Author Archives: Ikerevita

C360_2015-04-24-20-34-43-318

Suatu hari dalam perjalan menuju ruangan di kampus, saya dicegat oleh seorang teman. Teman ini terlihat seperti susah untuk bernafas. Ketika saya tanyakan, rupanya teman ini tidak sabar menunggu saya untuk curhat. Dia sudah memendam begitu lama kejadian yang akan diceritakannya kepada saya.

Tanpa menunggu kesediaan waktu saya, teman ini langsung mencurahkan apa yang dirasakannya. Dari sekian lama curahan teman ini, satu simpulan yang saya ambil adalah bahwa teman ini hanya ingin mengekspresikan ketidaknyamanannya terhadap seseorang. Ketidaknyamanan itu dipicu oleh suatu indra yang disebut dengan muncuang. Read More →

Bahasa Kasih Ibu

oleh

Ike Revita

Beberapa hari yang lalu dalam sebuah seminar di LIPI, seorang peserta yang baru saya kenal dari Timor Leste bertanya tentang komunitas ‘mama bangsat’. Saya tidak begitu merespon pertanyaan tersebut karena dalam pikiran saya tidak ada yang namanya komunitas seperti itu. Kok ada kelompok yang diberi nama seperti itu.

Pertanyaan dan informasi sama dilontarkan oleh seorang mahasiswa pascasarjana. Dia menceritakan adanya sekelompok orang yang suka menggunakan kata-kata tidak pantas untuk orang tuanya. Tanggapan saya waktu itu adalah dia sebaiknya melakukan penelitian terkait bahasa-bahasa dalam komunitas tersebut.

Sampai akhirnya saya membaca sebuah postingan yang isinya carut marut seorang anak kepada ibunya. Anak itu meminta dibelikan handphone baru. Namun ditolak si ibu  karena belum punya uang.

Anak itu marah-marah dengan mengata-ngatai ibunya perkataan yang tidak pantas. Lebih parahnya lagi, si ibu disuruh menjual diri agar dapat uang untuk memenuhi keinginan anak tersebut.

Naudzubillahiminzalik. Read More →

C360_2015-04-29-10-27-15-588

Dalam sebuah seminar, saya bertemu dengan seorang ibu yang langsung berteriak histeris di saat melihat saya. Ibu ini  memeluk dan mengatakan bahwa dulu, dia adalah mahasiswa saya. Menurutnya, saya punya andil yang besar dalam kesuksesannya sekarang menjadi motivator.

Read More →

Penguins

 

Adalah suatu fakta bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multikultural. Dalam masyarakat multikultural ini, potensi-potensi akulturasi tidak dapat dihindari. Salah satunya dapat dilihat dalam bahasa.

Dari investasi yang dilakukan oleh Dewan Bahasa, dikatakan ada sekitar 740 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi di Indonesia. 400 di antaranya sudah dipetakan. Ke 740 bahasa ini tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah penutur masyarakat yang bervariasi.

Read More →

Lighthouse

 

Sore hari sekitar pukul 3 di akhir pekan, di saat saya baru akan tertidur, saya mendengar nada panggil telepon seluler. Karena posisi telepon seluler yang tidak begitu jauh, suaranya langsung membuat saya tagalanjang. Saya segera meraihnya. Dalam pikiran saya, setiap telepon adalah penting. Jadi panggilan itu pantas untuk direspon. Read More →

Tulips

Tidak jarang kita mendengar ketika seorang ibu berkata kepada anaknya,’ Rancak bana parangai kau kini yo. Alah pandai malawan ka induak. Yo, bantuak itu se lah taruih! Rancak tu mah!

Read More →

Desert

Tulisan ini terinspirasi dari hasil diskusi saya dengan mahasiswa pascasarjana di Unand. Dalam diskusi itu, seorang mahasiswa bertanya terkait dengan pernyataan saya bahwa agar hidup ini tenang bila kita dapat mengikuti irama orang lain. Read More →

 

Penguins

Ide tulisan ini muncul ketika saya menghadiri rapat jurusan. Dalam diskusi, salah seorang teman berpendapat dan memberi komentar atas sebuah fenomena. Di sanalah kemudian dia mengemukakan istilah amnesia kolektif ini. Read More →

1919408_1234401613269_1103291_n

Suatu hari saya membaca sebuah email di milist dosen Unand yang berisi bagaimana perkalian dalam ilmu matematika mengandung filosofi yang sangat dalam. Filosofi itu dianalogikan dengan sebuah fakta benar dan salah sehingga tergambar perilaku dan attitude  manusia dalam menyikapi hidup. Read More →