajah dalam pigura-pigura itu satu per satu. Tangannya kemudian mengusap-usap paras pada satu pigura yang paling besar,  berbingkai kuning emas, berlekuk-lekuk.

“Itu Rayhan” suara parau Bunda Izmi tiba-tiba menyeruak. “Dia bakal ke sini nanti. Mungkin agak malam”

“Iya. Rayhan. Persis seperti cerita dalam surat-suratmu” Helena tercekat. Jemarinya terus mengusap-usap wajah dalam pigura itu. Wajah berpoles cinta dan kepolosan. Putih. Bersih. Alisnya berbaris hitam tebal. Bola matanya sangat binar. Sebentuk lesung pipit di kedua sisi. Ada tahi lalat di atas dagu sebelah kanan. Hidungnya bangir. Rambutnya sedikit ikal, bergelombang. Aduhai Rayhan, indah seperti ayahmu.

Helena kembali duduk. Kini ia berhadap-hadapan dengan Bunda Izmi. Perempuan itu tengah menuang teh panas dengan tangan keriputnya. Di luar sedikit redup, dingin, hujan, hampir malam. Helena mengangkat cawan. Mereguk isinya. Getir.

“Bagaimana Profesor Brown? Masih di Harvard?” pertanyaan itu membelah hening.

“Dia sudah pensiun. Sekarang aku menggantikan posisinya” Helena berujar datar.

“Kalau begitu, mimpimu telah tercapai, bukan?!”

“Entahlah…” suara Helena pelan dan tertahan.

“Kenapa?!”

Helena terdiam. Wajahnya tengadah ke langit-langit. Hatinya sangat kosong dan kesepian. Ia terus mendongak, menahan sesak. Sesak akan keputusan besar yang telah dipilihnya. Keputusan untuk meninggalakan Rayhan yang baru berumur sebelas bulan di rumah itu. Keputusan untuk mengkhianati Syahrif. Suami kesayangan yang menolak untuk bermigrasi ke Boston. Boston? ya, itu surga atas mimpi besar Helena sejak lama.

Lekat betul diingatan Helena ketika suatu pagi ia mendapat email balasan dari Profesor Brown. ‘Dear Helena. I am delighted to  encourage you for taking doctoral course in my lab. Harvard Medical School, Massachusetts, USA’. Aduhai…Itu hari paling megah bagi Helena. Ia akan menempuh pendidikan di Boston seperti yang diidam-idamkan almarhum kedua orang tuanya. ‘Doktor Helena’. Terdengar sangat berkelas bukan?

“Kesinilah..!” Bunda Izmi tiba-tiba menyentakkan Helena yang tengah tercenung. Tubuh semampainya bangkit dan menurut saja. Mereka kini bergerak ke arah dalam, beriringan. Kakinya dingin ketika menjejaki lantai mengkilap berlapis pualam tua.

“Kau lihatlah! Cerita lain di rumah ini yang tak perna ku kabarkan lewat surat-surat” Bunda Izmi merentangkan telapak tangannya ke depan.

Helena tak bersuara. Tubuhnya mematung. Hanya matanya berkeliaran mengitari pemandangan yang baru saja ditunjukkan Bunda Izmi. Ruang itu memang sangat berbeda. Separuh lantainya beralaskan permadani merah panjang. Dindingnya agak pucat. Pada sisi sebelah kiri menggantung sebuah foto besar. Ada seulas senyum Syahrif di sana. Lengan perkasanya merangkul pundak seorang perempuan bergaun pengantin putih. Megah, elegan, gemerlapan. Keduanya sama-sama sedang tersenyum dalam gelora api sangat panas. Senyum yang sebearnya hendak dipamerkan Bunda Izmi kepada Helena. Telak!

“Namanya Nabilah” ucapnya serak. “Dokter Nabilah. Cantik, bukan? Dialah yang merawat Rayhan sejak engkau terbang ke Boston. Saat Syahrif meminta restu untuk menikahinya, aku langsung setuju. Mereka cocok”

“Mengapa?”

“Aku tak banyak pilihan, Helena. Aku tak ingin anakku terus berlumur dendam berkepanjangan setelah ia engkau khianati. Lagi pula Nabilah perempuan hebat. Ia dokter terkenal dan berkepribadian sangat tinggi. Aku suka!”

Helena hanya menelan ludah. Kerongkongannya kering dan sakit. Otot-ototnya nyeri. Pandangannya sedikit membayang. Entahlah. Ia tiba-tiba sangat lemas.

“Kau merasakan sesuatu?”

“Sedikit pusing”

“Duduklah!” perempuan berdaster hitam itu memegangi bahu Helena yang agak kurus. “Dudukla di sini! Aku akan menelepon Syahrif. Dia sedang ke luar kota. Mungkin saja kau dapat berbincang beberapa hal. Kau mau?!”

