Tag Archives: Dekonstruksi Budaya

K1

Suatu hari, saat sedang mengawas ujian masuk perguruan tinggi, saya dikejutkan oleh panggilan teman pengawas bahwa ada mahasiswa yang sedang menunggu. Saya sedikit agak terkejut karena merasa tidak pernah punya janji untuk boleh ditemui di momen itu. Apalagi dalam aktifitas ini, ada koridor-koridor yang menurut saya harus dipatuhi selaku pengawas.

Dengan berat hati, akhirnya, saya menemui mahasiswa tersebut di luar kelas. Teman pengawas ini sambil tersenyum menyeletuk, ‘Nyo lah di siko, Buk…baa lai’. Celetukan ini hanya saya respon dengan wajah manyun sambil menggerakkan bahu tanda tidak nyaman. Read More →