BULAN DI ATAS LAUT

wpid-images-1

Setegar itu kekasih laut, tanganmu kusam dan berdarah, mengulur kail, menarik jala, mendayung kayuh atau kadang tersungkur pada sebuah biduk usang warisan bapakmu; sang pelaut paling dhuafa. Tak ada perempuan yang menjadi nelayan di samudra itu, tapi engkau melakukannya. Demi nasib, demi takdir, demi mimpi bahwa kelak adik mungilmu itu akan kuliah di kampus-kampus berkelas dunia: Cordova, Harvard, Al Azhar, Cambridge, Queensland atau ke benua mana saja hatinya menginginkan. Ia akan berjaya, akan dihidupkan dalam hari-hari yang tak gamang lantaran engkau mencitainya dengan rasa sangat dalam, begitu dalam.

Setahun lalu aku berkirim surat kepadamu. Berkisah ikhwal kerinduan akan masa kebersamaan, berharap engkau membalasnya. ‘Tunggu aku sahabatku. Tunggulah aku di jalan setapak itu, kita akan bernyanyi lagi di sela-sela pohon cemara dan kembang aster kuning tua. Aku rindu kepada adik mungilmu. Izinkan aku berkisah kepadanya tentang Tokyo Tower,  tentang Liberty, tentang Buckingham Palace, tentang kabut di atas Piramida, Tingginya Menara Burj Khalifah atau tentang apa saja yang ia inginkan, lalu aku akan mengantarkannya esok pagi ke sekolah. Bukankah dia juga adalah idolaku? Aku ingin segera memeluknya’ Tapi entah tanpa balasan. Suratku tanpa jawaban. Barangkali engkau telah lama berhenti menulis untukku, barangkali engkau tak ingat lagi alamatku, barangkali engkau sedang terlalu asik merajut kerudung kusammu. Kerudung penuh tambalan yang membuat aku semakin risau memikirkannya. Atau mungkin saja engkau tengah  melaut, melengking tinggi dalam kesepian samudra dan ikan-ikan yang datang menyerahkan diri kepada jalamu, kepada kailmu,  lalu surat-suratku belum juga sempat terbaca. Entalah, mengapa engkau, wahai perempuan bergamis kusam? Bencikah engkau kepada jarak dan perpisahan? Bencikah engkau kepadaku?

Hari ini aku ke sini. Ku susuri lagi jalan setapak berpagar tebing-tebing tanah merah. Rumput-rumput masa lalu ternyata tetap tumbuh, bunganya mekar dimana-mana. Kembang bidara, cemara laut, ranting-ranting  Brugeria, semua membisikkan  salam sebab bertahun-tahun aku tak pulang. Jauh, jauh sekali aku melangkah, wahai sahabat kebanggan. Aku sengaja datang kepadamu membunuh rindu.  Aku rindu duduk di balai-balai usang  pelataran itu, aku rindu daun rumbia kering di atap gubuk kesayanganmu atau aroma tikar pandan yang tergelar di lantaimu. Aku rindu kepada adik mungil berlesung pipitmu. Aku sangat rindu kepada ibumu yang lembut bersahaja. Aku juga hendak bersua kepada bapakmu yang barangkali kini semakin kurus dan payah. Masihkah nafasnya tersengal-sengal bila berjalan? Entalah kawan, aku dalam perjalanan kepadamu.

Sekarang rembang petang, sahabatku. Air samudra dan horizon mulai jingga. Nyanyi sepiku lirih kepada pantai, kepada ombak, kepadamu, dan kepada adik mungilmu. Aku sudah hampir tiba. Sudahkah engkau tambal kerudung usangmu? Masihkah warnanya coklat tua?Aku telah membungkus sehelai warna biru yang ku beli sebelum ke sini. Tepinya bersulam benang emas, tengahnya diliputi bercak mahkota bunga cempaka. Aku tahu kawan, engkau pasti sangat menginginkannya. Tahukah engkau? Di dalam tasku juga terlipat sehelai gamis pucat, panjang, indah, indah sekali.