Helena mengangguk. Jantungnya berdegub kencang. Lima belas tahun tak perna mendengar suara lelaki berbadan tegap itu. Ia menggigil.

“Kau sedang dimana?” Bunda Izmi mulai berbicara melalui telepon kepada Syahrif. “Seseorang ingin berbincang dengan mu. Bisa?!” nadanya tegas.

“Siapa, Ma?”

Bunda Izmi langsung menyodorkan telepon kepada Helena.

“Ini aku”

“Siapa?!” suara Syahrif gusar di ujung sana.

“Helena”

“Untuk apa kau datang?! Ingin menghancurkan lagi?!”

Helena terdiam, mendengar sahutan Syahrif yang tiba-tiba menukik kasar. Keningnya lantas mengerenyit, menahan sakit di kepala yang kian menjadi-jadi. Jemari –jemari lentiknya mengelus-elus permadani. Ia pasrah saja menunggu kata-kata berikutnya.

“Kau sudah membawa segalanya dari kehidupan kami, Doktor Helena! Kini kau datang dan hendak merenggut semua yang tersisa. Apakah engkau belum puas?!”

“Syahrif…” Helena menimpal lemas. “Maafkanlah. Mimpiku dulu terlalu besar”

“Tak ada salahnya dengan mimpi besarmu, Helena! Salahnya ketika ia membesar lalu engkau jadi perempuan buta. Kau buta hingga tak terlihat lagi orang-orang yang mencintai dan memerlukanmu. Aku, Rayhan, Ibuku!!” suara Syahrif kian menanjak.

“Aku hanya ingin bersama Rayhan. Sekali saja..”

“Tak usah! menjauh sajalah! Hidup yang kau inginkan tidak sesederhana disini. Jadi sajalah debu sejarah! Enyalah!!” Syahrif memutus telepon. Hening. Helena terkulai.

Bunda Izmi kembali memegangi bahu Helena, pelan-pelan. Mereka kemudian sama-sama berselunjuran di atas permadani. Helena menghela nafas panjang. Terdiam. Malam mulai tinggi.

“Minumlah lagi! Lebih banyak!” tiba-tiba Bunda Izmi menyodorkan cawan teh kepada Helena. Perempuan itu langsung saja mereguknya.

“Habiskan! Tinggal sedikit lagi”

“Pahit” jawab Helena sambil terpejam-pejam kesakitan.

“Tak apa. Kau harus menghabiskannya!” Bunda Izmi memaksa. Sementara tangan kirinya menarik sesuatu di balik daster yang ia kenakan.

“Pahit sekali. Aku sudah tak mau..” Helena menghiba. Kedua telapak tangannya ia tempelkan di pelipis. Meringis. Tubuhnya menggigil sangat kuat. Bibirnya mulai membiru.

“Habiskan, Helena!!” Bunda Izmi tiba-tiba mendelik hebat sembari menekan cawan porselen ke bibir Helena keras-keras. “Habiskan semua agar kau tahu bagaimana pahitnya pengkhianatan!!” Bunda Izmi menghunus belati tajam ke wajah Helena.

Helena tersedak. Ia merasa ciut dan kesakitan. Bibirnya pecah dan berdarah-darah. Dahinya tergores. Perutnya seperti hangus terbakar atau mungkin akan meledak.

“Berhentilah!!” Helena berusaha menepis sekuat-kuatnya. “Kau sudah gilaa!”

Ia lantas berdiri terhuyung-huyung. Tangannya gemetaran memegangi dinding. Darah masih mengucur dari bibir dan wajahnya yang terluka. Ia terus berjalan ke ruang tamu, menggapai koper hitam yang tadi dibawanya. Jejaknya berlumuran, merah, anyir. Ia melangkah terseok-seok menggapai pintu. Sementara Bunda Izmi mematung. Matanya tetap mendelik marah dan kesetanan. Ia berkecak pinggang.

Helena kini menembus malam bersama gemuruh hujan sangat deras. Kakinya berjuang tertatih-tatih menapaki tanah dan rumput yang basah di pekarangan. Gemetaran. Beberapa kali ia menoleh, was-was. Berbaur-baur antara sedih dan ketakutan.

Pintu segera  terutup. Vitrase-vitrase di jendela juga kembali tertutup. Gelap. Lampu-lampu sepertinya sengaja dipadamkan. Padam seperti segala keinginan untuk sekedar melihat sisa-sisa cinta yang lama ia tinggalkan. Helena hancur. Berkeping-keping.

Mulutnya masih berlumuran darah, berbusa-busa, amis. Jarak langkahnya belum terlalu jauh dari tepi pekarangan rumah. Helena mendadak rebah, sekarat, seperti akan mati. Hujan terus mengucur deras. Darah meleleh-leleh dari wajah dan bibirnya. Sejenak kemudian ia melihat kilauan lampu kendaraan. Tapi pandangannya kian kabur dan temaram. Helena sudah pasrah, tak berkutik. Beberapa suara langkah kaki terdengar mendekat. Bergegas.

“Nak, kau masuklah ke rumah! Nenekmu pasti di dalam” suara lembut itu bergema di kuping Helena, di antara riuh titik-titik hujan. Suara perempuan yang tak terlihat parasnya karena ia serasa di awang-awang. Kemudian terasa jari-jari halus memegangi pergelangan tangan, lalu ke dagu dan sekitar bibirnya yang berliput busa campur darah.

“Orang ini terluka dan keracunan. Kita ke rumah sakit. Tolong angkat ia ke mobil! Kopernya juga, Pak!”

“Baik Nyonya”

Percakapan itu yang terakhir didengar Helena. Samar-samar. Kemudian senyap. Helena melayang-layang.

**

Masih terlalu pagi. Suasana ruang tunggu keberangkatan di bandara sedikit lengang. Kursi-kursi panjang berjejeran. Kosong, dingin, kesepian. Helena tercenung sejenak. Ia masih pucat. Matanya cekung. Bibirnya sedikit gelap dan kering. Bekas belati masih terlihat jelas di wajahnya. Helena kemudian bergerak ke arah jendela lebar. Ia akan duduk beberapa waktu saja. Memandangi rumput-rumput basah di luar sana yang letih tertimpa hujan semalaman. Ia ingin menerawang, mengenang nasib.

“Tuhan, aku akan kembali ke Boston” Helena merintih lirih. Tiba-tiba kehampaan menyeruak, menyusuri relung hatinya yang tercabik-cabik. Ia tertunduk, cukup lama.

Pukul sembilan. Helena berdiri sembari menjinjing tas dengan tangan kirinya. Pengumuman keberangkatan telah dua kali disebutkan, pertanda ia benar-benar akan pergi. Pergi dengan segenap sesal tak berkesudahan. Ia melangkah begitu saja, tak pasti, kosong, terseret-seret oleh derap kaki orang-orang. Tapi sesaat kemudian  Helena tersentak oleh handphone yang bergetar-getar dalam genggamannya. Ada yang menghubungi, nomor tak dikenal. Helena cepat mengangkatnya.

“Kau benar ibu kandungku..?” suara itu singkat dan langsung terputus.

Helena terhenyak. Sekujur tubuhnya bergetaran. Tapi ia terus saja terbawa arus menyusuri koridor ke pintu pesawat. Sekali lagi ia camkan suara itu dalam-dalam. Helena remuk redam. Nuraninya berkata itu pasti Rayhan, bayi yang ia tinggalkan dalam pengkhianatan lima belas tahun lalu. Helena memejamkan mata, tak ada kata. Layar tertutup. Padam, diam. Helena akan terbang menuju Boston. Bisu, seperti mayat. Persis. Mengerikan.

**

Lembab. Malam berbalut basah oleh gerimis tak berkesudahan. Semua sedang berkumpul, berselunjuran pada sofa-sofa panjang di sebuah rumah. Ya, rumah. Rumah kenangan dimana kembang aster dan bougenville mekar pada halamannya. Aroma teh menyeruak, memenuhi ruang  lewat uap panas dari cawan-cawan berjejeran di atas sebuah meja bundar. Wanginya berbaur-baur dengan  cendana. Syahrif sedang berkumpul bersama orang-orang terkasihnya:  Rayhan, Nabilah, Bunda Izmi yang semakin tua.

“Ayah, berita itu…!” Rayhan menunjuk ke layar TV yang terpajang di hadapan mereka. Syahrif sedikit tersentak. Keningnya lantas berkerut. Sementara Rayhan kembali sibuk dengan gadget-nya, tak memperdulikan.

Sebuah pesawat berpenumpang 220 orang dinyatakan hilang sejak kemaren pagi. Pencarian sedang dilakukan

Syahrif terperangah, mencermati nama-nama penumpang dari manifest yang terpampang di layar TV. Matanya nyaris tak berkedip, menelisik sebuah nama yang mungkin tak diharapkan. Satu per satu. Cukup lama, mendebarkan: ‘Helena’.

“Selamat jalan wahai debu sejarah” Syahrif tiba-tiba bergumam lirih.

 

**

 

 

 

4 Responses to HELENA

  1. Salam kenal pak putra. Bagus banget fiksinya.

  2. salam kenal kembli bu yervi…ini naskah dua tahun lalu bu…biasanya nulis utk konsumsi sendiri…hehehe…apalagi kalau kemudian diterpa dilema menuntaskan laporan penelitian dan pernak pernik perkuliahan…menulis fiksi jadi pelarian terindah…

  3. Sungguh “kanji” sekali cerita mu…

  4. Bagus sekali pak .Bikin merinding :’(