Engkau di mana wahai gadis nelayan? Kakiku kini telah sampai di dekat pintu gubukmu. Rumbianya tak lagi rapi, dindingnya menerawang, kembang-kembang tak lagi terurus. Mengapa semua pudar tanpa warna? Tak ada lagi balai-balai itu, tak ada lagi anyaman pandan. Engkau ke mana? Mengapa hanya angin menyambutku? Aku hendak pelan melangkah, memasuki ruang-ruang kenangan, gelap, pengap, sepi, sepi sekali di sini. Aku mencoba merapat ke dinding, ingatanku lekat betul pada sebuah lampu kecil dan sekotak korek api yang tak pernah pindah dari sisinya. Hendak ku nyalakan cahaya, kawan, agar ku tahu engkau dimana. Aku sudah tak tahan ingin memeluk adik mungilmu. Ceritaku ikhwal negeri-negeri bersalju harus segera didengarnya, secepat mungkin, sekarang jua.

Semua tentang ruang ini ternyata belum terlalu berubah, sahabatku. Segala kiranya masih seperti dahulu, sebelum ku tinggalkan. Meja kayu masih di sudut kanan, sebuah cawan tembikar masih terletak di atasnya, kosong dan berdebu. Sisinya merapat pada jendela ke arah laut: jendela kenangan. Dahulu kita terkadang bisa tertawa melihat bulan lewat celah jendela itu, usai mengerjakan tugas-tugas sekolah atau ketika aku berakhir pekan di gubukmu, sampai larut, sampai bulan tiada. Ibumu menganyam pandan sambil menembang, lirih, syahdu, suaranya merdu sekali. Bapakmu duduk di atas ambenan, tak jauh dari situ. Adik mungilmu kadang juga bersama kita, tertawa-tawa melihat bulan. Ia bahagia sekali, bukan? Tapi kali ini semua terasa sepi dan ditinggalkan: aransemen-aransemen itu, cawan tembikar, tikar pandan, dipan kecil adikmu, semua bisu dan berdebu tak dipedulikan. Engkau dan orang-orang kesayanganku sedang kemana? Mengapa sunyi?

Mataku lantas  tertuju kepada kertas-kertas di sisi sebuah keranjang rotan, pada lemari kecil dengan setumpuk buku-buku tebal di dalamnya. Hanya lemari kecil yang usang rupanya, kawan. Warnanya sudah memucat, nyaris habis ditelan zaman.  Tapi aku mendapati guratan-guratan panjang, huruf-huruf sangat terkenal, bentuk tulisan yang tak pernah berubah: tulisan tangan indahmu. Ah..engkau rupanya telah menguasai mekanika kuantum, sahabatku. Aku bergidik menyaksikannya. Seingatku itu hal rumit bahkan aku tak tahu apa-apa: Efek Stark, Efek Zeeman, formula Rydberg, model Bohr dan istilah-istilah yang tak pernah terjangkau oleh akalku, walau sekali saja. Entalah, sudah ku katakan aku tak tahu apa-apa, kawan. Perangaimu rupanya belum berubah, engkau masih saja gila, menghabiskan malam-malammu dengan rumus-rumus kusut masai itu. Atau mungkin saja engkau tengah mengajari adik mungil kita? Katamu dia akan jadi ahli fisika, bukan? Aku sangat percaya.

Malam semakin tinggi, sahabat masa laluku. Bulan masih ada, cahayanya tersemburat di sisi-sisi gubuk usangmu, menebar sampai kemana-mana. Tapi tubuhku kini melunglai pada sebuah dipan kecil beralas pelupuh. Mataku perih menatapnya: tiga helai seragam sekolah terlipat ditemani buku tulis kecil dan bantal lusuh di dekatnya. Seragam itu pasti lama tak dikenakan pemiliknya, sudah lama tak tersentuh oleh tubuh adik mungilmu. Kemana dia, wahai sahabatku? Kemana calon ilmuwan dunia kebanggaanku? Aku kini menggila, ku buka seluruh catatan-catatan tanganmu, kulemparkan semua itu kemanapun aku suka. Aku ingin menjerit, aku ingin meraung, aku akan menghujat kepada bulan atas cahaya-cahayanya. Aku ingin ombak di luar sana berhenti berderuh dan semua akan ku sumpal suaranya. Hening, aku inginkan hening dalam detik-detik ini, detik-detik kepedihan setelah ku temukan catatanmu “Adik mungilku telah tiada, takkan pernah lagi mengenakan seragam itu. Aku telah kehilangan semua kawan untuk melihat bulan, takkan  lagi ku buka jendela. Dia sekarang kekasih Tuhan”.

Perih, sahabatku, terasa perih dan ngilu ketika ku dapati tulisan-tulisan penderitaan. Ada selaksa berita pada lembar-lembar kecil yang engkau lekatkan di dinding tepi dipan. Kiranya bapakmu juga telah lama selesai dari kepayahannya, ia kini pergi tak terselamatkan. Engkau tak terbeli apa-apa: rifampisin, pirasinamid, etambutol dan sederet daftar penawar agar tuberculosis tidak secepat itu membunuhnya. Tapi itu ceritra biasa atas kemiskinan, kawan. Mungkin begitulah seharusnya yang dapat engkau terima. Sudah ku katakan penyakit itu akan menular, bukan? Sunggu aku juga mencemaskan adik mungil kesayangan kita, lalu semua pulang kepada ketiadaan, pergi, mati, hilang pelan-pelan.

Aku telah puas dengan segala kepedihan, aku tak punya air mata, kawan. Maafkan jika tidak menangis saat menemukan serpihan-serpihan bidukmu yang terapung di tepian itu, lapuk  terkapar tanpa arwah. Sebenarnya semua bukan salahmu, kehendak nasib rupanya merenggut apa saja yang  nyaris tercapai: ibumu hilang dalam gelombang,  bapakmu lapuk dimakan tanah. Satu harapan saja tertinggal kepada seorang adik yang kau kenal sangat jenius dan periang, ialah pemilik senyum paling indah. Minggu ini ia akan mulai sekolah lagi, buakan? dan kita sama mengenal bahwa kecakapannya jauh di atas rata-rata. Ia calon ilmuwan besar astrofisika, pakar molekuler, penguasa nanoteknologi, dan ia dilengkapi super sinaps milyaran di kepala. Aku penggemar beratnya, sungguh. Aku juga tahu engkau mencintainya dengan rasa terdalam, lewat setiap elus tangan dan keringat panas yang kau teteskan dalam  dekapan-dekapan yang selalu ada atau pada tiap kali engkau melengking dengan nada tinggi untuk memikat ikan-ikan samudra yang  tersesat. Aku tahu bahwa ia membaca rasa itu, dan ia begitu mencinta, menjadikanmu tempat berteduh ketika hatinya rindu kepada ibu yang lenyap bersama malam. Tapi ia juga harus mati dan terkapar, persis seperti bapakmu, terbunuh oleh penyakit yang tak bisa kau beli obat penawarnya. Kini semua hilang, sepi, sepi sekali.

Bulan di atas laut, sahabatku, mulai meredup tapi temaramnya  cukup untuk mengingatkan ikhwal asa yang selesai pelan-pelan, ikhwal cinta yang hancur berlumuran darah, ikhwal kematian ibumu, bapak dan adik mungilmu  yang terbaring tanpa nyawa. Kini semua lengang bersama serpihan-serpihan usang, dikerumuni ikan-ikan malam penasaran. Segala terasa dingin dalam peluk gelombang, beku, hening, mematikan. Begitukah akhirmu, wahai kekasih laut? Atau masihkah ada nafasmu di ujung sana? Mungkinkah kini jasadmu tengah melayang bersama plankton-plankton kelaparan lalu sayapmu mekar  ke  nirwana? Aku hendak menjadi bulan yang meratapimu, memandang dendam kepada laut yang menghapus jejak kaki terindah. Engkau kemana kawan? Malam sudah semakin tua, dingin. Masihkah engkau hidup? Mungkinkah kelak kita akan menikah?

4 Responses to BULAN DI ATAS LAUT

  1. Salam kenal pak putra. Bagus banget fiksinya.

  2. salam kenal kembli bu yervi…ini naskah dua tahun lalu bu…biasanya nulis utk konsumsi sendiri…hehehe…apalagi kalau kemudian diterpa dilema menuntaskan laporan penelitian dan pernak pernik perkuliahan…menulis fiksi jadi pelarian terindah…

  3. Sungguh “kanji” sekali cerita mu…

  4. Bagus sekali pak .Bikin merinding :’(